Hanya ini yang mampu
mengobati rasa kangen gue sama lo, sebuah kotak kecil yang berisi kincir angin
kertas dan origami. Entah apa yang gue rasa saat ini dia pergi begitu saja dan
menghilang tanpa kabar, selama ini gue
lagi menunggu dia, menunggu disemua social medianya dan blog pribadinya. Tapi,
hanya terlihat postingan dia yang dulu. Dia pergi tanpa kabar, dia pergi dengan
membawa hati ini yang telah tertulis namanya, gue yakin akan menutup pintu hati
ini sampai gue dapat kepastian dari dia, karna gue yakin dialah yang pantas
mendapatkan cinta ini.
“Kincir angin lagi
?”Seru teman gue yang sedari tadi sibuk membolak balik majalah fashion
favoritnya. Gue hanya mengangkat kedua bahu gue, karna gue gak bisa menjawab
setiap ada pertanyaan tentang dia dan sampai kapan gue harus menunggu dia
kembali. Tiara slalu setia mendengarkan keluhan hati gue tentang dia walau
kadang dia suka memarahi gue, menurut dia gue adalah cewek yang bodoh yang mau
menunggu cinta yang semu. Tapi bagaimanapun hati ini gak bisa bohong, kalau gue
akan terus menunggunya.
Hujan terus turun
dengan deras padahal hari ini gue harus dateng ke acara arisan keluarga yang
menurut gue bosen dan gue slalu merasa asing disana secara kaya gak punya
teman. Gue berharap hujan tak pernah berhenti sampai malam supaya gue punya
alasan untuk bilang tidak, karena gue
yakin Ayah pasti ngerti dan bilang “Ya udah nggak apa-apa”. Bayangan dia kini
muncul lagi dalam fikiran gue, kadang gue ingin menghapus semua tentang dia
namun gue gak mampu untuk itu.
Hari semakin sore,
hujan mulai reda matahari sore muncul dengan malu-malu, terlihat pelangi yang
indah menghiasi sore hari. Gue keluar untuk menikmati sore hari di taman dekat
kost, menikmati pelangi sambil mendengarkan music favorit gue dan dia. Fikiran
melayang menarawang saat bersama dia, pulang sekolah yang indah untuk dikenang
menurut gue. Saat gue dan dia terjebak hujan disebuah halte, dan saat itu gue
baru tau dia kakak kelas gue. Kita hanya saling diam menunggu hujan reda, gue hanya
sesekali melirik dia, gue rasa dia pun sama. Telinga kita sama-sama tersumbat
oleh aliran music dengan tiba-tiba gue dan dia bernyanyi bersama tanpa aba-aba.
Awalnya gue nggak sadar akan hal itu, kita sadar kalau kita sedang berduet bak
ala konser megah, saat anak kecil berkomentar “Wah suara kakak cantik dan kakak
ganteng bagus” spontan anak kecil itu kasih kita kincir angin dan burung kertas
yang disebut origami. Gue dan dia saling menatap, dia tersenyum dengan reflek
gue membalas senyumnya jantung gue berdebar dengan kencang serasa terjun bebas
dari lantai 50.
“Burung kertasnya
kamu simpan aja dan aku bakal simpan kincir anginnya” gue masih merasa bingung
saat itu, gue hanya mengerutkan kening tanpa mengerti apa maksud dia. Belum
sempat gue nanya apa maksudnya dia udah kembali berbicara. "Eh lihat ada
pelangi", gue langsung ikut menatap pelangi disore hari yang indah itu.
Dia tersenyum lagi, gue suka melihat senyumnya, matanya bersinar kena pancaran
sinar matahari sore. Disinilah awal gue mencintai hujan, dan menikmati indahnya
sore hari setelah hujan turun dengan membawa burung kertas ini kemana-kemana.
"Flo, pulang
yuck udah mau magrib nih" Suara Tiara membuyarkan semua lamunan dan
bayangan tentang dia. Gue hanya menangguk dan menaiki sepeda serta mengayuhnya
sampai kostan. Kali ini Tiara kebanyakan diam, tidak seperti biasanya yang
slalu mengacaukan lamunan gue saat-saat seperti ini. "Makasih ya
Ra"Itu yang gue ucapkan sebelum Tiara masuk kamarnya, dia hanya tersenyum,
dan dia menghilang dibalik pintu yang telah tertutup. Hati ini mulai merasa
sepi, ingin rasanya gue mengulang hari-hari yang indah itu, dimana gue mengenal
indahnya cinta pertama yang membuat gue gugup dan menjadi diri gue sendiri.
***
Seperti biasa, hujan
turun dipagi hari bikin males buat pergi ke kantor. Gue terus berjalan menembus
rintikan hujan yang semakin siang semakin deras hujannya, gue berharap hari ini
gue lupa akan semua masa lalu. Kesibukan di kantor dihari ini sedikit membantu
gue buat nglupain semua kenangan itu dan semua tentang dia, tanpa terasa jam
pulang telah tiba, tapi hujan tak kunjung untuk berhenti.
“Flo mau pulang ?
Hujan deres loh dicampur petir” Kata security kantor, “Gak apa-apalah Pak lagi
pula Cuma sekali naik angkot doang” Ucap gue. Selang beberapa menit angkot muncul,
dan dengan buru-buru gue masuk kedalamnya. Jalanan lumayan macet karena
beberapa ruas jalan banjir, jam 7 malam gue baru sampai kostan. Hari yang
melelahkan biasanya jam segini gue udah rapi dan udah anteng depan tv. Malam
ini gue baru saadar kalau nggak ada yang ganggu telinga gue, mata gue langsung
tertuju sama kamar Tiara yang masih terlihat gelap. Apa mungkin dia udah tidur
tapi, biasanya dia nggak bakal bisa tidur kalau belum ngubrak-abrik kamer gue.
Gue coba gedor pintunya tapi nggak ada jawaban, gue mencoba telpon dia tapi gak
ada jawaban juga. Gue mondar mandir depan kamar Tiara, mana Ibu kost pulang
kampung terus gue mau nanya siapa, Desi dan Ratna pun belum pulang. Pikiran gue
jadi nggak tenang memikirkan Tiara dan yang lainnya karna belum pulang, mata
terasa lelah gue perlahan menyandarkan kepala di bantal dan meluruskan tubuh
diatas sofa.
“Flo, Flo” Suara itu
seolah-olah terdengar ditelinga gue, mata rasanya berat banget buat melek. Gue
mengucek-ucek mata dan melihat Tiara, Desi dan Ratna lagi berdiri disamping
gue.
“Lo ngpain tidur
disofa gini ?”Tanya Tiara, gue membenarkan posisi gue “Ya gue nunggu kalian
lah, lagian kalian susah banget buat dihubungin, udah malem hujan deres kan gue
jadi khawatir” Jawab gue dengan nada sedikit sewot. Mereka bertiga tertawa
secara bersamaan, “Flo Flo, muka lo tuh lucu banget sumpah” cetus Ratna yang
dari tadi ketawanya paling kenceng. Mereka makin tertawa, dan gue sendiri makin
kebingungan, sampai gue berfikir emang ada yang salah sama gue ? Apa ada yang
aneh ? perasaan nggak ada deh. Apa gue salah kalau gue mengkhawatirkan mereka ?
Aaarrrggghhhh, gue pasang muka cemberut mereka langsung menghentikan tawa
mereka dan duduk mengelilingi gue.
Tiara menceritkan
semuanya sebelum mereka pergi, gue jadi merasa malu sendiri dan menggaruk-garuk
kepala yang nggak gatel. Tapi gue bisa bernafas lega karna mereka semua
baik-baik aja. “Kita minta maaf ya Flo karna udah bikin lo khawatir dan tidur
disofa gini” Ucap Desi dengan nada manjanya yang menjadi ciri khas dia. Gimana
kalo malam ini kita tidur dikamar gue nyobain kasur baru gue” Usul Ratna dengan
girang karna kasur barunya udah dateng, setelah sekian lama dia nabung.
****
“Eh Flo, ini ada
surat buat lo” Receptions memberikan selembar surat, “Ok Thank’s ya Mba” gue
mengeritkan alis ketika melihat kop surat tertulis nama sekolah waktu gue SMA
dulu. Ternyata 2 minggu lagi acara reuni akbar, dari angkatan pertama sampai
angkatan 2013, itu berarti angkatan dia juga ada. Apa dia bakal datang ? dalam
otak gue hanya itu yang berputar-putar, tatapan gue ke burung kertas itu mampu
menembus kenangan saat itu.
“Flo, thanks ya udah
mau nemenin aku ke toko buku dan nyari buku buat bahan aku belajar menghadapi
UN nanti” Dia tersenyum, gue hanya bisa mengangguk saat itu. Entah kenapa gue
slalu gugup saat sama dia, salah tingkah bahkan suka bertindak konyol. Padahal
bukan pertama kalinya gue nemenin dia ke toko buku tapi sering bahkan hampir
setiap hari, nemenin dia main footsal, jogging bareng setiap sore, kadang suka
belajar bareng.
“Oh ya Flo, acara
promnight nanti kamu jadi kan sama aku datangnya?” Tanya dia. “Jadilah, kan
kita udah pesan baju buat nanti bahkan aku juga udah mulai nabung buat bayar
baju kita nanti” Jawab gue dengan girang.
“Flo, buat apa
nabung ? orang udah aku bayar kok” Ucap dia dengan santai, gue mlongo, apa dia seserius
itu buat ngajak ke acara promnight nanti. “Eh kak, promnight kan masih lama
buat apa kita bahas sekarang” Kata gue.
“Supaya kamu gak
pergi sama yang lain” Kata dia sedikit jutek dan pergi ninggalin gue yang masih
bengong, dia teriak memanggil nama gue, gue berlari kearah dia dengan
kegirangan.
Malam ini promnight
telah tiba, dari jam 3 sore gue siap-siap untuk dijemput dia. Hampir 1 jam gue
nunggu dia tapi nggak ada tanda-tanda dia datang, mungkin dia ada urusan
sebentar jadi dia telat jemput gue. Gue terus positife thinking, gue mulai
jenuh bosan hampir 2 jam gue nunggu dia, ditelfon nomornya nggak aktif.
“Loh Flo, kamu belum
berangkat juga ?” Tanya Ayah, “Gak jadi berangkat Yah, dia lagi sibuk” Jawab
gue dengan malas dan rasa kecewa, gue lebih milih ngebatalin acara itu dan
mengurung diri dikamar. Entah kenapa air mata ini mengalir, mata gue terasa
panas karna menangis terlalu lama. Akhirnya gue memilih untuk tidur, berharap
esok hari akan lebih baik.
***
“Flo, bangun udah
siang” Teriak Ibu dari luar, gue lihat jam menunjukan pukul 7, senyenyak itukah
gue tidur, sampai gue gak tau adzan subuh. Gue melihat sebuah kertas terlipat
disamping jam beker, dengan cepat gue meraih kertas itu dan membacanya. Gue
terkejut ketika melihat itu dari dia, gue langsung keluar dan Tanya sama Ayah
atau Ibu ingin memastikan kalau semalam dia datang.
“Yah, semalem Albie
dateng ya?” Tanya gue sama Ayah. “Iya semalem dia kesini sampai kehujanan, Ayah
bangunin kamu tapi kamu kelihatanya nyenyak banget, sampai nggak mau bangun”
Jawab Ayah.
Sekecewa itukah gue
sama dia, sampai gue benar-benar menutup telinga. Gawat, dia kan nunggu gue jam
8 ditempat biasa, jam menunjukkan pukul 7.30 dengan cepat gue kekamar mandi
Cuma buat gosok gigi dan cuci muka mandinya cukup dengan minyak wangi. Dengan
cepat gue mengayuh sepeda, tanpa sempat pamit sama Ibu yang lagi di dapur 15
menit lagi pukul 8 gue harap dia masih mau menunggu gue, gue Cuma butuh
penjelasan dia tentang kemarin. Sial benar-benar sial, kenapa ban sepeda gue
sampai bocor gini sih ? gue titipin sepeda ke tempat teman Ayah, gue menunggu
angkot lama banget. Jam 8 lewat 5 menit akhirnya angkot dateng juga, tapi
rasanya gue nggak tenang ini angkot lelet banget. Sepanjang jalan gue berdoa
semoga dia masih nunggu gue, seperti apa yang tertulis disurat itu, kalau dia
akan terus menunggu sampai gue datang.
Disini gue hanya
bengong ternyata dia bohong katanya mau nunggu sampai gue datang, tapi apa ?
Disini, dihalte ini hanya ada gue dan kenangan kita dulu pertama kali kita
kenal. Gue nggak bisa menahan lagi air mata gue, gue udah nggak perduli sama
lingkungan sekitar gue disitu nangis sejadi-jadinya tiba-tiba “Kamu nangis
kenapa ?” Suara itu membuat tangis gue berhenti, dia ? Ternyata dia masih
nunggu gue, dia tersenyum sambil menyodorkan air minum yang dia bawa. Gue masih
diam, menatapnya dalam-dalam sekarang gue sadar kalau gue benar-benar nggak mau
kehilangan dia, dia menghapus air mata gue dengan lembut. Gue nggak perduli dia
mau berfikir tentang gue seperti apa, gue langsung peluk dia dengan erat.
Please jangan pernah pergi, ingin sekali gue mengucapkan kalimat itu tapi gue
gak mampu bersuara. “Jangan pernah sedih dan jangan pernah keluarin air mata
kamu, aku hanya mau melihat kamu tersenyum karna kamu begitu berarti dalam
hidup aku” bisik dia.
Kring…krinnggg…..suara
telfon membuyarkan semua lamunan gue, gue pun sampai lupa kalau gue harus
nyiapin beberapa file untuk dicetak. Fiuuhhhh,, hampir aja kerjaan hari ini
terbengkalai. Kepala berasa banget cenat cenut, mata terasa panas mungkin karna
semalem kurang tidur. Tiba-tiba gue kepikiran Tiara, dia kenapa begitu beda.
Kenapa ?Mungkin nanti gue bisa tanya sama dia pas sampai kost.
***
Kepala masih terasa
pening, padahal tadi dikantor pas jam istirahat aku udah tidur. Gue memilih
langsung tidur, dan meninggalkan semua aktifitas malam. Keesokan harinya gue
dapat surat dari Tiara kalau dia harus pergi menyusul orang tuanya dan ternyata
dia sudah resign dari kantornya sebulan yang lalu, terus selama sebulan dia
kemana dan ngapain ? itu yang ada di kepala gue. Ada apa dengan Tiara dan
kenapa dia ? nomornya susah buat dihubungin selalu mail box. Tiara..lo
sebenarnya kemana ? udah hampir seminggu Tiara pergi kostan terasa sepi, nggak ada biang rusuh
nggak ada makanan enak. Tapi gue dan anak-anak berfikir positif mungkin Tiara
lebih bahagia tinggal sama orang tuanya.
Gue melihat ibu kost
akhir-akhir ini sering melamun, kebanyakan bengong, dia ngrasa kehilangan
Tiara. Karna bagi ibu kost Tiara sudah menjadi seperti anak kandungnya sendiri,
maklum Tiara adalah orang pertama yang jadi penghuni kost sini.
***
Hari reuni telah
tiba, disini gue berharap gue bisa ketemu dia meskipun harapan itu tipis hanya
20%. Senang rasanya bisa ketemu teman-teman lama, teman seperjuangan waktu SMA.
Semua ketawa-ketiwi berbagi cerita dan mengingat masa-masa dulu, mata gue terus
mencari-cari sosok yang selama ini gue tunggu. Tapi semua terasa sia-sia,
mungkin Tiara benar dia nggak akan pernah kembali.
“Hai Flo, “Sapa Evi,
gue hanya tersenyum getir karna gaget tiba-tiba Evi muncul dihadapan gue. “
Kesini sama siapa ?” Tanya Evi.
“Flo kesini sama
Amir, Wahyu, terus Ina” Jawab gue. Evi menatap gue dengan aneh, dan dia
tersenyum-senyum sendiri. “Evi kenapa ? ada yang salah ya sama Flo ?”Tanya gue
dengan nada kebingungan, sambil menatap dari bawah sampai atas. Tiba-tiba Evi
ngomong bahwa dia akan datang menjemput pelangi yang telah tertinggal. Dia ?
Dia siapa ? gue hanya bengong dan kebingungan, tiba-tiba sebuah layar lebar
menyala isi dari film itu adalah dimana pertama kali gue kenal sama dia, dan
beberapa kejadian belakangan ini dimana gue sedang mengenang dia. Gue nggak
pernah tahu akan rencana pembuatan film ini, siapa yang membuatnya, semua focus
kelayar pemutran film itu dan gue nggak mampu berkata apa-apa. Gue
bertanya-tanya siapa ? siapa ? Apakah dia yang membuat semua ini ? Mungkinkah
dia selama ini ada disini ? Butiran-butiran yang gue tahan tak mampu lagi
bertahan ditempatnya, satu per satu jatuh. Tuhan, apa arti dari semua ini ?
Jangan berikan aku harapan jika harapan itu hanya bohong belaka. Film kelar
diputar dengan tulisan bersambung, diatas panggung berdiri sosok yang gue kenal
yaitu Tiara. “Tiara” Lirih gue, Amir membawakn gue tisu dan mengusap air mata gue.
“ Jangan pernah menangis sahabatku, karna kamu nggak pantas untuk menangis,
menangislah jika kau merasa bahagia” Amir pergi menghilang dikerumunan orang
banyak.
“Dulu gue nggak
pernah tau apa sih arti cinta yang tulus ? Arti cinta yang sejati ? ternyata
gue bisa menemukan disahabat gue sendiri. Pertama gue kenal dia saat gue masih
kelas 2 SMA dan dia baru mulai kerja dijakarta, awalnya gue marah sama dia, dia
itu terlalu bodoh karna dia berharap sama seseorang yang nggak pernah kasih
kabar sama dia bahkan selama 6 tahun ini dia masih menunggu dan menunggu. Awal
gue menyadari bahwa cinta itu benar saat menemukan buku usang dan beberapa
foto, gue melihat isi buku itu dengan judul FLORA dan ALBIE Story. Foto-foto
jaman mereka masih SMA goresan tinta yang indah namun penuh makna, gue makin
mengerti saat melihat siapa lelaki itu dan ternyata dia Muhammad Albie dan
kalian tau dia adalah kakak gue yang selama 6 tahun itu juga dia, harus
berjuang untuk melawan penyakitnya. Flo, gue minta maaf selama 1 bulan ini gue
bohong sama lo setelah gue tahu bahwa lo ada semangat buat kakak gue melawan
penyakitnya. Dan lo tau, kakak gue pun menutup pintu hatinya untuk orang lain.
Dia hanya membuka ketika lo mengetuk pintu itu.”
“Karna hanya nama
kamu yang tertulis dihati ini” suara itu, suara itu. Gue balik badan dan
menemukan sosok yang selama ini gue tunggu, dia nggak berubah dia masih seperti
dulu. Senyumnya, tatapan matanya, cara dia bicara cara dia berdiri dan cara dia
berjalan. Gue nggak mampu untuk berkata-kata, dia menunjukkan kincir angin, ternyata
dia masih menyimpannya. Dia mengenakan baju yang harusnya dia pakai diacara
promnight waktu itu, gue memeluk dia erat, tangis gue makin pecah dan tenggelam
didalam pelukannya.
“Maafin aku Flo, aku
udah ninggalin kamu maafin aku” Bisik Albie ditelinga gue. Gue terus menangis
lidah gue keluh untuk berbicara, dalam hati gue mengucapkan syukur dan terima
kasih gue sama Allah, karna Allah telah mendengar doa-doa gue selama ini. Dan
makasih juga buat Tiara dan Amir yang sudah menyiapkan ini semua buat gue.
“Jangan pergi lagi”
Ucap gue, Albie mengangguk dan memperat pelukannya. Gue tahu semua didunia ini
nggak ada yang kebetulan, Allah slalu merencanakan yang terbaik buat gue dan
dia setelah 6 tahun berpisah. Gue dipertemukan dengan Tiara sebagai sahabat
gue, dan Albie focus dengan penyembuhan penyakitnya. Gue dan dia memulai cerita
yang baru, dan disitulah gue bisa mendapatkan jawaban dan kepastian yang selama
ini gue tunggu. Cinta akan datang disaat yang tepat disaat kau benar-benar
mampu untuk menggenggamnya dan menghadapi segala resiko yang ada dihadapanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar