“Maaf
kalo kisah kita sampai disini Flo, aku janji aku akan jadi sahabat kamu yang
terbaik, aku akan berusaha untuk slalu ada disaat kamu butuh. Meskipun sekarang
jarak memisahkan kita tapi itu semua bukan masalah buat aku”
Kring,,kring,,kring..!!
Suara
jam beker membuyarkan semua mimpi gue, mimpi tentang dia, tentang kejadian setahun
yang lalu. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, gue melihat tiket yang gue beli
bulan kemarin, dengan malas gue berjalan menuju kamar mandi.
Gue
mengunci pintu dan pamit sama ibu kost, dan bersilahturahmi karna besok udah
mau lebaran. Ini mudik pertama kali gue naik kereta dan sholat ID di kampung
halaman bareng nenek lagi setelah gue lulus sekolah. semua orang sibuk
mengangkut barang-barang yang mereka mau bawa ke kampung halaman mereka, dari
muatan kecil sampai muatan besar. Gue nggak perlu nunggu waktu lama kereta yang
gue naikin sudah dateng, gue nyari kursi yang tertulis ditiket. Gue seneng
karna gue dapet duduk deket dengan pintu keluar jadi nggak terlalu jauh buat
keluar, disamping gue ibu dan seorang anak yang berumur sekitar 7 tahun di
depan gue seorang bapak dan anak yang berumur sekitar 15 tahun. Lalu pas banget
yang duduk depan gue seorang pemuda gue rasa umurnya gak beda jauh sama gue,
dengan airphone yang menutupi telingan dan kaca mata coklat yang menutupi
matanya.
Kereta
mulai bergerak maju dan mulai meninggalkan stasiun, gue ambil buku dan sambil
mendengarkan music.
“Mba
suka sama Sherlock Holmes ya ?” Tanya pemuda itu, gue hanya mengangguk dan
acuh, volume sengaja gue kencengin supaya gue nggak denger dia ngomong apa. Gue
sebenarnya tau dia masih terus ngoceh, tapi gue tetep acuh dan cuek. Anak kecil
disamping gue mencolek-colek tangan gue, gue melepas handsfree dan menatap anak
kecil itu, dia hanya tersenyum.
“Ada
apa ?” Gue bertanya, tapi dia berpaling ke ibu dan dia tidak berbicara tapi
memberi isyarat yang gue nggak ngerti sama sekali.
“Kata
anak saya kakak puasa nggak ? kalo nggak aku punya coklat” Kata sang Ibu
“Makasih
ya, Kakak puasa kok, kamu puasa nggak ?” Tanya gue sambil ngelus-ngelus
kepalanya tapi dia hanya diam, lalu pemuda yang sok akrab tadi memberi isyarat
yang hanya dilakukan ketika berbicara dengan seseorang yang tungarungu.
“Dia
bilang, ambil aja coklatnya karna dia punya banyak dan coklat ini buatan dia
sama ibunya” Pemuda itu menjelaskan, gue menatap ibunya. Sang ibu tersenyum dan
mengelus-elus kepala anaknya penuh dengan kasih sayang, sambil berkata “ Dia
tunarungu nak, tapi diumurnya yang masih kecil dia pandai bikin coklat, dan
karna dia juga bisnis coklat ibu makin maju”
Gue
terhenyak sejenak dan menatap mata dia dalam-dalam, gue mengelus-elus kepalanya
dan memeluknya. “ Na-ma ka-mu si-apa ?” gue berusaha berbicara pelan-pelan agar
dia mengerti. Dia menuliskan namanya di jendela NILAM, kereta mulai
memperlambat laju ini berarti gue sudah sampai di stasiun, gue mengucapkan
selamat tinggal sama Nilam. Gue melihat raut wajah Nilam yang sedih, berat sih
buat gue ninggalin Nilam, tapi gue mempercepat langkah gue karna kereta akan
berangkat menuju stasiun berikutnya.
Gue
membuang nafas lega karna di pintu keluar tadi sempat desak-desakan, gue
melihat sepupu gue yang udah nunggu 15 menit yang lalu.
“Kamu
itu loh lama banget keluarnya” kata sepupu gue sedikit kesel, “Yo maaf tadi
penuh banget eh jadi rada susah keluarnya” ucap gue.
“Yow
is cepatan nanti keburu siang, kita kan harus ke kuburan kakek nanti abis
bangda ashar” Sepupu gue, langsung menaiki motornya dan kita mulai meninggalkan
stasiun. Udara sejuk bisa gue rasakan ketika jalanan mulai dikelilingi
persawahan yang luas, sebelum sampai rumah gue berhenti di rumah nyokap gue
kasih titipan nyokap gue buat nenek gue. Lalu gue lanjut pergi ke rumah, di
depan gang banyak banget orang yang lagi sibuk pasang spanduk.
Akhirnya,
sampai juga di kampung halaman suasana masih sama yang membuat berbeda adalah
orang-orang disini yang dulu mereka masih digendong sama ibunya, tapi sekarang
mereka berlarian dengan menggunakan kaki mereka sendiri. Gue sempet nangis dan
terharu, seberapa lama kah gue nggak pulang kampung. Gue mengucap puji syukur
atas izin Allah sekarang gue bisa disini, bisa merasakan udara segar
perkampungan.
**
Suara
takbir telah terdengar dan menggema ditelinga, tanpa terasa air mata ini
mengalir hati ini mulai merasakan sesuatu yang hilang yang memang benar-benar
hilang selama belasan tahun. “Mama”
“Kak
Flo…” suara terdengar dari balik pintu kamar, “Iya, kenapa ?”
“Kata
nenek suruh nganterin zakat ke mushola” Kata Pipit
“Lah
emang kamu mau kemana Pit ?” Tanya Gue, “Aku disuruh nganterin ke rumah-rumah
yang lain toh Kak” Jawab Pipit
Gue
menghela nafas panjang, dengan malas gue berjalan menuju mushola. Gue melihat
sosok yang asing di mushola tapi gue pun merasa nggak asing dengan dia,
seolah-olah gue udah pernah ketemu dia. Tapi, gue nggak terlalu pusing dengan
ini. “Hay Flo, datang kapan ?” Tanya salah satu remaja masjid, “Tadi siang baru
sampe sini, kok tumben yang takbiran sedikit ?” Tanya gue “Masih pada sibuk
dengan urusan mereka masing-masing Flo” Jawabnya
“Oh
jadi nama lo itu Flo” Seru orang asing itu, gue masih bengong dan terdiam “ Lo”
Seru gue dengan suara kenceng. Semua orang menatap gue, gue tersenyum ketir dan
pergi meninggalkan mushola. Malam takbiran ini seharusnya gue merasa lebih
tenang dan lebih bisa menikmati indahnya malam, tapi gue juga gak bisa bohong
tentang perasaan gue yang kosong rasa sakit ini begitu menyelimuti terasa sakit
dan perih. Rasanya gue ingin menjerit sekenceng mungkin dan kalo bisa sampai
suara ini benar-benar abis.
Hari
kemenangan tlah tiba, senang haru bahagia mewarnai semua umat muslim. Seharian
gue menjalani silahturahmi kesana kemari, Gue baru tau kalau cowok yang ada
dikereta waktu itu temannya Kiki. Anaknya cukup sopan tapi kadang tingkahnya
tengil, 2 hari setelah lebaran gue dan anak-anak disni pergi liburan ke Bromo.
Gue berharap liburan kali ini mampu melupakan rasa sakit hati gue, selama
perjalanan gue hanya diam.
“Flo,
kamu kenapa ?? kok diem aja ?” Tanya Sepupu gue, “Nggak apa-apa, Cuma nikmatin
pemandangan aja,kan lama nggak jalan lewat sini” Jawab Gue “ Oh ya kok kita
berhenti sih ?? ini kan masih di Cirebon ?” Tanya Gue
“Lagi
nunggu seseorang” Jawab Sepupu gue, Dia pergi keluar dari Bus. Fikiran gue
langsung melayang ke masa-masa itu, dimana gue suka brantem, berbagi cerita
berbagi tawa, dan berbagi air mata. Tanpa terasa air mata terjatuh, gue baru
sadar disamping gue ada seseorang yang sedang memperhatikan gue.
“Loe”
Teriak gue, “Haii”Sapa dia dengan tengil
“Kenapa
loe bisa disini ?” Tanya Gue
“Karna
gue dapet tiket gratis dari Kiki, jadi gue ikut.”
“Terus
kenapa loe duduk disini ?”
“Karna
gue mau didekat lo. Cewek jutek, judes, tapi sebenarnya hatinya lagi rapuh”
“Nggak
usah sok tau” Kata gue dengan ketus.
“Cinta
itu sebenarnya sederhana, tapi kadang cinta juga rumit bahkan kita bisa hancur
karna cinta jika kita mencintai orang yang salah..” Dia menghentikan ucapannya
dengan menatap gue, gue memalingkan wajah. “Pertama kali gue lihat lo itu saat
gue nemenin temen gue interview di kantor tempat lo bekerja, dan saat itu juga
gue mulai tertarik sama loe, gue pengen deket sama loe, dan gue juga pengen tau
apa yang membuat loe menyimpan beban itu sendirian” Gue menatapnya dengan
heran, gue hanya diam dan enggan berkomentar.
“Mata
nggak bisa bohong Flo, dan gue juga tau apa yang membuat lo menangis hari ini…”
Dia terdiam sambil merogoh sesuatu ditasnya, dia menyodorkan buku Holmes dan
sebuah ipod yang keliatan masih baru.
“Ini
buat lo, sebagai permintaan maaf karna udah ganggu lo, lo boleh berbuat apa aja
sama gue, tapi please ijinin gue duduk disamping lo selama liburan ini
berlangsung.” Gue mengambil buku dari tangannya, dan menyumbat telinga dengan
ipod yang dia kasih. Selama perjalanan gue memilih diam sedangkan yang lain
bercanda bahkan tertawa sampai terbahak-bahak, ada yang asyik karokean dan apa
pula asyik bermain game.
Hari
semakin larut, gue memejamkan mata perlahan semakin malam gue semakin
kedinginan. Entah sampai dimana sekarang, gue ngrasain bus ini berhenti ketika
gue bangun tubuh gue terselimuti jaket dan dikepala gue ada bantal kecil. Jaket
dan bantal ini kan punya dia, gue melongok keluar dan ternyata benar dia
memakai jaket yang sama. Dia menoleh kearah gue, dia tersenyum dan baru pertama
kalinya gue membalas senyumnya.
Selama
liburan dia nggak pernah ngibiarin gue diam, dia slalu membuat gue tertawa. Dia
orang yang cukup humoris, konyol bahkan slalu blak-blakan. Dia orang yang
penyayang, gue mulai merasa nyaman dengannya dalam hitungan jam. Selama
perjalanan pulang gue slalu bercanda dengannya, nyanyi bareng karokean bareng.
Musim
liburan telah berakhir, gue slalu berfikir kalau itu adalah pertemuan terakhir
gue dengan dia. Karna gue nggak sempet tukeran no.Hp atau pun add facebook dan
follow twitternya. Sebulan berlalu setelah hari itu, bulan ini PMS datang lebih
awal yang membuatku malas melakukan aktivitas. Semakin siang semakin terik
matahari menyinari bumi, gue pulang lebih awal karna semua badan terasa pegal
dan tubuh menggigil. Sampai kost gue langsung menjatuhkan badan kekasur dan
terlelap di balik selimut.
Pagi
telah menjelang, aku melihat jam pukul 7 pagi. Selama itu kah gue tertidur,
dengan malas gue merapihkan kamar kost yang belum sempet gue rapihin dan
bergegas membersihkan diri. Suara gelagak tawa terdengar dibalik pintu, gue
kenal banget ini suara siapa dengan buru-buru gue membuka pintu sebelum mereka
mengetuknya.
“Hai…!!!”
“Kalian
rame-rame kesini mau ngapain ?” Tanya gue heran
“Kita
kesini bawa jamu buat lo dari nyokap gue” Citra merogoh tasnya
“Nih..”Menyodorkan sebotol jamu kunyit.
“Lo
tau dari mana kalo gue lagi dapet ?”
“Semalem
gue kesini, niatnya ngajakin lo makan bareng eh tapi kata ibu kost dari siang
lo gak keluar-keluar kamar. Makanya gue minta Citra suruh bikinin lo jamu”
Jawab Milli
Seperti
biasa ketika mereka dateng kostan gue jadi rame, rasa sakit masih melilit tapi
nggak separah kemarin. Setelah minum jamu gue tertidur rasa kantuk selalu
menyelimuti mata gue.
***
Gue
mencium aroma wangi pandan bercampur aroma jahe yang menusuk hidung gue, gue
liat Citra sibuk di Dapur dan Milli masih tertidur disamping gue. Gue bersyukur
dikasih teman seperti mereka, yang perduli dan slalu care sama gue.
“Cit,
nonton yuck..bosen nih gue di Kostan mulu” Citra menatap gue, dari ujung kaki
sampai ujung kepala.
“Lo
kenapa ? Ada yang salah ?” Citra duduk disamping gue sambil memegang jidat gue.
“Lo
sudah enakan ?” Tanya Citra dengan polos, “Udah kok, yuck kita siap-siap” gue
tersenyum dan melempar Milli dengan bantal hingga membuat dia teriak kesakitan.
**
Terkadang
cinta membuat gue rapuh, cinta juga membuat kita kuat, membuat kita bangkit,
dan seketika itu juga cinta bisa membuat kita hancur. Akhirnya gue bisa juga
menemukan tempat nongkrong yang bersatu dengan perpustakaan mini, cukup dengan
berjalan kaki beberapa meter dari kostan gue, gue bisa sampai tempat itu. Aroma
kopi begitu menenangkan dan setumpuk buku yang membuat gue betah disini, dan
dengan cepat gue bisa menemukan tempat duduk yang strategis dekat dengan
jendela disamping taman bunga yang terawat dengan baik, Kedai ini pun menyatu
dengan toko bunga yang dulunya pernah tutup beberapa waktu.
“Hallo,
selamat siang kak mau pesan apa ?” Tanya seorang waiters
“Aku
mau es coklat dengan satu skup ice cream vanilla dan 1 pack twister”
Selesai
memesan, gue melihat-lihat buku demi buku yang ada dibelakang gue, semua
tentang puisi dan novel. Gue mengambil satu buku dengan cover yang telah usang
dan tulisan tangan yang indah. Tulisan yang indah dan pemikiran yang puitis,
gue terhanyut dan fikiran gue melayang jauh ketika melihat sebuah puisi dihiasi
dengan sketsa yang indah dan keren banget.
“Ice
Chocolate with ice cream vanilla dan 1 pack twister” Suaranya membuat gue
terkejut, gue menatapnya dan ternyata Dia, Dia yang akhir-akhir ini memenuhi
otak gue, Dia yang bikin gue kangen, Dia yang slalu bikin gue ketawa.
“Lo!
Ngapain disini ??” Tanya gue dengan polos, dia hanya menunjukan bangga id card
yang dia pakai. Dia mengeluarkan setangkai Anggrek putih lalu dia menuliskan
sesuatu ditisu, dia tersenyum dan pergi tanpa kata-kata hanya meninggalkan
bunga Anggrek putih dan selehai tisu.
“Ini setangkai Anggrek untuk Flo yang
hidungnya kaya tomat, kalo ada waktu besok malem gue tunggu di taman samping
kedai ini jam 7 malem”
Entah
kenapa hanya dengan setangkai Anggrek dia bisa membuat gue tersenyum sendiri
dan bahkan gue udah nggak sabar buat nunggu besok malem.
Hari ini gue dengan semangat mengerjakan semua kerjaan
yang ada di Kantor dan berharap kelar tepat waktu, tanpa ada hambatan akhirnya
kerjaan gue kelar sebelum jam pulang.
“Widihhhh....Flo tumben jam segini meja lo sudah rapi
aja” Ledek Diyas
“Iya nih, gue ada urusan dan gue harus pulang cepet”
Jawab gue ngasal, expresi Diyas kurang puas akan jawaban yang gue kasih, tapi
gue nggak perduli dan meninggalkan Diyas yang masih menatap gue dengan mata ala
detectivenya.
Kurang 15 menit lagi dari jam perjanjian, tapi gue udah
duduk manis ditaman deket kedai tempat Dia bekerja. Hari ini cuacanya kurang
bagus, agak mendung dan dingin mulai menusuk tubuh gue secara perlahan. Sudah
satu jam gue menunggu tapi dia belum kelihatan juga. Malam semakin larut aroma
tanah mulai tercium, tetesan air mulai berjatuhan dari mulai kecil hingga turun
dengan derasnya. Dengan bodohnya gue masih tetap duduk dan masih berharap dia
dateng.
Air mata mulai mengalir bersama derasnya hujan turun, dan
gue memaki diri gue sendiri. Kenapa gue harus percaya sama dia, kenapa gue
harus berharap sama dia
kenapa ? perasaan ini seharusnya nggak pernah salah, gue nyaman dengan
perasaan ini tapi kenapa harus seperti ini.
Beberapa hari setelah kejadian malam itu, gue berusaha
untuk melupakannya dan gue berhasil melupakan itu semua. Gue yakin rasa itu
hanya sesaat karna dia datang disaat hati gue rapuh. Sore yang cerah, secerah
hati gue karna hari ini pulang lebih awal. Gue tercengang melihat sosok yang
beberapa hari ini menghilang begitu saja tanpa ada kabar, dia tersenyum dan
melampaikan tangannya. Masih terlihat seperti dulu senyum yang cool dan gaya
yang cuek, gaya casual yang slalu menghiasi tubuhnya.
“Lo mau ngapain kesini ?”Tanya gue dengan ketus, Dia
mengulurkan tangan dan segelas hot chocolate dan setangkai anggrek putih.
“Gue mau minta maaf sama lo, yang ngebiarin lo sendiri
saat itu, gue udah buat lo nunggu....”gue berusaha untuk menahan air mata gue,
“Gue sayang sama lo Flo, saat pertama gue kenal lo dan tau semua tentang lo...”
“Lo udah ngancurin semuanya, lo udah menghapus semua
harapan yang gue punya, lo udah menutup semua pintu yang selama ini gue buka
khusus buat lo, semua udah terlambat Al, terlambat. Semua rasa buat lo udah gue
hapus, gue nggak pernah tau ini benar atau salah. Tapi ini yang gue rasa saat
ini, gue nggak cinta sama lo”
Pelukan ini masih sama masih nyaman saat Dia pertama kali
meluk gue, “Maafin gue” Bisik Albie, dia pergi menaiki taksi. Gue masih
bengong, ada rasa sesal dalam diri gue yang udah biarin dia pergi begitu aja.
Padahal selama ini gue slalu menunggu saat-saat seperti ini, saat dia datang
dengan cintanya, dengan senyumannya.
**
“Sampai kapan lo mau mandangin setangkai anggrek dan
segelas coklat itu ? itu semua nggak akan menyelesaikan masalah Flo” Diyas
memutar segelas coklat yang gue terima dari Albie dua bulan yang lalu, gue
slalu membawa kemana pun gue pergi dan melangkah.
“Flo, gue tau lo nggak bisa nglupain perasaan lo sama
Albie, gue juga tau Flo lo itu nggak bisa menghapus rasa itu, dan lo pun merasa
kalo semuanya udah terlambat, cinta yang lo punya dan rasa yang lo punya. Flo
cinta memang datang terlambat, tapi cinta itu datang disaat yang tepat kita
nggak bisa menyalahkan waktu apalagi menyalahkan cinta. Dan gue tau lo kecewa
atas perlakuan Albie terhadap lo, tapi asal lo tau Albie tulus sama lo...”
Diyas benar gue nggak bisa menghapus rasa ini setelah gue sadar kalo gue
bener-bener cinta sama Dia. “Lo harus cepet temuin Albie sebelum dia pergi
jauh”
“Maksud lo ?”
“Kemarin gue ketemu Dia, ditoko buku dan dia bilang akan
pergi ke London karna dia dapat beasiswa S2 dan kemungkinan dia nggak akan
kembali lagi ke Jakarta. Disana dia udah dapat kerjaan yang lebih baik daripada disini
Flo..” Gue melihat jam masih pukul 8 malam, gue berlari menuju kedai bunga itu.
Ternyata gue terlambat, Albie udah pergi jauh dan gue melakukan kebodohan untuk
kedua kalinya.
Kenapa harus ada kata terlambat, kenapa ? gue duduk
memeluk lutut dan merasakan dinginnya malam. Dan lagi gue menghancurkan hati
gue sendiri, kenapa gue harus sebodoh ini ? kenapa gue harus melepaskan sesuatu
yang udah gue genggam
dari dulu.
“Flo..” suara itu suara itu, gue mengangkat kepala, Dia
ada disini ? Dia masih disini ? gue memeluk dia, gue nggak perduli ini mimpi
atau bukan karna gue nggak mau melakukan kebodohan kesekian kalinya dengan
melepaskan dia tanpa dia tau perasaan gue yang sebenarnya.
“Jangan pergi please jangan tinggalin gue lagi” gue terus
terisak, gue merasakan belaian
yang lembut. Gue tau ini bukan mimpi.
“Maafin gue karna waktu itu gue nggak punya cukup waktu
buat menjaga lo dan perasaan gue, tapi sekarang gue harus pergi...” Gue makin
tenggelam dalam pelukannya yang nggak mau berpisah dengan dia. Sekuat apa pun
gue melarangnya pergi, tapi dia akan tetap pergi. Gue berjanji akan slalu
menunggu dia sampai dia kembali, malam ini juga gue mengantarnya ke bandara.
Terasa berat kaki gue melangkah memasuki bandara dan enggan melepas genggaman
tangan gue.
“Flo, apapun yang terjadi nanti aku akan berusaha kembali
kesini dan membawa kamu bersama aku suatu saat ini, kamu mau menjaga hati kamu
sampai nanti aku kembali?”
“Aku akan berusaha selama kamu juga berusaha untuk
kembali kesini”
Sekarang gue tau apa itu perjuangan dalam cinta, yaitu
saat kita sama-sama berjuang untuk menuju satu titik yang sama yang akan
menyatukan dua hati dalam satu cinta. Semenjak hari itu setiap akhir pekan gue
slalu berkunjung ke Panti
dan ke Kedai
yang ternyata dibangun oleh Albie sejak dulu. Hanya ini cara agar gue bisa
merasakan Albie ada disini, sesekali Diyas menemani gue berkunjung ke Panti.
“Flo, gue seneng lo udah bisa kembali menjadi Flo yang
dulu. Aktif, cerewet, dan usil”
Terima kasih Diyas, karna lo juga gue bisa seperti ini.
Hidup itu indah saat kita bisa membuat orang lain tertawa karna kita, punya sahabat
yang slalu ada untuk kita, dan punya orang-orang yang sayang sama kita seperti
keluarga dan Dia. Dia adalah alasan gue untuk slalu menunggu dan tersenyum.