“You are the perfect love rains over me You have the perfect
song singing for me You are the perfect dream i ever wanted You are the perfect
love”
Mungkin
nggak sih cinta itu tumbuh dalam hatinya ? Pasti ada cinta dalam hatinya lah,
tapi cinta yang ku mau itu cinta yang tulus untukku bukan untuk orang lain.
“Woy,
bengong mulu..kesambet lo baru tau rasa” Kebiasan dia yang nggak pernah hilang
dari jaman SMA, aku kira kita nggak bakal ketemu lagi. Tapi, Tuhan berkehendak
lain aku dan dia malah dipertemukan kembali tanpa disengaja setelah 3 tahun
berpisah. Sekarang aku dan dia 1 universitas walaupun dulu kita seangkatan tapi
sekarang aku jadi juniornya karna aku baru kuliah 1 tahun yang lalu sedangkan
dia sudah mau wisuda. Aku melihat banyak perubahan dari dia, dulu dia slalu
malas mengerjakan tugas bahkan suka diam-diam mencuri tugasku. Tapi sekarang,
dia rajin buat ngerjain tugas-tugasnya karna dia slalu bilang “Gue nggak
mungkin males-malesan terus Flo, gue bakal tunjukin sama orang tua gue terutama
bokap gue supaya gue nggak direndahin terus sama dia” Ayah Adrian memang keras
dalam mendidik anak-anaknya walaupun seperti itu, dia tetap menjadi seorang
Ayah yang lemah lembut. Aku masih ingat saat Adrian kecelakaan motor, Ayahnya
begitu perhatian dan telaten merawat Adrian.
“Flo, thanks ya lo udah nemenin gue
ngerjain tugas buat besok” Ucap Adrian, aku hanya mengangguk dan tersenyum sama
Adrian, mata aku yang mengantuk mampu mengunci mulutku untuk bicara. Dengan
malas aku berdiri dan berjalan kearah parkiran, aku menunggu Adrian sambil
terkantuk-kantuk. Sepanjang jalan aku menahan kantuk, Adrian menyadari kalau
aku terkantuk dia meraih tanganku dan melingkarkannya ke pinggangnya. “ Flo lo
senderan aja, gue bakal jagain lo biar nggak jatoh” Suara Adrian terdengar
samar-samar, sedikit ragu aku menyandarkan kepalaku dipunggungnya, rasa nyaman
menyelimutiku malam ini.
***
Hari ini kerjaan aku menumpuk,
huuaaaaaaahhhhh….rasanya aku ingin teriak sekenceng mungkin biar plong. Banyak yang
harus direvisi sehingga aku melupakan semuanya dan mengabaikan telfon dari
Adrian berkali-kali dia menelfonku tapi aku nggak ada waktu untuk menangkat
telfonnya. Saking sibuknya aku melupakan jam makan siang, ketika melihat jam
pukul 4 sore waktunya aku pulang dan harus berangkat ke kampus. Aku pergi ke
kantin untuk mengisi perutku yang dari pagi hanya masuk 1 roti saja. Telingaku terasa
sunyi karna tak ada yang teriak-teriak memanggilku, kemana manusia rese itu ?
Mataku keliling mengitari lingkungan sekitar untuk mencari Adrian. Tapi tak
terlihat batang hidungnya, mungkin dia udah pulang karna hari ini dia kan Cuma sampai
jam 2 siang.
“Hai Flo” Sapa Akbar, sahabat aku
dan Adrian semenjak pertemuan dua tahun yang lalu. “Hai Bar ! Citra kemana ?
kok tumben nggak bareng ?” Tanya aku.
“Citra masih ada kelas, tadi juga
dia nanyain lo” Jawab Akbar sambil menenggak minuman kalengannya, nafasnya
masih memburu karna baru selesai main basket. Aku hanya menangguk, mungkin
Citra mau mengambil power bank yang tertinggal dikostanku minggu kemarin.
“Oh ya Bar, Adrian kemana ya ?”
Tanyaku, Akbar mengangkat alisnya “Emang lo nggak dikasih tau sama Adrian ?”
Tanya Akbar balik, aku hanya menggelengkan kepala sambil melanjutkan melahap
mie goreng kesukaanku. “Gini nih, pasti lo lupa ngcek HP deh” Cletuk Akbar, aku
langsung tersendak makanan. Aku menepok jidat karna lupa membaca pesan dari
Adrian beberapa jam yang lalu, saking sibuknya kerjaan aku dikantor. Aku membaca
pesan dari Adrian, dia meminta aku merangkai bunga yang cantik dan mengambil
pesanan liontin yang waktu itu aku dan dia pesan.
Aku menatap Akbar meringis, Akbar
geleng-geleng kepalanya. “Bar gimana dongg ??” aku berlaga kaya cacing
kepanasan karna bingung harus apa. “Kenapa lo Flo ?”Tanya Citra yang baru
datang. Aku terus mondar mandir dihadapan Citra dan Akbar, “Flo lo lupa ya sama
pesanan Adrian?” Tanya Citra lagi yang membuat aku makin panik, lagian kenapa
sih Adrian harus minta tolong sama Aku ? kan Akbar dan Citra juga bisa bantuin
dalam hal kaya gini mah.
“Ya udah gini aja, kita bagi
tugas..” Usul Citra “Lo Flo ambil pesanan liontin Adrian, karna Cuma lo yang
tau tempatnya gue ambil rangkaian bunganya dan Akbar ambil cakenya, kita masih
punya waktu 1 jam dari sekarang” Lanjut Citra, tanpa kompromi lagi aku langsung
mlesat ke toko liontin itu. Sepanjang jalan aku mengrutu “Siapa yang punya
acara siapa yang repot sih” rasa dongkol dalam hati membuat aku meleng, aku
terpeleset dan kakiku sedikit luka. Rasanya nyeri untuk dibawa jalan, aku
berusaha menahan rasa sakit itu aku berlari kearah toko.
Setelah aku mengambil liontinnya,
aku langsung berlari menuju kafe acara ultah Putri. Sialnya aku kembali
terpelosok kejalan berlubang, aiisshhhh aku mengrutu lebih dari tadi. Badannyaku
sedikit kotor,siku dan lututku berdarah aku tidak perduli yang penting aku
cepat sampai di kafe itu.
Aku melihat Adrian mondar-mandir
diloby, dengan tampak sedikit cemas. Aku melihat jam ditangan aku belum
terlambat masih ada 5 menit lagi, aku berlari kearah Adrian. Nafasku masih
memburu, “Woy Flo, lo lama banget sih” Bentak Adrian, aku menarik nafas dan
keluarkan mengatur nafas biar stabil.
“Lo tuh ya, bukannya terima kasih
udah gue ambilin juga malah bentak-bentak gue lagi kalo gue telat baru lo
marah-marah sama gue” aku membentak Adrian balik, aku mendadak menjadi emosi
ketika mendengar ucapan Adrian. “Flo lo kenapa ?” Tanya Citra yang baru datang.
“Baju lo dekil gitu ?”Sambung Akbar. “Gue nggak apa-apa” Jawab aku sekenanya,
rasanya sakit dikaya giniin. Udah susah payah gue ngambil ini tapi Adrian malah
bentak gue seenaknya. Aku kasih kotak kecil itu kepada Adrian, dan aku memilih
pergi dari situ aku berusaha jalan biasa agar mereka tidak tahu kalau kaki aku
luka.
“Flo…”Panggil Adrian, aku
menghentikan langkah kaki, Apaan lagi sih
grutuku dalam hati. “Maafin gue ya, gue seharusnya berterima kasih sama lo
karna lo udah nyiapin ini semua buat gue” Ucap Adrian dengan nada penuh
penyesalan, “Gue nggak marah kok, gue Cuma cape dan butuh istirahat, good luck
ya” Aku berusaha senyum dengan tulus, aku ingin cepat pulang bukan karna rasa
sakit dilutut dan disiku, tapi karna rasa sakit dihati ini. Adrian memelukku,
mungkin ini akan menjadi pelukkan seorang sahabat yang terakhir. Aku harus bisa
lupain Adrian, menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian. Bukan cintaku yang
rapuh untuk Adrian tapi, mungkin ini saatnya untuk aku berhenti mencintai
Adrian.
***
Semenjak kejadian di kafe aku slalu
menghindar dari Adrian,Akbar, dan Citra. Mereka slalu memburuku di kampus
bahkan sampai menyatroniku dikantor, tapi aku slalu berhasil lolos. Aku melihat
Adrian sedang duduk di depan pintu kostan, aku menghindar dan berbelok arah,
lepas dari Adrian aku kepergok sama Akbar dan Citra. “Lo mau kabur kemana lagi
hah?” Tanya Citra “Dan maksud lo itu apa sih ngindarin dari kita semua ? kita
salah apa Flo sama lo?” Sambung Akbar.
“Gue itu nggak menghindar dari
kalian kok, gue Cuma butuh waktu buat sendiri. Kalo gue kasih tau kalian pasti
kalian suka kepoh kenapa” Jawabku dengan nada sedikit memelas agar mereka
mengerti, walaupun sebenarnya bukan itu alasanku. “Lo tuh tau nggak sih Adrian tuh strest
nyariin lo, dia itu ngrasa kehilangan lo. Dan lo tau Adrian itu abis disakitin
lagi sama ceweknya” Ucap Citra sedikit membentak, aku hanya diam aku bingung
harus ngomong apa sama Citra. Bukankah itu hal yang biasa bagi Adrian,
seharusnya dia bersikap biasa aja nggak usah sampai strest gitu toh dia juga
sering mengalami itu semua.
“Kita tahu mungkin lo berfikir itu
hal yang biasa untuk Adrian, dan seharusnya dia bisa mengatasi semua….” Kata
Akbar, aku diam penuh emosi, kenapa ? kenapa nggak ada yang ngerti perasaan gue
? “Tapi kali ini beda…” Suara Adrian muncul dari balik pohon “Kali ini gue cari
lo bukan gue mau ngadu keluhan hati gue…” Semua diam terasa sunyi Adrian masih
menundukkan kepalanya, Citra memeluk gue “Maafin gue Flo” Bisik Citra.
“Tapi gue kesini karna gue sadar,
cinta yang gue rasa selama ini bukan buat Putri, tapi buat lo Flo” Aku
terperangah atas ucapan Adrian, apa aku nggak salah dengar dan apa Adrian nggak
salah ngucapin kalimat itu. Adrian meraih tanganku, “Flo terima kasih atas
semua rasa cinta lo yang tulus ke gue, lo kasih semuanya ke gue lo korbanin
semuanya buat gue, tanpa berfikir gimana sakitnya lo Flo” Muka Adrian terlihat
merah, aku meneteskan air mata ketika melihat Adrian serapuh ini. Air mata
Adrian mulai menetes, aku memeluk Adrian, aku nggak bisa melihat Adrian seperti
ini.
“Jangan pernah lagi kamu mencoba
untuk pergi dari aku Flo, aku cinta dan sayang sama kamu” Bisik Adrian, aku
menganggukkan kepala. Aku slalu percaya bahwa cinta yang tulus akan mendapatkan
kebahagiannya, walaupun nggak harus slalu terbalas oleh orang yang kita cintai,
terkadang kita juga mendapatkannya dari orang lain yang lebih baik dari orang
yang kita cintai, Because love is magic.