Rabu, 25 Februari 2015

03. CERPEN – LOVE IS MAGIC



“You are the perfect love rains over me You have the perfect song singing for me You are the perfect dream i ever wanted You are the perfect love”

Mungkin nggak sih cinta itu tumbuh dalam hatinya ? Pasti ada cinta dalam hatinya lah, tapi cinta yang ku mau itu cinta yang tulus untukku bukan untuk orang lain.

“Woy, bengong mulu..kesambet lo baru tau rasa” Kebiasan dia yang nggak pernah hilang dari jaman SMA, aku kira kita nggak bakal ketemu lagi. Tapi, Tuhan berkehendak lain aku dan dia malah dipertemukan kembali tanpa disengaja setelah 3 tahun berpisah. Sekarang aku dan dia 1 universitas walaupun dulu kita seangkatan tapi sekarang aku jadi juniornya karna aku baru kuliah 1 tahun yang lalu sedangkan dia sudah mau wisuda. Aku melihat banyak perubahan dari dia, dulu dia slalu malas mengerjakan tugas bahkan suka diam-diam mencuri tugasku. Tapi sekarang, dia rajin buat ngerjain tugas-tugasnya karna dia slalu bilang “Gue nggak mungkin males-malesan terus Flo, gue bakal tunjukin sama orang tua gue terutama bokap gue supaya gue nggak direndahin terus sama dia” Ayah Adrian memang keras dalam mendidik anak-anaknya walaupun seperti itu, dia tetap menjadi seorang Ayah yang lemah lembut. Aku masih ingat saat Adrian kecelakaan motor, Ayahnya begitu perhatian dan telaten merawat Adrian.

“Flo, thanks ya lo udah nemenin gue ngerjain tugas buat besok” Ucap Adrian, aku hanya mengangguk dan tersenyum sama Adrian, mata aku yang mengantuk mampu mengunci mulutku untuk bicara. Dengan malas aku berdiri dan berjalan kearah parkiran, aku menunggu Adrian sambil terkantuk-kantuk. Sepanjang jalan aku menahan kantuk, Adrian menyadari kalau aku terkantuk dia meraih tanganku dan melingkarkannya ke pinggangnya. “ Flo lo senderan aja, gue bakal jagain lo biar nggak jatoh” Suara Adrian terdengar samar-samar, sedikit ragu aku menyandarkan kepalaku dipunggungnya, rasa nyaman menyelimutiku malam ini.

***

Hari ini kerjaan aku menumpuk, huuaaaaaaahhhhh….rasanya aku ingin teriak sekenceng mungkin biar plong. Banyak yang harus direvisi sehingga aku melupakan semuanya dan mengabaikan telfon dari Adrian berkali-kali dia menelfonku tapi aku nggak ada waktu untuk menangkat telfonnya. Saking sibuknya aku melupakan jam makan siang, ketika melihat jam pukul 4 sore waktunya aku pulang dan harus berangkat ke kampus. Aku pergi ke kantin untuk mengisi perutku yang dari pagi hanya masuk 1 roti saja. Telingaku terasa sunyi karna tak ada yang teriak-teriak memanggilku, kemana manusia rese itu ? Mataku keliling mengitari lingkungan sekitar untuk mencari Adrian. Tapi tak terlihat batang hidungnya, mungkin dia udah pulang karna hari ini dia kan Cuma sampai jam 2 siang.

“Hai Flo” Sapa Akbar, sahabat aku dan Adrian semenjak pertemuan dua tahun yang lalu. “Hai Bar ! Citra kemana ? kok tumben nggak bareng ?” Tanya aku.
“Citra masih ada kelas, tadi juga dia nanyain lo” Jawab Akbar sambil menenggak minuman kalengannya, nafasnya masih memburu karna baru selesai main basket. Aku hanya menangguk, mungkin Citra mau mengambil power bank yang tertinggal dikostanku minggu kemarin.

“Oh ya Bar, Adrian kemana ya ?” Tanyaku, Akbar mengangkat alisnya “Emang lo nggak dikasih tau sama Adrian ?” Tanya Akbar balik, aku hanya menggelengkan kepala sambil melanjutkan melahap mie goreng kesukaanku. “Gini nih, pasti lo lupa ngcek HP deh” Cletuk Akbar, aku langsung tersendak makanan. Aku menepok jidat karna lupa membaca pesan dari Adrian beberapa jam yang lalu, saking sibuknya kerjaan aku dikantor. Aku membaca pesan dari Adrian, dia meminta aku merangkai bunga yang cantik dan mengambil pesanan liontin yang waktu itu aku dan dia pesan.

Aku menatap Akbar meringis, Akbar geleng-geleng kepalanya. “Bar gimana dongg ??” aku berlaga kaya cacing kepanasan karna bingung harus apa. “Kenapa lo Flo ?”Tanya Citra yang baru datang. Aku terus mondar mandir dihadapan Citra dan Akbar, “Flo lo lupa ya sama pesanan Adrian?” Tanya Citra lagi yang membuat aku makin panik, lagian kenapa sih Adrian harus minta tolong sama Aku ? kan Akbar dan Citra juga bisa bantuin dalam hal kaya gini mah.
“Ya udah gini aja, kita bagi tugas..” Usul Citra “Lo Flo ambil pesanan liontin Adrian, karna Cuma lo yang tau tempatnya gue ambil rangkaian bunganya dan Akbar ambil cakenya, kita masih punya waktu 1 jam dari sekarang” Lanjut Citra, tanpa kompromi lagi aku langsung mlesat ke toko liontin itu. Sepanjang jalan aku mengrutu “Siapa yang punya acara siapa yang repot sih” rasa dongkol dalam hati membuat aku meleng, aku terpeleset dan kakiku sedikit luka. Rasanya nyeri untuk dibawa jalan, aku berusaha menahan rasa sakit itu aku berlari kearah toko. 

Setelah aku mengambil liontinnya, aku langsung berlari menuju kafe acara ultah Putri. Sialnya aku kembali terpelosok kejalan berlubang, aiisshhhh aku mengrutu lebih dari tadi. Badannyaku sedikit kotor,siku dan lututku berdarah aku tidak perduli yang penting aku cepat sampai di kafe itu.

Aku melihat Adrian mondar-mandir diloby, dengan tampak sedikit cemas. Aku melihat jam ditangan aku belum terlambat masih ada 5 menit lagi, aku berlari kearah Adrian. Nafasku masih memburu, “Woy Flo, lo lama banget sih” Bentak Adrian, aku menarik nafas dan keluarkan mengatur nafas biar stabil. 

“Lo tuh ya, bukannya terima kasih udah gue ambilin juga malah bentak-bentak gue lagi kalo gue telat baru lo marah-marah sama gue” aku membentak Adrian balik, aku mendadak menjadi emosi ketika mendengar ucapan Adrian. “Flo lo kenapa ?” Tanya Citra yang baru datang. “Baju lo dekil gitu ?”Sambung Akbar. “Gue nggak apa-apa” Jawab aku sekenanya, rasanya sakit dikaya giniin. Udah susah payah gue ngambil ini tapi Adrian malah bentak gue seenaknya. Aku kasih kotak kecil itu kepada Adrian, dan aku memilih pergi dari situ aku berusaha jalan biasa agar mereka tidak tahu kalau kaki aku luka.

“Flo…”Panggil Adrian, aku menghentikan langkah kaki, Apaan lagi sih grutuku dalam hati. “Maafin gue ya, gue seharusnya berterima kasih sama lo karna lo udah nyiapin ini semua buat gue” Ucap Adrian dengan nada penuh penyesalan, “Gue nggak marah kok, gue Cuma cape dan butuh istirahat, good luck ya” Aku berusaha senyum dengan tulus, aku ingin cepat pulang bukan karna rasa sakit dilutut dan disiku, tapi karna rasa sakit dihati ini. Adrian memelukku, mungkin ini akan menjadi pelukkan seorang sahabat yang terakhir. Aku harus bisa lupain Adrian, menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian. Bukan cintaku yang rapuh untuk Adrian tapi, mungkin ini saatnya untuk aku berhenti mencintai Adrian. 

***

Semenjak kejadian di kafe aku slalu menghindar dari Adrian,Akbar, dan Citra. Mereka slalu memburuku di kampus bahkan sampai menyatroniku dikantor, tapi aku slalu berhasil lolos. Aku melihat Adrian sedang duduk di depan pintu kostan, aku menghindar dan berbelok arah, lepas dari Adrian aku kepergok sama Akbar dan Citra. “Lo mau kabur kemana lagi hah?” Tanya Citra “Dan maksud lo itu apa sih ngindarin dari kita semua ? kita salah apa Flo sama lo?” Sambung Akbar. 

“Gue itu nggak menghindar dari kalian kok, gue Cuma butuh waktu buat sendiri. Kalo gue kasih tau kalian pasti kalian suka kepoh kenapa” Jawabku dengan nada sedikit memelas agar mereka mengerti, walaupun sebenarnya bukan itu alasanku. “Lo tuh tau nggak sih Adrian tuh strest nyariin lo, dia itu ngrasa kehilangan lo. Dan lo tau Adrian itu abis disakitin lagi sama ceweknya” Ucap Citra sedikit membentak, aku hanya diam aku bingung harus ngomong apa sama Citra. Bukankah itu hal yang biasa bagi Adrian, seharusnya dia bersikap biasa aja nggak usah sampai strest gitu toh dia juga sering mengalami itu semua. 

“Kita tahu mungkin lo berfikir itu hal yang biasa untuk Adrian, dan seharusnya dia bisa mengatasi semua….” Kata Akbar, aku diam penuh emosi, kenapa ? kenapa nggak ada yang ngerti perasaan gue ? “Tapi kali ini beda…” Suara Adrian muncul dari balik pohon “Kali ini gue cari lo bukan gue mau ngadu keluhan hati gue…” Semua diam terasa sunyi Adrian masih menundukkan kepalanya, Citra memeluk gue “Maafin gue Flo” Bisik Citra.
“Tapi gue kesini karna gue sadar, cinta yang gue rasa selama ini bukan buat Putri, tapi buat lo Flo” Aku terperangah atas ucapan Adrian, apa aku nggak salah dengar dan apa Adrian nggak salah ngucapin kalimat itu. Adrian meraih tanganku, “Flo terima kasih atas semua rasa cinta lo yang tulus ke gue, lo kasih semuanya ke gue lo korbanin semuanya buat gue, tanpa berfikir gimana sakitnya lo Flo” Muka Adrian terlihat merah, aku meneteskan air mata ketika melihat Adrian serapuh ini. Air mata Adrian mulai menetes, aku memeluk Adrian, aku nggak bisa melihat Adrian seperti ini. 

“Jangan pernah lagi kamu mencoba untuk pergi dari aku Flo, aku cinta dan sayang sama kamu” Bisik Adrian, aku menganggukkan kepala. Aku slalu percaya bahwa cinta yang tulus akan mendapatkan kebahagiannya, walaupun nggak harus slalu terbalas oleh orang yang kita cintai, terkadang kita juga mendapatkannya dari orang lain yang lebih baik dari orang yang kita cintai, Because love is magic.

Senin, 23 Februari 2015

02.CERPEN - CINTA TAK BERTUAN



Setahun lebih aku merelakan cinta yang takkan bisa ku miliki, aku dan dia hanya sebuah goresan tinta yang ku tulis disetiap lembar kertas yang menemani rasa jenuh ketika menanti dia datang. Sudah lama aku tak mendengar suaranya dan melihat wajahnya, terus menatap wajah yang tersimpan di gallery handphone. Aku menghela nafas panjang, bukan saat yang tepat jika harus memikirkannya karna tidak lama lagi dia akan menikah dengan wanita lain.
 
“Flo, aku minta cetak brosur yang waktu itu donk” Suara Mba Amy membuatku reflek menjatuhkan Hp, “Kamu itu loh Flo HP kok dibanting-banting” Seru Mba Amy membuat aku senyum kaku dan menggaruk-garuk kepala. Aku berusaha melupakan semuanya, karna aku sadar aku dan dia sama-sama ada yang memiliki.  Aku menyelesaikan kerjaanku dengan cepat karna malam ini aku ikut acara Gathering diperusahaanku yang lama, dan ini menunjukkan aku akan bertemu dengan dia. Denting jam terus berjalan hingga malam tiba, aku duduk sendiri didepan pintu gerbang mengunggu dia. Udara terasa dingin hingga menusuk tulangku, selang beberapa menit dia datang, aroma maskulin yang khas yang mudah ku ingat. Dia tersenyum dalam otak ku tak terlintas sedikit tentang apapun aku ya aku dia ya dia, just it. Seperti biasa keadaan tidak berubah ketika aku datang selalu saja disambut dengan ramai entah mereka senang atau mengejekku, kedatanganku tadinya tidak tercium oleh managerku tapi ketika suatu teriakan dengan spontan dia menoleh ke arahku. Rasa malu menyelimutiku, salah tingkah bahkan aku hanya diam, entah dari mana berita itu aku dipojokkan dengan dia dan digosipkan kalau aku dan dia jadian. Aku hanya pasrah jadi bahan ejekan dan kata ciye-ciye, dia pun terlihat pasrah ketika aku dan dia dipasangkan duduk satu sit. Tiba-tiba hatiku biasa saja dia pun cuek, dan entah kenapa aku merasa risih.

Sampai esok ketika perjalanan pulang aku merasa jenuh, bosan, dan hingga putus asa mungkin cinta ini tidak bertuan untuk selamanya. Aku harus menjalani cinta yang telah memiliki tuan dan menjaganya seperti dia menjagaku. Sampai disana aku langsung pulang, dan kembali ikut dia, sehingga gossip itu dianggap benar. Tapi, aku dan dia tidak perduli karna aku tau cinta ini benar-benar tak bertuan.
Hampir setiap saat aku chat dengan dia, dan aku bertanya kenapa bisa ada gossip seperti itu ? Dia pun tak tahu kenapa bisa seperti itu. Beberapa hari sempat kepikiran tentang dia, ketika berpisah rasa itu pun muncul kembali, rasanya ingin selalu dekat dengannya. Tapi ketika dekat dengannya hanya terasa hampa dan sunyi, mungkin karna tak ada seucap kata darinya. Aku mulai dilema mungkinkah cinta yang dulu tak bertuan akan mengalahkan cinta yang bertuan ? Aku tak ingin menyakiti siapa pun diantara mereka, karna mereka sama-sama ada dihati ini.
“Hai sayang, kamu udah lama ya nunggunya” Kata Dimas, sambil menyodorkan minum. Aku hanya tersenyum, entah kenapa akhir-akhir ini rasa jenuh selalu menyelimuti aku ketika aku bersamanya. Selama ini dia slalu berusaha jadi yang terbaik untukku, berusaha slalu ada untukku, walaupun kadang kehadirannya tak pernah aku harapkan. Mungkin aku terlalu jahat untuknya karena cinta yang dulu tak memiliki tuan kini berhasil tumbuh kembali, entah siapa yang menyiramnya hingga yang dulu hampir mati kini tumbuh kembali.

“Kamu kenapa sih ? Kok bengong gitu ?”Tanya Dimas, tatapan matanya menunjukkan kalau dia jenuh akan sikapku yang dari tadi hanya diam. “ Hhhmmmmmmm,,aku nggak apa-apa kok. Cuma lagi BT aja” Jawab aku sekenanya. “BT kenapa ?” Tanya dia lagi. “Mungkin karna kerjaan aku yang terlalu numpuk dikantor” aku mencari jawaban yang tepat, tapi mukanya masih merasa tidak yakin akan jawaban yang aku berikan. “Bisa kan kalau lagi sama cowoknya muka kamu nggak ditekuk kaya gitu ? BT tau dikaya giniin, aku balik ya” Dia berdiri dan memakai jaketnya, dan menyambar helmnya dan pergi begitu saja. Aku hanya mampu menangis, aku memaki diriku sendiri, seharusnya aku tidak menyakiti perasaannya, dia baik dan dia udah berkorban banyak untukku.

Aku hanya bisa meminta maaf lewat pesan, aku terus menangis, entah apa yang ku tangisi saat ini, aku bingung, kenapa aku seperti ini. Apa karna cinta itu tumbuh kembali ? Aku melihat pesan dari temanku kalau Adrian mau nikah. Hatiku bergetar dan tersayat-sayat, aku menangis tambah kejer karna tak tahan menahan rasa sakit ini. Selama seminggu aku tidak memberi kabar sama Dimas, Dimas berkali-kali SMS dan telfon tapi aku tak pernah mengangkat telfonnya. Aku sadar sampai kapan pun cinta itu takkan pernah bertuan, aku menelfon Dimas dan meminta maaf atas sikapku selama ini.

Pertemuan hari ini aku dan Dimas seperti dua orang yang baru kenal, terasa kaku dan canggung. “Dim, maafin aku ya. atas semua sikap aku sama kamu” Aku mencoba mencairkan suasana yang beku. “Iya nggak apa-apa kok, aku coba ngertiin kamu dan aku harus bisa belajar untuk ini, kan semua udah berbeda” Ucap Dimas, dia tersenyum dan mengelus-elus kepalaku dengan manja seperti bisa. Aku tahu senyum dia tidak seperti biasa, senyum dia terpaksa, tapi aku merasakan sentuhan lembutnya dikepalaku yang membuatku sedikit lega.
Aku dan Dimas menghabiskan hari ini dengan senyum dan tawa, walau aku tau awalnya senyum Dimas terlihat kaku tapi lama-kelamaan senyum itu terlihat tulus, aku senang bisa membuatnya tersenyum walau sebenarnya aku merasakan sesuatu yang hambar dihati ini.

Mata ini enggan terpejam ketika mengingat apa yang diucapkan Adrian kemarin malam, aku baru tahu kalau dari dulu dia juga menyimpan perasaan yang sama sama aku. Tapi, nasi sudah menjadi bubur kini aku dan dia sama-sama ada yang memiliki, aku milik Dimas dan Adrian milik dia. Seharusnya aku bahagia, bisa memiliki Dimas yang baik dan tulus mencintai aku selama ini.

***

“Na, ngpain sih kita kesini ?” Tanya aku merasa heran kenapa Nana membawa aku ke café tempat dulu aku pernah kerja. “Ya ampun, kan gue udah bilang kalau kita mau ditraktir sama Citra disini” Jawab Nana. Semua karyawan menyapa aku, aku meminta waktu sebentar sama Nana, karna aku ingin ngobrol sama teman-teman aku. Mata aku mengelilingi sekitar, aku mencari sosok Adrian, tapi dia tidak terlihat disini mungkin dia sibuk didalam.
“Flo nyariin Adrian ya ?” Ledek Raka “Ciyeeeee Flora…..” Anak-anak serempak ngejek-ejekku tapi, aku hanya tersenyum terserahlah mereka mau ngomong apa. Aku pamit sama Icha, karna aku nggak enak sama Citra yang udah nunggu dari tadi bahkan kirim pesan berkali-kali. Baru dua langkah dari tempat istirahat karyawan café, aku melihat sepeda motor yang aku kenal, aku berfikir apa mungkin itu Dimas, aku memundurkan langkah kakiku lagi dan bersembunyi dibalik kerumunan orang dan berharap mereka bisa menyembunyikan akan adanya aku disitu. Semua orang memperhatikan Dimas, ternyata benar itu Dimas sama seorang cewek. Siapa dia ? Apa dia sodaranya ? Apa mungkin Dimas selama ini selingkuh? Nggak mungkin aku tau betul Dimas gimana, aku terus meyakinkan diri aku sendiri. Walau jantungku merasa deg-degan aku takut mendengar kenyataan ini, cewek itu turun dan tersenyum manja sama Dimas.

“Dan inilah tempat kerja aku yang baru, makasih ya sayang kamu udah mau nganterin aku” Kata cewek itu, “Dim cewek baru ya ?” Tanya Agung, Dimas hanya senyum dan mengangguk, kakiku lemas dan tubuhku bergetar. Air mataku mengalir, Bayu memberiku tisu dan berkata “Jangan pernah keluarin air mata untuk orang seperti dia, dia nggak pantes buat Mba tangisin aku yakin masih banyak yang lebih baik dari dia”. Aku mengusap air mata ini, dan keluar dari persembunyian, aku melihat Adrian dia terlihat marah, tatapannya tajam terhadap Dimas. Dimas menyadari adanya aku diantara orang-orang yang sedari tadi memperhatikan dia, aku tersenyum getir, aku mencoba menahan air mata. Aku pergi meninggalkan Dimas, Dia menarik tanganku, aku tak kuat untuk menahan air mata ini.
“Maafin aku Flo, maafin aku” Lirih Dimas yang hanya tertunduk lemas, aku merasakan hawa panas dari wajahnya. “Ini semua bukan salah kamu Dim, ini semua salah aku karna aku nggak bisa kasih apa yang dia kasih buat kamu, sehingga kamu memilih dia” Bibir ku bergetar, menahan amarah dan rasa sakit dihati ini. Aku memilih untuk pergi dari situ, meninggalkan semuanya, bukan aku ingin lari dari kenyataan tapi aku hanya ingin sendiri.

Semilir angin pantai membuat aku sedikit tenang, semua memori tentang aku dan Dimas teringat kembali semua terasa indah dan menyakitkan. “Ternyata loe masih disini ?” suara Adrian terdengar samar-samar terbawa angin. Aku menengok sekilas kearah Adrian, kita berdua hanya menikmati semilir angin pantai. Aku dan Adrian membalikkan badan secara bersamaan, aku tertegun ketika melihat pemandangan didepan. Dimas terlihat mesra dan bahagia bersama Putri, lagi-lagi aku menangis dan terus menangis. Adrian meraih tubuhku yang rapuh, aku terus menangis dalam peluknya. Kenapa ini semua harus terjadi ? Disaat aku ingin benar-benar menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian.

Kini aku terbaring lemah di Rumah sakit, badan aku mendadak drop, kejadian akhir-akhir ini cukup menguras air mata dan emosi. Selama seminggu aku dirawat oleh Adrian, dia slalu datang menjengukku, aku slalu bertanya sama Adrian tentang Dimas. Tapi, Dimas slalu sibuk dengan Putri aku mencoba mengikhlaskan semua. Hari ini aku keluar dari rumah sakit hampir 1 jam aku menunggu Adrian untuk menjemputku. Tiba-tiba Dimas berdiri dihadapanku, dia tersenyum kaku dan matanya terlihat sendu.

“Hai.. Adrian…tadi minta tolong sama gue buat jemput kamu eh lo” Kata Dimas terbata-bata, “Dia kemana ?” Tanya gue males. “Adrian mendadak pulang ke rumah orang tuanya” Jawab Dimas. Aku hanya pasrah ketika mendengar jawaban dari Dimas, kini aku merasa takut, takut terjadi kesalah pahaman antara Dimas dan Putri.
Semakin hari kodisi aku makin membaik,setelah pulang dari Rumah sakit aku nggak pernah dapat kabar dari Adrian, nomornya pun nggak aktif. Dia kemana ? kenapa dia menghilang begitu saja. Hari pertama dikantor membuat aku tak henti-henti menatap layar monitor karna terlalu banyak kerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Kring..kringg..”Hallo..” Aku sedikit heran ketika ada Agung menunggu di Loby, kok tumben dia kesini ? Ada apa ? Apa terjadi sesuatu terhadap adik Iparnya.

Aku menemuinya, dia memberikan sebuah amplop nan indah dan anggun. “Undangan ?” Tanyaku. “Iya itu undangan Adrian” Jawab Agung. Aku nggak mampu berkata apa-apa, aku hanya mengangguk lemas.
“Maafin gue Flo, gue nggak bisa bantu kalian berdua buat jadi satu, dan gue juga nggak tau kalo kalian udah lama saling suka. Semoga lo bisa dapet yang lebih baik dari Adrian, gue balik ya” Ucap Agung sambil menepuk pundakku, air mata langsung menetes, mungkin ini jalan yang terbaik buat aku dan Adrian. Diundangan terselip sebuah surat dari Adrian,

Dear : Flora

Makasih ya 7 hari kemarin, aku bisa meluapkan rasa sayang aku untuk kamu dan aku pun bisa mendapatkan cinta itu selama 7 hari. Mungkin kamu benar kalau cinta kita takkan bertuan sampai kapanpun dan kalaupun bertuan itu akan menjadi orang lain. Bukan kita, dan bukan untuk kita tapi aku untuk aku dan kamu untuk kamu.
Semoga kita bisa bahagia dengan masing-masing cinta kita dan tuan kita yang memiliki cinta ini.
Keep your smile because your smile very nice.

From:
Adrian

Aku akan selalu berdoa untuk kebahagian Adrian, aku tidak bisa menghadiri resepsi pernikahannya karena aku ada tugas keluar kota. Aku akan menutup pintu hati ini sampai aku siap membukanya lagi dan memastikan cinta ini memiliki tuan. Cinta tak harus memiliki, tetaplah buat dia tersenyum bahagia meski kau tak pernah bisa memilikinya.

Jumat, 20 Februari 2015

01. CERPEN - KINCIR ANGIN DAN BURUNG KERTAS.

Hanya ini yang mampu mengobati rasa kangen gue sama lo, sebuah kotak kecil yang berisi kincir angin kertas dan origami. Entah apa yang gue rasa saat ini dia pergi begitu saja dan menghilang tanpa kabar, selama ini  gue lagi menunggu dia, menunggu disemua social medianya dan blog pribadinya. Tapi, hanya terlihat postingan dia yang dulu. Dia pergi tanpa kabar, dia pergi dengan membawa hati ini yang telah tertulis namanya, gue yakin akan menutup pintu hati ini sampai gue dapat kepastian dari dia, karna gue yakin dialah yang pantas mendapatkan cinta ini.
 
“Kincir angin lagi ?”Seru teman gue yang sedari tadi sibuk membolak balik majalah fashion favoritnya. Gue hanya mengangkat kedua bahu gue, karna gue gak bisa menjawab setiap ada pertanyaan tentang dia dan sampai kapan gue harus menunggu dia kembali. Tiara slalu setia mendengarkan keluhan hati gue tentang dia walau kadang dia suka memarahi gue, menurut dia gue adalah cewek yang bodoh yang mau menunggu cinta yang semu. Tapi bagaimanapun hati ini gak bisa bohong, kalau gue akan terus menunggunya.

Hujan terus turun dengan deras padahal hari ini gue harus dateng ke acara arisan keluarga yang menurut gue bosen dan gue slalu merasa asing disana secara kaya gak punya teman. Gue berharap hujan tak pernah berhenti sampai malam supaya gue punya alasan untuk bilang tidak,  karena gue yakin Ayah pasti ngerti dan bilang “Ya udah nggak apa-apa”. Bayangan dia kini muncul lagi dalam fikiran gue, kadang gue ingin menghapus semua tentang dia namun gue gak mampu untuk itu.

Hari semakin sore, hujan mulai reda matahari sore muncul dengan malu-malu, terlihat pelangi yang indah menghiasi sore hari. Gue keluar untuk menikmati sore hari di taman dekat kost, menikmati pelangi sambil mendengarkan music favorit gue dan dia. Fikiran melayang menarawang saat bersama dia, pulang sekolah yang indah untuk dikenang menurut gue. Saat gue dan dia terjebak hujan disebuah halte, dan saat itu gue baru tau dia kakak kelas gue. Kita hanya saling diam menunggu hujan reda, gue hanya sesekali melirik dia, gue rasa dia pun sama. Telinga kita sama-sama tersumbat oleh aliran music dengan tiba-tiba gue dan dia bernyanyi bersama tanpa aba-aba. Awalnya gue nggak sadar akan hal itu, kita sadar kalau kita sedang berduet bak ala konser megah, saat anak kecil berkomentar “Wah suara kakak cantik dan kakak ganteng bagus” spontan anak kecil itu kasih kita kincir angin dan burung kertas yang disebut origami. Gue dan dia saling menatap, dia tersenyum dengan reflek gue membalas senyumnya jantung gue berdebar dengan kencang serasa terjun bebas dari lantai 50.

“Burung kertasnya kamu simpan aja dan aku bakal simpan kincir anginnya” gue masih merasa bingung saat itu, gue hanya mengerutkan kening tanpa mengerti apa maksud dia. Belum sempat gue nanya apa maksudnya dia udah kembali berbicara. "Eh lihat ada pelangi", gue langsung ikut menatap pelangi disore hari yang indah itu. Dia tersenyum lagi, gue suka melihat senyumnya, matanya bersinar kena pancaran sinar matahari sore. Disinilah awal gue mencintai hujan, dan menikmati indahnya sore hari setelah hujan turun dengan membawa burung kertas ini kemana-kemana.

"Flo, pulang yuck udah mau magrib nih" Suara Tiara membuyarkan semua lamunan dan bayangan tentang dia. Gue hanya menangguk dan menaiki sepeda serta mengayuhnya sampai kostan. Kali ini Tiara kebanyakan diam, tidak seperti biasanya yang slalu mengacaukan lamunan gue saat-saat seperti ini. "Makasih ya Ra"Itu yang gue ucapkan sebelum Tiara masuk kamarnya, dia hanya tersenyum, dan dia menghilang dibalik pintu yang telah tertutup. Hati ini mulai merasa sepi, ingin rasanya gue mengulang hari-hari yang indah itu, dimana gue mengenal indahnya cinta pertama yang membuat gue gugup dan menjadi diri gue sendiri.

 ***

Seperti biasa, hujan turun dipagi hari bikin males buat pergi ke kantor. Gue terus berjalan menembus rintikan hujan yang semakin siang semakin deras hujannya, gue berharap hari ini gue lupa akan semua masa lalu. Kesibukan di kantor dihari ini sedikit membantu gue buat nglupain semua kenangan itu dan semua tentang dia, tanpa terasa jam pulang telah tiba, tapi hujan tak kunjung untuk berhenti.
“Flo mau pulang ? Hujan deres loh dicampur petir” Kata security kantor, “Gak apa-apalah Pak lagi pula Cuma sekali naik angkot doang” Ucap gue. Selang beberapa menit angkot muncul, dan dengan buru-buru gue masuk kedalamnya. Jalanan lumayan macet karena beberapa ruas jalan banjir, jam 7 malam gue baru sampai kostan. Hari yang melelahkan biasanya jam segini gue udah rapi dan udah anteng depan tv. Malam ini gue baru saadar kalau nggak ada yang ganggu telinga gue, mata gue langsung tertuju sama kamar Tiara yang masih terlihat gelap. Apa mungkin dia udah tidur tapi, biasanya dia nggak bakal bisa tidur kalau belum ngubrak-abrik kamer gue. Gue coba gedor pintunya tapi nggak ada jawaban, gue mencoba telpon dia tapi gak ada jawaban juga. Gue mondar mandir depan kamar Tiara, mana Ibu kost pulang kampung terus gue mau nanya siapa, Desi dan Ratna pun belum pulang. Pikiran gue jadi nggak tenang memikirkan Tiara dan yang lainnya karna belum pulang, mata terasa lelah gue perlahan menyandarkan kepala di bantal dan meluruskan tubuh diatas sofa.

“Flo, Flo” Suara itu seolah-olah terdengar ditelinga gue, mata rasanya berat banget buat melek. Gue mengucek-ucek mata dan melihat Tiara, Desi dan Ratna lagi berdiri disamping gue.

“Lo ngpain tidur disofa gini ?”Tanya Tiara, gue membenarkan posisi gue “Ya gue nunggu kalian lah, lagian kalian susah banget buat dihubungin, udah malem hujan deres kan gue jadi khawatir” Jawab gue dengan nada sedikit sewot. Mereka bertiga tertawa secara bersamaan, “Flo Flo, muka lo tuh lucu banget sumpah” cetus Ratna yang dari tadi ketawanya paling kenceng. Mereka makin tertawa, dan gue sendiri makin kebingungan, sampai gue berfikir emang ada yang salah sama gue ? Apa ada yang aneh ? perasaan nggak ada deh. Apa gue salah kalau gue mengkhawatirkan mereka ? Aaarrrggghhhh, gue pasang muka cemberut mereka langsung menghentikan tawa mereka dan duduk mengelilingi gue.

Tiara menceritkan semuanya sebelum mereka pergi, gue jadi merasa malu sendiri dan menggaruk-garuk kepala yang nggak gatel. Tapi gue bisa bernafas lega karna mereka semua baik-baik aja. “Kita minta maaf ya Flo karna udah bikin lo khawatir dan tidur disofa gini” Ucap Desi dengan nada manjanya yang menjadi ciri khas dia. Gimana kalo malam ini kita tidur dikamar gue nyobain kasur baru gue” Usul Ratna dengan girang karna kasur barunya udah dateng, setelah sekian lama dia nabung.

****

“Eh Flo, ini ada surat buat lo” Receptions memberikan selembar surat, “Ok Thank’s ya Mba” gue mengeritkan alis ketika melihat kop surat tertulis nama sekolah waktu gue SMA dulu. Ternyata 2 minggu lagi acara reuni akbar, dari angkatan pertama sampai angkatan 2013, itu berarti angkatan dia juga ada. Apa dia bakal datang ? dalam otak gue hanya itu yang berputar-putar, tatapan gue ke burung kertas itu mampu menembus kenangan saat itu.

“Flo, thanks ya udah mau nemenin aku ke toko buku dan nyari buku buat bahan aku belajar menghadapi UN nanti” Dia tersenyum, gue hanya bisa mengangguk saat itu. Entah kenapa gue slalu gugup saat sama dia, salah tingkah bahkan suka bertindak konyol. Padahal bukan pertama kalinya gue nemenin dia ke toko buku tapi sering bahkan hampir setiap hari, nemenin dia main footsal, jogging bareng setiap sore, kadang suka belajar bareng.
“Oh ya Flo, acara promnight nanti kamu jadi kan sama aku datangnya?” Tanya dia. “Jadilah, kan kita udah pesan baju buat nanti bahkan aku juga udah mulai nabung buat bayar baju kita nanti” Jawab gue dengan girang.
“Flo, buat apa nabung ? orang udah aku bayar kok” Ucap dia dengan santai, gue mlongo, apa dia seserius itu buat ngajak ke acara promnight nanti. “Eh kak, promnight kan masih lama buat apa kita bahas sekarang” Kata gue.
“Supaya kamu gak pergi sama yang lain” Kata dia sedikit jutek dan pergi ninggalin gue yang masih bengong, dia teriak memanggil nama gue, gue berlari kearah dia dengan kegirangan.

Malam ini promnight telah tiba, dari jam 3 sore gue siap-siap untuk dijemput dia. Hampir 1 jam gue nunggu dia tapi nggak ada tanda-tanda dia datang, mungkin dia ada urusan sebentar jadi dia telat jemput gue. Gue terus positife thinking, gue mulai jenuh bosan hampir 2 jam gue nunggu dia, ditelfon nomornya nggak aktif.
“Loh Flo, kamu belum berangkat juga ?” Tanya Ayah, “Gak jadi berangkat Yah, dia lagi sibuk” Jawab gue dengan malas dan rasa kecewa, gue lebih milih ngebatalin acara itu dan mengurung diri dikamar. Entah kenapa air mata ini mengalir, mata gue terasa panas karna menangis terlalu lama. Akhirnya gue memilih untuk tidur, berharap esok hari akan lebih baik.

***

“Flo, bangun udah siang” Teriak Ibu dari luar, gue lihat jam menunjukan pukul 7, senyenyak itukah gue tidur, sampai gue gak tau adzan subuh. Gue melihat sebuah kertas terlipat disamping jam beker, dengan cepat gue meraih kertas itu dan membacanya. Gue terkejut ketika melihat itu dari dia, gue langsung keluar dan Tanya sama Ayah atau Ibu ingin memastikan kalau semalam dia datang.
“Yah, semalem Albie dateng ya?” Tanya gue sama Ayah. “Iya semalem dia kesini sampai kehujanan, Ayah bangunin kamu tapi kamu kelihatanya nyenyak banget, sampai nggak mau bangun” Jawab Ayah.
Sekecewa itukah gue sama dia, sampai gue benar-benar menutup telinga. Gawat, dia kan nunggu gue jam 8 ditempat biasa, jam menunjukkan pukul 7.30 dengan cepat gue kekamar mandi Cuma buat gosok gigi dan cuci muka mandinya cukup dengan minyak wangi. Dengan cepat gue mengayuh sepeda, tanpa sempat pamit sama Ibu yang lagi di dapur 15 menit lagi pukul 8 gue harap dia masih mau menunggu gue, gue Cuma butuh penjelasan dia tentang kemarin. Sial benar-benar sial, kenapa ban sepeda gue sampai bocor gini sih ? gue titipin sepeda ke tempat teman Ayah, gue menunggu angkot lama banget. Jam 8 lewat 5 menit akhirnya angkot dateng juga, tapi rasanya gue nggak tenang ini angkot lelet banget. Sepanjang jalan gue berdoa semoga dia masih nunggu gue, seperti apa yang tertulis disurat itu, kalau dia akan terus menunggu sampai gue datang.

Disini gue hanya bengong ternyata dia bohong katanya mau nunggu sampai gue datang, tapi apa ? Disini, dihalte ini hanya ada gue dan kenangan kita dulu pertama kali kita kenal. Gue nggak bisa menahan lagi air mata gue, gue udah nggak perduli sama lingkungan sekitar gue disitu nangis sejadi-jadinya tiba-tiba “Kamu nangis kenapa ?” Suara itu membuat tangis gue berhenti, dia ? Ternyata dia masih nunggu gue, dia tersenyum sambil menyodorkan air minum yang dia bawa. Gue masih diam, menatapnya dalam-dalam sekarang gue sadar kalau gue benar-benar nggak mau kehilangan dia, dia menghapus air mata gue dengan lembut. Gue nggak perduli dia mau berfikir tentang gue seperti apa, gue langsung peluk dia dengan erat. Please jangan pernah pergi, ingin sekali gue mengucapkan kalimat itu tapi gue gak mampu bersuara. “Jangan pernah sedih dan jangan pernah keluarin air mata kamu, aku hanya mau melihat kamu tersenyum karna kamu begitu berarti dalam hidup aku” bisik dia.

Kring…krinnggg…..suara telfon membuyarkan semua lamunan gue, gue pun sampai lupa kalau gue harus nyiapin beberapa file untuk dicetak. Fiuuhhhh,, hampir aja kerjaan hari ini terbengkalai. Kepala berasa banget cenat cenut, mata terasa panas mungkin karna semalem kurang tidur. Tiba-tiba gue kepikiran Tiara, dia kenapa begitu beda. Kenapa ?Mungkin nanti gue bisa tanya sama dia pas sampai kost.

***

Kepala masih terasa pening, padahal tadi dikantor pas jam istirahat aku udah tidur. Gue memilih langsung tidur, dan meninggalkan semua aktifitas malam. Keesokan harinya gue dapat surat dari Tiara kalau dia harus pergi menyusul orang tuanya dan ternyata dia sudah resign dari kantornya sebulan yang lalu, terus selama sebulan dia kemana dan ngapain ? itu yang ada di kepala gue. Ada apa dengan Tiara dan kenapa dia ? nomornya susah buat dihubungin selalu mail box. Tiara..lo sebenarnya kemana ? udah hampir seminggu Tiara pergi  kostan terasa sepi, nggak ada biang rusuh nggak ada makanan enak. Tapi gue dan anak-anak berfikir positif mungkin Tiara lebih bahagia tinggal sama orang tuanya.
Gue melihat ibu kost akhir-akhir ini sering melamun, kebanyakan bengong, dia ngrasa kehilangan Tiara. Karna bagi ibu kost Tiara sudah menjadi seperti anak kandungnya sendiri, maklum Tiara adalah orang pertama yang jadi penghuni kost sini.

***

Hari reuni telah tiba, disini gue berharap gue bisa ketemu dia meskipun harapan itu tipis hanya 20%. Senang rasanya bisa ketemu teman-teman lama, teman seperjuangan waktu SMA. Semua ketawa-ketiwi berbagi cerita dan mengingat masa-masa dulu, mata gue terus mencari-cari sosok yang selama ini gue tunggu. Tapi semua terasa sia-sia, mungkin Tiara benar dia nggak akan pernah kembali.

“Hai Flo, “Sapa Evi, gue hanya tersenyum getir karna gaget tiba-tiba Evi muncul dihadapan gue. “ Kesini sama siapa ?” Tanya Evi.
“Flo kesini sama Amir, Wahyu, terus Ina” Jawab gue. Evi menatap gue dengan aneh, dan dia tersenyum-senyum sendiri. “Evi kenapa ? ada yang salah ya sama Flo ?”Tanya gue dengan nada kebingungan, sambil menatap dari bawah sampai atas. Tiba-tiba Evi ngomong bahwa dia akan datang menjemput pelangi yang telah tertinggal. Dia ? Dia siapa ? gue hanya bengong dan kebingungan, tiba-tiba sebuah layar lebar menyala isi dari film itu adalah dimana pertama kali gue kenal sama dia, dan beberapa kejadian belakangan ini dimana gue sedang mengenang dia. Gue nggak pernah tahu akan rencana pembuatan film ini, siapa yang membuatnya, semua focus kelayar pemutran film itu dan gue nggak mampu berkata apa-apa. Gue bertanya-tanya siapa ? siapa ? Apakah dia yang membuat semua ini ? Mungkinkah dia selama ini ada disini ? Butiran-butiran yang gue tahan tak mampu lagi bertahan ditempatnya, satu per satu jatuh. Tuhan, apa arti dari semua ini ? Jangan berikan aku harapan jika harapan itu hanya bohong belaka. Film kelar diputar dengan tulisan bersambung, diatas panggung berdiri sosok yang gue kenal yaitu Tiara. “Tiara” Lirih gue, Amir membawakn gue tisu dan mengusap air mata gue. “ Jangan pernah menangis sahabatku, karna kamu nggak pantas untuk menangis, menangislah jika kau merasa bahagia” Amir pergi menghilang dikerumunan orang banyak.

“Dulu gue nggak pernah tau apa sih arti cinta yang tulus ? Arti cinta yang sejati ? ternyata gue bisa menemukan disahabat gue sendiri. Pertama gue kenal dia saat gue masih kelas 2 SMA dan dia baru mulai kerja dijakarta, awalnya gue marah sama dia, dia itu terlalu bodoh karna dia berharap sama seseorang yang nggak pernah kasih kabar sama dia bahkan selama 6 tahun ini dia masih menunggu dan menunggu. Awal gue menyadari bahwa cinta itu benar saat menemukan buku usang dan beberapa foto, gue melihat isi buku itu dengan judul FLORA dan ALBIE Story. Foto-foto jaman mereka masih SMA goresan tinta yang indah namun penuh makna, gue makin mengerti saat melihat siapa lelaki itu dan ternyata dia Muhammad Albie dan kalian tau dia adalah kakak gue yang selama 6 tahun itu juga dia, harus berjuang untuk melawan penyakitnya. Flo, gue minta maaf selama 1 bulan ini gue bohong sama lo setelah gue tahu bahwa lo ada semangat buat kakak gue melawan penyakitnya. Dan lo tau, kakak gue pun menutup pintu hatinya untuk orang lain. Dia hanya membuka ketika lo mengetuk pintu itu.”

“Karna hanya nama kamu yang tertulis dihati ini” suara itu, suara itu. Gue balik badan dan menemukan sosok yang selama ini gue tunggu, dia nggak berubah dia masih seperti dulu. Senyumnya, tatapan matanya, cara dia bicara cara dia berdiri dan cara dia berjalan. Gue nggak mampu untuk berkata-kata, dia menunjukkan kincir angin, ternyata dia masih menyimpannya. Dia mengenakan baju yang harusnya dia pakai diacara promnight waktu itu, gue memeluk dia erat, tangis gue makin pecah dan tenggelam didalam pelukannya.
“Maafin aku Flo, aku udah ninggalin kamu maafin aku” Bisik Albie ditelinga gue. Gue terus menangis lidah gue keluh untuk berbicara, dalam hati gue mengucapkan syukur dan terima kasih gue sama Allah, karna Allah telah mendengar doa-doa gue selama ini. Dan makasih juga buat Tiara dan Amir yang sudah menyiapkan ini semua buat gue.

“Jangan pergi lagi” Ucap gue, Albie mengangguk dan memperat pelukannya. Gue tahu semua didunia ini nggak ada yang kebetulan, Allah slalu merencanakan yang terbaik buat gue dan dia setelah 6 tahun berpisah. Gue dipertemukan dengan Tiara sebagai sahabat gue, dan Albie focus dengan penyembuhan penyakitnya. Gue dan dia memulai cerita yang baru, dan disitulah gue bisa mendapatkan jawaban dan kepastian yang selama ini gue tunggu. Cinta akan datang disaat yang tepat disaat kau benar-benar mampu untuk menggenggamnya dan menghadapi segala resiko yang ada dihadapanmu.