Jumat, 23 Januari 2015

SEULAS SENYUM EMBUN



PART VI ( Ending )

EMBUN***

Padahal masih pagi tapi hujan udah turun aja, aku malas beranjak dari tempat tidur ini aku masih ingin bersembunyi dibalik hangatnya selimut. Ku lihat jam beker menunjukkan pukul setengah 6, andai hari ini tidak ada ujian aku lebih milih bolos sekolah. Udara begitu dingin hingga menusuk sampai tulangku, aku berjalan menuju kamar mandi dengan malas. Aku merasakan suasana rumah tampak sepi, biasa Abang dan Kakak sudah duduk diruang keluarga tapi hari ini tidak dan ku lihat kamar Kakak tampak gelap. Aku mencarinya kesana kemari tapi tidak ku temukan, pagi ini terasa beda biasanya kakak slalu teriak-teriak, usil kepadaku sikapnya gak berubah meskipun Abang dan Bang Yayang udah tinggal disini. Dimeja makan hanya ada Bang Yayang yang lagi sibuk menata sarapan, hari ini terasa aneh Bude,Pakde, Abang dan kakak kemana ?.
“Bang Yayang, semua orang pada kemana sih ? kok sepi banget ? “ Tanyaku sambil clangak clinguk. “Pakde sama Bude pergi ke Bogor tadi pagi-pagi, Abang juga pergi ke kampus pagi-pagi, dan Bang Rangga juga.” Jawab Bang Yayang, aku hanya manggut-manggut walau sedikit bingung. Ada apa sama mereka ? kenapa mereka mendadak jadi misterius, Bang Yayang juga terlihat aneh hari ini tapi mungkin ini hanya perasaanku aja.

“Dek, kamu bareng aku aja kan Abang udah berangkat” Kata Bang  Yayang , pengen banget sih bareng sama dia tapi pasti dia bareng Kak Dara dan gak mungkin banget 1 motor bertiga. “Gak deh Bang ade bareng Bang Akbar aja” aku menghela nafas, “Akbar berangkat sama Dara jadi kamu bareng sama aku kita naik taksi aja soalnya masih ujan tuh” aku dengan cepat menyelesaikan sarapan dan merapihkan meja makan, taksi udah menunggu didepan aku keluar pintu biasanya ada kakak didepan sedang menunggu aku dengan sabar dan muka sedikit jutek. Padahal baru berapa jam aku ditinggal kakak tapi rasanya aku kangen banget sama dia, perasaanku menjadi tidak tenang bayangan kakak terus melintas dibenakku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam Bang Yayang pun hanya diam sekali-kali aku meliriknya, aku tau mungkin dia khawatir sama Milli yang gak pernah ada kabar.

Setelah membayar uang taksi dia pergi begitu saja menembus rintik hujan tanpa sadar ada aku yang membukakan payung untuknya. Aku tau kemana dia pergi, dia pasti pergi ke kelasnya Milli berharap dia sudah duduk dibangkunya. Aku sedikit iri sama Milli semua orang tertuju sama dia termasuk Kakak dan Abang-abangku bahkan Akbar juga tak menoleh kearahku saat dia melintas didepanku. Gak gak boleh aku berfikiran seperti itu mereka kan slalu sayang sama aku, ya mereka slalu sayang sama aku pokoknya aku gak boleh negative thinking. Aku menghela nafas panjang dan melanjutkan jalan menuju kelas, kelas Nampak masih sepi walau jam pelajaran mau mulai mungkin merasa masih dijalan terjebak macet. Aku melihat bangku Fio masih kosong, apa dia tidak masuk sekolah ? tapi kan jam pertama dan kedua ada ulangan harian. Walaupun Fio tidak suka pelajaran Matematika sama Fisika aku yakin dia tetap semangat mengerjakannya. Aku coba kirim pesan kepadanya gak ada balesan aku telfon pun gak diangkat sama sekali, fikiran aku mendadak tidak tenang bel masuk telah berbunyi tapi Fio tidak menampakkan diri juga. Aku merasakan tidak tenang Fio gak ada kabar sama sekali aku gelisah, khawatir takut terjadi apa-apa sama Fio.

Fiiuuhhh..aku mengambil nafas panjang hari ini menegangkan untukku, bukan karena ujian tadi tapi karna tidak ada kabar dari Fio. Jam istirahat aku sibuk mondar-mandir kemari mencari Bang Rangga tapi hari ini dia gak masuk, ada apa ? Apa Fio sakit ? ku coba telpon tapi nomornya gak aktif. Aku mencari Kak Fajar, mungkin dia udah masuk sekolah dan aku bisa menanyakan keadaan Milli. Tapi, ternyata diapun udah ijin sekolah dari minggu kemarin, aku mencari Kak Dara, Akbar dan Bang Yayang tapi mereka juga gak ada. Ada apa sih sebenarnya ? Kenapa semua mencoba menghilang kenapa semua orang menghindar dari aku. Aku kira setelah semuanya berkumpul kebahagianku sempurna tapi tidak, semua orang mendadak menjadi misterius. Hari ini sekolah pulang lebih cepat karna semua guru mau ada rapat, aku melihat mobil Akbar sudah tidak ada diparkiran depan sekolah. Aku coba telpon Bang Yayang gak diangkat mungkin dia lagi sama Kak Dara, aku coba telpon Kakak juga gak ada jawaban.
Mungkin Kakak lagi sibuk sama kuliahnya, mending aku samperin ke kampusnya aja. Dengan semangat aku menuju kampusnya, kampus ini udah gak asing buat aku jadi aku tidak begitu sulit untuk menelusuri kampus ini aku mendatangi setiap sudut kampus yang biasa kakak nongkrong bersama teman-temannya tapi gak aku berfikir dimana lagi aku harus pergi akhirnya aku ingat perpustakaan yang belum aku kunjungi. Sampai disana pun nihil kakak gak ada, aku hampir patah semangat. Perutku mulai lapar dan tenggorokanku kering aku melihat jam menunjukkan pukul 12 siang pantas saja perutku mulai lapar. Aku menuju kantin untuk mengisi perutku dulu, aku melewati musholah niatnya aku mau sholat dulu tapi musholah masih ramai mungkin nanti aja setelah makan baru aku sholat.

Ibu kantin disini sudah ada yang kenal sama aku, dia menyapa dengan ramah aku cukup nyaman walaupun tadi cukup risih karna banyak yang melihatku masuk kampus ini sendiri tanpa kakak. Aku tidak perlu memesan makan karna Ibu kantin yang terkenal cerewet sudah hafal makan siangku, beberapa menit kemudian nasi goreng special + es milo hinggap didepan mataku. Dengan lahap aku memakannya, seketika aku melihat bayangan Kakak terlintas dibenakku aku membayangkan dia lagi duduk didepanku dan menyuruhku menghabiskan makanan ini. Aku ingin menangis , selera makanku langsung hilang aku diam dan menundukkan kepala berusaha menahan air mata yang mau jatuh. “Embun kamu kenapa ? kok makannya udahan ? makanan ibu gak enak ya ?” Tanya Ibu kantin yang mungkin dari tadi memperhatikan gerak-gerik aku.
“Aku gak kenapa-kenapa kok, oh ya Bu Ibu lihat Kakak gak ?” Tanya ku semangat, aku berharap dapat jawaban yang cukup membuatku lega. “Gak, hari ini kan Nak Acel gak masuk kuliah” Jawab Ibu kantin “Eh, Mbun Ibu kesana dulu ya banyak yang beli, kamu lanjutin makan Ibu tinggal ya” Ibu kantin langsung pergi tanpa mau mendengar ucapan terima kasihku. Sebenarnya kakak kemana sih ? kenapa semua orang menghilang ? kenapa semuanya pergi begitu aja ? gak ada kabar gak ada pesan.

“Hai Mbun,” Bau aroma maskulin yang khas banget, aku menoleh kearahnya dia tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat. “Hai Kak” sapa ku balik.
“Kok sendirian, Marcel mana ?” Tanya sambil menenggak minuman kalengnya. “Loh, Emang Kak Adrian gak tau Kak Marcel dimana?” Tanyaku balik, dia mengeritkan alisnya dia lalu menggelengkan kepalanya. Aku udah gak bisa lagi membendung air mataku perlahan buliran air mataku jatuh, kepalaku menunduk lemas. Aku merasakan belaian lembut dikepalaku, Kak Adrian berusaha menenangkanku. “Kamu tenang ya kita cari sama-sama, tapi kita tunggu Celline dulu ya” Ucapnya, aku menolah kearahnya dia tersenyum tulus. Dia dan Kak Celline adalah sahabat Kakak dikampus ya walaupun Kak Adrian dan Kak Celline pacaran udah lama tapi mereka bisa menempatkan diri dimana untuk pacar dan dimana untuk sahabat dan juga dimana untuk adik, yaitu aku. Kak Adrian suka menggantikan posisi Kakak kalo kadang sibuk dengan urusan kuliahnya, Kak Adrian juga pernah menghadiri rapat wali disekolahku dan dia waliku. Kata Kak Adrian rapat itu membosankan tapi ini semua demi aku dan Kakak, aku sangat menyanyanginya. Setelah Kak Celline datang kita pergi mencari Kakak, tempat pertama yang kita kunjungi adalah tempat kakak bekerja saat ini yaitu di toko buku langganan aku , tapi kata managernya untuk 3 hari kedepan kakak udah ambil cuti. Lalu kita ke café tempat kakak pernah part time disana, di café juga kakak gak ada. Aku, Kak Adrian dan Kak Celline mencari kesana kemari tapi gak ada hasil. Hari mulai gelap akhirnya pencarian kami cukup sampai disini, aku pulang diantar sama Kak Adrian dan Kak Celline. Aku melihat rumahku masih gelap, apa dirumah gak ada orang ? mereka semua kemana ? Apa mereka semua sibuk mencari Milli ? Apa Pakde dan Bude juga ikutan ? telponku berbunyi ada pesan masuk aku berharap itu Kakak, tapi aku melihat itu dari Bude dia bilang dia dan Pakde akan menginap di Bogor beberapa hari karna ada urusan.
“Mbun, kita temenin kamu ya sampai ada salah satu keluarga kamu pulang” Ucap Kak Celline, aku hanya menangguk aku lelah dan aku cape untuk hari ini. Kak Adrian pergi kearah dapur aku gak tau dia ngpain disana, hanya terdengar aduan suara panci dan air. Aku mencoba ngcek telfon rumah tapi tak ada pesan satu pun, Kak Adrian memasak air dengan daun sereh dia menyuruhku mandi dengan air itu. Aku senang karna masih ada yang perduli denganku, malam ini aku tidur ditemani mereka karna sampai tengah malam pun Kakak dan Abang-Abangku tidak pulang. Mungkin mereka sudah lupa kalau mereka punya aku, ya walaupun aku mengerti mereka semua sedang khawatir sama Milli tapi gak seharusnya mereka lupa punya aku. Aku, Kak Adrian dan Kak Celline tidur diruang TV aku sengaja menggelar kasur disana biar aku tidak ketakutan karna petir yang kapan saja bisa datang.

***

Suara brisik didapur membangunkanku, aku melihat gak ada Kak Celline ditempatnya dan aku melihat Kak Adrian masih tertidur disofa. Mungkin Kak Celline lagi nyiapin sarapan untuk kami, aku juga yakin dia pasti lagi bikin pasta. Karna katanya dia “Aku Cuma bisa masak pasta” Dia itu sedikit judes tapi dia juga lembut. Aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah karna hari ini ada ulangan Kewarganegaraan, aku berharap disana bisa ketemu Fio, Akbar, Kak Dara, ataupun Abang-abangku syukur-syukur ketemu Milli. Dengan semangat aku pergi kesekolah dan menghabiskan pasta yang udah disiapin Kak Celline, aku berusaha melupakan kejadian yang membuatku sedih saat menyantap pasta buatan Kak Celline karna pastanya enak banget. Ke sekolah aku diantar sama Kak Adrian dan Kak Celline, dan sepulang sekolah aku akan melanjutkan mencari Kakak.
Sebelum bel berbunyi aku mencari Akbar tapi ternyata dia gak masuk dan yang lainnya pun gak masuk. Untung saja pelajaran hari ini cepat berlalu, Kak Adrian sudah menungguku didepan sekolah. tapi aku tidak melihat Kak Celline bersamanya, aku Tanya kenapa kak Celline gak ikut ternyata dia ada kuis di kampus yang gak bisa ditinggal. Hari ini aku pergi ke rumah Akbar terlebih dahulu ternyata rumahnya kosong, begitu juga rumahnya Fio cuma ada Kang Ujang tukang kebon Fio. Dia juga gak tau kemana Fio dan Bang Rangga katanya dari kemarin gak pulang. Hampir putus asa aku mencari mereka, dan aku teringat kemana aku harus pergi ketika aku melihat toko bunga milik keluarga Milli. “Kak kita pergi kerumahnya Milli aja siapa tau mereka disana” usulku penuh semangat. “Loh bukannya rumah itu udah kosong ya beberapa minggu yang lalu?”Tanya Kak Adrian, “Kita coba aja kak” Ucapku sambil memohon, kak Adrian hanya tersenyum tanda setuju.
Jarak toko bunga milik keluarga Milli dengan rumahnya tidak begitu jauh, sesampai disana aku melihat rumahnya setengah terbakar disana pun banyak orang berdatangan dan hanya ada 3 mobil pemadam kebakaran. Disana aku melihat Akbar, Kak Dara, Bang Yayang dan kakak serta kak Fajar yang lagi panik. Aku menghampiri mereka dan menanyakan apa yang terjadi, Kakak menjawab dengan nada bergetar kalau Milli masih berada didalam. Aku melihat kekhawatiran dimata Kakak dan Bang Yayang, segitu pentingkah Milli buat mereka aku melihat kobaran api didepanku. Aku berlari menuju pintu belakang semoga masih ada jalan masuk kerumah itu, ternyata benar pintu belakang masih terbuka dan masih bisa ditembus aku berlari ke lantai 2 untuk mencari Milli. Milli tergletak pingsan di depan pintu kamarnya, api terus meramba kemana-mana aku berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan Milli dan memberikan kebahagian untuk Kakak dan Abangku. Kakiku terpeleset dan terguling dari tangga bersama Milli, saat aku mau bangkit kakiku tertiban guci yang jatuh. Sakit serasa kakiku tak mampu bergerak lagi tapi aku berusaha sekuat mungkin untuk membawa kebahagian mereka, aku gak mau mereka sedih dan gelisah seperti kemarin. Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku keluar dari jendela samping rumah Milli, aku dibantu oleh petugas pemadam kebakaran kesadaranku mulai menepis. Aku mendengar semua orang memanggil Milli aku tak mendengar orang memanggil namaku kecuali suara Kak Adrian yang begitu panik setelah itu aku gak mendengar apapun.

***

Kepalaku terasa pusing, pandanganku masih sedikit buram aku melihat seseorang tertidur disampingku dengan erat memegang tanganku. Terima kasih karna udah mau menjagaku saat seperti ini, ku elus kepalanya dengan pelan aku tak ingin membangunkannya. Kemudian dia menggerakkan kepalanya dan mengucek-ucek matanya, aku memberinya senyum dan mengucapkan selamat pagi.
“Gue seneng Mbun lo udah sadar, kenapa sih lo nekat gitu aja ? tanpa pamit lagi sama gue. Sekarang lo bilang mana yang sakit ? mana ? bilang sama gue” Ucapnya dengan mata yang mulai memerah. “ Gue gak apa-apa Cuma sakit sedikit doang kok, Gue nglakuin ini buat kakak-kakak gue dan semua orang yang sayang sama Milli termasuk lo Bang” walaupun sebenarnya aku sakit hati ketika aku sadar gak ada Kakak disamping aku, tapi aku tetap bersyukur kok masih ada yang mau menunggu aku sampai aku siuman. Aku slalu berdoa setiap waktu agar aku diberi umur panjang untuk bisa melihat ketiga kakakku slalu tersenyum dan bahagia. Aku juga slalu berdoa agar Akbar terus ada disampingku dan menjadi penghuni hati yang kosong ini, mungkin aku udah mulai jatuh cinta padanya.

ADRIAN***

Belakangan ini banyak kejadian yang buat gue tidak mengerti cape dan lelah, dan sekarang gue melihat ada sesuatu yang aneh antara Embun dan Marcel. Semenjak semuanya terungkap mereka menjadi jauh bahkan Embun sedikit terlupakan. Mungkin Milli lebih membutuhkan Marcel dan Tyan tapi gak seharusnya mereka melupakan Embun, mereka sama-sama dirawat di Rumah sakit yang sama. Tapi, gue melihat Embun terbaring seorang diri gak ada yang nemenin dia, bahkan sahabat terdekatnya pun tidak ada disamping. Gue menengok keruangan sebelah disana Milli masih tertidur dan dikelilingi orang-orang yang mungkin sangat menyayanginya. Gue ngurungin niat untuk jenguk Milli, gue lebih milih seseorang yang lagi sendiri dan gue yakin dia butuh banget seseorang untuk menemaninya. Gue berjalan pelan agar tidak menganggunya saat beristirahat, gue memperhatikan raut wajahnya gue tau dia sedih tapi dia berusaha tegar dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tanpa terasa air mata gue jatuh dan menempel dijari telunjuk Embun, bagai tertetes air mendidih Embun langsung menggerakkan tangannya dan bangun. Dengan spontan gue membalikkan badan dan mengusap air mata gue, dengan cepat gue berbalik badan dan Embun tersenyum dengan berusaha menahan air matanya yang mau jatuh.
“Embun tidak apa-apa, Kak Adrian gak boleh sedih ya” Ucapnya hati gue sakit saat mendengar ucapan itu, gue tau dia bohong dan dia sebenarnya kenapa-napa. Embun berusaha duduk, ketika gue mau membantunya bahasa tubuh Embun menolak. Hati gue semakin sakit, gue duduk disampingnya menatap matanya dalam-dalam gue pengen tau seberapa sakitnya dia. “Kak, Embun boleh gak peluk Kak Adrian” Pintanya kepalanya menunduk aku melihat ada sesuatu yang mulai menetes ditangannya, gue menariknya dan memeluknya. Dia menangis semakin keras, gue tau dia sedang teriak tapi tak bersuara karna dia teriak dalam hati. Gue mohon ya Tuhan jangan pernah kau ambil adikku, walau dia bukan adik kandungku tapi aku menyayanginya sebagai adik kandung ku sendiri.
“Haiii,,” Suara Celline membuyarkan suasana sedih dikamar Embun, Celline tertegun dia mengucapkan maaf. Aku menghampirinya dan memeluknya, “Gak usah minta maaf, aku sayang kamu.”Bisikku, gue hanya khawatir dia salah paham atas kejadian ini. Celline melepaskan pelukannya dan memeluk Embun, gue mendengar isakan Celline dan gue pun melihat air mata Embun terjatuh. Gue berusaha memeluk kedua wanita yang sama-sama gue sayang, “Mbun sayang kalian semua, jangan pernah tinggalin Mbun sendiri dan makasih untuk semua yang kalian kasih sama Mbun beberapa hari ini. Embun akan minta sama Allah agar kalian berjodoh, please Mbun mohon kalian jangan pernah pergi dari Mbun apapun yang terjadi sama kalian nanti, karna Embun sayang sama kalian. Dan Mbun titip surat yang ada dilaci ” Bisik Embun, membuat suasana makin hening yang ku dengar hanya detakan jarum jam yang tertempel didinding.
Gue merasakan pelukan Embun semakin longgar, genggaman tangan kirinya semakin melemah dan tangan kanannya terlepas dari punggung gue. Tubuhnya dingin, mukanya pucat pasi, dia tak berdaya, Celline teriak histeris membangunkan Embun dan gue berlari mencari dokter. Hati gue gak tenang gue bolak-balik depan pintu, Celline terus terisak dalam tangisnya gue gak tau harus berbuat apa. Dokter keluar dari ruangan Embun dan membawa Embun dengan terburu-buru, gue dan Celline mengikuti kemana arah Embun pergi dan dia dimasukan dalam ruang ICU. Celline semakin histeris melihat kondisi Embun yang makin melemah, gue tau ini berat buat gue tapi gue berusaha tegar gue gak boleh lemah. Gue berusaha memenangkan Celline, derap kaki terdengar mendekat gue melihat Marcel dan Tyan. Celline menatapnya penuh dengan kebencian, gue yakin Celline gak suka melihat keberadaan mereka.
“Yan, Embun gimana ?” Tanya Marcel dengan panik, “Ngapain lo nanya-nanya keadaan Embun ? gue Tanya ngapain hah, selama ini lo dan lo kemana aja hah ? kemana gue Tanya ?” Tanya balik Celline dengan nada yang penuh amarah. “Eh, lo jaga tuh mulut” Bentak Tyan.
“Oh ya, gue gak perduli selama ini kalian kemana ? kalian terlalu sibuk dengan urusan cinta kalian sehingga kalian melupakan seseorang yang saat itu butuh kalian, sampai-sampai dia rela ngorbanin nyawanya buat nylametin nyawa cewek yang lo cinta Cel. Dia gak perduli sama kobaran api yang menghadangnya, dan disaat dia butuh lo lo malah berlari kearah tuh cewek yang udah bikin lo jatuh cinta, dan selama dia dirawat disini apa lo udah pernah nemuin dia ? belom kan ? keadaan dia aja lo gak tau gimana ? harusnya dari kemarin lo Tanya gimana keadaan Embun, bukan sekarang yang udah sekarat. Padahal lo tau kan Cel Embun punya lemah jantung, dan lo tega nglakuin ini semua sama PRINCES lo” Celline berusaha meluapkan amarahnya terhadap Marcel, dan rasanya gue juga pengen banget nonjok muka dia. Suara pintu terbuka sedikit meredahkan amarah gue, dokter keluar dengan muka sedikit sendu.
“Pah, gimana keadaan Embun ?” Tanya gue sama papah, ya dokter itu adalah papah gue sendiri, gue minta dia untuk menangani Embun sampai dia bener-bener pulih.
“Embun dia akan koma sampai waktu yang tidak ditentukan dan……” Papa memutuskan bicaranya gue dan yang lain memilih diam berharap papa menunggu papa melanjutkannya. “..kaki Embun lumpuh sampai waktu yang tidak bisa ditentukan” lanjut papah, Celline jatuh pingsan mungkin dia membuat dia cukup shock. Gue kelabakan gue panik, gue langsung bawa Celline ke ruangan Papa. Celline masih belum sadarkan diri hari udah mulai magrib, aku terteguh mendengar suara adzan. Dulu kata almahurma kakek kalo kita lagi sedih dan pikiran kita gak tenang alangkah baiknya kita slalu mengingat-Nya, yang maha agung yang Maha Kuasa dan Yang Maha penyayang. Gue mulai mengambil wudhu dan menghadapNya, gue berharap Allah mau mengampuni segala dos ague selama ini yang slalu meninggalkan perintahnya.
“Ya Allah, hamba tau hamba jarang menghadapMu hamba tau hamba adalah hambaMu yang berlumur dosa. Tapi hamba mohon ya Allah, sembuhkanlah Embun dan jagalah Celline untuk hamba jadikanlah dia jodohku ya Allah, hamba sangat mencintainya.” Isi dalam doaku, ternyata benar seusai sholat hati ini terasa tenang. Gue gak sadar Celline berada dibelakang gue dan dia sedang sholat dengan khusu’ gue melihatnya begitu tenang, aku gak tau kapan dia terbangun mungkin saking khusu’nya gue shalat gue gka sadar dia udah bangun dan melaksanakan sholat maghrib.
Seusai shalat magrib gue dan Celline pergi beli makan sebelum menjenguk Embun, perjalanan menuju kantin melintasi ruangan dimana Milli dirawat. Celline berhenti dan mengintip lewat jendela, disana Milli sedang terbaring lemah gue tau air matanya mengalir diujung matanya. Sebenarnya gue pengen banget maki-maki dia dan marah sama dia, tapi gue sadar ini semua bukan kesalahannya lagi pula dia juga gak sengaja lakuin ini semua.
“Ayo kita pergi” Ajak Celline, gue hanya nangguk dan mengikuti langkah kaki Celline. Di kantin gue liat Marcel duduk melamun sambil mengaduk-aduk hot coklat kesukaanya, Celline meminta gue agar duduk jangan berdekatan dengan Marcel karna dia belum siap untuk bertatap dengan Marcel lagi setelah kejadian tadi. Gue slalu memohon sama Allah agar semua cepat kembali normal, Embun yang slalu ceria,suka usil, dan kadang bersembunyi dibalik buku untuk menutupi kesedihannya, Marcel yang bijak, penyanyang dan juga konyol, dia yang slalu gue semangat dan bangkit ketika gue merasa putus asa.

MARCEL***

Rasa bersalah dan menyesal slalu menyelimuti gue, gue merasa gak berguna menjadi seorang kakak, yang tega membiarkan adiknya sendiri melawan rasa sakit itu. Ya Allah, ampuni semua dosa ini yang kau limpahkan amarah Engkau kepada adik hamba. Seluruh ruangan yang ada di rumah ini, slalu ada tentang dia, dimana dia tertawa,menangis, dan merenggek layaknya anak kecil. “Maafin kakak dek, maafin kakak” lirih gue yang terus memeluk boneka kesayangan Embun. Hari ini langit mendung hari pun menjadi gelap, di teras rumah Milli sudah menunggu, keadaan Milli cepat pulih, sedangkan Embun masih koma di rumah sakit hampir 1 bulan. Hari ini gue nemenin Milli ke buih dimana tempat ayahnya dipenjara karna kasus penipuan dan perampokan yang pernah dilakukannya, gue sudah melupakan segala dendam yang dulu pernah gue simpan.
Di buih suasana penuh tangis, Ayahnya Milli terus-terusan minta maaf sama gue, gue berusaha menahan emosi karna dengan tiba-tiba dendam itu muncul lagi ketika gue melihat wajahnya ayahnya Milli. Telfon gue berdering gue lihat dilayar HP Caller ID Rangga, dengan sedikit menjauh dari Milli gue mengangkat telfon. “ Halo, ada apa Ga?” Tanya gue “ Bang cepat ke Rumah sakit Bang keadaan Ade kritis Bang” Jawab Rangga dari sebrang telfon. Degg, jantung gue seketika berhenti sejenak, ada apa dengan Embun.
“Cel, Embun kenapa ?” Tanya Milli, “Mil, kamu udah selesai ?” Tanya gue balik, Milli hanya menangguk. Gue menarik Milli menuju parkiran dan dengan injakan gas yang full gue menuju Rumah sakit, gue gak perduli dengan teriakan Milli yang beberapa kali menyuruh gue pelan-pelan. Yang ada diotak gue saat ini hanya Embun dan cepat sampai di Rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya gue dan Milli sampai juga, dengan langkah setengah lari gue ke ruangan Embun dirawat. Tyan, Rangga, dan Adrian terlihat mondar-mandir, Akbar lagi menenangkan Fio yang terus terisak, Dara dan Celline duduk dengan rasa cemas. “ Rangga, gimana keadaan Ade ?” Tanya gue, “ Ade lagi ditanganin dokter Bang, tadi dia sempet manggil nama Abang” jawab Rangga, gue marah gue emosi kenapa, kenapa gue slalu gak ada disamping Embun disaat dia butuh gue. Kepalan tangan gue, beradu dengan pilar tebal yang belum selesai di lapisi semen yang berdiri disamping gue. “Brrruukkkkk”
“Marcel” teriak semua orang, darah gue perlahan mengalir dari sela-sela jari gue. “Loe itu bodoh, lo itu bodoh Cel, kalo Embun tau loe kaya gini Embun pasti sedih Cel,dia pasti sedih” Bentak Dara suaranya setengah gemetar, “Please Cel, jangan loe tambah beban Embun dengan loe bersikap seperti ini, please” Adrian menatap gue penuh dengan harap, gue terduduk lemas, gue gak terus-terusan menyalahkan diri gue sendiri, ini memang semua salah gue. Dokter keluar dari ruangan Embun, “Dok, gimana keadaan Embun ?” Tanya gue dan gue berharap Embun baik-baik aja. “ Embunn,,,,” Dokter berhenti dan menghela nafasnya, “Kamu yang tabah ya Cel, Om udah berusaha sekuat Om tapi Allah berkehendak lain” Jawab Dokter, gak ini semua gak mungkin ini semua gak mungkin, gue masuk ruang ICU Embun terlihat pucet, tubuhnya dingin, gue peluk dia rasanya gue gak sanggup kehilangan dia, gue gak sanggup. “Dek, bangun kamu gak boleh ningglin kakak Dek, ade kakak mohon sama kamu kamu banguuunnnnn,,” Teriak gue yang terus menggoyangkan tubuhnya, gue melihat lipatan surat dari Embun yang belum sempat gue baca.
“Mbun, loe kenapa harus tinggalin gue Mbun, gue cinta sama loe, katanya loe janji gak akan ninggalin gue Mbun, gue gak butuh sahabat lagi karna gue udah punya Fio dan Milli sebagai sahabat gue, gue butuh loe sebagai penghuni hati gue yang kosong Mbun, please bangun Mbun, bangun” Isakan Akbar, ternyata dia benar-benar cinta sama Mbun
“Dek, bangun Abang kan belum nepatin janji Abang buat bawa kamu ke puncak, bangun bangun” suasana makin terasa haru, gue merasakan gerakan jari Embun, gerak naik turun. “Dek, ade” Panggil gue berharap Allah kasih kekuatan terhadap Embun untuk membuka matanya. Mata Embun perlahan bergerak dan membuka matanya, dia tersenyum, gue memeluknya dan mengucapkan syukur karna gue masih bisa melihat senyum Embun.
“Kakak, kenapa nangis ? kalian juga kenapa nangis ? Embun jahat ya sama kalian yang udah buat kalian nangis” Ucap Embun seperti dia saat Embun kecil ketika dia sakit demam tinggi.
Berkali-kali Embun senyum dia terus mengamati sekelilingnya ketika Om Indra mau memeriksanya, Embun menolak untuk dicek kondisinya, dia bilang kalau dia baik-baik saja. Matanya terhenti terhadap Milli, Milli menyeka sisa-sisa air matanya, dia mendekati Embun. Entah apa yang dibisikan Embun terhadapnya, Milli hanya memeluk Embun dengan penuh isakan yang semakin keras. “Mbem, loe mending gak usah banyak bicara dulu, loe istirahat, lo harus sembuh, dan kembali lagi sama kita seperti dulu” Ujar Milli dengan nada sedikit emosi.
“Bang Akbar” Panggil Embun “ Iya Mbun, ada apa ?” jawab Akbar, Embun hanya menggelengkan kepalanya, dia tersenyum air matanya mengalir disudut matanya. Gue menghapus air mata yang menghiasi wajah Embun, dia selalu tersenyum ketika gue menyentuhnya seolah-olah dia senang kalo gue yang slalu menyentuhnya. Mungkin benar apa kata Celline, Embun benar-benar kehilangan gue, darah ditangan gue masih mengalir hingga menetes di pipi Embun. “ Tangan Kakak kenapa ? Sini biar Embun yang obatin tangannya” Pinta Embun, Tyan memberikan kotak P3K pada Embun, entah apa yang gue rasa saat ini, rasanya gue berada sangat jauh sama Embun. Seperti biasa dia dengan teliti membersihkan darah yang mengalir dari sela-sela jari gue, membalutnya dengan rapi dan bersih. Selesai diperban tangan gue dicium Embun, air matanya terasa hangat ditangan gue. Gue memeluknya dengan erat serasa gue gak mau pisah sama Embun, “Ya Allah, berilah Embun satu kesempatan lagi untuk menjalani hidup ini dan berilah Hamba kesempatan untuk menjaganya lebih baik lagi” lirih gue, pelukkan Embun merenggang dan tubuhnya terkulai dalam pelukan gue. Gue teriak dengan sekuat tenaga gue, membangunkan Embun, namun tak ada respon sedikitpun.
“Sebaiknya kalian keluar dulu, biar saya periksa kondisi Embun” Pinta Om Indra, tapi gue gak mau melepaskan Embun sedikit pun, gue memeluknya dengan erat. “Cel, kita keluar yuk, kasihan Embun dia gak bisa nafas Cel” Milli berusaha membujuk gue, tapi gue gak mau melepas Embun gue mau, ini terlalu berat buat gue. “Cel, loe gak boleh egois dalam keadaan seperti ini, bukan waktu yang tepat untuk loe mempertahankan ego loe” Ucap Dara, dia memang orang yang dewasa bisa berfikiran jernih dalam keadaan apapun. Perlahan gue menidurkan Embun di tempatnya, gue dan yang lain keluar dari ruangan Embun. Tapi kaki gue masih berat untuk melangkah, semakin menjauh gue merasa semakin jauh pula dengan Embun serasa ada dinding yang tebal yang memisahkan kita. Selang 30 menit kemudian, Om Indra keluar dengan raut wajah sedih, gue bertanya apa yang terjadi sama Embun. Om Indra hanya menjawab “ Tadi adalah seulas senyum Embun yang terakhir” Deg,,gak mungkin ini semua terjadi, gak mungkin Embun benar-benar pergi. Jezanah Embun dibawa pulang sore ini juga, gue gak sanggup untuk menatap wajah Embun yang terbalut kain kafan.
Keesokan harinya pemakaman Embun berjalan dengan lancar, kesedihan terlihat dimata-mata teman Embun. Kata mereka Embun kadang suka nyebelin tapi dia orang yang baik, pintar dan suka menolong. Hari terus berlalu semua senyum Embun suara tawa dia masih terdengar jelas ditelinga gue. Setiap pagi pun gue masih suka menyiapkan seragam dan sarapan untuk dia, Rangga mendadak menjadi diam, dia berbicara kalau penting aja, Tyan masih mengurung dirinya dikamar Embun dia gak makan dan minum. Bahkan, Akbar masih suka menunggu 15 menit didepan rumah seolah-olah Embun masih ada. Air mata tak henti mengalir ketika gue membaca halaman demi halaman buku diary Embun selama gue sibuk dan gak memperhatikan dia lagi sampai dia menghempus nafas terakhir.
“Abang” suara gedoran pintu membuyarkan lamunan gue, terdengar suara Bude dibalik pintu kamar, “Ada apa Bude ?” Tanya gue, “ Abang didepan ada teman-teman Abang dan juga teman-teman Embun” ujar Bude, “ Iya suruh mereka tunggu aja, Abang mau cuci muka dulu” gue menghela nafas panjang, rasanya gue masih ingin bersembunyi dibalik dinding kamar gue. Disana terlihat ramai dan terlihat Akbar sedang mengganti bunga Anggrek di vas yang terpajang diatas TV disamping foto Embun dan dia saat mereka sedang wisata di Bandung.
“Ra, loe bisa gak bujuk Tyan suruh keluar kamar udah 2 minggu dia gak keluar kamar” Pinta gue sama Dara, “Emang dia masih belum keluar kamar juga, dan dia masih dikamar Embun?” Tanya Dara, gue hanya mengangguk. Dara berjalan menaiki tangga, harapan gue Cuma sama dia semoga dia bisa membujuk Tyan untuk keluar dari kamar. “Kalian tumben rame-rame kesini ada apa ?” Tanya gue, “Gak ada apa-apa kok Cel, kita Cuma kangen sama Embun dan juga pengen tau keadaan kalian” Jawab Fajar.
“Oh ya Cel, Rangga mana ?” Tanya Milli, “Rangga mungkin dikamar bentar lagi juga turun kok” Jawab gue, gue lihat Akbar masih tertegun berdiri melihat foto Embun. Gue tau ini berat buat Akbar kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamanya, gak hanya Akbar tapi juga semua orang semua hanya diam memandangi rumah ini dan memperhatikan setiap sudutnya. Setelah selang 1 jam akhirnya Tyan keluar kamar badannya terlihat kurus dan terlihat lingkaran hitam dimatanya, mungkin dia kurang tidur. Dara menuntunnya ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat dengan potongan daun sereh untuk Tyan mandi. Dara memang slalu perduli dengan keadaan keluarga gue saat dulu Embun sakit, gue sakit dia yang slalu sibuk merawat kita.
“kak, gue sayang sama Embun ?” Lirih Akbar sambil memeluk foto Embun, isakan tangis terdengar dari Akbar. “Bar, kita semua sayang Embun, loe gak boleh kaya gini terus kasihan Embun” Gue berusaha menenangkan Akbar, walaupun gue masih belum bisa move on dari keadaan ini. Embun terlalu berarti dalam hidup gue. Semua orang berkumpul diruang keluarga tiba-tiba terdengar teriakan Bude dari kebun belakang gue langsung lari ke belakang, bukan bude yang gue dapet namun sebuah kue Tar yang mendarat halus dimuka gue akibat lemparan dari raja tri point Adrian.
Suara ucapan ulang tahun terdengar serempak, ternyata mereka semua merencanakan ini semua gue lupa kalau hari ini ultah gue. Mungkin karna gue terbiasa dapet ucapan dari Embun pas jam 12 malam yang slalu bikin gue inget kalo hari ini hari ulang tahun gue. “ Embun, Kakak kangen sama kamu” Lirih gue, tanpa terasa air mata gue menetes.
“Loe gak boleh nangis Cel, loe seharusnya bahagia karna ini semua ide dari Embun dan permintaan Embun yang terakhir, untuk membuat Abang pertamanya slalu tersenyum ketika mengingat tentang Embun bukan dengan air mata” Ucap Celline.
“Iya Bang, Embun gak ingin kita terus menangisi kepergian dia karna suatu saat ada pelangi setelah hujan” Ujar Tyan, gue tau dia juga ingin menangis. Namun, dia berusaha tersenyum dihari ulang tahun gue, Rangga pun sama dia menahan air matanya agar tidak terjatuh dihari ini.
“Oh iya, gue masih punya satu kejutan lagi buat ketiga Abang Embun yang paling Baik, Kece, dan Cool kalo kata Embun ya, kalo kata gue sih biasa aja” Pidato Adrian yang sedikit tengil cirri khasnya.
“Mungkin ini yang dimaksud ada pelangi setelah hujan menurut Embun” Sambung Celline, Adrian menepukkan tangannya 3X dari samping rumah keluar seorang gadis berhijab yang terus menundukkan kepalanya berjalan pelan dibelakang terlihat Bude dan dan Pakde yang mengikutinya. Gadis itu mulai mendekat namun dia masih tertunduk dan enggan mengangkat kepalanya.
“Setetes Embun dipagi hari akan berlalu menyambut Langit yang cerah menghiasi bumi menemani teriknya matahari” Lirih Dara
“Maksud kamu apa ?” Tanya Tyan, Dara hanya diam dan menggelengkan kepala, “Sebenarnya kamu siapa ?”Tanya Rangga kepada gadis itu, dia tak menjawab tapi gue tau dia lagi menangis. Dia terlihat gugup tangannya terus meremas-remas ujung bajunya.
“Abang, Yayang, Rangga apa kalian masih ingat sodara kembar Embun ?” Tanya Bude, “Masih” Jawab gue bertiga serempak
“Nama dia siapa ?” Tanya Bude lagi, “Langit Annisa Darmawan” Jawab Serempak, “Tapi , kata ayah dulu bukannya Langit udah meninggal, karna sakit” Ujar gue ngasal karna gue semakin gak ngerti akan pembicaraan dan pertanyaan tentang Alm. Langit. “Tidak Bang, inilah Langit” Kata Bude sambil mendonggakkan kepala gadis yang berada di sampingnya. Ya, dia mirip seperti Embun, namun sedikit berbeda karna dia pakai hijab. Matanya penuh air, pipinya basah, mata dia mirip Embun dia memang benar-benar masih ada dia masih ada. Rangga langsung memeluk gadis itu, gue tau ikatan batin Rangga dan Langit dulu sangat kuat. Bahkan Embun saudara kembarnya tidak sekuat itu, makasih ya Allah atas keajaiban yang Engkau berikan kepadaku. Gue memeluk Langit dan Rangga, Tyan ikut dalam pelukkan itu. Gue melepaskan pelukkan itu, “ Bude, bukankah dulu Langit tidak dapat melihat dan punya penyakit jantung ?” Tanya Gue, Bude hanya diam, Langit kasih gue selembar kertas. “Baca Cel, maka loe akan tau jawabannya” Pinta Adrian.

Dear Kakak aku yang paling baik J
Kak, Ade minta maaf ya kalo Ade banyak salah sama Kakak, sama Abang, sama Bang Yayank juga. Mungkin pas Kakak baca surat ini, bukan Ade yang disamping Kalian tapi Langit. Langit berhak dapatkan semuanya yang selama ini dia gak pernah dapat, kasih sayang seorang Kakak yang baik kaya kalian semua. Ade ikhlas mendonorkan mata dan jantung ade buat Langit, Ade mohon sayangilah Langit sebagai adanya Langit, bukan karna kepergian Ade.
I LOVE U ALL
Salam sayang :*
Embun

Dada ini terasa sesak, entah apa yang harus gue ucap syukur apa gue harus menangis. Gue mau marah, tapi gue gak tau harus marah sama siapa ini sulit buat gue. Tapi, bagaimana pun gue harus bisa membiasakan diri dengan adanya Langit di kehidupan gue saat ini.
“Jika kalian belum bisa menerima aku dalam kehidupan kalian, aku rela menunggu untuk kalian bisa menerima aku bukan karna permintaan dari Embun” Ucap Langit, senyumnya tulus aku melihat pancaran mata Embun.
“Gak Langit, kamu itu adik kakak, kamu itu bukan pengganti Embun kamu adalah kamu” Tekas gue
“Dan kamu adalah Langit” Sambung Rangga
“Embun itu ada dipagi hari ketika pagi berlalu maka Langit akan memancarkan warnanya yang cerah, dia datang sebagai Langit bukan sebagai Embun” Sambung Tyan

LANGIT***
Embun, terima kasih atas semua yang kau beri selama ini kasih sayangmu, ketulusanmu. Aku janji akan menjaga mereka dengan caraku sendiri bukan menjadi seorang Embun, terima kasih atas support yang slalu kamu beri untukku. Dan terima kasih untuk seulas senyum Embun yang kau beri dimalam itu untuk Langit.

-------------------------                  TAMAT                 ------------------------------------

Kamis, 08 Januari 2015

SEULAS SENYUM EMBUN



PART V

AKBAR***

Hujan menguyur seharian ini, membuat aku malas untuk beraktivitas aku membuka tirai jendela sisa tetesan hujan membekas didedaunan. Aku melihat sebuah pot berisikan tanaman bunga mawar fikiranku langsung ingat sama Milli, udah hampir 3 minggu ini dia slalu menghindar. Aku gak pernah tau salah aku apa, dan belakangan ini juga dia terlihat murung bahkan dia jarang banget bergaulan sama anak-anak lainnya. Kalo disekolahan dia slalu main sama Brian dan Brian juga seperti itu, seolah-olah gak ada makhluk lain selain Milli. Berakli-kali aku SMS, telfon, dan chat dia tak merespon sama sekali, ada apa dengan semua ini ?  Aku mencoba menelfonnya berkali-kali tapi tetap gak pernah diangkat. Aku berusaha untuk menemuinya dirumah tapi aku dilarang masuk sama penjaga disana, padahal mereka udah tau dengan wajahku. Aku bosan di hari minggu ini ku raih jaket dan kunci motor untuk pergi ke rumah Embun, sebelum aku sampai dirumah Embun aku mampir ke rumah Milli aku melihat dia sedang duduk melamun ditaman depan rumahnya. Rasanya aku ingin menghampirinya tapi itu semua gak mungkin pasti aku gak dapat ijin untuk masuk kedalam.

Aku melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah Embun, Fiiiuuuhhh akhirnya sampai juga dirumah Embun. Rumahnya tampak sepi sepertinya gak ada orang atau mungkin mereka lagi dikebon belakang rumah, aku ketok pintu berkali-kali namun tak ada jawaban. Akhirnya aku memilih pergi ke kebon belakang lewat samping, ternyata benar mereka semua lagi kumpul disana ternyata ada Rangga dan Dara juga tapi kenapa aku gak melihat mobil Rangga didepan.

“Haiii semua” Sapaku
“Hai Bar “ Balas Kak Marcel
“Pantesan aja dari tadi ketok-ketok pintu gak ada jawaban ternyata ada disini semua” Ujarku sambil cengengesan
“Iya ini kita habis masak sayur dan kita makan bareng-bareng disaung kata Neng Dara biar berasa berkebunnya” Jelas Bude
“Bang tumben minggu pagi kesini ada apa ?” Tanya Embun
“Iya Mbun, gue kesini mau ngajakin lo ke toko bunga gue katanya lo mau ngambil bunga anggreknya” Jawab gue
“Oh iya, aku lupa ini kan udah 3 bulan lebih ya. Ya udah lo tunggu ya Bang gue mandi dulu” Ucap Embun seraya pergi masuk rumah, selama gue mengenal Embun hari ini dia tampak senang mungkin karna Rangga udah tinggal disini, tapi Fio gimana ya Pasti dia kesepian banget disana. Kebahagian dan kesedihan serta kehilangan gak bisa ditebak, sekarang kita bisa bahagia tertawa lepas mungkin aja sedetik kemudian kita bisa menangis meraung-raung.
Aku bisa merasakan kehangatan dikeluarga Embun, Pakde dan Budenya yang menyayanginya dengan tulus begitu juga dengan Kak Marcel jutek dan judes kalo sama orang lain tapi dia begitu sayang sama adiknya bahkan sama Kak Dara juga meskipun dia bukan adik atau pun pacarnya. Sekarang ditambah lagi ada Rangga orang yang cepat emosi tapi punya hati yang lembut sama perempuan.
“Bar” Panggil Bude
“Iya Mbun” Ceplos aku sekenanya
“Embun ???” ucap mereka seraya bersamaan, dan mereka ketawa terbahak-bahak aduuuuhhhhhhhhhhhhhh kenapa aku bisa salah sebut sih, mukaku langsung merah padam karna malu.
“Ciyeee Akbar, kayanya udah punya perasaan lebih nih sama Embun” Ledek Kak Dara bikin aku makin salah tingkah depan Kak Marcel.
“Bar, berani lo pacarin ade gue ?” Tanya Kak Rangga, Kak Marcel masih tertawa terbahak-bahak.
“Lah, kalo emang gue berani kenapa Ga namanya juga cinta “Jawab gue sekenanya gue gak tau nih lidah kleseo kali ya.
“Sudah sudah, Pakde Cuma pesen hati-hati ya ngendarain motornya soalnya lagi musim ujan dan jalanan licin “ Ujar Pakde
“Iya Pakde, aku pasti hati-hati dan aku pasti jaga Embun” Ucap gue berusaha untuk menutupi kegugupan gue, ah sial baru kali ini gue dihadapan mereka gue gugup dihadapan mereka. Apa benar ya kata Kak Dara waktu itu, kalo gue udah mulai jatuh cinta sama Embun. Aaiisssshhh, gue garuk-garuk kepala walau gak gatel.
“Bang ayo, gue udah siap nih sorry ya lama soalnya tadi mandi dulu” kata Embun yang tiba-tiba muncul dihadapan gue.
“Pakde Bude, aku pergi dulu ya sama Embun “ Pamit gue sama mereka
“Dek, kamu pake jaket Abang ya lagi musim ujan nanti kamu masuk angin lagi” Pesen Rangga
“Iya Bang, nanti ade pake kok” Ujar Embun

****

Entah sejak kapan gue merasa gugup sama Embun saat melihat senyumannya hati gue serasa lagi menari-nari, hari ini dia kelihatan cantik. Gue juga gak tau sejak kapan gue perduli dengan penampilan Embun yang pasti gue jatuh cinta sama dia.

RANGGA***

Hari ini adalah hari pertama gue tinggal bersama keluarga kandung gue yang udah hampir 10 tahun berpisah. Berat banget berpisah keluarga gue yang lama, terutama sama Mama dan Fio. Gue tau sebenarnya Fio itu berat pisah sama gue, tapi gue harus tetap tinggal sama Abang dan ade gue yang selama ini gue cari. Hujan turun dengan lebatnya gue jadi inget Fio dulu gue sering banget main hujan-hujanan sama dia, gue juga sering nyuekin dia tapi dihari pertama ini gue kangen sama Fio. Gue melihat layar handphone dilayar pertama sengaja gue pasang foto gue dan Fio supaya gue gampang melihat wajahnya. Jam menunjukkan pukul 4 sore, gue keluar dari kamar rumah tampak sepi hanya ada Dara yang lagi nonton TV diruang keluarga.
“Ra, lo belom balik ?” Tanya Gue
“Belom nih gue nunggu Marcel” Jawab Dara yang masih asyik nonton TV
“Emang Bang Marcel kemana ?”
“Ke toko kue tadi sama Bude “
“Terus kalo Pak De kemana ?” Tanya gue lagi
“Pakde lagi ke pasar belanja bahan-bahan kue gitu, tadinya dia mau ngajak lo eh pas Pakde masuk kamar lo, lo lagi tidur pules banget katanya” Jawab Dara.
“Kalo Embun belum pulang ?” Tanya gue lagi kali ini Dara melirik gue dengan sinis.
“Belom, mereka lagi neduh katanya bentar lagi juga sampe” Jawab Dara
“Ohh..” Dara begitu sibuk dengan acara TV, sedangkan gue lagi gegana banget karna kangen sama Fio. Padahal baru sehari gue gak liat Fio kangenya setengah mati gini, kadang gue heran sama perasaan gue sendiri sebenarnya gue ini sayang sama Fio sebagai adik apa lebih ya. Ah, mungkin ini karna belom terbiasa aja gue pisah sama Fio. Bagaimana juga dia tetap adik gue, gue gak boleh jatuh cinta sama dia nanti apa kata keluarga Mama. Hp gue bergetar tanda pesan masuk, gue buka pesan itu ternyata dari Fio. Senangnya gue serasa kaya anak kecil yang baru dikasih es krim, gue gak perduli sama sekeliling gue bahkan Dara hanya mengeritkan alisnya melihat tingkah gue tapi gue gak perduli.
“Woy Ga sakit lo ?” Tanya Dara jutek
“Tadinya iya gue sakit tapi sekarang udah sembuh” Jawab gue sekenanya.
Dara mengerutkan alisnya lalu memanyunkan bibirnya, mungkin gue terlalu asyik dengan handphone gue sehingga gue baru sadar Dara udah gak ada disamping gue dan menatap jam dinding pukul 5 sore. Suara gaduh berasal dari depan menarik gue untuk menuju kesana, gue liat Pakde, Dara, Embun dan Akbar lagi sibuk menurunkan barang-barang belanjaan Pakde. Dengan sigap gue membawa barang-barang ke dalem satu persatu gue tap diruangan keluarga yang deket dapur.
“Akhirnya kelar juga” Ujar gue sambil duduk dekat Dara
“Lo udah sadar dari hayalan lo itu” Ucap Dara dengan ketus
“Apaan sih lo” sahut gue
“Iya loh Bang, tadi Abang kenapa pas ade masuk aja Abang gak jawab salam ade” Tanya Embun
“Masa sih Dek ?” Tanya gue balik
“Saking asyiknya kali Mbun pacaran sama Fio” Ceplos Akbar ngasal, semua tertawa. Damn, gue stak dan salting langsung gue uwes-uwes kepala Akbar dan membungkam mulutnya dengan tangan gue. Embun tak henti-henti ngledek gue, gelagak tawa ciptakan suasana sore ini.
“Duhhh,,saking serunya ya diteriakin dari depan gak ada yang nyaut” Seru Bude tiba-tiba
“Eh Bude, Abang mana ?” Tanya gue
“Si Abang jaga toko sampe malem nanti habis maghrib kamu temenin ya Ga ajak Embun juga” Pinta Bude, gue hanya menangguk tanda mengiyakan.
“Bude, aku mau pesen cathering bude dan kue-kue bude dong” Ucap Akbar
“Loh untuk apa Bar ?” Tanya Bude
“Buat acara syukuran Mama karna Mama malam ini boleh pulang dari rumah sakit” Jawab Akbar
“Alhamduillah, emang buat kapan Bar ?”
“Buat minggu depan bude, nanti kalian semua jangan lupa dateng ya. oh ya Mbun nanti jangan lupa ya undangannya” Ujar Akbar, Embun hanya menganjungkan jempolnya.

MILLI***

Hari senin yang menyedihkan selain telat ke sekolah aku juga harus menjalani hukuman berdiri dilapangan dengan hormat bendera, untung saja hari ini mendung. Aku juga baru ngliat Embun masuk ke sekolah walaupun minggu kemarin katanya sempat masuk 3 hari, tapi hari ini aku baru melihatnya keluar dari ruangan guru BK. Buku yang dibawa terlalu banyak mungkin karna dia banyak ketinggalan pelajaran pasca kejadian kemarin, aku pengen banget bilang say hello sama dia dan membantu dia membawa buku-buku itu. Aku terus menatapnya dan memperhatikan tiap langkahnya, dia langsung menoleh kearah ku seolah-olah aku memanggilnya dia berhenti sejenak melemparkan sebuah senyuman aku hanya tersenyum kaku lalu ku alihkan pandangan ku ke bendera. Tanpa tanda-tanda seolah-olah air tumpah ke bumi hujan langsung turun dengan lebatnya, aku bersyukur hujan turun diwaktu yang tepat disaat tangan dan kaki mulai pegal akhirnya hujan turun. Tapi hukuman ku tidak berhenti disitu aku harus menuju perpustaakan untuk mrapihkan buku dan menatanya dengan benar, jam istirahat masih 1 jam lagi perpustakaan Nampak sepi aku ambil nafas dan membuangnya dengan  perasaan lega aku menyusun buku-buku sesuai judul yang tertara dirak.

Fiiuuuhhhh…akhirnya kelar juga setelah 45 menit merapihkan buku, 15 menit lagi istirahat aku memilih untuk menunggu diperpustakaan dan diam diujung kursi dibalik rak-rak buku fiksi. Ku tempalkan kepala dengan berlapiskan kedua tanganku tanpa terasa mataku kini terpejam, nafasku begitu memburu aku lelah kepalaku terasa berat nafasku pun naik turun. Aku mendengar suara Mang Udin memanggil-manggil namaku aku juga tau dia menggoyang-goyangkan tubuhku, tapi lidah ku keluh untuk berbicara aku disini aku baik-baik aja Mang aku Cuma ingin tidur.

Kepalaku terasa pusing perutku terasa mual, aku membuka mata lalu ku amati disekitar ini bukan perpustakaan tapi ini UKS apa yang terjadi sama aku. Mungkin aku pingsan karna dari semalam aku belum makan, aku mendengar suara seseorang sedang debat diluar dan aku mengenal suara itu dia membuka pintu lalu aku memejamkan mata lagi. Bukan karna apa-apa tapi aku hanya menjalani perintah yang aku tak mengerti ini kenapa.
“Tuh kan gue bilang juga apa dia masih belum sadar” Kata Fajar petugas PMR
“Makanya jangan larang kita, semakin Kak Fajar nglarang kita masuk maka kita semakin penasaran gak salahkan kita pengen tau keadaan Milli” Ucap Embun, ya aku yakin itu Embun yang bicara. Dia paling gak suka dilarang semakin dia dilarang maka semakin dia kekeh untuk melanggar larangan itu.
“Ssssttt..Mbun suaranya kecilin dikit nanti Milli terganggu lagi” Ujar Fio
Derap langkah kaki mereka pergi menjauh meninggalkan tempat aku berbaring, aku juga merasakan derap langkah kaki mendekatiku aku sedikit mendengar desahan nafasnya seperti perasaan lega.
“Gue tau kok sebenarnya lo udah sadar sebelum mereka masuk” aku langsung membuka mata bersama air mata keluar di ujung mataku, mataku merah aku mulai terisak aku gak perduli dia menilaiku seperti apa. Aku juga gak tau kenapa aku bisa meluapkan tangisanku dihadapannya.
“Gue memang gak pernah tau kehidupan lo sama mereka itu gimana” Dia menghela nafas “ Tapi yang gue tau lo itu sempat gak akrab sama mereka bahkan lo sering adu mulut sama Embun dan Fio ketika lo berebutan Akbar tapi gue pernah melihat kalian berbagi canda dan tawa dari taman sampai berujung di bursa buku. Lo kelihatan lebih ceria dan bersinar waktu, tapi keceriaan itu berakhir air mata setelah apa yang menimpa Embun dan Brian” Dia menatapku tajam lalu dia tersenyum dia berjalan kearah jendela dia memperhatikan hujan yang turun semakin lebat, aku berusaha duduk walaupun tubuhku masih lemas. Aku bertanya-tanya dari mana dia tau semua itu, kenapa dia tau semuanya aku kan bukan siapa-siapa kalo aku pasti tau dia karna dia pasangan duel Dara bahkan dia dan Dara di juluki KING and QUEEN dalam bidang vocal dan MIPA.
“Lo gak perlu Tanya kenapa gue bisa tau semuanya karna gue yang membawa Embun ke rumah sakit dengan taksi yang gue bawa waktu itu” Dia terus menatap keluar aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengluarkannya. Dia menyodorkan teh hangat yang sudah dibuatnya, aku meminum teh itu dengan terus memandangnya aku pengen tahu sebenarnya dia itu siapa.
“Maksud lo membawa taksi ?” Tanyaku penasaran dengan kata-katanya yang terakhir
“Iya..kalo habis pulang sekolah gue kerja menjadi supir taksi menggantikan bapa yang lagi sakit” Jawabnya, jam istirahat pertama telah habis aku ingin masuk kelas tapi aku masih lemas. Dia membuka bungkusan dari bungkusan keluar sebuah kotak nasi dia memberinya untukku, aku melihat isinya gue jajanan pasar. Mungkin ini bisa sedikit membantu untuk perutku, dia menyuruhku untuk istirahat. Dia pergi meninggalkanku sebelem keluar pintu dia berbalik dan menoleh kearahku dia tersenyum “Kalau boleh gue mau kok jadi teman lo saat ini dan jika lo butuh pendengar yang baik untuk keluh kesah lo gue siap” aku hanya membalasnya dengan senyum, dia baik gak sedingin yang aku fikir dan dia juga pekerja keras mungkin kehidupan dia gak seberuntung aku yang hanya memakai seragam putih abu-abu dan tidak memikirkan biaya sekolah.

DARA**

Hujan masih turun dengan lebat sehingga menjadi genangan di lapangan dan meramba masuk ruangan lantai satu, kesal dan pengen banget garuk-garuk tanah karna aku gak bisa pulang karna aku gak bisa terkena air kotor seperti itu yang ada kaki gue gatel-gatel. Terkadang aku suka memaki-maki diri sendiri kenapa sih aku harus manja seperti ini padahal jam 3 ada acara dirumah Akbar dan dia juga udah pulang lebih awal pas jam istirahat kedua. Aku melihat Embun melambaikan tangan kearahku dia menyuruhku turun tapi aku hanya menggeleng kepala berkali-kali tapi Embun terus memohon.
“Masih suka alergi sama air kotor ??” Suara itu membuatku spontan membalikkan badan, jantungku langsung berdebar saat melihat sosok yang selama ini ku kagumi aku dan dia begitu dekat aku tak mampu berkata apa-apa suara petir begitu kencang aku langsung memeluknya karna takut dia membelai rambutku dengan pelan aku bisa merasakan nyaman dalam pelukkannya rasanya aku gak mau melepaskan pelukan ini aku berharap waktu kan berhenti. “Gak usah takut” bisik Brian, bisikannya membuat aku teringat Embun dengan cepat aku melepaskan pelukanku dan melihat ke bawah di sana Embun terlihat meringkung dalam keadaan ketakutan mukanya terlihat pucat. “Embun” lirihku, aku gak perduli lagi akan alergiku dengan cepat aku menuruni anak tangga diikuti Brian dari belakang. Pas depan pintu UKS aku menabrak Fajar yang sedang memapa Milli, aku hanya meminta maaf lalu berlari kearah Embun. Belum sempat aku meraih Embun ada seseorang yang meraih Embun terlebih dulu, ya dia slalu datang diwaktu yang tepat aku melihatnya dia berusaha menenangkan Embun dengan begitu lembut. Rangga berlari dari sebrang menembus hujan meninggalkan Fio, dia berlari kearah Marcell dan Embun, Rangga ikut memeluk Embun dengan penuh kerinduan. Brian memegang tanganku dengan erat matanya memerah, aku tau dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia menatapku, aku yakin sebenarnya dia ingin ikut serta dalam pelukkan drama yang ada didepan, aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia menoleh kearah Milli dan Fajar aku memperhatikan muka Milli dan Brian seolah-olah mereka sedang berbicara dalam hati, Milli menganggukkan kepalanya. Brian melepaskan tanganku dan berlari mengikuti drama didepan mata, air mataku mengalir aku melirik kearah Fio aku tau Fio disana sedang menangis.
Fio berlari kearah Brian,Marcel, Rangga dan Embun. “ Udah donk jangan mellow terus mending kita hujan hujan yuk” Fio menarik tangan Embun dan Marcel. Milli berlari kearah Rangga dan menarik tangan Brian dan Rangga, aku dan Fajar masih tertegun melihat semua ini. Brian berbalik lagi kearahku dan menarik tanganku, Embun pun ikut menarik tangan Fajar.
“AKUU BAHAGIAAAAA” Teriakku sekuat mungkin
“I LOVE U DARAAAAA” Teriak Brian, spontan jantungku serasa berhenti sejenak, aku butuh oksigen untuk bernafas. Mereka mengelilingiku seolah-olah drama ini sudah diatur dan telah dirancang, dia terduduk didepanku dan memegang tanganku seperti pangeran yang sedang mengajak dansa sang permaisuri.
“Dara, lo mau gak jadi penghuni hati gue ?” Ah,,aku gak salah dengar ? Brian nembak aku ? “Terima terima “ Suara Embun begitu semangat disusul sama yang lain. Hujan telah reda hampir 10 menit tak ada jawaban, aku menatap Brian lalu beralih kearah Marcel. Marcel tersenyum aku menatap Brian kembali dan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Brian loncat jingkrak jingkrak dan memeluk ku aku di angkat dan dibawa berputar, aku tak percaya semua ini aku fikir aku tidak akan pernah memilikinya tapi hari ini aku bisa memilikinya.
“Happy birthday Dara happy birthday Dara …….” Suara nyanyian itu terdengar dari balik  wall climbing disana aku melihat Akbar,Papa, Pak Slamet, Tante Fina, Bude dan Pakde Embun. Aku baru ingat hari ini hari ulang tahunku, biasanya aku slalu mendapat kejutan dari Embun dan Marcel dimalam hari tepat jam 12 malam, mungkin semua ini sudah diatur oleh Allah. Aku terharu tanpa sadar aku meneteskan air mata, aku bahagia bisa merasakan semua ini aku bersyukur masih punya orang-orang yang sayang sama aku.
“Papa” Aku memeluknya aku kangen sama dia.
“Papa ? “ Ucap Brian kaget
“Iya dia Papa aku “ semua merasa terkejut mungkin untuk aku dan Akbar sudah tau tapi untuk yang lain merasa shock terutama Marcel orang terdekatku pun dia tidak tau kalau Papaku adalah anak buah kolongmerat itu.
“Maafin saya tuan Muda dan nyonya, saya hanya ingin melindungi kalian semua saya hanya menjalankan amanat nyonya besar waktu itu” Ucap Papa, Papa menceritakan semuanya secara rinci. Ternyata kehidupan keluarga kolongmerat itu tak seindah dan tak seputih yang ku bayangkan, kita tak perduli dengan baju yang sudah basah kuyup mungkin ini waktu yang tepat untuk membongkar sebuah masa lalu yang kelam. Kini aku mengerti dan aku mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dibenakku selama  ini, ternyata benar Brian adalah kakak kandung Embun. Rahasia yang tersimpan puluhan tahun ini berbuah manis namun juga berbuah pahit untuk Milli yang mengetahui bisnis Papanya selama ini, Milli terduduk lemas di genangan air yang belum surut karna hujan tadi. Dengan sigap Fajar memapah Milli dia berusaha menenangkan Milli, aku gak pernah tau kenapa Fajar begitu perhatian terhadap Milli apa ada rahasia lagi yang belom terbongkar. Dan terbongkarnya identitas Pak Slamet membuat Embun dan Fio shock dia adalah Ayah dari Akbar sekaligus polisi yang sedang menyamar untuk menyelidiki kasus pembajakan Bus 10 tahun yang lalu yang membuat kelaurga Marcel terpecah belah.
Hari semakin sore suasana sekolah terasa sunyi hanya terdengar isakan Milli yang tak henti menangis, dia berlari meninggalkan kami semua. Aku bisa maklum kalo Milli tak bisa terima kenyataan ini, kalo semua adalah perbuatan Papanya yang kejih ya aku selama ini kita mengenal Papanya Milli itu baik dan ramah serta santun tapi siapa sangka dibalik kesantunannnya itu menyimpan hati yang kejih dan kotor penuh dengan cipratan darah korbannya.
“Milli tungguuuuu” Brian berusaha mengejar namun tangannya ditarik oleh Fajar
“Biar gue yang ngejar dia, dia adalah tanggung jawab gue” Ucapan Fajar membuat gue saling tukar pandang dengan yang lainnya. Embun tak bergeming sedari tadi dia hanya menahan air matanya menatap Brian tanpa henti Marcel meremas tangannya begitu juga dengan Rangga mungkin rasa dendam itu muncul kembali. “Bang Yayank” lirih Embun, Brian menoleh ke Embun perlahan air mata itu jatuh Brian memeluk Embun, tangisan Embun pecah dipelukan Brian. Ini adalah kenyatan dalam hidup yang tak bisa kita tebak apakah kita akan bahagia apakah kita akan kecewa suatu saat nanti.

TYAN*** (as BRIAN)

Malam semakin larut hujan turun dengan deras sudah hampir seminggu gue tidak mendapat kabar tentang Milli, rumah Papa pun tampak sepi tak ada seorang penjaga satu pun pintu gerbang di gembok dengan rapat. Fajar pun mendadak menghilang entah kemana, pertanyaan gue masih belum mendapat jawaban siapa itu Fajar sebenarnya. Malam ini gue gak bisa tidur fikiran gue terus ke Milli bagaimana pun dia tetap adik gue, gue yakin dia begitu terpukul menerima kenyataan ini.Gue gak pernah menyangka kalo orang yang selama ini Gue anggap seorang Papa yang baik ternyata dia seorang pembunuh yang sudah membunuh kedua orang tua gue. Gue berusaha memejamkan mata tapi gue gak bisa, dengan pelan-pelan gue buka pintu kamar dan menuju dapur. Gue melihat pintu kamar Abang terbuka sedikit, gue mengintip ternyata Abang belum tidur dia terduduk merenung dimeja kerjanya. Gue berfikir mungkin dia lagi mengerjakan tugas kuliahnya, gue mengetok pintu namun Abang tak mendengar gue mendekatinya dan menepuk bahunya. Dia meloncat seperti kebakaran jenggot mungkin dia terkejut melihat gue yang datang dengan tiba-tiba.
“Yayang, lo tuh ngapain sih ngagetin Abang aja” Ujarnya sedikit sewot “Yeay Abang sendiri ngapain malam-malam bengong ntar kesambet loh Bang” Sahut gue sedikit meledek. Abang terlihat sedang mengambil nafas dan lalu membuangnya, dia terlihat sedikit tegang. Gue yakin banget dia kefikiran Milli dan Papa mungkin Abang masih menyimpan dendam itu terhadap Papa, gue gak bisa melarang Abang untuk tidak menyimpan dendam itu tapi kalo Milli tau Abang dendam sama Papanya pasti Milli akan sedih karna Milli mencintai Abang tanpa Milli sadari perasaannya sendiri.
“Abang khawatir sama Milli Ya ?” Suaranya sedikit bergetar, gue memilih diam berusaha untuk tidak bicara dan menjadi pendengar yang baik. “Dia sekarang dimana, apa dia udah makan apa dia sekarang baik-baik aja ?” Gue bisa ngrasain rasa kekhawatiran Abang sama Milli karna apa yang dia rasa sama apa yang gue rasain sekarang.
“Emang Abang belum dapat kabar juga dari Fajar ?” Tanya gue, “ Belum” Jawabnya.
“Tadi siang gue sama Dara datang ke pangkalan taksi yang biasa Fajar mangkal dan disana pun kita gak jawaban apa-apa kata teman-temannya Fajar maupun bokapnya udah seminggu gak dateng ke pangkalan dan kita Tanya sama bosnya pun katanya mereka udah ngundurin diri dari tempat itu” kata gue panjang lebar, Abang hanya manggut-manggut sambil mengambil nafas panjang. Tiba-tiba terdengar terikan dari kamar Embun dibarengi dengan suara petir yang kencang, gue dan Abang berlarian menuju kamar Embun. Disana terlihat Embun yang ketakutan dipelukan Bang Rangga, Bang Rangga terlebih dahulu karna kamar dia dekat dengan kamar Embun ya walaupun kamar gue lebih dekat dari kamar Bang Rangga. Tapi posisi gue lagi ada dikamar Abang yang berada dilantai dasar. Gue duduk dimeja belajar Embun dan Abang duduk disebelah Embun, Abang memang yang paling bisa meredahkan ketakutan Embun disaat seperti ini mungkin karna Abang sudah terbiasa menangani kejadian seperti ini. Bude dan Pakde datang dengan membawa segelas susu untuk Embun, dan membawakan teh hangat untuk kita.
“Ade minum dulu nih susunya” Ujar Bude sambil menyodorkan segelas susu, Embun hanya menggelengkan kepala mungkin dia masih ketakutan. Embun melepaskan pelukannya dan dia berpindah ke pangkuan Abang, gue senang banget ngliat dia manja seperti itu gue ikut duduk dikasur Embun dan meraih boneka yang udah lusu dan sedikit jelek tapi boneka ini adalah boneka kesayangannya. Boneka ini hadiah dari almarhum Ayah dulu saat Ayah baru pulang dari Solo, gue membolak balik boneka seolah-olah ada yang aneh diboneka itu tapi gak ada yang aneh diboneka ini. “De, ini boneka gak pernah dicuci ya ?” Tanya gue sambil mencium boneka itu. “ Udah 2 minggu gak dicuci” Jawab Embun dengan nada sedikit gemetar.
“Jorok banget sih gak pernah dicuci” Cletuk gue sambil melempar bonekanya kearah Embun, Embun memeluk bonekanya dan menjulurkan lidahnya. “Embun mana mau nyuci bonekanya, orang biasanya si Abang yang cuci bonekanya” Ujar Bude, gue mendelik kaget kenapa orang se cool Abang mau nyuci boneka kummel begitu.
“Dek, Ade jorok banget sih masa Abang yang nyuciin” Samber Bang Rangga “Ihh..orang Kakak aja gak apa-apa kenapa ngana-ngana sekalian yang sewot” balas Embun sambil menjulurkan lidahnya.
“Sudah sudah kalian ini dari dulu gak pernah berubah, ini udah malam lanjutin tidurnya besok kan pada sekolah” Ujar Pak De, kami keluar dari kamar Embun kecuali Bude karena harus menemani Embun yang masih merasa takut karna hujan belum reda dan petir masih suka menyambar kapan saja. Gue, Pakde , Bang Rangga dan Abang tidak langsung tidur tapi kita berkumpul diruang tamu. Muka Pakde begitu serius tak ada yang buka suara satu pun, suasana semakin tegang jantung gue langsung berdekup kencang.
“Abang, apa Abang sudah membuang dendam Abang terhadap orang tua Milli ?” Tanya Pakde, Abang tak langsung menjawab mukanya merah padam mungkin dia masih belum bisa terima semua ini termasuk Bang Rangga dia tersenyum sinis mendengar pertanyaan Pakde. Gue lebih memilih diam gue masih bingung apa gue juga harus dendam terhadap orang yang selama ini mengurus gue penuh dengan kasih sayang dan tulus.
“Abang belum bisa Pakde” Jawab Abang nadanya penuh rasa benci. “ Abang Pakde tau ini berat buat Abang, apa Abang tidak mencintai anaknya ?” Tanya Pakde lagi. Semua diam hanya menundukkan kepalanya, gue hanya berharap Abang bisa memaafkan kesalahan Papa karna kalo sampai Abang masih menyimpan rasa itu kasihan Milli pasti dia merasa tertekan. “Abang memang mencintainya, tapi Abang gak bisa membuang rasa itu” Abang menjawabnya dengan tenang, aku bernafas lega karna dia bisa menahan emosinya.
“Tapi kita harus balas dendam terhadap bajingan itu yang sudah membunuh kedua orang tua kita didepan mata kita sendiri” Bang Rangga membuka mulutnya mungkin dia sudah geram karena Pakde menyuruh Abang membuang dendam itu. “ Pakde dia harus bisa merasakan apa yang kita rasakan, dan nyawa harus dibayar nyawa” Lanjut Bang Rangga, “ Rangga, menyimpan dendam itu tidak baik, apa kamu tidak kasihan sama Milli ?” Ucap Pakde menenangkan Bang Rangga.
“Dia harus merasakan apa yang Ade rasakan” Kata Bang Rangga ketus dan pergi meninggalkan kami bertiga, Bang Rangga membanting pintu dengar keras. Bang Rangga paling gak bisa mengontrol emosinya, Gue berusaha mengajar Bang Rangga namun diluar begitu gelap karna hujan masih turun dengan lebat. Ya Allah cobaan apa lagi ini, Milli belum juga ketemu sekarang Bang Rangga pergi dari rumah dan masalah tentang Papa belum kelar walaupun para polisi lagi mengejarnya. Abang pergi ke kamarnya dengan langkah yang lesu, gue tau ini pilihan berat buat Abang antara Cinta dan dendam.