Senin, 09 Maret 2015

04. CERPEN - SETANGKAI ANGGREK UNTUK FLO



Libur long weekend kali ini aku menghabiskan di depan layar monitor karna banyak sekali kerjaan yang harus tayang live minggu-minggu ini, aku menengok kearah jalan melalui jendela kamarku, banyak orang-orang sibuk akan pergi berlibur menghabiskan weekend ini. Aku melihat banyak kerdaraan yang melintas bukan untuk ke kantor tapi untuk pergi berlibur.
 
“Flo..!” Aku menengok kearah pintu “Lo nggak liburan Flo ?” Tanya Denis yang  terlihat sudah rapi dan aroma parfumnya sampai tercium olehku. “Aku ada kerjaan Nis, mungkin besok aku baru bisa liburan” Jawab Aku pasrah, Denis tersenyum dia meninggalkan sarapan untukku. Denis slalu tau kalau aku belum tidur karna semalaman aku lembur, aku harus bisa menyelesaikan cerbung ini yang akan terbit minggu depan.

“Akhiirrrrrnyyaaaa……..” Teriak aku girang, semua kerjaan aku kelar lebih cepat dari apa yang aku bayangkan. Aku melihat jam ternyata masih pagi, aku melahap sarapan yang udah disiapkan Denis. Selesai sarapan aku langsung merebahkan badan dikasur dan memanjakan mataku untuk terpejam dan aku mulai memasuki alam mimpi.

Drtt…Drttt…Drtttt…..Drtt…..!!!

Aku meraba-raba disekelilingku mencari suara HP yang mengganggu telingaku, aku melihat ada 20 misscall dan 10 pesan dilayar HPku. Aku sontak kaget ketika melihat nama caller ID “Dimas”, aku langsung bergegas ke kamar mandi, dan langsung ganti baju. Aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama Dimas, aku udah telat 1 jam, aku sepanjang jalan berdoa semoga Dimas masih mau nungguin aku dan dia bisa maklumin keadaan aku saat ini.

Aku melihat Dimas masih berdiri disana, dia Nampak tenang, tapi hatiku terasa mau copot aku takut dia marah. “Haiii….Di….m” sapa aku sedikit gugup.
“Kamu tuh bisa nggak sih nggak nyuruh aku nunggu 2 jam, kayaknya kamu suka banget kalau aku nunggu kamu” Bentak Dimas.

“Dim, aku minta maaf, kamu tau sendiri aku ada kerjaan yang harus aku selesaiin hari ini, besok aku free dan aku udah jelasin ke kamu sebelumnya”
Dimas tiba-tiba pergi ninggalin aku, aku berlari-lari ngejar Dimas, aku tau aku lagi jadi bahan perhatian semua orang yang ada disitu. Aku nggak perduli semua itu yang aku perduliin dapat maaf dari Dimas, jalan masih sedikit becek karna sisa hujan semalam. Aku tidak menyadari ada lubang dibalik genangan air yang aku injak hingga aku jatuh tersunggur di aspal, bibirku sobek tangan kiri dan kaki kananku sedikit terkilir. Aku merintih kesakitan aku menangis, semua orang berlari kearahku aku menangis bukan karna rasa sakit karna aku malu semua orang menatapku iba.

“Flo, lo kenapa ?” Tanya seseorang yang ada dikerumunan itu, aku menatapnya penuh harap dia membawaku dari sini. Dengan cekatan dia mengendongku dan membawa aku dari kerumanan orang-orang, dia membawaku ke klinik dekat situ. Kesadaranku semakin menipis, aku menatap wajahnya dengan sisa kesadaranku, dia terlihat cemas.

Aku sedikit mendengar perbincangan seseorang orang, aku membuka mata perlahan semua masih berbayang sedikit buram.

“Aku dimana ?”Lirihku pelan, “Lo udah sadar, Alhamdulillah” Ucap dia spontan memelukku, deg…ada rasa yang aneh ketika aku dipeluknya. Rasanya aku ingin menolaknya namun tubuh ini enggan menolak pelukan itu, dia melepaskan pelukannya aku fikir jantungku akan bermain hanya disini saja namun tidak, ketika kalungku tersangkut dikancing kemejanya. Mataku dan matanya bertemu, aku bisa melihat ketulusan hatinya, kekhawatiran dimatanya telah hilang. Jantungku terus berdebar dengan hebat, aku langsung memalingkan wajahku dan dia buru-buru menghindar pandangan hinggga kancingnya copot dan leherku sedikit sakit karna gesekan yang lumayan kencang.

“Sorry Flo, gue nggak bermaskud nggak sopan sama lo, mungkin karna gue saking senangnya lo sadar. Oh ya,,gue udah nelfon Dimas, tapi Dimas nggak ngangkat telfonnya dan gue juga udah sms dia kalo lo ada disini.” Aku menatapnya, dia terlihat gugup dan nggak berani menatap gue sedikit pun. Kenapa dia harus kasih tau Dimas, aku belum siap untuk ketemu dia aku takut hanya ada keributan diantara kita karna gue nggak langsung meminta maaf sama dia.

“Kalo lo mau balik, balik aja” pinta aku, “Gue bukan banci yang tega ninggalin cewek sendiri, hanya karna mempertahankan ego gue” Aku tercengang dengan kata-katanya barusan, apa kejadian tadi siang dia melihat semuanya. Kalau itu benar, aku bisa malu banget karna saat itu aku udah kaya cewek bodoh. Tanpa terasa air mata aku mengalir, aku teringat Dimas dia apa kabarnya. Aku meraih tas dan mengubrak-abrik isi tasku tapi aku tidak menemukan handphoneku.

“Kalo lo nyari Hp, Hpnya lagi gue service bentar lagi juga dateng Hpnya” Ucap dia, aku menghela nafas panjang. Diluar sangat berisik suara langkah kaki, aku menatap pintu dan sesekali merlirik dia. Pintu terbuka dengan ganas, aku melihat Dimas, Denis, dan Citra, nafas mereka begitu memburu mungkin suara gaduh itu berasal dari mereka.

“Flo sayang maafin aku ya, aku nggak bermaksud buat kamu kaya gini” Ucap Dimas, aku cukup lega karna Dimas tidak marah sama aku. Denis tersenyum, aku senang dia meluangkan waktunya untukku. Dan Citra dia memang sedikit cuek tapi dia sayang sama aku, meski dia slalu mengingkari rasa itu.

“Aku yang minta maaf sama kamu, karna aku udah bikin kamu nunggu”
“Please jangan ulangin lagi ya, kejadian yang membuat aku menunggu” Aku tercengang, aku bingung, rasanya hati aku terasa patah-patah, remuk dan hancur. Kenapa aku merasa kaya gini ? Apa ucapan Dimas salah, aku rasa mungkin, kenapa dia juga tidak menyadari kesalahanya yang udah biarin aku mengejar dia dan membiarkan aku sendiri. Aku mengangguk lemas, aku sedikit melirik Denis, aku tau dia begitu muak dengan perlakuan Dimas begitu pun Citra. Tapi dia, tangannya mengepal tatapan matanya penuh amarah, seakan dia tidak terima aku diperlakukan seperti ini.

“Al, makasih ya udah jagain Flo” Ucap Denis, Albie hanya tersenyum. Dia pamit pergi, rasanya aku ingin menahan dia agar dia tidak pergi. Selang beberapa menit Albie pergi, Dimas pun pergi karna Dimas harus nemenin adiknya di rumah. Aku merasa ada yang aneh akhir-akhir ini sama Dimas, tapi aku berusaha positive thinking padanya, meski kadang aku harus menahan sakit atas perlakuannya.

Malam telah berganti pagi, aku melihat tetesan embun didaun-daun nan indah. Aku senang karna hari ini aku balik ke rumah, kakiku masih terasa sakit dan ngilu. Aku melihat rangkaian bunga anggrek dimeja, rangkaian yang indah. Aku membaca isi kartu ucapan ternyata dari Albie, aku berfikir dari mana dia tau aku suka bunga anggrek ? Dimas aja selama ini dia nggak pernah kasih aku bunga. Aku mulai senyum-senyum sendiri ada rasa aneh yang bersembunyi di hati ini, aku tak bisa mengingkari itu semua.

“Senyum-senyum karna mau balik ke rumah apa karna bunga itu ?” Ledek Denis
“Ciyeee,,ciiyeeee…hhhmmmmm mau yang mana ya ?” Sambung Citra.
“Iisshhh,,lo semua apaan sih..” Kilah aku, aku menutup muka dengan bunga, aku malu mukaku mulai memerah, jantungku berdebar, apa mungkin aku jatuh cinta sama cowok yang dingin kaya dia ? Nggak mungkin banget. Hari ini aku dijemput Citra dan Denis, aku melihat ada yang beda dari Denis dan Citra. Apa mereka memiliki hubungan khusus tanpa sepengetahuan Aku ? Aku terus mengamati gerak-gerik mereka yang saling mencuri pandang.

“Jadi pada nggak mau bagi-bagi cerita nih sama gue” Sindir Aku sambil beresin isi tas, aku melirik mereka yang lagi saling pandang. Aku yakin hati aku nggak salah tentang mereka yang sama-sama menyimpan sebuah rasa yang dinamakan cinta. Aku ? aku selalu bertanya apa Dimas cinta sama aku ?

“Flo, lo masih inget nggak apa yang pernah gue bilang sama lo ?” Tanya Denis, tatapan Denis tulus dan penuh kasih sayang. Aku tersenyum, “Berapa besar cinta gue sama pasangan gue nanti, lo tetap jadi bagian yang paling khusus dihati gue karna gue nggak mau kehilangan lo” Denis mengelus-elus kepala aku dengan lembut, Denis benar aku lebih baik kehilangan Dimas daripada harus kehilangan Denis. Aku memandang wajah Citra yang sesekali dia menunduk, aku juga tau seberapa besar perasaan Citra ke Denis, aku juga nggak tau berapa lama mereka saling mengenal satu sama lainnya.

***

Semakin hari aku semakin jauh dengan teman-teman, mereka jarang lagi mengajak aku jalan. Bahkan, ketika waktu itu ada buat jalan, mereka slalu lupa sama aku. Kadang aku suka menangis, “Mungkin aku terlalu garing buat mereka”. Begitu juga Dimas, akhir-akhir ini susah untuk aku temuin dan susah untuk aku ajak jalan.
Kesibukan aku sehari-hari mampu melupakan semua yang telah terjadi akhir-akhir ini, aku melihat postingan di path, mereka kumpul dan temu kangen. Aku melihat kalender dan besok hari libur nasional, aku begitu senang, aku meraih handphoneku untuk menghubungi teman-temanku mengajak mereka jalan bareng. Selang 1 jam mereka baru balesan chattingku, jawaban yang mengecewakan mereka udah punya acara masing-masing.
Aku coba mengajak jalan Dimas, tapi Dimas pun ada acara bersama keluarganya di puncak. Aku keluar dan melirik kamar Denis, kamarnya terlihat gelap mungkin dia belum balik dari rumah orang tuanya. 

***

Aku merasa bosan dikost sendiri, dengan modal nekat aku berjalan seorang diri mengililingi mall sebesar ini di Jakarta. Dari toko hingga ke toko lain, perutku merasa lapar, aku melihat makanan favoritku. Sampai disana, aku terperangah melihat segrombolan orang yang lagi tertawa seru. Hati ini seperti tersayat, “Aku salah apa ?” aku menahan air mata agar tidak jatuh, aku berbalik arah. Mataku tak henti memandang seseorang yang ada disebrang sana, mereka terlihat mesra, aku harap ini hanya mimpi buruk. Aku mencubit tanganku, dan reflek teriak “aaauuuuu” ternyata ini bukan mimpi. Air mataku tak tertahan lagi, mengalir secara perlahan dipipi ini “Aku salah apa ya Allah, kenapa rasanya begitu sakit”.

“Flo, lo kenapa ?” Tanya seseorang yang menghampiriku, aku menoleh kearahnya. Aku mengusap air mataku, aku nggak mau terlihat cenggeng didepan dia. Kenapa saat seperti ini dia slalu muncul dengan tiba-tiba, dia masih menatapku dia seolah-olah mencari jawabannya sendiri. Aku menatapnya, dia menoleh kearah Dimas dan menoleh kearah teman-temanku.

“Oh..jadi karna mereka lo nangis ?” Tanya Albie, aku hanya bisa menunduk, malu karna dia slalu menumakanku dalam posisi seperti ini. Aku sesekali melirik kanan dan kiri takut diantara mereka melihatku disini. Albie menarik ku kedalam dia membawaku ke meja Icha dan teman-temannya yang lagi asyik tertawa. Semua terdiam saat melihat kehadiranku, aku jadi merasa nggak enak hati sama mereka.
“Sorry ya, gue kesini karna dipaksa Albie. Maaf udah ganggu kenyamanan lo semua” Aku merasa gugup didepan mereka aku takut mereka marah sama aku, aku berlari meninggalkan mereka semua. Aku benci sama diri aku sendiri, karna banyak orang menjauhi aku ? aku salah apa ? dipintu masuk aku nggak sengaja menabrak seseorang.

Brukkkk…!!

“Maaf Mas Maaf” Aku mengambil barang bawaanya yang jatuh, aku terkejut ketika melihat Dimas yang aku tabrak. Dimas sedikit shock ketika aku ada dihadapannya, aku melihat Denis yang berdiri dibelakang Dimas.
“Flo..” Lirih Dimas, aku berusaha tersenyum. Meski hatiku saat ini hancur, aku berlari kearah Denis dan memeluknya erat. Denis sedikit terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba memeluknya, aku melepaskan keluh kesahku dipelukannya. Hanya dia Cuma dia yang mampu mengerti akan hati ini saat seperti ini, aku tau Citra cemburu akan pemandangan seperti ini. Aku meraih tangan Citra dari balik lengan Denis, aku memegangnya erat aku harap dia bisa mengerti akan perasaanku saat ini yang lagi butuh Denis.

Hampir seminggu aku menghilang dari kehidupan yang gelap, dulu yang terang akan canda dan tawa kini menjadi kelam. Seakan pelangi tak lagi berwarna warni hanya ada warna kelabu yang terlihat oleh mataku. Apakah ini cerita hidupku ? Berakhir seperti ini ? Apakah masih ada cinta untuk aku ? Berbagai macam pertanyaan keluar dari mulutku dan bersarang diotakku. Siapa yang mau menjawabnya ? Aku menikmati angin sore dan melihat orang berbondong-bondong pulang dengan pakaian mereka yang penuh tanah sawah mereka. Musim tanam mulai tiba, aku senang melihat lahan yang terpenuhi oleh air dan tertiup oleh angin seakan aku berada di tepi pantai.

Aku memejamkan mata dan menghirup udara sore dihamparan sawah yang membentang disekelilingku, aku membuka perlahan mataku. Aku melihat setangkai anggrek didepan mata, aku menoleh kearah tangkai anggrek itu berasal. Dia tersenyum, dia disini ?

“Kenapa ? Lo heran kenapa gue bisa sampe sini ?” Cara bicaranya masih sama, aku hanya mengangguk dan meraih bunga yang dia bawa.
“Gampang banget buat nyari lo, cukup pake hati, kalo sinyalnya kuat juga pasti ketemu” Dia tersenyum gombal, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia memberiku sepucuk surat beramplop warna biru, “Dari siapa ?” Tanyaku.

“Baca aja”

Aku merobek ujung amplop dan membacanya, dari gaya tulisan aku yakin ini dari Dimas.

“Dear : Flo sang gadis anggrek
Hai Flo !!
Apa kabar kamu ? Semoga kamu baik-baik aja ya. Sorry hanya lewat surat aku minta maaf sama kamu, karna aku udah coba berkali-kali nelfon kamu tapi kamu nggak pernah angkat telfon kamu. Oh ya, aku sekarang kerja di Singapore ikut sama Tante aku, sebelum aku berangkat aku sempat mampir ke kost kamu buat minta maaf. Tapi, katanya kamu lagi pulang kampung karna aku udah nggak punya banyak waktu akhirnya aku nitipin surat ini sama Albie. BTW, ngomong tentang Albie dia cowok yang baik loh ganteng, mapan dan juga rendah hati.
Flo, maafin aku karna aku udah nyia-nyiain ketulusan hati kamu. Aku yakin kamu akan dapet yang lebih baik dari aku, satu hal yang aku tau ketulusan dan kesabaran yang hebat akan dibalas dengan lebih hebat lagi. Mungkin cinta kamu nggak bakal terbalas oleh aku, tapi aku yakin Albie akan lebih bisa bahagiain kamu. Aku juga sekarang udah tenang saat ninggalin kamu, karna kamu nanti bakal tinggal bareng kan sama Denis. Aku tau dari orang tua Denis, waktu di kostan kamu aku ketemu mereka dan mereka menceritakan semuanya.
Flo, kalo boleh jujur nggak ada cewek yang kaya kamu mandiri, baik, rendah hati, walau kamu sedikit jutek J. Flo rasa ini masih ada buat kamu, tapi aku sadar aku tidak bisa mengembalikan keutuhan gelas yang udah pecah. Tapi aku berharap kamu dan Albie bisa bahagia. Simpan setangkai anggrek terakhir dari aku ya, and I will gonna miss u Flo.

Salam Kangen,
Dimas

“Makasih Dim, atas kesempatan yang kamu kasih buat aku” Lirihku.
“Lo kesini Cuma nganterin ini doang ?”Tanyaku
“Yupz” Jawab dia simple, aku menghela nafas panjang. Albie meraih kedua tanganku dan menatap mataku “Itu ada alesan ketiga buat aku kesini…” Aku menatapnya bingung.
“Yang pertama itu karna aku cinta sama kamu dan yang kedua karna aku nggak mau kehilangan kamu” Lanjut Albie, aku jingkrang kegirangan nafasku seakan sesak, debar jantungku tidak menentu. Albie merentangkan tangannya dan aku berlari kearahnya, dia membawaku terbang dan berputar.

Senja sore adalah saksi dimana cinta itu telah datang, ketika cinta pergi janganlah kau berputus asa karna setiap ada yang hilang maka akan terlahir sesuatu yang baru, yang membuatmu bahagia. 

Karena Mereka bilang kalo di dunia ini ada dua jenis kebahagiaan. Satu..!! jenis kebahagiaan, kamu hanya tahu setelah beberapa saat telah berlalu, dan yang lainnya adalah kebahagiaan yang kamu rasakan pada saat itu begitu berharga, yang mereka bilang bahwa saat ini jenis kebahagiaan bisa tinggal dengan Kamu dan mencerahkan hidup kamu. Mungkin kita dapat mengubah hari ke jenis kebahagiaan yang kamu rasakan pada saat itu sehingga kita bisa mengingat kebahagiaan ini untuk sisa hidup kita.