Jumat, 20 Februari 2015

01. CERPEN - KINCIR ANGIN DAN BURUNG KERTAS.

Hanya ini yang mampu mengobati rasa kangen gue sama lo, sebuah kotak kecil yang berisi kincir angin kertas dan origami. Entah apa yang gue rasa saat ini dia pergi begitu saja dan menghilang tanpa kabar, selama ini  gue lagi menunggu dia, menunggu disemua social medianya dan blog pribadinya. Tapi, hanya terlihat postingan dia yang dulu. Dia pergi tanpa kabar, dia pergi dengan membawa hati ini yang telah tertulis namanya, gue yakin akan menutup pintu hati ini sampai gue dapat kepastian dari dia, karna gue yakin dialah yang pantas mendapatkan cinta ini.
 
“Kincir angin lagi ?”Seru teman gue yang sedari tadi sibuk membolak balik majalah fashion favoritnya. Gue hanya mengangkat kedua bahu gue, karna gue gak bisa menjawab setiap ada pertanyaan tentang dia dan sampai kapan gue harus menunggu dia kembali. Tiara slalu setia mendengarkan keluhan hati gue tentang dia walau kadang dia suka memarahi gue, menurut dia gue adalah cewek yang bodoh yang mau menunggu cinta yang semu. Tapi bagaimanapun hati ini gak bisa bohong, kalau gue akan terus menunggunya.

Hujan terus turun dengan deras padahal hari ini gue harus dateng ke acara arisan keluarga yang menurut gue bosen dan gue slalu merasa asing disana secara kaya gak punya teman. Gue berharap hujan tak pernah berhenti sampai malam supaya gue punya alasan untuk bilang tidak,  karena gue yakin Ayah pasti ngerti dan bilang “Ya udah nggak apa-apa”. Bayangan dia kini muncul lagi dalam fikiran gue, kadang gue ingin menghapus semua tentang dia namun gue gak mampu untuk itu.

Hari semakin sore, hujan mulai reda matahari sore muncul dengan malu-malu, terlihat pelangi yang indah menghiasi sore hari. Gue keluar untuk menikmati sore hari di taman dekat kost, menikmati pelangi sambil mendengarkan music favorit gue dan dia. Fikiran melayang menarawang saat bersama dia, pulang sekolah yang indah untuk dikenang menurut gue. Saat gue dan dia terjebak hujan disebuah halte, dan saat itu gue baru tau dia kakak kelas gue. Kita hanya saling diam menunggu hujan reda, gue hanya sesekali melirik dia, gue rasa dia pun sama. Telinga kita sama-sama tersumbat oleh aliran music dengan tiba-tiba gue dan dia bernyanyi bersama tanpa aba-aba. Awalnya gue nggak sadar akan hal itu, kita sadar kalau kita sedang berduet bak ala konser megah, saat anak kecil berkomentar “Wah suara kakak cantik dan kakak ganteng bagus” spontan anak kecil itu kasih kita kincir angin dan burung kertas yang disebut origami. Gue dan dia saling menatap, dia tersenyum dengan reflek gue membalas senyumnya jantung gue berdebar dengan kencang serasa terjun bebas dari lantai 50.

“Burung kertasnya kamu simpan aja dan aku bakal simpan kincir anginnya” gue masih merasa bingung saat itu, gue hanya mengerutkan kening tanpa mengerti apa maksud dia. Belum sempat gue nanya apa maksudnya dia udah kembali berbicara. "Eh lihat ada pelangi", gue langsung ikut menatap pelangi disore hari yang indah itu. Dia tersenyum lagi, gue suka melihat senyumnya, matanya bersinar kena pancaran sinar matahari sore. Disinilah awal gue mencintai hujan, dan menikmati indahnya sore hari setelah hujan turun dengan membawa burung kertas ini kemana-kemana.

"Flo, pulang yuck udah mau magrib nih" Suara Tiara membuyarkan semua lamunan dan bayangan tentang dia. Gue hanya menangguk dan menaiki sepeda serta mengayuhnya sampai kostan. Kali ini Tiara kebanyakan diam, tidak seperti biasanya yang slalu mengacaukan lamunan gue saat-saat seperti ini. "Makasih ya Ra"Itu yang gue ucapkan sebelum Tiara masuk kamarnya, dia hanya tersenyum, dan dia menghilang dibalik pintu yang telah tertutup. Hati ini mulai merasa sepi, ingin rasanya gue mengulang hari-hari yang indah itu, dimana gue mengenal indahnya cinta pertama yang membuat gue gugup dan menjadi diri gue sendiri.

 ***

Seperti biasa, hujan turun dipagi hari bikin males buat pergi ke kantor. Gue terus berjalan menembus rintikan hujan yang semakin siang semakin deras hujannya, gue berharap hari ini gue lupa akan semua masa lalu. Kesibukan di kantor dihari ini sedikit membantu gue buat nglupain semua kenangan itu dan semua tentang dia, tanpa terasa jam pulang telah tiba, tapi hujan tak kunjung untuk berhenti.
“Flo mau pulang ? Hujan deres loh dicampur petir” Kata security kantor, “Gak apa-apalah Pak lagi pula Cuma sekali naik angkot doang” Ucap gue. Selang beberapa menit angkot muncul, dan dengan buru-buru gue masuk kedalamnya. Jalanan lumayan macet karena beberapa ruas jalan banjir, jam 7 malam gue baru sampai kostan. Hari yang melelahkan biasanya jam segini gue udah rapi dan udah anteng depan tv. Malam ini gue baru saadar kalau nggak ada yang ganggu telinga gue, mata gue langsung tertuju sama kamar Tiara yang masih terlihat gelap. Apa mungkin dia udah tidur tapi, biasanya dia nggak bakal bisa tidur kalau belum ngubrak-abrik kamer gue. Gue coba gedor pintunya tapi nggak ada jawaban, gue mencoba telpon dia tapi gak ada jawaban juga. Gue mondar mandir depan kamar Tiara, mana Ibu kost pulang kampung terus gue mau nanya siapa, Desi dan Ratna pun belum pulang. Pikiran gue jadi nggak tenang memikirkan Tiara dan yang lainnya karna belum pulang, mata terasa lelah gue perlahan menyandarkan kepala di bantal dan meluruskan tubuh diatas sofa.

“Flo, Flo” Suara itu seolah-olah terdengar ditelinga gue, mata rasanya berat banget buat melek. Gue mengucek-ucek mata dan melihat Tiara, Desi dan Ratna lagi berdiri disamping gue.

“Lo ngpain tidur disofa gini ?”Tanya Tiara, gue membenarkan posisi gue “Ya gue nunggu kalian lah, lagian kalian susah banget buat dihubungin, udah malem hujan deres kan gue jadi khawatir” Jawab gue dengan nada sedikit sewot. Mereka bertiga tertawa secara bersamaan, “Flo Flo, muka lo tuh lucu banget sumpah” cetus Ratna yang dari tadi ketawanya paling kenceng. Mereka makin tertawa, dan gue sendiri makin kebingungan, sampai gue berfikir emang ada yang salah sama gue ? Apa ada yang aneh ? perasaan nggak ada deh. Apa gue salah kalau gue mengkhawatirkan mereka ? Aaarrrggghhhh, gue pasang muka cemberut mereka langsung menghentikan tawa mereka dan duduk mengelilingi gue.

Tiara menceritkan semuanya sebelum mereka pergi, gue jadi merasa malu sendiri dan menggaruk-garuk kepala yang nggak gatel. Tapi gue bisa bernafas lega karna mereka semua baik-baik aja. “Kita minta maaf ya Flo karna udah bikin lo khawatir dan tidur disofa gini” Ucap Desi dengan nada manjanya yang menjadi ciri khas dia. Gimana kalo malam ini kita tidur dikamar gue nyobain kasur baru gue” Usul Ratna dengan girang karna kasur barunya udah dateng, setelah sekian lama dia nabung.

****

“Eh Flo, ini ada surat buat lo” Receptions memberikan selembar surat, “Ok Thank’s ya Mba” gue mengeritkan alis ketika melihat kop surat tertulis nama sekolah waktu gue SMA dulu. Ternyata 2 minggu lagi acara reuni akbar, dari angkatan pertama sampai angkatan 2013, itu berarti angkatan dia juga ada. Apa dia bakal datang ? dalam otak gue hanya itu yang berputar-putar, tatapan gue ke burung kertas itu mampu menembus kenangan saat itu.

“Flo, thanks ya udah mau nemenin aku ke toko buku dan nyari buku buat bahan aku belajar menghadapi UN nanti” Dia tersenyum, gue hanya bisa mengangguk saat itu. Entah kenapa gue slalu gugup saat sama dia, salah tingkah bahkan suka bertindak konyol. Padahal bukan pertama kalinya gue nemenin dia ke toko buku tapi sering bahkan hampir setiap hari, nemenin dia main footsal, jogging bareng setiap sore, kadang suka belajar bareng.
“Oh ya Flo, acara promnight nanti kamu jadi kan sama aku datangnya?” Tanya dia. “Jadilah, kan kita udah pesan baju buat nanti bahkan aku juga udah mulai nabung buat bayar baju kita nanti” Jawab gue dengan girang.
“Flo, buat apa nabung ? orang udah aku bayar kok” Ucap dia dengan santai, gue mlongo, apa dia seserius itu buat ngajak ke acara promnight nanti. “Eh kak, promnight kan masih lama buat apa kita bahas sekarang” Kata gue.
“Supaya kamu gak pergi sama yang lain” Kata dia sedikit jutek dan pergi ninggalin gue yang masih bengong, dia teriak memanggil nama gue, gue berlari kearah dia dengan kegirangan.

Malam ini promnight telah tiba, dari jam 3 sore gue siap-siap untuk dijemput dia. Hampir 1 jam gue nunggu dia tapi nggak ada tanda-tanda dia datang, mungkin dia ada urusan sebentar jadi dia telat jemput gue. Gue terus positife thinking, gue mulai jenuh bosan hampir 2 jam gue nunggu dia, ditelfon nomornya nggak aktif.
“Loh Flo, kamu belum berangkat juga ?” Tanya Ayah, “Gak jadi berangkat Yah, dia lagi sibuk” Jawab gue dengan malas dan rasa kecewa, gue lebih milih ngebatalin acara itu dan mengurung diri dikamar. Entah kenapa air mata ini mengalir, mata gue terasa panas karna menangis terlalu lama. Akhirnya gue memilih untuk tidur, berharap esok hari akan lebih baik.

***

“Flo, bangun udah siang” Teriak Ibu dari luar, gue lihat jam menunjukan pukul 7, senyenyak itukah gue tidur, sampai gue gak tau adzan subuh. Gue melihat sebuah kertas terlipat disamping jam beker, dengan cepat gue meraih kertas itu dan membacanya. Gue terkejut ketika melihat itu dari dia, gue langsung keluar dan Tanya sama Ayah atau Ibu ingin memastikan kalau semalam dia datang.
“Yah, semalem Albie dateng ya?” Tanya gue sama Ayah. “Iya semalem dia kesini sampai kehujanan, Ayah bangunin kamu tapi kamu kelihatanya nyenyak banget, sampai nggak mau bangun” Jawab Ayah.
Sekecewa itukah gue sama dia, sampai gue benar-benar menutup telinga. Gawat, dia kan nunggu gue jam 8 ditempat biasa, jam menunjukkan pukul 7.30 dengan cepat gue kekamar mandi Cuma buat gosok gigi dan cuci muka mandinya cukup dengan minyak wangi. Dengan cepat gue mengayuh sepeda, tanpa sempat pamit sama Ibu yang lagi di dapur 15 menit lagi pukul 8 gue harap dia masih mau menunggu gue, gue Cuma butuh penjelasan dia tentang kemarin. Sial benar-benar sial, kenapa ban sepeda gue sampai bocor gini sih ? gue titipin sepeda ke tempat teman Ayah, gue menunggu angkot lama banget. Jam 8 lewat 5 menit akhirnya angkot dateng juga, tapi rasanya gue nggak tenang ini angkot lelet banget. Sepanjang jalan gue berdoa semoga dia masih nunggu gue, seperti apa yang tertulis disurat itu, kalau dia akan terus menunggu sampai gue datang.

Disini gue hanya bengong ternyata dia bohong katanya mau nunggu sampai gue datang, tapi apa ? Disini, dihalte ini hanya ada gue dan kenangan kita dulu pertama kali kita kenal. Gue nggak bisa menahan lagi air mata gue, gue udah nggak perduli sama lingkungan sekitar gue disitu nangis sejadi-jadinya tiba-tiba “Kamu nangis kenapa ?” Suara itu membuat tangis gue berhenti, dia ? Ternyata dia masih nunggu gue, dia tersenyum sambil menyodorkan air minum yang dia bawa. Gue masih diam, menatapnya dalam-dalam sekarang gue sadar kalau gue benar-benar nggak mau kehilangan dia, dia menghapus air mata gue dengan lembut. Gue nggak perduli dia mau berfikir tentang gue seperti apa, gue langsung peluk dia dengan erat. Please jangan pernah pergi, ingin sekali gue mengucapkan kalimat itu tapi gue gak mampu bersuara. “Jangan pernah sedih dan jangan pernah keluarin air mata kamu, aku hanya mau melihat kamu tersenyum karna kamu begitu berarti dalam hidup aku” bisik dia.

Kring…krinnggg…..suara telfon membuyarkan semua lamunan gue, gue pun sampai lupa kalau gue harus nyiapin beberapa file untuk dicetak. Fiuuhhhh,, hampir aja kerjaan hari ini terbengkalai. Kepala berasa banget cenat cenut, mata terasa panas mungkin karna semalem kurang tidur. Tiba-tiba gue kepikiran Tiara, dia kenapa begitu beda. Kenapa ?Mungkin nanti gue bisa tanya sama dia pas sampai kost.

***

Kepala masih terasa pening, padahal tadi dikantor pas jam istirahat aku udah tidur. Gue memilih langsung tidur, dan meninggalkan semua aktifitas malam. Keesokan harinya gue dapat surat dari Tiara kalau dia harus pergi menyusul orang tuanya dan ternyata dia sudah resign dari kantornya sebulan yang lalu, terus selama sebulan dia kemana dan ngapain ? itu yang ada di kepala gue. Ada apa dengan Tiara dan kenapa dia ? nomornya susah buat dihubungin selalu mail box. Tiara..lo sebenarnya kemana ? udah hampir seminggu Tiara pergi  kostan terasa sepi, nggak ada biang rusuh nggak ada makanan enak. Tapi gue dan anak-anak berfikir positif mungkin Tiara lebih bahagia tinggal sama orang tuanya.
Gue melihat ibu kost akhir-akhir ini sering melamun, kebanyakan bengong, dia ngrasa kehilangan Tiara. Karna bagi ibu kost Tiara sudah menjadi seperti anak kandungnya sendiri, maklum Tiara adalah orang pertama yang jadi penghuni kost sini.

***

Hari reuni telah tiba, disini gue berharap gue bisa ketemu dia meskipun harapan itu tipis hanya 20%. Senang rasanya bisa ketemu teman-teman lama, teman seperjuangan waktu SMA. Semua ketawa-ketiwi berbagi cerita dan mengingat masa-masa dulu, mata gue terus mencari-cari sosok yang selama ini gue tunggu. Tapi semua terasa sia-sia, mungkin Tiara benar dia nggak akan pernah kembali.

“Hai Flo, “Sapa Evi, gue hanya tersenyum getir karna gaget tiba-tiba Evi muncul dihadapan gue. “ Kesini sama siapa ?” Tanya Evi.
“Flo kesini sama Amir, Wahyu, terus Ina” Jawab gue. Evi menatap gue dengan aneh, dan dia tersenyum-senyum sendiri. “Evi kenapa ? ada yang salah ya sama Flo ?”Tanya gue dengan nada kebingungan, sambil menatap dari bawah sampai atas. Tiba-tiba Evi ngomong bahwa dia akan datang menjemput pelangi yang telah tertinggal. Dia ? Dia siapa ? gue hanya bengong dan kebingungan, tiba-tiba sebuah layar lebar menyala isi dari film itu adalah dimana pertama kali gue kenal sama dia, dan beberapa kejadian belakangan ini dimana gue sedang mengenang dia. Gue nggak pernah tahu akan rencana pembuatan film ini, siapa yang membuatnya, semua focus kelayar pemutran film itu dan gue nggak mampu berkata apa-apa. Gue bertanya-tanya siapa ? siapa ? Apakah dia yang membuat semua ini ? Mungkinkah dia selama ini ada disini ? Butiran-butiran yang gue tahan tak mampu lagi bertahan ditempatnya, satu per satu jatuh. Tuhan, apa arti dari semua ini ? Jangan berikan aku harapan jika harapan itu hanya bohong belaka. Film kelar diputar dengan tulisan bersambung, diatas panggung berdiri sosok yang gue kenal yaitu Tiara. “Tiara” Lirih gue, Amir membawakn gue tisu dan mengusap air mata gue. “ Jangan pernah menangis sahabatku, karna kamu nggak pantas untuk menangis, menangislah jika kau merasa bahagia” Amir pergi menghilang dikerumunan orang banyak.

“Dulu gue nggak pernah tau apa sih arti cinta yang tulus ? Arti cinta yang sejati ? ternyata gue bisa menemukan disahabat gue sendiri. Pertama gue kenal dia saat gue masih kelas 2 SMA dan dia baru mulai kerja dijakarta, awalnya gue marah sama dia, dia itu terlalu bodoh karna dia berharap sama seseorang yang nggak pernah kasih kabar sama dia bahkan selama 6 tahun ini dia masih menunggu dan menunggu. Awal gue menyadari bahwa cinta itu benar saat menemukan buku usang dan beberapa foto, gue melihat isi buku itu dengan judul FLORA dan ALBIE Story. Foto-foto jaman mereka masih SMA goresan tinta yang indah namun penuh makna, gue makin mengerti saat melihat siapa lelaki itu dan ternyata dia Muhammad Albie dan kalian tau dia adalah kakak gue yang selama 6 tahun itu juga dia, harus berjuang untuk melawan penyakitnya. Flo, gue minta maaf selama 1 bulan ini gue bohong sama lo setelah gue tahu bahwa lo ada semangat buat kakak gue melawan penyakitnya. Dan lo tau, kakak gue pun menutup pintu hatinya untuk orang lain. Dia hanya membuka ketika lo mengetuk pintu itu.”

“Karna hanya nama kamu yang tertulis dihati ini” suara itu, suara itu. Gue balik badan dan menemukan sosok yang selama ini gue tunggu, dia nggak berubah dia masih seperti dulu. Senyumnya, tatapan matanya, cara dia bicara cara dia berdiri dan cara dia berjalan. Gue nggak mampu untuk berkata-kata, dia menunjukkan kincir angin, ternyata dia masih menyimpannya. Dia mengenakan baju yang harusnya dia pakai diacara promnight waktu itu, gue memeluk dia erat, tangis gue makin pecah dan tenggelam didalam pelukannya.
“Maafin aku Flo, aku udah ninggalin kamu maafin aku” Bisik Albie ditelinga gue. Gue terus menangis lidah gue keluh untuk berbicara, dalam hati gue mengucapkan syukur dan terima kasih gue sama Allah, karna Allah telah mendengar doa-doa gue selama ini. Dan makasih juga buat Tiara dan Amir yang sudah menyiapkan ini semua buat gue.

“Jangan pergi lagi” Ucap gue, Albie mengangguk dan memperat pelukannya. Gue tahu semua didunia ini nggak ada yang kebetulan, Allah slalu merencanakan yang terbaik buat gue dan dia setelah 6 tahun berpisah. Gue dipertemukan dengan Tiara sebagai sahabat gue, dan Albie focus dengan penyembuhan penyakitnya. Gue dan dia memulai cerita yang baru, dan disitulah gue bisa mendapatkan jawaban dan kepastian yang selama ini gue tunggu. Cinta akan datang disaat yang tepat disaat kau benar-benar mampu untuk menggenggamnya dan menghadapi segala resiko yang ada dihadapanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar