Selasa, 22 September 2015

Dalam Pekatnya

Sepertinya aku menyadari
Saat kau pergi tinggalkan aku
Artimu kini ku resapi
Ketika sunyi mendekap hati

Dingin pelukan malam ini
Dalam pekatnya aku menangis
Sejenak langkah ku terhenti
Dimana kini ku berdiri

Persetan pagi ini
Aku tak ingin bangun lagi
Biar lepas aku kembali bermimpi

Saatnya kini ku mengerti
Langkahku ingin aku menepi
Semua harus ku akhiri
Penantianku sampai di sini

Persetan hari ini
Aku lelah untuk berlari
Coba untuk hindari hati di sini

Aku mungkin jatuh hati
Tapi pasti patah lagi
Adilkah ini

Persetan pagi ini aku tak ingin bangun lagi 
Cukup sudah aku menanti disini
Persetan hari ini aku lelah untuk berlari
Coba untuk hindari hati disini

Powered by New Eta

Jumat, 04 September 2015

05. CERPEN - CINTA DATANG TERLAMBAT


“Maaf kalo kisah kita sampai disini Flo, aku janji aku akan jadi sahabat kamu yang terbaik, aku akan berusaha untuk slalu ada disaat kamu butuh. Meskipun sekarang jarak memisahkan kita tapi itu semua bukan masalah buat aku”
 
Kring,,kring,,kring..!!

Suara jam beker membuyarkan semua mimpi gue, mimpi tentang dia, tentang kejadian setahun yang lalu. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, gue melihat tiket yang gue beli bulan kemarin, dengan malas gue berjalan menuju kamar mandi.

Gue mengunci pintu dan pamit sama ibu kost, dan bersilahturahmi karna besok udah mau lebaran. Ini mudik pertama kali gue naik kereta dan sholat ID di kampung halaman bareng nenek lagi setelah gue lulus sekolah. semua orang sibuk mengangkut barang-barang yang mereka mau bawa ke kampung halaman mereka, dari muatan kecil sampai muatan besar. Gue nggak perlu nunggu waktu lama kereta yang gue naikin sudah dateng, gue nyari kursi yang tertulis ditiket. Gue seneng karna gue dapet duduk deket dengan pintu keluar jadi nggak terlalu jauh buat keluar, disamping gue ibu dan seorang anak yang berumur sekitar 7 tahun di depan gue seorang bapak dan anak yang berumur sekitar 15 tahun. Lalu pas banget yang duduk depan gue seorang pemuda gue rasa umurnya gak beda jauh sama gue, dengan airphone yang menutupi telingan dan kaca mata coklat yang menutupi matanya.
Kereta mulai bergerak maju dan mulai meninggalkan stasiun, gue ambil buku dan sambil mendengarkan music. 

“Mba suka sama Sherlock Holmes ya ?” Tanya pemuda itu, gue hanya mengangguk dan acuh, volume sengaja gue kencengin supaya gue nggak denger dia ngomong apa. Gue sebenarnya tau dia masih terus ngoceh, tapi gue tetep acuh dan cuek. Anak kecil disamping gue mencolek-colek tangan gue, gue melepas handsfree dan menatap anak kecil itu, dia hanya tersenyum.

“Ada apa ?” Gue bertanya, tapi dia berpaling ke ibu dan dia tidak berbicara tapi memberi isyarat yang gue nggak ngerti sama sekali.

“Kata anak saya kakak puasa nggak ? kalo nggak aku punya coklat” Kata sang Ibu
“Makasih ya, Kakak puasa kok, kamu puasa nggak ?” Tanya gue sambil ngelus-ngelus kepalanya tapi dia hanya diam, lalu pemuda yang sok akrab tadi memberi isyarat yang hanya dilakukan ketika berbicara dengan seseorang yang tungarungu.

“Dia bilang, ambil aja coklatnya karna dia punya banyak dan coklat ini buatan dia sama ibunya” Pemuda itu menjelaskan, gue menatap ibunya. Sang ibu tersenyum dan mengelus-elus kepala anaknya penuh dengan kasih sayang, sambil berkata “ Dia tunarungu nak, tapi diumurnya yang masih kecil dia pandai bikin coklat, dan karna dia juga bisnis coklat ibu makin maju”

Gue terhenyak sejenak dan menatap mata dia dalam-dalam, gue mengelus-elus kepalanya dan memeluknya. “ Na-ma ka-mu si-apa ?” gue berusaha berbicara pelan-pelan agar dia mengerti. Dia menuliskan namanya di jendela NILAM, kereta mulai memperlambat laju ini berarti gue sudah sampai di stasiun, gue mengucapkan selamat tinggal sama Nilam. Gue melihat raut wajah Nilam yang sedih, berat sih buat gue ninggalin Nilam, tapi gue mempercepat langkah gue karna kereta akan berangkat menuju stasiun berikutnya.
Gue membuang nafas lega karna di pintu keluar tadi sempat desak-desakan, gue melihat sepupu gue yang udah nunggu 15 menit yang lalu.


“Kamu itu loh lama banget keluarnya” kata sepupu gue sedikit kesel, “Yo maaf tadi penuh banget eh jadi rada susah keluarnya” ucap gue.

“Yow is cepatan nanti keburu siang, kita kan harus ke kuburan kakek nanti abis bangda ashar” Sepupu gue, langsung menaiki motornya dan kita mulai meninggalkan stasiun. Udara sejuk bisa gue rasakan ketika jalanan mulai dikelilingi persawahan yang luas, sebelum sampai rumah gue berhenti di rumah nyokap gue kasih titipan nyokap gue buat nenek gue. Lalu gue lanjut pergi ke rumah, di depan gang banyak banget orang yang lagi sibuk pasang spanduk.

Akhirnya, sampai juga di kampung halaman suasana masih sama yang membuat berbeda adalah orang-orang disini yang dulu mereka masih digendong sama ibunya, tapi sekarang mereka berlarian dengan menggunakan kaki mereka sendiri. Gue sempet nangis dan terharu, seberapa lama kah gue nggak pulang kampung. Gue mengucap puji syukur atas izin Allah sekarang gue bisa disini, bisa merasakan udara segar perkampungan.

**

Suara takbir telah terdengar dan menggema ditelinga, tanpa terasa air mata ini mengalir hati ini mulai merasakan sesuatu yang hilang yang memang benar-benar hilang selama belasan tahun. “Mama”

“Kak Flo…” suara terdengar dari balik pintu kamar, “Iya, kenapa ?”
“Kata nenek suruh nganterin zakat ke mushola” Kata Pipit
“Lah emang kamu mau kemana Pit ?” Tanya Gue, “Aku disuruh nganterin ke rumah-rumah yang lain toh Kak” Jawab Pipit

Gue menghela nafas panjang, dengan malas gue berjalan menuju mushola. Gue melihat sosok yang asing di mushola tapi gue pun merasa nggak asing dengan dia, seolah-olah gue udah pernah ketemu dia. Tapi, gue nggak terlalu pusing dengan ini. “Hay Flo, datang kapan ?” Tanya salah satu remaja masjid, “Tadi siang baru sampe sini, kok tumben yang takbiran sedikit ?” Tanya gue “Masih pada sibuk dengan urusan mereka masing-masing Flo” Jawabnya
“Oh jadi nama lo itu Flo” Seru orang asing itu, gue masih bengong dan terdiam “ Lo” Seru gue dengan suara kenceng. Semua orang menatap gue, gue tersenyum ketir dan pergi meninggalkan mushola. Malam takbiran ini seharusnya gue merasa lebih tenang dan lebih bisa menikmati indahnya malam, tapi gue juga gak bisa bohong tentang perasaan gue yang kosong rasa sakit ini begitu menyelimuti terasa sakit dan perih. Rasanya gue ingin menjerit sekenceng mungkin dan kalo bisa sampai suara ini benar-benar abis.

Hari kemenangan tlah tiba, senang haru bahagia mewarnai semua umat muslim. Seharian gue menjalani silahturahmi kesana kemari, Gue baru tau kalau cowok yang ada dikereta waktu itu temannya Kiki. Anaknya cukup sopan tapi kadang tingkahnya tengil, 2 hari setelah lebaran gue dan anak-anak disni pergi liburan ke Bromo. Gue berharap liburan kali ini mampu melupakan rasa sakit hati gue, selama perjalanan gue hanya diam.

“Flo, kamu kenapa ?? kok diem aja ?” Tanya Sepupu gue, “Nggak apa-apa, Cuma nikmatin pemandangan aja,kan lama nggak jalan lewat sini” Jawab Gue “ Oh ya kok kita berhenti sih ?? ini kan masih di Cirebon ?” Tanya Gue

“Lagi nunggu seseorang” Jawab Sepupu gue, Dia pergi keluar dari Bus. Fikiran gue langsung melayang ke masa-masa itu, dimana gue suka brantem, berbagi cerita berbagi tawa, dan berbagi air mata. Tanpa terasa air mata terjatuh, gue baru sadar disamping gue ada seseorang yang sedang memperhatikan gue.

“Loe” Teriak gue, “Haii”Sapa dia dengan tengil
“Kenapa loe bisa disini ?” Tanya Gue
“Karna gue dapet tiket gratis dari Kiki, jadi gue ikut.”
“Terus kenapa loe duduk disini ?”
“Karna gue mau didekat lo. Cewek jutek, judes, tapi sebenarnya hatinya lagi rapuh”
“Nggak usah sok tau” Kata gue dengan ketus.
“Cinta itu sebenarnya sederhana, tapi kadang cinta juga rumit bahkan kita bisa hancur karna cinta jika kita mencintai orang yang salah..” Dia menghentikan ucapannya dengan menatap gue, gue memalingkan wajah. “Pertama kali gue lihat lo itu saat gue nemenin temen gue interview di kantor tempat lo bekerja, dan saat itu juga gue mulai tertarik sama loe, gue pengen deket sama loe, dan gue juga pengen tau apa yang membuat loe menyimpan beban itu sendirian” Gue menatapnya dengan heran, gue hanya diam dan enggan berkomentar.
“Mata nggak bisa bohong Flo, dan gue juga tau apa yang membuat lo menangis hari ini…” Dia terdiam sambil merogoh sesuatu ditasnya, dia menyodorkan buku Holmes dan sebuah ipod yang keliatan masih baru.

“Ini buat lo, sebagai permintaan maaf karna udah ganggu lo, lo boleh berbuat apa aja sama gue, tapi please ijinin gue duduk disamping lo selama liburan ini berlangsung.” Gue mengambil buku dari tangannya, dan menyumbat telinga dengan ipod yang dia kasih. Selama perjalanan gue memilih diam sedangkan yang lain bercanda bahkan tertawa sampai terbahak-bahak, ada yang asyik karokean dan apa pula asyik bermain game.

Hari semakin larut, gue memejamkan mata perlahan semakin malam gue semakin kedinginan. Entah sampai dimana sekarang, gue ngrasain bus ini berhenti ketika gue bangun tubuh gue terselimuti jaket dan dikepala gue ada bantal kecil. Jaket dan bantal ini kan punya dia, gue melongok keluar dan ternyata benar dia memakai jaket yang sama. Dia menoleh kearah gue, dia tersenyum dan baru pertama kalinya gue membalas senyumnya.

Selama liburan dia nggak pernah ngibiarin gue diam, dia slalu membuat gue tertawa. Dia orang yang cukup humoris, konyol bahkan slalu blak-blakan. Dia orang yang penyayang, gue mulai merasa nyaman dengannya dalam hitungan jam. Selama perjalanan pulang gue slalu bercanda dengannya, nyanyi bareng karokean bareng.

Musim liburan telah berakhir, gue slalu berfikir kalau itu adalah pertemuan terakhir gue dengan dia. Karna gue nggak sempet tukeran no.Hp atau pun add facebook dan follow twitternya. Sebulan berlalu setelah hari itu, bulan ini PMS datang lebih awal yang membuatku malas melakukan aktivitas. Semakin siang semakin terik matahari menyinari bumi, gue pulang lebih awal karna semua badan terasa pegal dan tubuh menggigil. Sampai kost gue langsung menjatuhkan badan kekasur dan terlelap di balik selimut.

Pagi telah menjelang, aku melihat jam pukul 7 pagi. Selama itu kah gue tertidur, dengan malas gue merapihkan kamar kost yang belum sempet gue rapihin dan bergegas membersihkan diri. Suara gelagak tawa terdengar dibalik pintu, gue kenal banget ini suara siapa dengan buru-buru gue membuka pintu sebelum mereka mengetuknya.
“Hai…!!!”
“Kalian rame-rame kesini mau ngapain ?” Tanya gue heran
“Kita kesini bawa jamu buat lo dari nyokap gue” Citra merogoh tasnya “Nih..”Menyodorkan sebotol jamu kunyit.
“Lo tau dari mana kalo gue lagi dapet ?”
“Semalem gue kesini, niatnya ngajakin lo makan bareng eh tapi kata ibu kost dari siang lo gak keluar-keluar kamar. Makanya gue minta Citra suruh bikinin lo jamu” Jawab Milli
Seperti biasa ketika mereka dateng kostan gue jadi rame, rasa sakit masih melilit tapi nggak separah kemarin. Setelah minum jamu gue tertidur rasa kantuk selalu menyelimuti mata gue.

***

Gue mencium aroma wangi pandan bercampur aroma jahe yang menusuk hidung gue, gue liat Citra sibuk di Dapur dan Milli masih tertidur disamping gue. Gue bersyukur dikasih teman seperti mereka, yang perduli dan slalu care sama gue.
“Cit, nonton yuck..bosen nih gue di Kostan mulu” Citra menatap gue, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Lo kenapa ? Ada yang salah ?” Citra duduk disamping gue sambil memegang jidat gue.
“Lo sudah enakan ?” Tanya Citra dengan polos, “Udah kok, yuck kita siap-siap” gue tersenyum dan melempar Milli dengan bantal hingga membuat dia teriak kesakitan.

**

Terkadang cinta membuat gue rapuh, cinta juga membuat kita kuat, membuat kita bangkit, dan seketika itu juga cinta bisa membuat kita hancur. Akhirnya gue bisa juga menemukan tempat nongkrong yang bersatu dengan perpustakaan mini, cukup dengan berjalan kaki beberapa meter dari kostan gue, gue bisa sampai tempat itu. Aroma kopi begitu menenangkan dan setumpuk buku yang membuat gue betah disini, dan dengan cepat gue bisa menemukan tempat duduk yang strategis dekat dengan jendela disamping taman bunga yang terawat dengan baik, Kedai ini pun menyatu dengan toko bunga yang dulunya pernah tutup beberapa waktu.

“Hallo, selamat siang kak mau pesan apa ?” Tanya seorang waiters
“Aku mau es coklat dengan satu skup ice cream vanilla dan 1 pack twister” 

Selesai memesan, gue melihat-lihat buku demi buku yang ada dibelakang gue, semua tentang puisi dan novel. Gue mengambil satu buku dengan cover yang telah usang dan tulisan tangan yang indah. Tulisan yang indah dan pemikiran yang puitis, gue terhanyut dan fikiran gue melayang jauh ketika melihat sebuah puisi dihiasi dengan sketsa yang indah dan keren banget.

“Ice Chocolate with ice cream vanilla dan 1 pack twister” Suaranya membuat gue terkejut, gue menatapnya dan ternyata Dia, Dia yang akhir-akhir ini memenuhi otak gue, Dia yang bikin gue kangen, Dia yang slalu bikin gue ketawa.

“Lo! Ngapain disini ??” Tanya gue dengan polos, dia hanya menunjukan bangga id card yang dia pakai. Dia mengeluarkan setangkai Anggrek putih lalu dia menuliskan sesuatu ditisu, dia tersenyum dan pergi tanpa kata-kata hanya meninggalkan bunga Anggrek putih dan selehai tisu.

“Ini setangkai Anggrek untuk Flo yang hidungnya kaya tomat, kalo ada waktu besok malem gue tunggu di taman samping kedai ini jam 7 malem”

Entah kenapa hanya dengan setangkai Anggrek dia bisa membuat gue tersenyum sendiri dan bahkan gue udah nggak sabar buat nunggu besok malem.

Hari ini gue dengan semangat mengerjakan semua kerjaan yang ada di Kantor dan berharap kelar tepat waktu, tanpa ada hambatan akhirnya kerjaan gue kelar sebelum jam pulang.

“Widihhhh....Flo tumben jam segini meja lo sudah rapi aja” Ledek Diyas
“Iya nih, gue ada urusan dan gue harus pulang cepet” Jawab gue ngasal, expresi Diyas kurang puas akan jawaban yang gue kasih, tapi gue nggak perduli dan meninggalkan Diyas yang masih menatap gue dengan mata ala detectivenya.

Kurang 15 menit lagi dari jam perjanjian, tapi gue udah duduk manis ditaman deket kedai tempat Dia bekerja. Hari ini cuacanya kurang bagus, agak mendung dan dingin mulai menusuk tubuh gue secara perlahan. Sudah satu jam gue menunggu tapi dia belum kelihatan juga. Malam semakin larut aroma tanah mulai tercium, tetesan air mulai berjatuhan dari mulai kecil hingga turun dengan derasnya. Dengan bodohnya gue masih tetap duduk dan masih berharap dia dateng.

Air mata mulai mengalir bersama derasnya hujan turun, dan gue memaki diri gue sendiri. Kenapa gue harus percaya sama dia, kenapa gue harus berharap sama dia kenapa ? perasaan ini seharusnya nggak pernah salah, gue nyaman dengan perasaan ini tapi kenapa harus seperti ini.

Beberapa hari setelah kejadian malam itu, gue berusaha untuk melupakannya dan gue berhasil melupakan itu semua. Gue yakin rasa itu hanya sesaat karna dia datang disaat hati gue rapuh. Sore yang cerah, secerah hati gue karna hari ini pulang lebih awal. Gue tercengang melihat sosok yang beberapa hari ini menghilang begitu saja tanpa ada kabar, dia tersenyum dan melampaikan tangannya. Masih terlihat seperti dulu senyum yang cool dan gaya yang cuek, gaya casual yang slalu menghiasi tubuhnya.

“Lo mau ngapain kesini ?”Tanya gue dengan ketus, Dia mengulurkan tangan dan segelas hot chocolate dan setangkai anggrek putih.
“Gue mau minta maaf sama lo, yang ngebiarin lo sendiri saat itu, gue udah buat lo nunggu....”gue berusaha untuk menahan air mata gue, “Gue sayang sama lo Flo, saat pertama gue kenal lo dan tau semua tentang lo...”

“Lo udah ngancurin semuanya, lo udah menghapus semua harapan yang gue punya, lo udah menutup semua pintu yang selama ini gue buka khusus buat lo, semua udah terlambat Al, terlambat. Semua rasa buat lo udah gue hapus, gue nggak pernah tau ini benar atau salah. Tapi ini yang gue rasa saat ini, gue nggak cinta sama lo”

Pelukan ini masih sama masih nyaman saat Dia pertama kali meluk gue, “Maafin gue” Bisik Albie, dia pergi menaiki taksi. Gue masih bengong, ada rasa sesal dalam diri gue yang udah biarin dia pergi begitu aja. Padahal selama ini gue slalu menunggu saat-saat seperti ini, saat dia datang dengan cintanya, dengan senyumannya.

**

“Sampai kapan lo mau mandangin setangkai anggrek dan segelas coklat itu ? itu semua nggak akan menyelesaikan masalah Flo” Diyas memutar segelas coklat yang gue terima dari Albie dua bulan yang lalu, gue slalu membawa kemana pun gue pergi dan melangkah.

“Flo, gue tau lo nggak bisa nglupain perasaan lo sama Albie, gue juga tau Flo lo itu nggak bisa menghapus rasa itu, dan lo pun merasa kalo semuanya udah terlambat, cinta yang lo punya dan rasa yang lo punya. Flo cinta memang datang terlambat, tapi cinta itu datang disaat yang tepat kita nggak bisa menyalahkan waktu apalagi menyalahkan cinta. Dan gue tau lo kecewa atas perlakuan Albie terhadap lo, tapi asal lo tau Albie tulus sama lo...” Diyas benar gue nggak bisa menghapus rasa ini setelah gue sadar kalo gue bener-bener cinta sama Dia. “Lo harus cepet temuin Albie sebelum dia pergi jauh”
“Maksud lo ?”
“Kemarin gue ketemu Dia, ditoko buku dan dia bilang akan pergi ke London karna dia dapat beasiswa S2 dan kemungkinan dia nggak akan kembali lagi ke Jakarta. Disana dia udah dapat kerjaan yang lebih baik daripada disini Flo..” Gue melihat jam masih pukul 8 malam, gue berlari menuju kedai bunga itu. Ternyata gue terlambat, Albie udah pergi jauh dan gue melakukan kebodohan untuk kedua kalinya.

Kenapa harus ada kata terlambat, kenapa ? gue duduk memeluk lutut dan merasakan dinginnya malam. Dan lagi gue menghancurkan hati gue sendiri, kenapa gue harus sebodoh ini ? kenapa gue harus melepaskan sesuatu yang udah gue genggam dari dulu.

“Flo..” suara itu suara itu, gue mengangkat kepala, Dia ada disini ? Dia masih disini ? gue memeluk dia, gue nggak perduli ini mimpi atau bukan karna gue nggak mau melakukan kebodohan kesekian kalinya dengan melepaskan dia tanpa dia tau perasaan gue yang sebenarnya.

“Jangan pergi please jangan tinggalin gue lagi” gue terus terisak, gue merasakan belaian yang lembut. Gue tau ini bukan mimpi.

“Maafin gue karna waktu itu gue nggak punya cukup waktu buat menjaga lo dan perasaan gue, tapi sekarang gue harus pergi...” Gue makin tenggelam dalam pelukannya yang nggak mau berpisah dengan dia. Sekuat apa pun gue melarangnya pergi, tapi dia akan tetap pergi. Gue berjanji akan slalu menunggu dia sampai dia kembali, malam ini juga gue mengantarnya ke bandara. Terasa berat kaki gue melangkah memasuki bandara dan enggan melepas genggaman tangan gue.

“Flo, apapun yang terjadi nanti aku akan berusaha kembali kesini dan membawa kamu bersama aku suatu saat ini, kamu mau menjaga hati kamu sampai nanti aku kembali?”
“Aku akan berusaha selama kamu juga berusaha untuk kembali kesini”
Sekarang gue tau apa itu perjuangan dalam cinta, yaitu saat kita sama-sama berjuang untuk menuju satu titik yang sama yang akan menyatukan dua hati dalam satu cinta. Semenjak hari itu setiap akhir pekan gue slalu berkunjung ke Panti dan ke Kedai yang ternyata dibangun oleh Albie sejak dulu. Hanya ini cara agar gue bisa merasakan Albie ada disini, sesekali Diyas menemani gue berkunjung ke Panti.

“Flo, gue seneng lo udah bisa kembali menjadi Flo yang dulu. Aktif, cerewet, dan usil”
Terima kasih Diyas, karna lo juga gue bisa seperti ini. Hidup itu indah saat kita bisa membuat orang lain tertawa karna kita, punya sahabat yang slalu ada untuk kita, dan punya orang-orang yang sayang sama kita seperti keluarga dan Dia. Dia adalah alasan gue untuk slalu menunggu dan tersenyum.