Libur long
weekend kali ini aku menghabiskan di depan layar monitor karna banyak sekali
kerjaan yang harus tayang live minggu-minggu ini, aku menengok kearah jalan
melalui jendela kamarku, banyak orang-orang sibuk akan pergi berlibur
menghabiskan weekend ini. Aku melihat banyak kerdaraan yang melintas bukan
untuk ke kantor tapi untuk pergi berlibur.
“Flo..!”
Aku menengok kearah pintu “Lo nggak liburan Flo ?” Tanya Denis yang terlihat sudah rapi dan aroma parfumnya
sampai tercium olehku. “Aku ada kerjaan Nis, mungkin besok aku baru bisa
liburan” Jawab Aku pasrah, Denis tersenyum dia meninggalkan sarapan untukku.
Denis slalu tau kalau aku belum tidur karna semalaman aku lembur, aku harus
bisa menyelesaikan cerbung ini yang akan terbit minggu depan.
“Akhiirrrrrnyyaaaa……..”
Teriak aku girang, semua kerjaan aku kelar lebih cepat dari apa yang aku
bayangkan. Aku melihat jam ternyata masih pagi, aku melahap sarapan yang udah
disiapkan Denis. Selesai sarapan aku langsung merebahkan badan dikasur dan
memanjakan mataku untuk terpejam dan aku mulai memasuki alam mimpi.
Drtt…Drttt…Drtttt…..Drtt…..!!!
Aku
meraba-raba disekelilingku mencari suara HP yang mengganggu telingaku, aku
melihat ada 20 misscall dan 10 pesan dilayar HPku. Aku sontak kaget ketika
melihat nama caller ID “Dimas”, aku langsung bergegas ke kamar mandi, dan
langsung ganti baju. Aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama Dimas, aku udah
telat 1 jam, aku sepanjang jalan berdoa semoga Dimas masih mau nungguin aku dan
dia bisa maklumin keadaan aku saat ini.
Aku
melihat Dimas masih berdiri disana, dia Nampak tenang, tapi hatiku terasa mau
copot aku takut dia marah. “Haiii….Di….m” sapa aku sedikit gugup.
“Kamu tuh
bisa nggak sih nggak nyuruh aku nunggu 2 jam, kayaknya kamu suka banget kalau
aku nunggu kamu” Bentak Dimas.
“Dim, aku
minta maaf, kamu tau sendiri aku ada kerjaan yang harus aku selesaiin hari ini,
besok aku free dan aku udah jelasin ke kamu sebelumnya”
Dimas
tiba-tiba pergi ninggalin aku, aku berlari-lari ngejar Dimas, aku tau aku lagi
jadi bahan perhatian semua orang yang ada disitu. Aku nggak perduli semua itu
yang aku perduliin dapat maaf dari Dimas, jalan masih sedikit becek karna sisa
hujan semalam. Aku tidak menyadari ada lubang dibalik genangan air yang aku
injak hingga aku jatuh tersunggur di aspal, bibirku sobek tangan kiri dan kaki
kananku sedikit terkilir. Aku merintih kesakitan aku menangis, semua orang
berlari kearahku aku menangis bukan karna rasa sakit karna aku malu semua orang
menatapku iba.
“Flo, lo
kenapa ?” Tanya seseorang yang ada dikerumunan itu, aku menatapnya penuh harap
dia membawaku dari sini. Dengan cekatan dia mengendongku dan membawa aku dari
kerumanan orang-orang, dia membawaku ke klinik dekat situ. Kesadaranku semakin
menipis, aku menatap wajahnya dengan sisa kesadaranku, dia terlihat cemas.
Aku
sedikit mendengar perbincangan seseorang orang, aku membuka mata perlahan semua
masih berbayang sedikit buram.
“Aku
dimana ?”Lirihku pelan, “Lo udah sadar, Alhamdulillah” Ucap dia spontan
memelukku, deg…ada rasa yang aneh ketika aku dipeluknya. Rasanya aku ingin
menolaknya namun tubuh ini enggan menolak pelukan itu, dia melepaskan
pelukannya aku fikir jantungku akan bermain hanya disini saja namun tidak,
ketika kalungku tersangkut dikancing kemejanya. Mataku dan matanya bertemu, aku
bisa melihat ketulusan hatinya, kekhawatiran dimatanya telah hilang. Jantungku
terus berdebar dengan hebat, aku langsung memalingkan wajahku dan dia buru-buru
menghindar pandangan hinggga kancingnya copot dan leherku sedikit sakit karna
gesekan yang lumayan kencang.
“Sorry
Flo, gue nggak bermaskud nggak sopan sama lo, mungkin karna gue saking
senangnya lo sadar. Oh ya,,gue udah nelfon Dimas, tapi Dimas nggak ngangkat
telfonnya dan gue juga udah sms dia kalo lo ada disini.” Aku menatapnya, dia
terlihat gugup dan nggak berani menatap gue sedikit pun. Kenapa dia harus kasih
tau Dimas, aku belum siap untuk ketemu dia aku takut hanya ada keributan
diantara kita karna gue nggak langsung meminta maaf sama dia.
“Kalo lo
mau balik, balik aja” pinta aku, “Gue bukan banci yang tega ninggalin cewek
sendiri, hanya karna mempertahankan ego gue” Aku tercengang dengan kata-katanya
barusan, apa kejadian tadi siang dia melihat semuanya. Kalau itu benar, aku
bisa malu banget karna saat itu aku udah kaya cewek bodoh. Tanpa terasa air
mata aku mengalir, aku teringat Dimas dia apa kabarnya. Aku meraih tas dan
mengubrak-abrik isi tasku tapi aku tidak menemukan handphoneku.
“Kalo lo
nyari Hp, Hpnya lagi gue service bentar lagi juga dateng Hpnya” Ucap dia, aku
menghela nafas panjang. Diluar sangat berisik suara langkah kaki, aku menatap
pintu dan sesekali merlirik dia. Pintu terbuka dengan ganas, aku melihat Dimas,
Denis, dan Citra, nafas mereka begitu memburu mungkin suara gaduh itu berasal
dari mereka.
“Flo
sayang maafin aku ya, aku nggak bermaksud buat kamu kaya gini” Ucap Dimas, aku
cukup lega karna Dimas tidak marah sama aku. Denis tersenyum, aku senang dia
meluangkan waktunya untukku. Dan Citra dia memang sedikit cuek tapi dia sayang
sama aku, meski dia slalu mengingkari rasa itu.
“Aku yang
minta maaf sama kamu, karna aku udah bikin kamu nunggu”
“Please
jangan ulangin lagi ya, kejadian yang membuat aku menunggu” Aku tercengang, aku
bingung, rasanya hati aku terasa patah-patah, remuk dan hancur. Kenapa aku
merasa kaya gini ? Apa ucapan Dimas salah, aku rasa mungkin, kenapa dia juga
tidak menyadari kesalahanya yang udah biarin aku mengejar dia dan membiarkan
aku sendiri. Aku mengangguk lemas, aku sedikit melirik Denis, aku tau dia
begitu muak dengan perlakuan Dimas begitu pun Citra. Tapi dia, tangannya
mengepal tatapan matanya penuh amarah, seakan dia tidak terima aku diperlakukan
seperti ini.
“Al, makasih
ya udah jagain Flo” Ucap Denis, Albie hanya tersenyum. Dia pamit pergi, rasanya
aku ingin menahan dia agar dia tidak pergi. Selang beberapa menit Albie pergi,
Dimas pun pergi karna Dimas harus nemenin adiknya di rumah. Aku merasa ada yang
aneh akhir-akhir ini sama Dimas, tapi aku berusaha positive thinking padanya,
meski kadang aku harus menahan sakit atas perlakuannya.
Malam
telah berganti pagi, aku melihat tetesan embun didaun-daun nan indah. Aku
senang karna hari ini aku balik ke rumah, kakiku masih terasa sakit dan ngilu.
Aku melihat rangkaian bunga anggrek dimeja, rangkaian yang indah. Aku membaca
isi kartu ucapan ternyata dari Albie, aku berfikir dari mana dia tau aku suka
bunga anggrek ? Dimas aja selama ini dia nggak pernah kasih aku bunga. Aku
mulai senyum-senyum sendiri ada rasa aneh yang bersembunyi di hati ini, aku tak
bisa mengingkari itu semua.
“Senyum-senyum
karna mau balik ke rumah apa karna bunga itu ?” Ledek Denis
“Ciyeee,,ciiyeeee…hhhmmmmm
mau yang mana ya ?” Sambung Citra.
“Iisshhh,,lo
semua apaan sih..” Kilah aku, aku menutup muka dengan bunga, aku malu mukaku
mulai memerah, jantungku berdebar, apa mungkin aku jatuh cinta sama cowok yang
dingin kaya dia ? Nggak mungkin banget. Hari ini aku dijemput Citra dan Denis,
aku melihat ada yang beda dari Denis dan Citra. Apa mereka memiliki hubungan
khusus tanpa sepengetahuan Aku ? Aku terus mengamati gerak-gerik mereka yang
saling mencuri pandang.
“Jadi pada
nggak mau bagi-bagi cerita nih sama gue” Sindir Aku sambil beresin isi tas, aku
melirik mereka yang lagi saling pandang. Aku yakin hati aku nggak salah tentang
mereka yang sama-sama menyimpan sebuah rasa yang dinamakan cinta. Aku ? aku
selalu bertanya apa Dimas cinta sama aku ?
“Flo, lo
masih inget nggak apa yang pernah gue bilang sama lo ?” Tanya Denis, tatapan
Denis tulus dan penuh kasih sayang. Aku tersenyum, “Berapa besar cinta gue sama
pasangan gue nanti, lo tetap jadi bagian yang paling khusus dihati gue karna
gue nggak mau kehilangan lo” Denis mengelus-elus kepala aku dengan lembut,
Denis benar aku lebih baik kehilangan Dimas daripada harus kehilangan Denis.
Aku memandang wajah Citra yang sesekali dia menunduk, aku juga tau seberapa
besar perasaan Citra ke Denis, aku juga nggak tau berapa lama mereka saling
mengenal satu sama lainnya.
***
Semakin
hari aku semakin jauh dengan teman-teman, mereka jarang lagi mengajak aku
jalan. Bahkan, ketika waktu itu ada buat jalan, mereka slalu lupa sama aku.
Kadang aku suka menangis, “Mungkin aku terlalu garing buat mereka”. Begitu juga
Dimas, akhir-akhir ini susah untuk aku temuin dan susah untuk aku ajak jalan.
Kesibukan
aku sehari-hari mampu melupakan semua yang telah terjadi akhir-akhir ini, aku
melihat postingan di path, mereka kumpul dan temu kangen. Aku melihat kalender
dan besok hari libur nasional, aku begitu senang, aku meraih handphoneku untuk
menghubungi teman-temanku mengajak mereka jalan bareng. Selang 1 jam mereka
baru balesan chattingku, jawaban yang mengecewakan mereka udah punya acara
masing-masing.
Aku coba
mengajak jalan Dimas, tapi Dimas pun ada acara bersama keluarganya di puncak.
Aku keluar dan melirik kamar Denis, kamarnya terlihat gelap mungkin dia belum
balik dari rumah orang tuanya.
***
Aku merasa
bosan dikost sendiri, dengan modal nekat aku berjalan seorang diri mengililingi
mall sebesar ini di Jakarta. Dari toko hingga ke toko lain, perutku merasa
lapar, aku melihat makanan favoritku. Sampai disana, aku terperangah melihat
segrombolan orang yang lagi tertawa seru. Hati ini seperti tersayat, “Aku salah
apa ?” aku menahan air mata agar tidak jatuh, aku berbalik arah. Mataku tak
henti memandang seseorang yang ada disebrang sana, mereka terlihat mesra, aku
harap ini hanya mimpi buruk. Aku mencubit tanganku, dan reflek teriak
“aaauuuuu” ternyata ini bukan mimpi. Air mataku tak tertahan lagi, mengalir
secara perlahan dipipi ini “Aku salah apa ya Allah, kenapa rasanya begitu
sakit”.
“Flo, lo
kenapa ?” Tanya seseorang yang menghampiriku, aku menoleh kearahnya. Aku
mengusap air mataku, aku nggak mau terlihat cenggeng didepan dia. Kenapa saat
seperti ini dia slalu muncul dengan tiba-tiba, dia masih menatapku dia
seolah-olah mencari jawabannya sendiri. Aku menatapnya, dia menoleh kearah
Dimas dan menoleh kearah teman-temanku.
“Oh..jadi
karna mereka lo nangis ?” Tanya Albie, aku hanya bisa menunduk, malu karna dia
slalu menumakanku dalam posisi seperti ini. Aku sesekali melirik kanan dan kiri
takut diantara mereka melihatku disini. Albie menarik ku kedalam dia membawaku
ke meja Icha dan teman-temannya yang lagi asyik tertawa. Semua terdiam saat
melihat kehadiranku, aku jadi merasa nggak enak hati sama mereka.
“Sorry ya,
gue kesini karna dipaksa Albie. Maaf udah ganggu kenyamanan lo semua” Aku
merasa gugup didepan mereka aku takut mereka marah sama aku, aku berlari
meninggalkan mereka semua. Aku benci sama diri aku sendiri, karna banyak orang
menjauhi aku ? aku salah apa ? dipintu masuk aku nggak sengaja menabrak
seseorang.
Brukkkk…!!
“Maaf Mas
Maaf” Aku mengambil barang bawaanya yang jatuh, aku terkejut ketika melihat
Dimas yang aku tabrak. Dimas sedikit shock ketika aku ada dihadapannya, aku
melihat Denis yang berdiri dibelakang Dimas.
“Flo..”
Lirih Dimas, aku berusaha tersenyum. Meski hatiku saat ini hancur, aku berlari
kearah Denis dan memeluknya erat. Denis sedikit terkejut akan kehadiranku yang
tiba-tiba memeluknya, aku melepaskan keluh kesahku dipelukannya. Hanya dia Cuma
dia yang mampu mengerti akan hati ini saat seperti ini, aku tau Citra cemburu
akan pemandangan seperti ini. Aku meraih tangan Citra dari balik lengan Denis,
aku memegangnya erat aku harap dia bisa mengerti akan perasaanku saat ini yang
lagi butuh Denis.
Hampir
seminggu aku menghilang dari kehidupan yang gelap, dulu yang terang akan canda
dan tawa kini menjadi kelam. Seakan pelangi tak lagi berwarna warni hanya ada
warna kelabu yang terlihat oleh mataku. Apakah ini cerita hidupku ? Berakhir
seperti ini ? Apakah masih ada cinta untuk aku ? Berbagai macam pertanyaan
keluar dari mulutku dan bersarang diotakku. Siapa yang mau menjawabnya ? Aku
menikmati angin sore dan melihat orang berbondong-bondong pulang dengan pakaian
mereka yang penuh tanah sawah mereka. Musim tanam mulai tiba, aku senang
melihat lahan yang terpenuhi oleh air dan tertiup oleh angin seakan aku berada
di tepi pantai.
Aku
memejamkan mata dan menghirup udara sore dihamparan sawah yang membentang
disekelilingku, aku membuka perlahan mataku. Aku melihat setangkai anggrek
didepan mata, aku menoleh kearah tangkai anggrek itu berasal. Dia tersenyum,
dia disini ?
“Kenapa ?
Lo heran kenapa gue bisa sampe sini ?” Cara bicaranya masih sama, aku hanya
mengangguk dan meraih bunga yang dia bawa.
“Gampang
banget buat nyari lo, cukup pake hati, kalo sinyalnya kuat juga pasti ketemu”
Dia tersenyum gombal, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia memberiku sepucuk
surat beramplop warna biru, “Dari siapa ?” Tanyaku.
“Baca aja”
Aku
merobek ujung amplop dan membacanya, dari gaya tulisan aku yakin ini dari
Dimas.
“Dear : Flo sang
gadis anggrek
Hai Flo !!
Apa kabar kamu ?
Semoga kamu baik-baik aja ya. Sorry hanya lewat surat aku minta maaf sama kamu,
karna aku udah coba berkali-kali nelfon kamu tapi kamu nggak pernah angkat
telfon kamu. Oh ya, aku sekarang kerja di Singapore ikut sama Tante aku,
sebelum aku berangkat aku sempat mampir ke kost kamu buat minta maaf. Tapi,
katanya kamu lagi pulang kampung karna aku udah nggak punya banyak waktu
akhirnya aku nitipin surat ini sama Albie. BTW, ngomong tentang Albie dia cowok
yang baik loh ganteng, mapan dan juga rendah hati.
Flo, maafin aku
karna aku udah nyia-nyiain ketulusan hati kamu. Aku yakin kamu akan dapet yang
lebih baik dari aku, satu hal yang aku tau ketulusan dan kesabaran yang hebat
akan dibalas dengan lebih hebat lagi. Mungkin cinta kamu nggak bakal terbalas
oleh aku, tapi aku yakin Albie akan lebih bisa bahagiain kamu. Aku juga
sekarang udah tenang saat ninggalin kamu, karna kamu nanti bakal tinggal bareng
kan sama Denis. Aku tau dari orang tua Denis, waktu di kostan kamu aku ketemu
mereka dan mereka menceritakan semuanya.
Flo, kalo boleh
jujur nggak ada cewek yang kaya kamu mandiri, baik, rendah hati, walau kamu
sedikit jutek J. Flo rasa
ini masih ada buat kamu, tapi aku sadar aku tidak bisa mengembalikan keutuhan
gelas yang udah pecah. Tapi aku berharap kamu dan Albie bisa bahagia. Simpan
setangkai anggrek terakhir dari aku ya, and I will gonna miss u Flo.
Salam Kangen,
Dimas
“Makasih
Dim, atas kesempatan yang kamu kasih buat aku” Lirihku.
“Lo kesini
Cuma nganterin ini doang ?”Tanyaku
“Yupz”
Jawab dia simple, aku menghela nafas panjang. Albie meraih kedua tanganku dan
menatap mataku “Itu ada alesan ketiga buat aku kesini…” Aku menatapnya bingung.
“Yang
pertama itu karna aku cinta sama kamu dan yang kedua karna aku nggak mau
kehilangan kamu” Lanjut Albie, aku jingkrang kegirangan nafasku seakan sesak, debar
jantungku tidak menentu. Albie merentangkan tangannya dan aku berlari
kearahnya, dia membawaku terbang dan berputar.
Senja sore
adalah saksi dimana cinta itu telah datang, ketika cinta pergi janganlah kau
berputus asa karna setiap ada yang hilang maka akan terlahir sesuatu yang baru,
yang membuatmu bahagia.
Karena Mereka bilang kalo di dunia ini ada dua jenis kebahagiaan.
Satu..!!
jenis kebahagiaan, kamu hanya tahu setelah beberapa saat telah berlalu, dan yang lainnya adalah kebahagiaan yang kamu rasakan pada
saat itu begitu berharga, yang mereka bilang bahwa saat ini jenis
kebahagiaan bisa tinggal dengan Kamu dan mencerahkan
hidup kamu. Mungkin kita dapat mengubah hari
ke jenis kebahagiaan
yang kamu rasakan pada
saat itu sehingga kita bisa mengingat
kebahagiaan ini untuk
sisa hidup kita.