Kamis, 26 November 2015

Aku Jatuh Cinta

Awalnya ku tak mengerti apa yg sedang kurasakan
Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada
Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku
Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku

Sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta
Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara
Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku
Kau berbeda dari yang ku kira

Aku jatuh cinta kepada dirinya
Sunguh sungguh cinta oh apa adanya
Tak pernah ku ragu namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya

Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan
Yang selama ini sungguh telah lama terpendam
Aku tak percaya membuatku tak berdaya
Tuk ungkapkan apa yang kurasa

Kadang aku cemburu, kadang aku gelisah
Seringnya ku tak tentu lalui hariku
Tak dapat ku pungkiri hatiku yang terdalam
Betapa aku jatuh cinta kepadanya


 Lirik bye Roulette

Jumat, 13 November 2015

Aku Takut Hanya Cinta Semu


Hujan tak kunjung henti, aku berdiri menatap kosong kearah butiran air yang terjatuh dengan cepat membasahi tanah. Entah kemana aku akan pergi melangkahkan kaki semua terasa berat untuk aku lalui tapi ini lah kenyataan yang harus aku hadapi. Kenyataan dimana aku harus meninggalkan orang yang begitu baik kepadaku, tapi aku tidak mau menyakitinya lebih dalam lagi. 
Sudah 5 bulan setelah aku meninggalkan dia, masih ada rasa sesal yang tersimpan dihati ini tapi aku tak mungkin untuk kembali ke rasa itu lagi. Sesuatu yang tak terduga pun terjadi selama belakangan ini, seseorang yang aku suka sejak masih duduk dibangku SMA. Tanpa aku duga-duga dia menyatakan perasaannya kepadaku. Ini terlihat aneh dan seperti mimpi, aku terus membaca history chat bersamanya. Aku menghela nafas dengan berat, Inikah cinta yang ku mau ? Dering telpon berbunyi dan aku menatap layar handphone dengan caller ID “Andri”


“Halo Ndri”

“Halo Flo, Lagi dimana?”

“Lagi dirumah kenapa?”

“Besok jadi ikut meeting nggak ?”

“Jadi, jangan lupa aku nyampe stasiun jam 8.15”

“Oke”


Aku menatap tiket kereta untuk kebrangkatan jam 04.45 pagi, aku bergegas merapihkan barang-barang yang akan aku bawa ke kampung. Sekolahku akan mengadakan reuni akbar untuk angkatanku dan angkatan 2th diatasku. Yang berarti aku akan bertemu dengannya, ada rasa senang menyelimuti hati ini. Tapi ada rasa takut juga yang menyelimuti hati ini, yaitu takut kecewa karna dia terlalu tertutup atau mungkin aku yang terlalu berharap.


Kereta mulai bergerak dan meninggalkan kota Jakarta yang penuh kemacetan dan penuh kepenatan yang menyelimuti pikiranku belakangan ini, hanya butuh waktu 2 jam aku sampai tujuan. Disana aku melihat Andri duduk dibangku pintu keluar, dia tersenyum dengan sedikit menguap.


“Ndri, kita mampir ke mini market bentar yuk sekalian nunggu Ayah”

“Loh kok ketemuan sama Ayah buat apa ?”

“Buat ngambil barang bawaan aku, biar kita nggak usah bolak-balik udah jam segini takut nggak sempet ke sekolah”

“Oke..”


Sampai di Mini Market aku langsung masuk untuk membeli minuman dan numpang cuci muka serta merapikan penampilanku. Ketika aku keluar Ayah dan adik sepupuku sudah menunggu, aku langsung pamit dan pergi ke sekolah bersama Andri.


“Neng, mau pulang jam berapa?” Tanya Ayah

“Nggak tau, nggak usah masak nanti Neng makan diluar aja Yah”

“Yadah hati-hati ya”


Aku berjalan beriringan dengan Ayahku sampai persimpangan yang menuju kearah sekolahku. Hatiku mulai berdebar tak menentu aku memikirkan gimana aku harus bersikap dihadapannya nanti. Karna aku tau dia ikut andil menjadi panitia diacara ini, awalnya aku juga nggak ikut untuk jadi panitia diacara ini. Tapi tiba-tiba mantan ketua OSIS angkatanku dulu mengajak kelasku untuk ikut jadi panitia.


Ketika memasuki gerbang sekolah detak jantungku makin kencang dan kaki mendadak lemas. Aku melihat jam menunjukan pukul 09.15, aku telat 15 menit. Aku dan Andri berlarian menuju ke ruang pertemuan yang teletaknya dipaling ujung.


Suara brisik karna aku menabrak pintu bersamaan dengan Andri aku terjatuh di depan anak-anak, aku dan Andri bergegas berdiri. Dan kita akhirnya jadi bahan tertawaan anak-anak di pagi ini, aku hanya tersenyum pahit sama kesiswaan yang menatap kita dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Flo..Flo..Flo.. kamu lagi kamu lagi”

Aku dan Andri hanya tersenyum kecut

“Berdiri kalian disini dan menghadap kearah teman-teman kalian”

Andri berdiri dengan santai aku tersenyum ke mantan wali kelasku yang tersenyum kecut melihat anak didiknya kacau.

“Kenapa kalian terlambat..?”


Suasana mendadak hening, seolah-olah mereka ingin tau penjelasan dari kita berdua. Aku melihat kearah depan, tepat lurus denganku dan dia duduk dipaling belakang. Dia ? jantungku langsung berdetak dengan cepat seolah-olah ada yang sedang bermain drum dihati ini. Dia tersenyum dan tertawa kecil, aku membalas senyumnya dan seolah tulangku terasa rontok.


“Flo..kenapa kamu malah senyum-senyum ?” Tanya Pak Juna, aku tersenyum kepada Pak Juna dan menggaruk-garuk kepala yang nggak berasa gatel sama sekali.

“Tadi keretanya delay 30 menit Pak, jadi tadi nyampe stasiun agak terlambat”

“Emang kamu berangkat dari mana ? kok pake kereta segala”

“Dari Jakarta Pak”

Pak Juna mengangkat kedua alisnya, lalu dia menatap Andri dan mencoleknya.

“Kamu kenapa Ndri bisa telat juga ?”

“Jemput Flo Pak” Jawab Andri dengan santai

“Skotjam kalian berdua 10x”

“Masih jaman Pak ?” Tanya kita dengan kompak

“Tambah 10x lagi jadi 20x”

Tanpa panjang lebar lagi kita langsung skotjam, ternyata Pak Juna dari dulu nggak pernah berubah.


HAHAHA

Suara ketawa terdengar dari pintu dan berlalu melewati depan kita, aku tidak bisa melihat wajahnya. Ah..sial hari ini benar-benar sial, jadi terlihat orang bodoh dimata dia. Ketika kelar dan aku berdiri sedikit rasa pusing aku menggeleng-geleng kepala dan menggenggam erat tangan Andri.

“Flo,kamu nggak apa-apa”

“Nggak”

“Kamu kurang darah ya Flo ?”Tanya Pak Juna dengan nada sedikit menyesal

“Kayaknya sih pak, tapi aku nggak apa-apa kok”

“Maafin Bapak ya”

“Nggak apa-apa Pak, aku malah bangga sama Bapak. Bapak nggak pernah berubah”

“Ya sudah kalian berdua duduk dibelakang mereka”

Aku mengambil tas, dan hendak duduk. Aku terkejut ketika melihat 2 orang yang benar-benar aku sangat kenal.

“Lo berdua ngapain disini”

“Flo, kamu kenal mereka?” Tanya Ibu Yuna

“Kenal banget Bu”

“Flo mereka ini yang akan jadi sponsor kita nanti” Jelas Pak Juna

Mereka hanya tersenyum-senyum nggak jelas, “Eh Flo masih jaman lo maenan begituan ?” Ledek Gilang

“Brisik lo Lang “ Aku berlalu pergi sambil mengacak-acak rambut kedua temanku itu.


Meeting berlangsung sampai jam makan siang, kita break untuk istirahat sholat dan makan. Ketika di Musholla aku bertemu dengannya, aku tersenyum senang begitu juga dia.


“Kamu kok nggak bilang sih kalau ikut jadi panitia ?”

“Dadakan kak, baru dua hari yang lalu diajak dan di telpon sama Ibu Yuna”

“Kenapa nggak minta tolong jemput kakak aja?”

“Kakak sibuk dengan handphone kakak yang satunya, jadi mau aku nelfon berapa kali pun nggak bakal ada jawaban”

……

“Aku butuh kepastian dan bukti kak, aku nggak mau cinta yang semu kayak gini, kakak sering ngilang, bahkan kakak nggak pernah jujur sama aku, kalo kakak punya dua handphone..”

……

“Hati aku bukan permainan kak, aku butuh kejelasan..”

……


Aku meninggalkannya dalam diam, aku menangis didalam Toilet. Aku merasa lega udah ngluapin semua emosi yang aku simpan dalam hati. Tapi ada rasa sesal juga, seharusnya aku nggak boleh ngomong kaya gitu. Aku takut kehilangan dia, dan dia akan pergi ninggalin aku.

Aku masuk ke ruangan lagi dengan muka sedikit sembab, mataku dan dan matanya bertemu. Dia sedikit kaget dan ingin menghampiriku tapi temannya menariknya ke tempat perkumpulan kelompoknya. Aku langsung duduk dan membenamkan muka dikedua tanganku yang aku lipat diatas meja. Rasa perih dikakiku makin berasa dan membuat kepalaku pusing.

Makin lama, makin ramai suara gelagak tawa di Ruang pertemuan ini. Aku masih memendamkan muka dan melas mengangkat kepala. Suara pukulan keras meja membuat aku mengangkat kepala, Andri tertawa puas. Aku melempar mukanya dengan tisu.


“Tidur di Rumah Flo, bukan disini”

“Rese banget sih lo” Bentakku dengan kesal

“Nih Flo obat-obatan yang kamu minta” Ivan datang dengan sekotak obat-obatan yang tadi sempat aku minta pas makan siang.

“Thanks ya Van”

“Buat apa Flo ?” Tanya Andri


Aku hanya menyodorkan kaki kananku yang sedikit lecet gara-gara terpelset tadi distasiun, dan menyerahkan kotak P3K. Supaya Andri mengobati lukanya, tapi Andri milih untuk pergi kearah kumpulan kakak kelas. Aku melihat dia berlarian menuju kearahku, aku hendak menyembunyikan kakiku tapi Amad menarik kakiku agar tetap berada diatas kursi.


“Kamu kenapa yank ?”

“Ahhhhh…so sweet” Suara sorak Gilang dan Mas Bombom yang baru datang bersamaan dengan dia, aku yakin seyakin-yakinnya sekarang muka aku merah kaya tomat.

“Oo..jadi ini pacarnya Flo ?”Tanya Mas Bombom iseng

“Oo..jadi beneran ya Flo yang dibilang Citra selama ini ?” Sambung Pipit

“Lo semua apa-apaan sih, Brisik tau nggak” Cletuk gue, untuk menutupi rasa gugup

“Yank ?” Dia memasang wajahnya dengan serius

“Kepeleset di Tangga”


Tanpa banyak omong lagi dia mengobati lukaku dengan tenang dan hati-hati, sekali-kali aku meringis karna perih. Disaat seperti ini, aku  melihat ketulusannya merawatku. Tapi beberapa kali juga dia membuat hatiku goyang dan bimbang.


“Eh Al, gue mau nanya deh sejak kapan lo berdua jadian ?” Tanya Ivan iseng sambil melirikku

“Nanti kalo….”

“Belum resmi, masih abstrak” Celaku

“Udah selesai, cepat sembuh ya Flo ! aku kesana dulu” Ucap dia dan berlalu pergi.


Semua anak-anak menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala, aku hanya mengangkat bahu. Dan akhirnya aku selamat dari hujatan pertanyaan mereka,meeting akan berlanjut. Pembagian tugas dan kelompok pun telah selesai, meeting ditutup inilah meeting final. Karna mulai besok akan mempersiapkan semuanya untuk pentas lusa nanti tepat dihari ulang tahun sekolah ini.

Semua pulang dan kembali besok untuk memulai segala aktivitas lebih berat lagi, hari sudah sore. Aku melihatnya sedang berjalan kearah parkiran untuk mengambil motornya, dan Andri menghampirinya. Isshh.. Andri ngapain lagi sih? Grutu aku, saking kesalnya mencabik-cabik tisu yang ada ditangan.


“Ndri, kamu abis ngapain ?”

“Dia nggak mau nganterin kamu”


Deg..Seketika hati ini hancur berkeping-keping, kok dia tega sih. Aku pulang sambil menahan air mata, Andri diam-diam memperhatikan aku dari kaca spionnya. Dia meraih tanganku dan berusah menenangkan aku, disaat itu tangisku tak terbendung lagi. Aku memendamkan wajahku di punggung Andri, punggung Andri basah oleh air mataku. Andri menghentikan motornya, aku masih terisak dan Andri masih terdiam. Diantara kita hanya ada isak tangisku, Andri masih membisu dengan tatapannya lurus ke hamparan padi yang bergoyang-goyang karna angin.


“Kamu sayang banget sama Dia Flo?” Tanya Andri, aku hanya mengangguk.

“Kalo kamu sayang kenapa kamu ragu sama dia ?”

….

“Bukannya hanya dia yang yakinin kamu, tapi kamu juga harus bisa yakinin diri kamu sendiri mau jalan lanjut sama dia apa nggak..”

“Ndri…”

Andri hanya terdiam

“Disaat Flo menaruh harapan Flo sama dia, dia melakukan kebohongan yang membuat hati ini goyang Ndri..”

….

“Dan Flo juga masih menaruh harapan sama dia untuk sekali lagi, tapi..”

“Nggak ada kata tapi dalam cinta Flo” Andri memotong perkataanku seolah dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan.


“Usap air mata kamu, terus kita pulang..”


Andri memalingkan wajahnya kearahku, dia tersenyum “Mungkin besok kamu akan tau jawabannya… aku berharap kamu dapetin yang terbaik Flo”


Aku memeluk Andri dan menumpahkan air mataku untuk kesekian kalinya, hanya Andri yang benar-benar memahami aku saat ini.


Sampai rumah aku langsung mandi dan makan lalu tidur, tengah malem aku terbangun. Aku melihat handphone ada 20X miscall dari Citra dan 10X miscall dari Andri serta 5 SMS dari operator. Aku bertanya dalam hati “Kemana Dia?” apa aku udah nggak punya harapan lagi ? Apa dia sekarang benci sama aku ?” Aku membuang jauh-jauh fikiran itu, dan aku tertidur kembali.

“Flo..bangun….” Suara ketukan jendela membuatku kaget, terlihat nenekku sedang berdiri sambil megang sapu. Dalam otak gue langsung berfikir “Nenek gue keren bisa terbang pake sapu kaya Harry Potter” Candaan yang garing banget dipagi hari.


Handphoneku berdering dengan Caller ID “Citra”

“Hallo Cit”

“Isshh,,kamu kemana sih Flo ? Bikin khawatir aja deh”

“Sorry aku ketiduran dari jam 7”

“Ooo..hari ini balik jam berapa ?”

“Gak tau Cit, kan aku harus dekor panggung”

“Yaaah, padahal mau minta ditemenin”

“Kapan-kapan deh, kan kamu tau aku jadi panitia”

“Are you okey ?”

“Yes, I’m Fine”

“Bohong mulu, bosen tau. Udahan ah aku mau mandi. BHAY”

Aku hanya tersenyum, aku tau pasti Andri udah cerita semuanya ke Citra. Aku melihat pesan masuk dari Andri.









Rectangular Callout: From : Andri
Mau di jemput jam berapa ?



Rectangular Callout: To : Andri
Nggak usah aku dianterin, pulangnya aja.


Rectangular Callout: From : Andri
Oke, C U
 











                                                                                      





Aku langsung bergegas bersiap-siap untuk pergi, ketika aku sarapan terdengar suara kentuk pintu. Ayah dan ibu sedang di Rumah Bibi, aku mendengar nenekku sedang mengobrol dengan seseorang. Aku membuka pintu dan sempat terkejut, aku tidak mengenali sosok yang kira-kira seumuran dengan ayah tapi aku kenal sosok yang disampingnya. Kok bisa ? dia pun Nampak terkejut, dia sedikit tersenyum. Tapi aku hanya diam, fikiranku mulai kacau.


“Neng, panggilin Ayah sana” Pinta nenekku

“Eh iya Made” Sahutku, ketika aku membalikkan badan Ayahku menghampiriku dan tamunya. Ayah terlihat akrab dan mengelus-elus kepala anak dari temannya. Aku kembali ke dapur untuk mencuci tangan.

“Neng sini sebentar” Teriak Ayah

“Iya, sebentar” Dengan cepat aku mengelap tangan, aku menemui Ayah.

“Ini loh si Neng sekarang udah gede” Kata Ayah

“Oalah…cantik ya kaya mendiang Ibunya” Puji pria itu dan aku bersalaman dengannya.

“Ya Alhamdulillah, semuanya berkah”

“Oh ya, ini anak saya yang paling bontot namanya Albie” Bapak itu dengan mengelus-elus punggung anaknya.

“Ya..ya ya..Neng kenalan dulu” Suruh Ayahku

“Udah kenal Yah” Jawabku

“Dimana ?”Tanya Bapak

“Kita satu sekolah Cuma Flo ini adik kelas aku Pak” Jawab Albie

“Oh ya Yah, Flo harus berangkat sekarang takut telat”

“Bareng aku ya Flo” Albie menawarkan dirinya, sebenarnya aku masih malas dengan cowok satu ini. Tapi aku juga nggak bisa nolak ajakan dia karna nggak enak sama Ayah dan Bapak. Aku hanya menangguk dan masuk kamar untuk siap-siap, lalu kita pamit.


Sepanjang jalan hanya kesunyian yang ada diantara kita, aku kira dia akan banyak bicara tapi tidak. Dia hanya terdiam, dia menghentikan motornya padahal masih beberapa meter lagi baru sampai sekolah.


“Kenapa berhenti ?” Tanyaku

“Ada yang mau aku omongin”

“Apa ?”

“Aku udah dijodohin sama perempuan lain”

Deg..!!Apa-apaan sih ini ??? #@$#%#&@

“Disini ada foto dan biodata dia, dan itu tulisan Ayahnya. Aku nggak mau ada kebohongan lagi diantara kita Flo”

Hanya suara isak tangis

“Please, Flo jangan nangis”

….

“Coba kamu liat isi kotak itu”


Aku hanya menatapnya kosong dengan mataku yang sembab, aku meraih kotak itu dan berlalu meninggalkannya. Dengan langkah cepat dan lari-larian kecil aku menuju ke gerbang sekolah dan langsung menuju ke toilet. Aku segera menghapus air mata yang udah nggak ada gunanya lagi dan cuci muka. Aku sedikit memakai bedak agar tidak ketahuan karna abis menangis. Keluar dari toilet aku melihat Andri berdiri dengan Amad menghadap kearahku.

Aku mengambil kotak yang dikasih Albie ke mereka.


“Itu foto perempuan yang bakal dijodohin sama Albie”

“Dalam kotak ini?” Tanya Amad, Andri merebut kotak itu dan membukanya.

“Serius ?” Tanya Andri, aku hanya mengangguk.

Amad dan Andri membelalakan matanya, aku tau pasti mereka sudah tau siapa perempuan itu. Lalu aku menunjukan gelang yang aku pakai, mereka tersenyum senang dan aku pun tersenyum senang.

“Selamat ya Flo” Teriak Amad


Aku memeluk mereka, mereka membalas pelukanku aku tau Andri dan Amad sempat meneteskan air matanya. Kita bertiga menangis dalam pelukan, makasih Tuhan karna Engkau telah memberikan orang-orang yang sayang sama aku.


Lalu kita berjingkrak-jingkrak girang, berputar-putar nggak jelas dan kita berjalan menuju ruang pertemuan dengan bergandeng tangan dengan jalan kanan kiri kanan kiri nggak jelas. Hari ini aku nggak mau ada air mata lagi, kita mulai jadi pusat perhatian orang-orang ketika kita terjatuh bareng-bareng. Semua orang menertawakan kita dan kita ikut tertawa, hari ini adalah hari dimana kita harus membuat orang lain tertawa karna kita. Itulah perjanjian kita kalo diantara kita ada yang lagi beruntung atau bahagia.


“Andri, Flo, Amad, dari pada kalian begini mending kalian kerjain tugas kalian” Bentak Pak Adi

“Siap Grak”Seru kita bertiga dengan serentak dan mengambil sikap sempurna layaknya seorang Paskibraka, karna Pak Adi adalah pembimbing Paskibra disekolah ini.


Semua orang sibuk mondar-mandir mempersiapkan acara reuni Akbar besok+Charity, aku sibuk mendekor panggung dan arena games. Matahari semakin terik, kita break dari jam 11 karna hari jum’at tapi bagi cewek-cewek masih berlanjut melakukan tugas-tugasnya.


“Flo, nanti makan dimana ?” Tanya Pipit

“Gak tau nih, aku juga bingung Pit” Jawabku

“Kalian tenang aja, kita dapet jatah makan kok” Sambung Kak Ayu

“Yang bener kak ?” Tanyaku

“Iya Pacarnya Albie”

Eh..pipiku langsung merah dan tersenyum malu

“Cieee…Flo..cieeeeee” Ledek Pipit

Kak Ayu dan Pipit menertawakanku karna mukaku merah menahan malu.

“Kak Ayu nggak usah bikin gosip deh”

“Tapi kata Albie tadi ngomong gini Eh Yu nanti kamu bantuin tim Flo untuk set game ya ? Terus aku jawab iya, emang kenapa Al ? | Gpp titip Flo jangan sampai ada yang ganggu dia, karena dia calon ibu dari anak-anakku nanti | gitu” Kak Ayu cerita sambil menirukan gaya Albie, aku dan Pipit ketawa melihat expresi Kak Ayu yang pasang tampang bloonnya.

“Berarti aku bukan pacarnya kan kak ?” Aku meyakinankan Kak Ayu

“Sekarepmu ae lah Flo, aku pusing mikirnya”

HAHAHA..kita tertawa dengan lepas, aku senang mereka berhenti meledekku. Cerita Kak Ayu membuat aku serasa ingin terbang ke langit lepas yang sangat biru dan menari bersama burung-burung disana.


Makanan datang bersamaan orang shalat jum’at pun pulang, Albie datang bersama Amad dan Andri. Dari dulu sampai sekarang aku slalu senang saat dia memakai baju koko dengan celana jeans, entah kenapa aku slalu suka. Aku memandanginya dari jauh, tanpa berkedip dia pun berbalik memandang dan melambaikan tangan.


“Samperin, jangan diliatin mulu ntar jatuh tuh bola mata.” Ledek Pipit

“Sial..” Albie datang dengan senyuman yang bikin rontok tulang-tulang ini.


Aku hanya terdiam memandangnya, entah bagaimana bisa air mata ini jatuh. Beberapa jam yang lalu dia menghancurkan hati ini berkeping-keping dan hanya sekejap dia mampu mengumpulkan kepingan itu dengan utuh kembali bahkan nggak ada cacat sama sekali.


“Hey..kamu kok nangis ? Kenapa ?” Tanya Albie, aku tak menjawab pertanyaannya. Lidah ini terasa keluh, sulit untuk berbicara. Albie meletakkan kertas-kertas origami dan meraih tubuh ini yang tak mampu ku gerakkan lagi. Aku memeluknya dengan erat dan dia pun memperat pelukannya.

“Maaf kalau sudah membuat kamu menangis” bisik ALbie

“Jangan pernah ngilang-ngilang lagi, aku takut…” Hanya itu yang mampu ku ucapkan, rasanya ingin aku hentikan waktu agar aku bisa merasakan pelukan ini lebih lama lagi.


Andri masuk membawakan nasi kotak untukku, sedangkan Albie pergi mengambil nasi kotak dan bergabung dengan teman-temannya. Aku, Amad, Andri, Pipit dan Denis makan sambil bercanda, aku merasa hidupku cukup sempurna. Setelah kelar makan siang kita semua melanjutkan pekerjaan masing-masing hingga pukul 7 malam.


“Oke guys..semua persiapan sudah kelar, semoga besok acaranya lancar dan terima kasih banyak untuk waktu dan tenaga kalian semua I LOVE U FULL GUYS… oke hari juga sudah malam sekarang kalian bisa pulang ke rumah masing-masing dan besok balik ke sini jam 6 pagi untuk persiapan jalan santai terus untuk panitia inti akan menginap disini untuk pembagian panitia jalan santai dan penjagaan pos, oke sebelum pulang ada yang mau ditanyakan ?” Terang Pak Adi

“Pak..”Andri angkat tangan

“Iya Ndri..”

“Saya mau satu team sama Flo, Amad, Denis, sama Pipit Pak” Usul Andri

“Iya Pak kita kan Power Rangger jadi nggak lucu aja kalo harus pisah” Sambungku

HAHAHAHAHA

“Untuk Amad,Denis, Pit , dan kamu Flo dan juga kamu Andri memang ada di pos yang sama karna Bapak tau kalian Power Ranger disini, Tapi maksud Bapak ada pendamping dari Panitia Intinya”

“Ya Udah Pak kalo gitu pendampingnya Albie aja, biar ada yang lancar PDKTnya” Ledek Pipit sambil melempar kertas kearahku

“SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUU” Teriak Kak Ayu dengan keras

“Oke, tapi harus professional …gimana Albie ? Flo ?” Aku hanya cengar-cengir nggak jelas, Albie hanya mengajungkan jempolnya.

“Ada lagi ?” Tanya Pak Adi,

“Nggak adaa” Jawab kita kompak

“Oke..sebelum pulang kerumah masing-masing mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, doa dimulai.”


Aku pulang dianter oleh Albie, dia tidak ikut menginap karna dia sudah mendapatkan kelompok penjagaan pos untuk besok. Aku senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan dia malam ini, sepanjang jalan dia terus menggenggam tanganku. Aku pun tak ingin melepaskan genggamnya, sepanjang jalan kita hanya diam karna kita ingin menikmati indahnya malam ini.


Aku bersyukur pagi ini udara cukup cerah untuk melakukan acara pagi hari ini, aku sibuk menata minuman untuk para peserta. Aku melihat Albie sibuk mondar-mandir mengambil komando sebagai ketua regu. Aku masih ingin mengulang hari kemarin, tapi aku sadar waktu takkan bisa diputar kembali. Acara jalan santai selesai tepat waktu, kini memasuki acara inti yaitu acara bazar dan pensi.


“Flo….”

Aku mencari-cari suara teriakan itu, seseorang melambai-lambaikan tangannya berlarian kearahku. Aku pun berlari kearahnya dan kita seperti teletubis dengan berpelukan kegirangan jingkrak-jingkrang seperti udah lama nggak ketemu, padahal 2 minggu yang lalu kita baru ketemu. Aku tau aku dan temanku menjadi pusat perhatian tapi kita tak perduli.

“Lo kemana aja sih ? Gue dari tadi nyariin lo tau”

“Ya sorry Ta, tadi gue jadi panitia jalan santai. Lo nyampe jam berapa ?”

“Gue sampe jam 9..eh gue balik ke ruang kostum dulu ya, si Abang nungguin gue”

“Oke, salam buat Abang ya”

“Oke”

Aku melihat Albie berjalan kearahku, dia membawa minuman dengan repot.

“Tadi siapa Flo ?”

“Okta, dia temen aku di Jakarta..” Albie hanya manggut-manggut

“Boleh aku bantu ?” Tawarku

“Boleh, kamu bawa ini aja yang nggak terlalu berat”

Aku berjalan beriringan dengan Albie, aku tau ada yang tidak suka dengan pemandangan ini. Aku berusaha cuek dan tidak perduli, karna aku sadar yang berada disampingku saat ini adalah imamku kelak.

“Eh yank, sebentar ya kamu tunggu disini, kakak mau nganterin minuman ini dulu ke sana ya” Albie sambil menunjuk ruangan dimana para guru kumpul.

“Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana” Lanjut Albie, aku hanya mengangguk.

Aku senang bisa bekerja satu team seperti ini, sebenarnya ini bukan pekerjaanku tapi karna dia sedang kerepotan jadi aku ingin membantunya. Sebelum dia benar-benar sibuk dengan bandnya nanti, setidaknya aku bisa mencuri waktu sebentar untuk bisa bersamanya. Albie keluar ditemani Pak Adi, aduh males banget pasti aku bakal jadi bulan-bulanan Pak Adi.

“Hai Flo, gimana persiapan untuk games ?” Tanya Pak Adi

“Semua aman Pak” Jawabku

“Bagus, good luck buat kalian ya”

“Thanks Pak” Huffft…aku kira Pak Adi bakal ngoceh-ngoceh karna aku terlalu dekat sama Albie saat begini, tapi dia malah kasih semangat.

“Flo kita ke ruang kostum ya sisanya buat disana”

“Oke Kak”


Sepanjang koridor aku hanya bisa diam dan sesekali aku meliriknya, aku tak bisa berkata banyak saat ini bersama dia. Karna diam dalam keadaan seperti ini aku bisa sedikit mengerti akan dia.

“Hai Al, hai Flo..”Sapa Kak Ayu

“Hai Kak” Sapaku balik, aku melihat ada Okta dan Si Abang CS.

“Eh Al, jangan pacaran mulu..bentar lagi kita tampil” Timpa Kak Husen

“Oh..jadi ini pacarnya Flo, gue kira lo bakal setia Flo sama si Jomblo” Seru Bang Randy

“Ish,,apaan sih lo Bang nyamber aje tuh mulut udeh kaya petir”

“Et dah ya, tuh bahasa betawinye sampe keluar” Sambung Bang Rangga

HAHAHA, dan untuk kesekian kalinya aku jadi bahan tertawaan.

“Udah donk, kasihan nih si Flo dari kemarin jadi bulan-bulanan kalian mulu” Bela Albie sambil merangkul bahuku.

“Yah elah kak si Flo mah gak papa jadi bulan-bulanan juga, karna biasanya dia slalu ngbully orang lain” Cletuk Okta

HAHAHA..aku dan Okta terbahak-bahak, Albie mengangkat kedua alisnya dan pergi menghampiri Kak Ayu dan berbisik sesuatu. Rasa penasaran menghampiriku, tapi rasanya nggak sopan untuk menguping pembicaraan mereka.

“Nah nih dia Flo disini..”Suara Kak Tama menghentikan suara tawaku.

“Kamu dicariin sama Pak Juna”Kata Kak Tama

“Oh..thanks Kak.. Eh Ta, gue pergi dulu ya”

“Eh, lo nggak pamit sama pacar lo dulu”

“Dia bukan pacar gue Ta..” Okta mengangkat kedua alisnya, aku hanya menatapnya yang lagi berbicara serius dengan Kak Ayu.

“Tapi yang Isnya Allah dia bakal jadi milik gue secara sah” Lanjutku

“HAHA..sok puitis lo” Suara ketawa Okta membuat orang menengok kearahku.

“Bukannya lo aminin kek, senang amat lo ngliat gue Jomblo”

“Aminnnnnn…”Suara Bang Randy CS kompak.


Aku pergi meninggalkan ruangan kostum tanpa pamit ke Albie, aku pergi menemui Pak Juna. Aku muter-muter menyari Pak Juna tapi tidak ketemu, kemana dia ? Aku pun nggak tau. Aku pergi ke stand perusahaan tempat aku bekerja suasana makin siang makin panas dan makin ramai. Kepalaku seketika pusing, entah kenapa semua jadi berbayang, nafasku tiba-tiba terasa sesak. Semua semakin memudar, aku mendengar suara riuh gemuru test drumpun semakin jauh.


Entah aku berada dimana ? kepalaku terasa masih berat, aku melihat jam pukul 2 siang. Ah ternyata aku pingsan selama 2 jam, ruangan ini terasa sepi. Aku mendengar suara alunan piano, aku terdiam mendengarkan dengan seksama alunan ini. Ya ini suara piano yang biasa dimaenkan Albie dan Bandnya. Aku berjalan keluar merambat memegang tembok. Kepalaku masih terasa pusing, nafasku masih sedikit sesak. Aku melihat Albie begitu tenang memainkan piano itu, lagu ini lagu kesukaannya.


“Flo, lo ngpain disini ?..” Suara Gilang mengagetkanku,

“Lo itu harusnya istirahat bukan klayapan begini, yuk gue anter ke ruangan lo lagi” Gilang menarik tanganku, dan saat itu Gilang melepaskan tanganku.

“Gila, badan lo panas banget Flo muka lo juga jadi pucet banget..” Gilang benar, badanku memang terasa panas, aku pun merasa mukaku sama. Air mata ku keluar dengan tiba-tiba, aku lemas terkulai jatuh ke pangkuan Gilang yang sikap menangkapku. Semua gelap aku tidak bisa melihat apa-apa, tapi telingaku masih bisa mendengar suara Albie berteriak dan sempat sedikit melihat dia berlari kearahku.


Semua sinar putih datang kepadaku, entah aku sekarang dimana. Aku hanya bisa mendengar suara isak tangis dari Ayah, keluargaku dan teman-temanku yang lain. Aku bertanya kepada angin yang berhembus, aku sekarang dimana ?  namun tak pernah kutemukan jawaban itu. Setiap aku bertanya aku mendengar suara piano dengan alunan music yang berbeda setiap saatnya.


Kini aku mendengar jeritan dan isakan tangis Albie, ya itu suaranya. Dia menyentuh tanganku dia menyentuh tanganku, perlahan aku membuka mata semua masih terasa membayang. Aku merasakan semua orang berkumpul mengelilingiku, apa yang terjadi denganku ? Ada apa ? Ketika aku membuka mata, aku mendengar Andri berteriak memanggil dokter. Aku dimana ? selang beberapa menit dokter datang dan memeriksa keadaanku. Aku terus memandang wajah Ayahku yang terlihat sangat kusut dan sedih.


“Selamat pagi..” Sapa suster membawakan makananku beserta obat untukku.

Cuaca hari ini cukup cerah, sisa hujan semalam masih membekas didedaunan dan ranting pohon-pohon. Aku melihat bunga mawar pink mekar dengan indah, suster itu tersenyum kepadaku. Seolah dia mengerti apa ada yang ada difikiranku. Tanpa berbicara dan bertanya, suster itu melompat keluar lewat jendela dan memetikkan mawar itu untukku.


“Cukup aku dan kamu yang tau oke !” Seraya suster itu pergi, aku hanya memperhatikan dia dari belakang. Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku tidak suka memiliki bunga mawar tapi hanya suka melihatnya dengan embun pagi dan dia yang tertancap ditangkainya. Tapi, aku menghargai pemberiannya dan bagaimana cara dia mengambil bunga itu.


Hari ini aku akan meninggalkan ruangan ini dan kembali ke rumah, ada rasa sedih karna hari ini Albie tak bisa menjemputku. Aku sepanjang hanya terdiam, fikiranku terus dipenuhi olehnya. Dia kemana ? Kemana Dia ? kenapa dia tidak menjemputku ?

Suasana rumah pun terlihat sepi, ada apa dengan hari ini ? Apa mereka lupa kalau hari ini aku kembali kerumah. Ayah menyuruhku masuk ke rumah duluan, dengan malas aku membuka pintu.

SUPRISEEEEE….!!!


Aku tercengang ketika melihat semua orang kumpul dirumahku, aku melihat balon huruf dengan tulisan “WELCOME FLO”. Perlahan air mata ini mengalir, aku bahagia dan terharu ternyata banyak yang perduli dan sayang sama aku. Albie datang dengan rangkaian bunga ditangannya, kini hatiku bertedak tak menentu. Banyak alunan drum yang menabuh tak menentu, suasana menjadi sepi hanya ada petikan gitar yang dimainkan Amad.


“Selamat datang kembali sayang” Albie berkata lembut dan memberikan bunga itu

“Thanks sayang” Aku mencium serangkaian bunga anggrek putih, Ayah masuk dari pintu belakang bersama seorang pria yang hampir seumuran dengannya. Dan aku pun tau bahwa itu adalah Ayah dari Albie, ada apa dia kesini ? Albie berjalan menghampiri Ayahku dengan menggandengku kehadapannya.

“Yah, aku tau Flo anak satu-satunya Ayah..” Albie menghembuskan nafasnya, aku bisa merasakan tangannya yang gemetar.

“Aku minta izin untuk menikahi Flo untuk menjadi ibu dari anak-anakku” Lanjut Albie

“Ayah restui” Ucap ayah dengan tegas dan jelas, untuk kedua kalinya aku mengeluarkan air mata ini. Entah kenapa semua pandangan menjadi gelap dan suara pun menjadi sunyi. Semua seakan menjauh, ya Tuhan aku tak ingin menghilang dari kebahagian ini, aku tak ingin pergi dari kebahagian ini.

Suara tangis terdengar samar-samar, aku membuka mata ku lihat semua orang menangis. Albie memelukku dengan tangisnya, “Jangan pernah pergi dari hidupku” Aku hanya mengangguk. Terima kasih ya Tuhan atas semua waktu yang Engkau berikan kepadaku, dan semua rasa yang Engkau berikan kepadaku.


Teman, sahabat, keluarga dan seseorang yang aku cintai, mereka adalah hidupku. Aku melihat Albie melantunakan lagu dengan pianonya, sebuah lagu yang pernah dia janjikan dulu. Andri tiba-tiba datang dan memelukku, “Selamat ya Flo, aku bahagia banget”.

“Aku sayang sama kamu” Bisikku, Aku memeluk Andri dengan erat, aku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia. Ayah ikut memelukku dan Andri, kita berpelukan dalam tangis bahagia. Semua ikut memelukku, pelukan inilah yang aku butuh dalam hidupku. Pelukan kasih sayang, sahabat dan cinta.