Rabu, 25 Februari 2015

03. CERPEN – LOVE IS MAGIC



“You are the perfect love rains over me You have the perfect song singing for me You are the perfect dream i ever wanted You are the perfect love”

Mungkin nggak sih cinta itu tumbuh dalam hatinya ? Pasti ada cinta dalam hatinya lah, tapi cinta yang ku mau itu cinta yang tulus untukku bukan untuk orang lain.

“Woy, bengong mulu..kesambet lo baru tau rasa” Kebiasan dia yang nggak pernah hilang dari jaman SMA, aku kira kita nggak bakal ketemu lagi. Tapi, Tuhan berkehendak lain aku dan dia malah dipertemukan kembali tanpa disengaja setelah 3 tahun berpisah. Sekarang aku dan dia 1 universitas walaupun dulu kita seangkatan tapi sekarang aku jadi juniornya karna aku baru kuliah 1 tahun yang lalu sedangkan dia sudah mau wisuda. Aku melihat banyak perubahan dari dia, dulu dia slalu malas mengerjakan tugas bahkan suka diam-diam mencuri tugasku. Tapi sekarang, dia rajin buat ngerjain tugas-tugasnya karna dia slalu bilang “Gue nggak mungkin males-malesan terus Flo, gue bakal tunjukin sama orang tua gue terutama bokap gue supaya gue nggak direndahin terus sama dia” Ayah Adrian memang keras dalam mendidik anak-anaknya walaupun seperti itu, dia tetap menjadi seorang Ayah yang lemah lembut. Aku masih ingat saat Adrian kecelakaan motor, Ayahnya begitu perhatian dan telaten merawat Adrian.

“Flo, thanks ya lo udah nemenin gue ngerjain tugas buat besok” Ucap Adrian, aku hanya mengangguk dan tersenyum sama Adrian, mata aku yang mengantuk mampu mengunci mulutku untuk bicara. Dengan malas aku berdiri dan berjalan kearah parkiran, aku menunggu Adrian sambil terkantuk-kantuk. Sepanjang jalan aku menahan kantuk, Adrian menyadari kalau aku terkantuk dia meraih tanganku dan melingkarkannya ke pinggangnya. “ Flo lo senderan aja, gue bakal jagain lo biar nggak jatoh” Suara Adrian terdengar samar-samar, sedikit ragu aku menyandarkan kepalaku dipunggungnya, rasa nyaman menyelimutiku malam ini.

***

Hari ini kerjaan aku menumpuk, huuaaaaaaahhhhh….rasanya aku ingin teriak sekenceng mungkin biar plong. Banyak yang harus direvisi sehingga aku melupakan semuanya dan mengabaikan telfon dari Adrian berkali-kali dia menelfonku tapi aku nggak ada waktu untuk menangkat telfonnya. Saking sibuknya aku melupakan jam makan siang, ketika melihat jam pukul 4 sore waktunya aku pulang dan harus berangkat ke kampus. Aku pergi ke kantin untuk mengisi perutku yang dari pagi hanya masuk 1 roti saja. Telingaku terasa sunyi karna tak ada yang teriak-teriak memanggilku, kemana manusia rese itu ? Mataku keliling mengitari lingkungan sekitar untuk mencari Adrian. Tapi tak terlihat batang hidungnya, mungkin dia udah pulang karna hari ini dia kan Cuma sampai jam 2 siang.

“Hai Flo” Sapa Akbar, sahabat aku dan Adrian semenjak pertemuan dua tahun yang lalu. “Hai Bar ! Citra kemana ? kok tumben nggak bareng ?” Tanya aku.
“Citra masih ada kelas, tadi juga dia nanyain lo” Jawab Akbar sambil menenggak minuman kalengannya, nafasnya masih memburu karna baru selesai main basket. Aku hanya menangguk, mungkin Citra mau mengambil power bank yang tertinggal dikostanku minggu kemarin.

“Oh ya Bar, Adrian kemana ya ?” Tanyaku, Akbar mengangkat alisnya “Emang lo nggak dikasih tau sama Adrian ?” Tanya Akbar balik, aku hanya menggelengkan kepala sambil melanjutkan melahap mie goreng kesukaanku. “Gini nih, pasti lo lupa ngcek HP deh” Cletuk Akbar, aku langsung tersendak makanan. Aku menepok jidat karna lupa membaca pesan dari Adrian beberapa jam yang lalu, saking sibuknya kerjaan aku dikantor. Aku membaca pesan dari Adrian, dia meminta aku merangkai bunga yang cantik dan mengambil pesanan liontin yang waktu itu aku dan dia pesan.

Aku menatap Akbar meringis, Akbar geleng-geleng kepalanya. “Bar gimana dongg ??” aku berlaga kaya cacing kepanasan karna bingung harus apa. “Kenapa lo Flo ?”Tanya Citra yang baru datang. Aku terus mondar mandir dihadapan Citra dan Akbar, “Flo lo lupa ya sama pesanan Adrian?” Tanya Citra lagi yang membuat aku makin panik, lagian kenapa sih Adrian harus minta tolong sama Aku ? kan Akbar dan Citra juga bisa bantuin dalam hal kaya gini mah.
“Ya udah gini aja, kita bagi tugas..” Usul Citra “Lo Flo ambil pesanan liontin Adrian, karna Cuma lo yang tau tempatnya gue ambil rangkaian bunganya dan Akbar ambil cakenya, kita masih punya waktu 1 jam dari sekarang” Lanjut Citra, tanpa kompromi lagi aku langsung mlesat ke toko liontin itu. Sepanjang jalan aku mengrutu “Siapa yang punya acara siapa yang repot sih” rasa dongkol dalam hati membuat aku meleng, aku terpeleset dan kakiku sedikit luka. Rasanya nyeri untuk dibawa jalan, aku berusaha menahan rasa sakit itu aku berlari kearah toko. 

Setelah aku mengambil liontinnya, aku langsung berlari menuju kafe acara ultah Putri. Sialnya aku kembali terpelosok kejalan berlubang, aiisshhhh aku mengrutu lebih dari tadi. Badannyaku sedikit kotor,siku dan lututku berdarah aku tidak perduli yang penting aku cepat sampai di kafe itu.

Aku melihat Adrian mondar-mandir diloby, dengan tampak sedikit cemas. Aku melihat jam ditangan aku belum terlambat masih ada 5 menit lagi, aku berlari kearah Adrian. Nafasku masih memburu, “Woy Flo, lo lama banget sih” Bentak Adrian, aku menarik nafas dan keluarkan mengatur nafas biar stabil. 

“Lo tuh ya, bukannya terima kasih udah gue ambilin juga malah bentak-bentak gue lagi kalo gue telat baru lo marah-marah sama gue” aku membentak Adrian balik, aku mendadak menjadi emosi ketika mendengar ucapan Adrian. “Flo lo kenapa ?” Tanya Citra yang baru datang. “Baju lo dekil gitu ?”Sambung Akbar. “Gue nggak apa-apa” Jawab aku sekenanya, rasanya sakit dikaya giniin. Udah susah payah gue ngambil ini tapi Adrian malah bentak gue seenaknya. Aku kasih kotak kecil itu kepada Adrian, dan aku memilih pergi dari situ aku berusaha jalan biasa agar mereka tidak tahu kalau kaki aku luka.

“Flo…”Panggil Adrian, aku menghentikan langkah kaki, Apaan lagi sih grutuku dalam hati. “Maafin gue ya, gue seharusnya berterima kasih sama lo karna lo udah nyiapin ini semua buat gue” Ucap Adrian dengan nada penuh penyesalan, “Gue nggak marah kok, gue Cuma cape dan butuh istirahat, good luck ya” Aku berusaha senyum dengan tulus, aku ingin cepat pulang bukan karna rasa sakit dilutut dan disiku, tapi karna rasa sakit dihati ini. Adrian memelukku, mungkin ini akan menjadi pelukkan seorang sahabat yang terakhir. Aku harus bisa lupain Adrian, menghapus rasa yang tersimpan untuk Adrian. Bukan cintaku yang rapuh untuk Adrian tapi, mungkin ini saatnya untuk aku berhenti mencintai Adrian. 

***

Semenjak kejadian di kafe aku slalu menghindar dari Adrian,Akbar, dan Citra. Mereka slalu memburuku di kampus bahkan sampai menyatroniku dikantor, tapi aku slalu berhasil lolos. Aku melihat Adrian sedang duduk di depan pintu kostan, aku menghindar dan berbelok arah, lepas dari Adrian aku kepergok sama Akbar dan Citra. “Lo mau kabur kemana lagi hah?” Tanya Citra “Dan maksud lo itu apa sih ngindarin dari kita semua ? kita salah apa Flo sama lo?” Sambung Akbar. 

“Gue itu nggak menghindar dari kalian kok, gue Cuma butuh waktu buat sendiri. Kalo gue kasih tau kalian pasti kalian suka kepoh kenapa” Jawabku dengan nada sedikit memelas agar mereka mengerti, walaupun sebenarnya bukan itu alasanku. “Lo tuh tau nggak sih Adrian tuh strest nyariin lo, dia itu ngrasa kehilangan lo. Dan lo tau Adrian itu abis disakitin lagi sama ceweknya” Ucap Citra sedikit membentak, aku hanya diam aku bingung harus ngomong apa sama Citra. Bukankah itu hal yang biasa bagi Adrian, seharusnya dia bersikap biasa aja nggak usah sampai strest gitu toh dia juga sering mengalami itu semua. 

“Kita tahu mungkin lo berfikir itu hal yang biasa untuk Adrian, dan seharusnya dia bisa mengatasi semua….” Kata Akbar, aku diam penuh emosi, kenapa ? kenapa nggak ada yang ngerti perasaan gue ? “Tapi kali ini beda…” Suara Adrian muncul dari balik pohon “Kali ini gue cari lo bukan gue mau ngadu keluhan hati gue…” Semua diam terasa sunyi Adrian masih menundukkan kepalanya, Citra memeluk gue “Maafin gue Flo” Bisik Citra.
“Tapi gue kesini karna gue sadar, cinta yang gue rasa selama ini bukan buat Putri, tapi buat lo Flo” Aku terperangah atas ucapan Adrian, apa aku nggak salah dengar dan apa Adrian nggak salah ngucapin kalimat itu. Adrian meraih tanganku, “Flo terima kasih atas semua rasa cinta lo yang tulus ke gue, lo kasih semuanya ke gue lo korbanin semuanya buat gue, tanpa berfikir gimana sakitnya lo Flo” Muka Adrian terlihat merah, aku meneteskan air mata ketika melihat Adrian serapuh ini. Air mata Adrian mulai menetes, aku memeluk Adrian, aku nggak bisa melihat Adrian seperti ini. 

“Jangan pernah lagi kamu mencoba untuk pergi dari aku Flo, aku cinta dan sayang sama kamu” Bisik Adrian, aku menganggukkan kepala. Aku slalu percaya bahwa cinta yang tulus akan mendapatkan kebahagiannya, walaupun nggak harus slalu terbalas oleh orang yang kita cintai, terkadang kita juga mendapatkannya dari orang lain yang lebih baik dari orang yang kita cintai, Because love is magic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar