Setahun lebih
aku merelakan cinta yang takkan bisa ku miliki, aku dan dia hanya sebuah
goresan tinta yang ku tulis disetiap lembar kertas yang menemani rasa jenuh
ketika menanti dia datang. Sudah lama aku tak mendengar suaranya dan melihat
wajahnya, terus menatap wajah yang tersimpan di gallery handphone. Aku menghela
nafas panjang, bukan saat yang tepat jika harus memikirkannya karna tidak lama
lagi dia akan menikah dengan wanita lain.
“Flo, aku
minta cetak brosur yang waktu itu donk” Suara Mba Amy membuatku reflek
menjatuhkan Hp, “Kamu itu loh Flo HP kok dibanting-banting” Seru Mba Amy
membuat aku senyum kaku dan menggaruk-garuk kepala. Aku berusaha melupakan
semuanya, karna aku sadar aku dan dia sama-sama ada yang memiliki. Aku menyelesaikan kerjaanku dengan cepat
karna malam ini aku ikut acara Gathering diperusahaanku yang lama, dan ini
menunjukkan aku akan bertemu dengan dia. Denting jam terus berjalan hingga
malam tiba, aku duduk sendiri didepan pintu gerbang mengunggu dia. Udara terasa
dingin hingga menusuk tulangku, selang beberapa menit dia datang, aroma
maskulin yang khas yang mudah ku ingat. Dia tersenyum dalam otak ku tak
terlintas sedikit tentang apapun aku ya aku dia ya dia, just it. Seperti biasa
keadaan tidak berubah ketika aku datang selalu saja disambut dengan ramai entah
mereka senang atau mengejekku, kedatanganku tadinya tidak tercium oleh
managerku tapi ketika suatu teriakan dengan spontan dia menoleh ke arahku. Rasa malu
menyelimutiku, salah tingkah bahkan aku hanya diam, entah dari mana berita itu
aku dipojokkan dengan dia dan digosipkan kalau aku dan dia jadian. Aku hanya
pasrah jadi bahan ejekan dan kata ciye-ciye, dia pun terlihat pasrah ketika aku
dan dia dipasangkan duduk satu sit. Tiba-tiba hatiku biasa saja dia pun cuek,
dan entah kenapa aku merasa risih.
Sampai esok
ketika perjalanan pulang aku merasa jenuh, bosan, dan hingga putus asa mungkin
cinta ini tidak bertuan untuk selamanya. Aku harus menjalani cinta yang telah
memiliki tuan dan menjaganya seperti dia menjagaku. Sampai disana aku langsung
pulang, dan kembali ikut dia, sehingga gossip itu dianggap benar. Tapi, aku dan
dia tidak perduli karna aku tau cinta ini benar-benar tak bertuan.
Hampir setiap
saat aku chat dengan dia, dan aku bertanya kenapa bisa ada gossip seperti itu ?
Dia pun tak tahu kenapa bisa seperti itu. Beberapa hari sempat kepikiran
tentang dia, ketika berpisah rasa itu pun muncul kembali, rasanya ingin selalu
dekat dengannya. Tapi ketika dekat dengannya hanya terasa hampa dan sunyi,
mungkin karna tak ada seucap kata darinya. Aku mulai dilema mungkinkah cinta
yang dulu tak bertuan akan mengalahkan cinta yang bertuan ? Aku tak ingin
menyakiti siapa pun diantara mereka, karna mereka sama-sama ada dihati ini.
“Hai
sayang, kamu udah lama ya nunggunya” Kata Dimas, sambil menyodorkan minum. Aku hanya
tersenyum, entah kenapa akhir-akhir ini rasa jenuh selalu menyelimuti aku
ketika aku bersamanya. Selama ini dia slalu berusaha jadi yang terbaik untukku,
berusaha slalu ada untukku, walaupun kadang kehadirannya tak pernah aku
harapkan. Mungkin aku terlalu jahat untuknya karena cinta yang dulu tak
memiliki tuan kini berhasil tumbuh kembali, entah siapa yang menyiramnya hingga
yang dulu hampir mati kini tumbuh kembali.
“Kamu
kenapa sih ? Kok bengong gitu ?”Tanya Dimas, tatapan matanya menunjukkan kalau
dia jenuh akan sikapku yang dari tadi hanya diam. “ Hhhmmmmmmm,,aku nggak
apa-apa kok. Cuma lagi BT aja” Jawab aku sekenanya. “BT kenapa ?” Tanya dia
lagi. “Mungkin karna kerjaan aku yang terlalu numpuk dikantor” aku mencari
jawaban yang tepat, tapi mukanya masih merasa tidak yakin akan jawaban yang aku
berikan. “Bisa kan kalau lagi sama cowoknya muka kamu nggak ditekuk kaya gitu ?
BT tau dikaya giniin, aku balik ya” Dia berdiri dan memakai jaketnya, dan
menyambar helmnya dan pergi begitu saja. Aku hanya mampu menangis, aku memaki
diriku sendiri, seharusnya aku tidak menyakiti perasaannya, dia baik dan dia
udah berkorban banyak untukku.
Aku hanya
bisa meminta maaf lewat pesan, aku terus menangis, entah apa yang ku tangisi
saat ini, aku bingung, kenapa aku seperti ini. Apa karna cinta itu tumbuh
kembali ? Aku melihat pesan dari temanku kalau Adrian mau nikah. Hatiku bergetar
dan tersayat-sayat, aku menangis tambah kejer karna tak tahan menahan rasa
sakit ini. Selama seminggu aku tidak memberi kabar sama Dimas, Dimas berkali-kali
SMS dan telfon tapi aku tak pernah mengangkat telfonnya. Aku sadar sampai kapan
pun cinta itu takkan pernah bertuan, aku menelfon Dimas dan meminta maaf atas
sikapku selama ini.
Pertemuan hari
ini aku dan Dimas seperti dua orang yang baru kenal, terasa kaku dan canggung. “Dim,
maafin aku ya. atas semua sikap aku sama kamu” Aku mencoba mencairkan suasana
yang beku. “Iya nggak apa-apa kok, aku coba ngertiin kamu dan aku harus bisa
belajar untuk ini, kan semua udah berbeda” Ucap Dimas, dia tersenyum dan
mengelus-elus kepalaku dengan manja seperti bisa. Aku tahu senyum dia tidak
seperti biasa, senyum dia terpaksa, tapi aku merasakan sentuhan lembutnya
dikepalaku yang membuatku sedikit lega.
Aku dan
Dimas menghabiskan hari ini dengan senyum dan tawa, walau aku tau awalnya
senyum Dimas terlihat kaku tapi lama-kelamaan senyum itu terlihat tulus, aku
senang bisa membuatnya tersenyum walau sebenarnya aku merasakan sesuatu yang
hambar dihati ini.
Mata ini
enggan terpejam ketika mengingat apa yang diucapkan Adrian kemarin malam, aku
baru tahu kalau dari dulu dia juga menyimpan perasaan yang sama sama aku. Tapi,
nasi sudah menjadi bubur kini aku dan dia sama-sama ada yang memiliki, aku
milik Dimas dan Adrian milik dia. Seharusnya aku bahagia, bisa memiliki Dimas
yang baik dan tulus mencintai aku selama ini.
***
“Na,
ngpain sih kita kesini ?” Tanya aku merasa heran kenapa Nana membawa aku ke café
tempat dulu aku pernah kerja. “Ya ampun, kan gue udah bilang kalau kita mau
ditraktir sama Citra disini” Jawab Nana. Semua karyawan menyapa aku, aku
meminta waktu sebentar sama Nana, karna aku ingin ngobrol sama teman-teman aku.
Mata aku mengelilingi sekitar, aku mencari sosok Adrian, tapi dia tidak
terlihat disini mungkin dia sibuk didalam.
“Flo
nyariin Adrian ya ?” Ledek Raka “Ciyeeeee Flora…..” Anak-anak serempak
ngejek-ejekku tapi, aku hanya tersenyum terserahlah mereka mau ngomong apa. Aku
pamit sama Icha, karna aku nggak enak sama Citra yang udah nunggu dari tadi
bahkan kirim pesan berkali-kali. Baru dua langkah dari tempat istirahat
karyawan café, aku melihat sepeda motor yang aku kenal, aku berfikir apa
mungkin itu Dimas, aku memundurkan langkah kakiku lagi dan bersembunyi dibalik
kerumunan orang dan berharap mereka bisa menyembunyikan akan adanya aku disitu.
Semua orang memperhatikan Dimas, ternyata benar itu Dimas sama seorang cewek. Siapa
dia ? Apa dia sodaranya ? Apa mungkin Dimas selama ini selingkuh? Nggak mungkin
aku tau betul Dimas gimana, aku terus meyakinkan diri aku sendiri. Walau jantungku
merasa deg-degan aku takut mendengar kenyataan ini, cewek itu turun dan
tersenyum manja sama Dimas.
“Dan
inilah tempat kerja aku yang baru, makasih ya sayang kamu udah mau nganterin
aku” Kata cewek itu, “Dim cewek baru ya ?” Tanya Agung, Dimas hanya senyum dan
mengangguk, kakiku lemas dan tubuhku bergetar. Air mataku mengalir, Bayu
memberiku tisu dan berkata “Jangan pernah keluarin air mata untuk orang seperti
dia, dia nggak pantes buat Mba tangisin aku yakin masih banyak yang lebih baik
dari dia”. Aku mengusap air mata ini, dan keluar dari persembunyian, aku
melihat Adrian dia terlihat marah, tatapannya tajam terhadap Dimas. Dimas
menyadari adanya aku diantara orang-orang yang sedari tadi memperhatikan dia,
aku tersenyum getir, aku mencoba menahan air mata. Aku pergi meninggalkan
Dimas, Dia menarik tanganku, aku tak kuat untuk menahan air mata ini.
“Maafin
aku Flo, maafin aku” Lirih Dimas yang hanya tertunduk lemas, aku merasakan hawa
panas dari wajahnya. “Ini semua bukan salah kamu Dim, ini semua salah aku karna
aku nggak bisa kasih apa yang dia kasih buat kamu, sehingga kamu memilih dia”
Bibir ku bergetar, menahan amarah dan rasa sakit dihati ini. Aku memilih untuk
pergi dari situ, meninggalkan semuanya, bukan aku ingin lari dari kenyataan
tapi aku hanya ingin sendiri.
Semilir angin
pantai membuat aku sedikit tenang, semua memori tentang aku dan Dimas teringat
kembali semua terasa indah dan menyakitkan. “Ternyata loe masih disini ?” suara
Adrian terdengar samar-samar terbawa angin. Aku menengok sekilas kearah Adrian,
kita berdua hanya menikmati semilir angin pantai. Aku dan Adrian membalikkan
badan secara bersamaan, aku tertegun ketika melihat pemandangan didepan. Dimas terlihat
mesra dan bahagia bersama Putri, lagi-lagi aku menangis dan terus menangis.
Adrian meraih tubuhku yang rapuh, aku terus menangis dalam peluknya. Kenapa ini
semua harus terjadi ? Disaat aku ingin benar-benar menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian.
Kini aku
terbaring lemah di Rumah sakit, badan aku mendadak drop, kejadian akhir-akhir
ini cukup menguras air mata dan emosi. Selama seminggu aku dirawat oleh Adrian,
dia slalu datang menjengukku, aku slalu bertanya sama Adrian tentang Dimas. Tapi,
Dimas slalu sibuk dengan Putri aku mencoba mengikhlaskan semua. Hari ini aku
keluar dari rumah sakit hampir 1 jam aku menunggu Adrian untuk menjemputku. Tiba-tiba
Dimas berdiri dihadapanku, dia tersenyum kaku dan matanya terlihat sendu.
“Hai..
Adrian…tadi minta tolong sama gue buat jemput kamu eh lo” Kata Dimas
terbata-bata, “Dia kemana ?” Tanya gue males. “Adrian mendadak pulang ke rumah
orang tuanya” Jawab Dimas. Aku hanya pasrah ketika mendengar jawaban dari
Dimas, kini aku merasa takut, takut terjadi kesalah pahaman antara Dimas dan
Putri.
Semakin hari
kodisi aku makin membaik,setelah pulang dari Rumah sakit aku nggak pernah dapat
kabar dari Adrian, nomornya pun nggak aktif. Dia kemana ? kenapa dia menghilang
begitu saja. Hari pertama dikantor membuat aku tak henti-henti menatap layar
monitor karna terlalu banyak kerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Kring..kringg..”Hallo..”
Aku sedikit heran ketika ada Agung menunggu di Loby, kok tumben dia kesini ?
Ada apa ? Apa terjadi sesuatu terhadap adik Iparnya.
Aku menemuinya,
dia memberikan sebuah amplop nan indah dan anggun. “Undangan ?” Tanyaku. “Iya
itu undangan Adrian” Jawab Agung. Aku nggak mampu berkata apa-apa, aku hanya
mengangguk lemas.
“Maafin
gue Flo, gue nggak bisa bantu kalian berdua buat jadi satu, dan gue juga nggak
tau kalo kalian udah lama saling suka. Semoga lo bisa dapet yang lebih baik
dari Adrian, gue balik ya” Ucap Agung sambil menepuk pundakku, air mata
langsung menetes, mungkin ini jalan yang terbaik buat aku dan Adrian. Diundangan
terselip sebuah surat dari Adrian,
Dear : Flora
Makasih ya 7 hari
kemarin, aku bisa meluapkan rasa sayang aku untuk kamu dan aku pun bisa
mendapatkan cinta itu selama 7 hari. Mungkin kamu benar kalau cinta kita takkan
bertuan sampai kapanpun dan kalaupun bertuan itu akan menjadi orang lain. Bukan
kita, dan bukan untuk kita tapi aku untuk aku dan kamu untuk kamu.
Semoga kita bisa
bahagia dengan masing-masing cinta kita dan tuan kita yang memiliki cinta ini.
Keep your smile
because your smile very nice.
From:
Adrian
Aku akan
selalu berdoa untuk kebahagian Adrian, aku tidak bisa menghadiri resepsi
pernikahannya karena aku ada tugas keluar kota. Aku akan menutup pintu hati ini
sampai aku siap membukanya lagi dan memastikan cinta ini memiliki tuan. Cinta tak
harus memiliki, tetaplah buat dia tersenyum bahagia meski kau tak pernah bisa
memilikinya.
keren yan, di tnggu cerpen berikutnya
BalasHapusgood luck :)
Ahhhhh,,thx u :*
BalasHapus