Aku menatap setiap coretan yang ada di buku usang
milikku, setiap baris aku baca perlahan. Semua rasa yang ada ku keluarkan
semua, tangis, kesal, amarah dan tawa. Begitu rumitnya kah masa laluku, dan
begitu bodohnya kah aku. Aku terus membacanya hingga tak ada lagi cahaya
matahari yang memasuki ruang kamarku. Dalam hatiku menangis “aku kangen dia”.
Tapi apakah pantas aku merindukannya yang kini bukan milikku lagi, yang aku
lepaskan saat itu.
Langit senja menampakan warna yang indah, aku
tersenyum saat aku mengingat kejadian sore itu. Saat aku dan dia tertawa
bersama, dalam keadaan setengah basah ketika hujan turun mendadak.
“Bisakah rasa itu kembali ?”Tanyaku pada sang senja
“Bisa, tapi tidak dengan orang yang sama” Aku menoleh
ke belakang, dia berdiri dengan bersandar. Aku tersenyum kepadanya, “Apakah aku
masih bisa?” Tanyaku
“Kamu pasti bisa, karna akan ada seseorang yang
membuat kamu merasa nyaman berada didekatnya dan menjadikan dirimu itu merasa
lebih dari apapun” Jawabnya.
Aku masih terdiam memandang senja sore yang indah, dia
tepat berdiri disampingku. “Anakku, aku yakin kamu bisa melewati semuanya” Dia
meyakinanku dengan menggenggam erat tanganku. Aku merasa lebih baik dari
sebelumnya.
///
“Flo……..!!” suara yang lantang menghampiriku dan
membantu aku membawa barang bawaan untuk Tour Reuni Akbar tahun ini.
“Aku kira kamu nggak jadi ikut Tour ini Flo” Bila
ngoceh
“Niatnya nggak ikut Bil karna kesibukan aku saat ini
yang begitu padat, tapi setelah aku dapet cuti aku memutuskan ikut Tour ini”
“Bukan karna dia kan ?” Tanya Bila dengan menghentikan
langkahnya.
“Nggak Bil, kan kejadian itu udah 2 tahun yang lalu.
Aku udah ikhlas” aku tersenyum kepada Bila, namun dia masih memanyunkan
bibirnya. Ya aku sadar untuk melupakan Dia cukup semua menyita waktuku, dan
menyita semua keceriaanku.
Aku mendaftar ulang untuk mendapatkan tempat duduk dan
memasukan semua barang bawaan ke bagasi. Lalu mengikuti Bila dari belakang ke
lapangan untuk gabung sama yang lain. Aku melihat Dia sedang duduk dengan
seorang cewek, aku tau cewek itu. Aku memalingkan muka lalu mendapati Derren
berdiri dan memandangku dengan tatapan nanar.
Aku
kngen kamu Derren
“Samperin Derren gih” Bisik Ayu, seseorang yang sudah
mengisi hari-hari Derren 1 tahun ini dan seseorang yang membuat aku sama Derren
jauh saat ini, karna keccemburuan Ayu saat itu.
“Aku nggak mau Yu, bikin kamu sakit hati lagi”
Ayu meraih tanganku dan menarik kearah Derren “Aku
nggak mau jadi orang yang paling jahat di dunia ini, yang tega memisahkan kedua
sahabat yang saling menyayangi satu sama lainnya” Ayu memelukku dengan erat,
aku membalas pelukan Ayu yang begitu hangat akan ketulusannya.
“Makasih udah jagain Derren buat aku” Bisik Ayu, aku
hanya menangguk. Ayu pergi meninggalkan aku dengan Derren dikerumunan
orang-orang. Aku menatap Derren dengan pandangan nanar, aku berusaha menahan
air mataku agar tidak jatuh. Tapi semua usahaku sia-sia, buliran air keluar
dari mataku dan mengalir pelan di pipiku.
“Maafin aku” Derren mengusap air mataku, aku menahan
tangannya untuk terus menyentuh pipiku. Aku terisak “Jangan pergi lagi”. Derren
mengusap air mataku dan mengusap-usap kepalaku dengan lembut.
“Sore semuanya…” Sambut ketua panitia
“Nah sebelum kita berangkat kita mau ada chit-chat
tentang pengalaman cerita seru kalian semua nih yang ada disini. Tentang karir,
teman, keluarga, sahabat, gebetan, pacar, ataupun mantan. Bebas deh, kita
sharing aja, ada yang mau mencerita kisah menariknya” Lanjut ketua panitia.
Seketika suasana hening, tak ada seorang pun yang
mengacungkan tangnnya. Tiba-tiba aku melihat seseorang maju kedepan dengan
penuh keyakinan. Aku dan Derren saling memandang.
“Ayu mau ngpain ?” Tanya aku, Derren hanya menganggkat
bahunya pandangannya focus ke Ayu.
“Hallo semua..” Ayu mulai membuka suara
“Namaku Ayu, aku bukan alumni sini tapi aku kesini
karna diajak seseorang. Aku berdiri didepan sini bukan untuk berbagi cerita
indah…” Ayu terdiam sesaat
“Tapi aku mau minta maaf sama seseorang, seseorang
yang udah aku hancurin perasaannya dan seseorang yang udah aku ambil sebagian
dari kebahagiannya. Padahal dia orang yang baik, meskipun dia itu jutek dan
cuek. dia slalu merelakan kebahagiannya demi kebahagian orang lain. Sekali lagi
Ayu benar-benar minta maaf atas segala kesalahan Ayu dan keegoisan Ayu yang
bikin Kak Flo kehilangan sahabat..” Ayu mulai terisak, aku terdiam sesaat.
Aku berlari menghampiri Ayu dan menarik dia untuk
beranjak dari situ.
“Ayu minta maaf..”Ucapnya sekali lagi.
“Dari dulu aku udah maafin kamu, kamu nggak perlu
nglakuin ini Yu,” Ayu semakin terisak, Aku memeluknya dengan erat. Derren ikut
memeluk kami dan membawa kita kembali ke tempat. Disini aku tidak bisa bicara
banyak, Aku melihat tatapan Ayu yang penuh rasa takut dan penyesalan yang
begitu dalam.
“Ayu kamu kereeeeeen…..” Ucap Ketua Panitia beserta
iringan tepuk tangan semua orang.
“Meminta maaf itu bukan suatu yang rendah kok
teman-teman, kata maaf itu emang simple tapi itu semua penuh arti yang dalam
dan ketika kita meminta maaf jangan hanya sekedar minta maaf saja lalu mengulang kesalahan yang
sama.”
“Nah sekarang ada lagi yang mau maju kedepan ?” Tanya
ketua panitia. Lalu suasana menjadi hening kembali.
“Oke sepertinya udah nggak ada yang maju lagi kalo
begitu mari kita berdoa sama-sama untuk keberangkatan kita semoga kita slamat
sampai tujuan, berdoa menurut kepercayaan masing-masing dimulai”
Setelah selesai berdoa, kami semua berangkat, Ayu
masih setengah terisak namun keadaanya lebih baik. Aku satu Bus dengan Ayu dan
Derren, aku mendapat set sendiri. Memang semua terasa sakit dan luka itu masih
membekas dengan jelas, tapi aku tak pantas memarahi Ayu. Karna mungkin aku akan
sama seperti Ayu ketika orang yang dia cintai terlalu memperdulikan sahabatnya,
dan hanya sedikit memiliki waktu untuknya.
Tenggorokanku masih terasa sakit dan batuk masih setia
mengikutiku. Aku melihat Ayu sudah terlelap begitu juga Derren. Aku memejamkan
mata, hawanya begitu dingin. Aku merasakan lajunya mobil makin kencang.
////
Aku membuka mataku, aku liat sekeliling tidak ada
seorang pun aku melihat ke jendela semua orang sedang duduk dan makan. Aku
sadar kalau ini berada di tempat istirahat, perutku merasakan lapar. Ku dapati
jaket Derren berada ditubuhku, aku keluar mencari Derren dan Ayu. Disamping bus
sebelah terdengar keributan, aku menghampiri kerumanan orang-orang. Aku tidak
bisa melihat sama sekali, karna terlalu ramai.
“Eh ada apa sih ?” Tanyaku
“Itu si ceweknya Derren berantem sama Ceweknya Dimas”
Jawabnya, aku terkejut dan menerobos dikeramaian yang begitu padat. Aku
meliihat Ayu begitu marah dan sedang dipegang oleh beberapa orang.
“Ini ada apa ya ?” Tanyaku, Dimas terkejut melihatku.
Aku melihat Dimas dengan tatapn malu.
“Kak, kakak tuh harus tau. Orang yang slama ini
jelek-jelekin kakak itu ya si nenek lampir..” Ayu menunjuk lurus kearah
ceweknya Dimas.
“Dia yang bilang kalo kakak ini suka ngrebut cowok
orang, egois, yang nggak pernah rela sahabatnya punya cowok” Lanjut Ayu dengan
nada tinggi.
“Eh,..kamu jangan main fitnah aku ya, aku nggak tau
apa-apa kan disini. Mana coba buktinya” Timpal ceweknya Dimas dengan nada lebih
tinggi
“Oh lo minta bukti sama gue, oke fine gue kasih” Ayu
merogoh kantongnya, mengambil handphonenya.
“Cukup..!” Teriak aku dengan nada lantang.
“Aku udah tau semua, apa yang kalian lakukan ke aku
slama ini. Aku udah tau semua, aku nggak nyangka ya sama kamu, siapa kamu
namanya ? “Tanyaku sama cewek Dimas, namun dia enggan menjawab pertanyaanku.
“Okelah lah what ever, kamu itu kenapa sih sama aku ?
aku punya salah apa sama kamu ? HAH ? selama ini aku nggak pernah ngusik
kehidupan kamu sedikitpun ya”
“Karna kamu udah ambil Dimas dari aku” Sentak cewek
itu
“Ngambil Dimas ?” Aku Tanya heran
“Mending kamu Tanya sendiri sama pacar kamu ini, makanya kalo punya cowok
jangan sok kegantengan” Lanjutku dengan sewot.
“Kasihan ya hidup lo, Cuma sibuk ngurusin urusan
orang” Timpalku lagi dan pergi meninggalkan kerumanan orang itu. Rasa kesal dan
amarah memuncak sampai ubun-ubun. Tapi aku berusaha untuk menahannya agar tidak meledak begitu saja.
Aku masuk ke toilet begitu lama, lalu aku keluar
dengan masih dengan rasa kesal dan amarah. Setelah keluar dari toilet ada
seseorang menabrakku.
“Lo bisa nggak sih jalan matanya dipake” Bentakku
dengan ketus, aku pergi tanpa melihat mukanya lagi.
“Eh tunggu..”Teriak orang itu, aku tak
memperdulikannya sehingga dia menarik tanganku. Aku terkejut ketika mengetahui
siapa orang itu sebenarnya.
“Lo kenapa sih hah ? marah-marah nggak jelas gitu ?”
Tanyanya
“Lo ngapain disini ?” Tanyaku balik
“Orang nanya tuh dijawab bukan balik nanya lagi”
Jawabnya
“Andrian..”Lirikku
“Lo kenapa Flo ?” Tanyanya dengan nada rendah, aku
hanya menggelengkan kepala dan menunduk melangkah menjauh.
“Jangan bilang karna cowo brengsek itu lagi” Teriak
Adrian dengan nada penuh dengan amarah. Aku mendelik kesal terhadap Adrian,
namun Adrian tak memperdulikanku. Adrian berlari kearah seseorang yang berada
dalam pikirannya.
Bruuukkk…pukulan Adrian melayang kearah mukanya.
Aku berlari kearah Adrian dan menariknya, “Adrian
cukup” Teriakku dengan sedikit nada gemetar.
“Cowo kaya dia itu harus dikasih pelajaran biar nggak
seenak jidat nyakitin hati cewe, biar nggak sok kegantengan” Timpal Adrian yang
hendak memukulnya lagi.
“Kenapa sih lo jadi orang bego banget, otak itu dipake
bukan otot yang dipake” aku bentak Adrian dengan nada tinggi dan aku pergi
meminggalkan kerumanan orang-orang. Bus melanjutkan
perjalanan, aku melihat Adrian terduduk lemas dengan ditemani Mytha yang akan
menjadi pendamping hidup Adrian nanti dan untuk selamanya.
Aku menerima pesan dari Mytha “Maafin sikap Adrian ya
Flo, dia udah bikin lo malu” aku terdiam sejenak, dan aku mencoba memejamkan
mata untuk melupakan semuanya dan meredahkan emosi.
///
Setelah tiba di hotel aku membersihkan diri dan
sarapan, aku melihat Dimas duduk sendiri sambil memegang bibirnya. Aku menghampiri
Dimas dengan membawakan segelas Teh hangat.
“Hai…” Sapaku, Dimas tak meresponku dia hanya menerima
gelas yang ku bawa.
“Aku minta maaf atas kelakuan Adrian terhadap kamu”
aku mengulurkan tanganku untuk meminta maaf namun Dimas tak menerima uluran
tanganku. Aku terdiam, aku mengerti mungkin Dimas masih merasa kesal, aku
memalingkan tubuhku dan pergi meninggalkannya.
“Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu..” Ucap
Dimas, membuat aku menghentikan langkahku.
“Andai dulu aku nggak membuat kamu jatuh cinta sama
aku mungkin nggak akan terjadi seperti ini, harusnya aku jujur sama kamu dari
dulu kalau aku sudah punya yang lain. Tapi aku jujur, saat itu aku takut takut
kehilangan kamu. Kamu datang disaat dimana aku butuh seseorang yang bikin aku
nyaman dan aku bisa menjadi diri aku sendiri. Cuma kamu yang bisa membuat aku
seperti itu.” Lanjut Dimas
“Yang lalu biarlah berlalu Dims, aku udah maafin kamu.
Seharusnya kamu bisa menyelesaikan urusanmu, karna didunia ini kita hanya bisa
memiliki 1 orang yang akan mendampingimu seumur hidupmu” aku menatapnya dengan
senyum, lalu pergi meninggalkannya. Dia kembali terduduk lemas, dengan tatapan
kosong.
Perasaanku kini menjadi lebih baik, setelah semua
masalah diselesaikan. Mungkin Bila benar, kalau aku harus bisa memulai membuka
pintu hati ini untuk yang lain.
Derren menyambutku dengan senyuman, dia
mengajak aku gabung dengan yang lain yang sedang asik mengobrol. Aku hanya
tersenyum ketika Ayu membuat lelucon, aku benar-benar tak ingin tuk tertawa. Aku
pergi diam-diam dari kerumunan itu dan pergi ke taman belakang hotel yang
begitu indah, embun dan kabut pagi masih menyelimuti pagi ini.
“Nggak baik, nglamun dipagi hari entar ayam tetangga
pada mati lagi” ucap seseorang dari balik pohon, yang membuatku sedikit
terkejut. Dia masih focus untuk memotret pemandangan yang berada dihadapannya.
“Raihan ?” Lirikku, dia menoleh dan tersenyum.
“Kamu ngpain disini ?” Tanyaku dengan senang
“Aku lagi cari inspirasi” Jawab Raihan yang masih focus
dengan kameranya.
“Kamu sama siapa disini?” Tanyaku lagi
“Sama anak-anak” jawabnya simple, dan terus focus
dengan kameranya. Aku memandangnya dengan lekat, dari hati kecilku aku sangat
merindukannya. Setelah satu tahun aku tidak komunikasi dengannya. Aku tersenyum
kecil melihatnya memainkan kamera kesayangannya. Aku menatap lurus kedepan, “Tuhan, apakah rasa yang sedikit hadir
untuknya itu palsu?” gumamku dalam hati “Jika
itu palsu, maka hapuslah rasa ini”
“Flo…” Panggil Raihan pelan, aku hanya menoleh dengan
senyuman
“Apakah urusanmu dengannya sudah kelar?” Tanya Raihan
serius
“Aku udah mengikhlaskannya Rai” Jawabku
“Kamu mau nunggu aku, sampai aku balik lagi nanti dan
menyelesaikan segala urusanku ?”
Aku terdiam mendengar semua perkataan Raihan. Raihan perpaling
menatapku, aku menatapnya balik. Aku tersenyum dan menangguk pelan, Raihan
meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya,
inialah kisah pagiku yang begitu indah, dengan tetesan embun dan kabut yang
masih menyelimuti pagi ini.
Dan aku berdoa "Tuhan
jangan biarkan rasaku dan rasanya menjadi sebuah kepalsuan yang akan membuat
kita sakit hati".