Senin, 23 Februari 2015

02.CERPEN - CINTA TAK BERTUAN



Setahun lebih aku merelakan cinta yang takkan bisa ku miliki, aku dan dia hanya sebuah goresan tinta yang ku tulis disetiap lembar kertas yang menemani rasa jenuh ketika menanti dia datang. Sudah lama aku tak mendengar suaranya dan melihat wajahnya, terus menatap wajah yang tersimpan di gallery handphone. Aku menghela nafas panjang, bukan saat yang tepat jika harus memikirkannya karna tidak lama lagi dia akan menikah dengan wanita lain.
 
“Flo, aku minta cetak brosur yang waktu itu donk” Suara Mba Amy membuatku reflek menjatuhkan Hp, “Kamu itu loh Flo HP kok dibanting-banting” Seru Mba Amy membuat aku senyum kaku dan menggaruk-garuk kepala. Aku berusaha melupakan semuanya, karna aku sadar aku dan dia sama-sama ada yang memiliki.  Aku menyelesaikan kerjaanku dengan cepat karna malam ini aku ikut acara Gathering diperusahaanku yang lama, dan ini menunjukkan aku akan bertemu dengan dia. Denting jam terus berjalan hingga malam tiba, aku duduk sendiri didepan pintu gerbang mengunggu dia. Udara terasa dingin hingga menusuk tulangku, selang beberapa menit dia datang, aroma maskulin yang khas yang mudah ku ingat. Dia tersenyum dalam otak ku tak terlintas sedikit tentang apapun aku ya aku dia ya dia, just it. Seperti biasa keadaan tidak berubah ketika aku datang selalu saja disambut dengan ramai entah mereka senang atau mengejekku, kedatanganku tadinya tidak tercium oleh managerku tapi ketika suatu teriakan dengan spontan dia menoleh ke arahku. Rasa malu menyelimutiku, salah tingkah bahkan aku hanya diam, entah dari mana berita itu aku dipojokkan dengan dia dan digosipkan kalau aku dan dia jadian. Aku hanya pasrah jadi bahan ejekan dan kata ciye-ciye, dia pun terlihat pasrah ketika aku dan dia dipasangkan duduk satu sit. Tiba-tiba hatiku biasa saja dia pun cuek, dan entah kenapa aku merasa risih.

Sampai esok ketika perjalanan pulang aku merasa jenuh, bosan, dan hingga putus asa mungkin cinta ini tidak bertuan untuk selamanya. Aku harus menjalani cinta yang telah memiliki tuan dan menjaganya seperti dia menjagaku. Sampai disana aku langsung pulang, dan kembali ikut dia, sehingga gossip itu dianggap benar. Tapi, aku dan dia tidak perduli karna aku tau cinta ini benar-benar tak bertuan.
Hampir setiap saat aku chat dengan dia, dan aku bertanya kenapa bisa ada gossip seperti itu ? Dia pun tak tahu kenapa bisa seperti itu. Beberapa hari sempat kepikiran tentang dia, ketika berpisah rasa itu pun muncul kembali, rasanya ingin selalu dekat dengannya. Tapi ketika dekat dengannya hanya terasa hampa dan sunyi, mungkin karna tak ada seucap kata darinya. Aku mulai dilema mungkinkah cinta yang dulu tak bertuan akan mengalahkan cinta yang bertuan ? Aku tak ingin menyakiti siapa pun diantara mereka, karna mereka sama-sama ada dihati ini.
“Hai sayang, kamu udah lama ya nunggunya” Kata Dimas, sambil menyodorkan minum. Aku hanya tersenyum, entah kenapa akhir-akhir ini rasa jenuh selalu menyelimuti aku ketika aku bersamanya. Selama ini dia slalu berusaha jadi yang terbaik untukku, berusaha slalu ada untukku, walaupun kadang kehadirannya tak pernah aku harapkan. Mungkin aku terlalu jahat untuknya karena cinta yang dulu tak memiliki tuan kini berhasil tumbuh kembali, entah siapa yang menyiramnya hingga yang dulu hampir mati kini tumbuh kembali.

“Kamu kenapa sih ? Kok bengong gitu ?”Tanya Dimas, tatapan matanya menunjukkan kalau dia jenuh akan sikapku yang dari tadi hanya diam. “ Hhhmmmmmmm,,aku nggak apa-apa kok. Cuma lagi BT aja” Jawab aku sekenanya. “BT kenapa ?” Tanya dia lagi. “Mungkin karna kerjaan aku yang terlalu numpuk dikantor” aku mencari jawaban yang tepat, tapi mukanya masih merasa tidak yakin akan jawaban yang aku berikan. “Bisa kan kalau lagi sama cowoknya muka kamu nggak ditekuk kaya gitu ? BT tau dikaya giniin, aku balik ya” Dia berdiri dan memakai jaketnya, dan menyambar helmnya dan pergi begitu saja. Aku hanya mampu menangis, aku memaki diriku sendiri, seharusnya aku tidak menyakiti perasaannya, dia baik dan dia udah berkorban banyak untukku.

Aku hanya bisa meminta maaf lewat pesan, aku terus menangis, entah apa yang ku tangisi saat ini, aku bingung, kenapa aku seperti ini. Apa karna cinta itu tumbuh kembali ? Aku melihat pesan dari temanku kalau Adrian mau nikah. Hatiku bergetar dan tersayat-sayat, aku menangis tambah kejer karna tak tahan menahan rasa sakit ini. Selama seminggu aku tidak memberi kabar sama Dimas, Dimas berkali-kali SMS dan telfon tapi aku tak pernah mengangkat telfonnya. Aku sadar sampai kapan pun cinta itu takkan pernah bertuan, aku menelfon Dimas dan meminta maaf atas sikapku selama ini.

Pertemuan hari ini aku dan Dimas seperti dua orang yang baru kenal, terasa kaku dan canggung. “Dim, maafin aku ya. atas semua sikap aku sama kamu” Aku mencoba mencairkan suasana yang beku. “Iya nggak apa-apa kok, aku coba ngertiin kamu dan aku harus bisa belajar untuk ini, kan semua udah berbeda” Ucap Dimas, dia tersenyum dan mengelus-elus kepalaku dengan manja seperti bisa. Aku tahu senyum dia tidak seperti biasa, senyum dia terpaksa, tapi aku merasakan sentuhan lembutnya dikepalaku yang membuatku sedikit lega.
Aku dan Dimas menghabiskan hari ini dengan senyum dan tawa, walau aku tau awalnya senyum Dimas terlihat kaku tapi lama-kelamaan senyum itu terlihat tulus, aku senang bisa membuatnya tersenyum walau sebenarnya aku merasakan sesuatu yang hambar dihati ini.

Mata ini enggan terpejam ketika mengingat apa yang diucapkan Adrian kemarin malam, aku baru tahu kalau dari dulu dia juga menyimpan perasaan yang sama sama aku. Tapi, nasi sudah menjadi bubur kini aku dan dia sama-sama ada yang memiliki, aku milik Dimas dan Adrian milik dia. Seharusnya aku bahagia, bisa memiliki Dimas yang baik dan tulus mencintai aku selama ini.

***

“Na, ngpain sih kita kesini ?” Tanya aku merasa heran kenapa Nana membawa aku ke café tempat dulu aku pernah kerja. “Ya ampun, kan gue udah bilang kalau kita mau ditraktir sama Citra disini” Jawab Nana. Semua karyawan menyapa aku, aku meminta waktu sebentar sama Nana, karna aku ingin ngobrol sama teman-teman aku. Mata aku mengelilingi sekitar, aku mencari sosok Adrian, tapi dia tidak terlihat disini mungkin dia sibuk didalam.
“Flo nyariin Adrian ya ?” Ledek Raka “Ciyeeeee Flora…..” Anak-anak serempak ngejek-ejekku tapi, aku hanya tersenyum terserahlah mereka mau ngomong apa. Aku pamit sama Icha, karna aku nggak enak sama Citra yang udah nunggu dari tadi bahkan kirim pesan berkali-kali. Baru dua langkah dari tempat istirahat karyawan café, aku melihat sepeda motor yang aku kenal, aku berfikir apa mungkin itu Dimas, aku memundurkan langkah kakiku lagi dan bersembunyi dibalik kerumunan orang dan berharap mereka bisa menyembunyikan akan adanya aku disitu. Semua orang memperhatikan Dimas, ternyata benar itu Dimas sama seorang cewek. Siapa dia ? Apa dia sodaranya ? Apa mungkin Dimas selama ini selingkuh? Nggak mungkin aku tau betul Dimas gimana, aku terus meyakinkan diri aku sendiri. Walau jantungku merasa deg-degan aku takut mendengar kenyataan ini, cewek itu turun dan tersenyum manja sama Dimas.

“Dan inilah tempat kerja aku yang baru, makasih ya sayang kamu udah mau nganterin aku” Kata cewek itu, “Dim cewek baru ya ?” Tanya Agung, Dimas hanya senyum dan mengangguk, kakiku lemas dan tubuhku bergetar. Air mataku mengalir, Bayu memberiku tisu dan berkata “Jangan pernah keluarin air mata untuk orang seperti dia, dia nggak pantes buat Mba tangisin aku yakin masih banyak yang lebih baik dari dia”. Aku mengusap air mata ini, dan keluar dari persembunyian, aku melihat Adrian dia terlihat marah, tatapannya tajam terhadap Dimas. Dimas menyadari adanya aku diantara orang-orang yang sedari tadi memperhatikan dia, aku tersenyum getir, aku mencoba menahan air mata. Aku pergi meninggalkan Dimas, Dia menarik tanganku, aku tak kuat untuk menahan air mata ini.
“Maafin aku Flo, maafin aku” Lirih Dimas yang hanya tertunduk lemas, aku merasakan hawa panas dari wajahnya. “Ini semua bukan salah kamu Dim, ini semua salah aku karna aku nggak bisa kasih apa yang dia kasih buat kamu, sehingga kamu memilih dia” Bibir ku bergetar, menahan amarah dan rasa sakit dihati ini. Aku memilih untuk pergi dari situ, meninggalkan semuanya, bukan aku ingin lari dari kenyataan tapi aku hanya ingin sendiri.

Semilir angin pantai membuat aku sedikit tenang, semua memori tentang aku dan Dimas teringat kembali semua terasa indah dan menyakitkan. “Ternyata loe masih disini ?” suara Adrian terdengar samar-samar terbawa angin. Aku menengok sekilas kearah Adrian, kita berdua hanya menikmati semilir angin pantai. Aku dan Adrian membalikkan badan secara bersamaan, aku tertegun ketika melihat pemandangan didepan. Dimas terlihat mesra dan bahagia bersama Putri, lagi-lagi aku menangis dan terus menangis. Adrian meraih tubuhku yang rapuh, aku terus menangis dalam peluknya. Kenapa ini semua harus terjadi ? Disaat aku ingin benar-benar menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian.

Kini aku terbaring lemah di Rumah sakit, badan aku mendadak drop, kejadian akhir-akhir ini cukup menguras air mata dan emosi. Selama seminggu aku dirawat oleh Adrian, dia slalu datang menjengukku, aku slalu bertanya sama Adrian tentang Dimas. Tapi, Dimas slalu sibuk dengan Putri aku mencoba mengikhlaskan semua. Hari ini aku keluar dari rumah sakit hampir 1 jam aku menunggu Adrian untuk menjemputku. Tiba-tiba Dimas berdiri dihadapanku, dia tersenyum kaku dan matanya terlihat sendu.

“Hai.. Adrian…tadi minta tolong sama gue buat jemput kamu eh lo” Kata Dimas terbata-bata, “Dia kemana ?” Tanya gue males. “Adrian mendadak pulang ke rumah orang tuanya” Jawab Dimas. Aku hanya pasrah ketika mendengar jawaban dari Dimas, kini aku merasa takut, takut terjadi kesalah pahaman antara Dimas dan Putri.
Semakin hari kodisi aku makin membaik,setelah pulang dari Rumah sakit aku nggak pernah dapat kabar dari Adrian, nomornya pun nggak aktif. Dia kemana ? kenapa dia menghilang begitu saja. Hari pertama dikantor membuat aku tak henti-henti menatap layar monitor karna terlalu banyak kerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Kring..kringg..”Hallo..” Aku sedikit heran ketika ada Agung menunggu di Loby, kok tumben dia kesini ? Ada apa ? Apa terjadi sesuatu terhadap adik Iparnya.

Aku menemuinya, dia memberikan sebuah amplop nan indah dan anggun. “Undangan ?” Tanyaku. “Iya itu undangan Adrian” Jawab Agung. Aku nggak mampu berkata apa-apa, aku hanya mengangguk lemas.
“Maafin gue Flo, gue nggak bisa bantu kalian berdua buat jadi satu, dan gue juga nggak tau kalo kalian udah lama saling suka. Semoga lo bisa dapet yang lebih baik dari Adrian, gue balik ya” Ucap Agung sambil menepuk pundakku, air mata langsung menetes, mungkin ini jalan yang terbaik buat aku dan Adrian. Diundangan terselip sebuah surat dari Adrian,

Dear : Flora

Makasih ya 7 hari kemarin, aku bisa meluapkan rasa sayang aku untuk kamu dan aku pun bisa mendapatkan cinta itu selama 7 hari. Mungkin kamu benar kalau cinta kita takkan bertuan sampai kapanpun dan kalaupun bertuan itu akan menjadi orang lain. Bukan kita, dan bukan untuk kita tapi aku untuk aku dan kamu untuk kamu.
Semoga kita bisa bahagia dengan masing-masing cinta kita dan tuan kita yang memiliki cinta ini.
Keep your smile because your smile very nice.

From:
Adrian

Aku akan selalu berdoa untuk kebahagian Adrian, aku tidak bisa menghadiri resepsi pernikahannya karena aku ada tugas keluar kota. Aku akan menutup pintu hati ini sampai aku siap membukanya lagi dan memastikan cinta ini memiliki tuan. Cinta tak harus memiliki, tetaplah buat dia tersenyum bahagia meski kau tak pernah bisa memilikinya.

2 komentar: