PART VI (
Ending )
EMBUN***
Padahal
masih pagi tapi hujan udah turun aja, aku malas beranjak dari tempat tidur ini
aku masih ingin bersembunyi dibalik hangatnya selimut. Ku lihat jam beker
menunjukkan pukul setengah 6, andai hari ini tidak ada ujian aku lebih milih
bolos sekolah. Udara begitu dingin hingga menusuk sampai tulangku, aku berjalan
menuju kamar mandi dengan malas. Aku merasakan suasana rumah tampak sepi, biasa
Abang dan Kakak sudah duduk diruang keluarga tapi hari ini tidak dan ku lihat kamar
Kakak tampak gelap. Aku mencarinya kesana kemari tapi tidak ku temukan, pagi
ini terasa beda biasanya kakak slalu teriak-teriak, usil kepadaku sikapnya gak
berubah meskipun Abang dan Bang Yayang udah tinggal disini. Dimeja makan hanya
ada Bang Yayang yang lagi sibuk menata sarapan, hari ini terasa aneh
Bude,Pakde, Abang dan kakak kemana ?.
“Bang Yayang,
semua orang pada kemana sih ? kok sepi banget ? “ Tanyaku sambil clangak
clinguk. “Pakde sama Bude pergi ke Bogor tadi pagi-pagi, Abang juga pergi ke
kampus pagi-pagi, dan Bang Rangga juga.” Jawab Bang Yayang, aku hanya
manggut-manggut walau sedikit bingung. Ada apa sama mereka ? kenapa mereka
mendadak jadi misterius, Bang Yayang juga terlihat aneh hari ini tapi mungkin
ini hanya perasaanku aja.
“Dek, kamu
bareng aku aja kan Abang udah berangkat” Kata Bang Yayang , pengen banget sih bareng sama dia
tapi pasti dia bareng Kak Dara dan gak mungkin banget 1 motor bertiga. “Gak deh
Bang ade bareng Bang Akbar aja” aku menghela nafas, “Akbar berangkat sama Dara
jadi kamu bareng sama aku kita naik taksi aja soalnya masih ujan tuh” aku
dengan cepat menyelesaikan sarapan dan merapihkan meja makan, taksi udah
menunggu didepan aku keluar pintu biasanya ada kakak didepan sedang menunggu
aku dengan sabar dan muka sedikit jutek. Padahal baru berapa jam aku ditinggal
kakak tapi rasanya aku kangen banget sama dia, perasaanku menjadi tidak tenang
bayangan kakak terus melintas dibenakku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam
Bang Yayang pun hanya diam sekali-kali aku meliriknya, aku tau mungkin dia
khawatir sama Milli yang gak pernah ada kabar.
Setelah
membayar uang taksi dia pergi begitu saja menembus rintik hujan tanpa sadar ada
aku yang membukakan payung untuknya. Aku tau kemana dia pergi, dia pasti pergi
ke kelasnya Milli berharap dia sudah duduk dibangkunya. Aku sedikit iri sama
Milli semua orang tertuju sama dia termasuk Kakak dan Abang-abangku bahkan
Akbar juga tak menoleh kearahku saat dia melintas didepanku. Gak gak boleh aku
berfikiran seperti itu mereka kan slalu sayang sama aku, ya mereka slalu sayang
sama aku pokoknya aku gak boleh negative thinking. Aku menghela nafas panjang
dan melanjutkan jalan menuju kelas, kelas Nampak masih sepi walau jam pelajaran
mau mulai mungkin merasa masih dijalan terjebak macet. Aku melihat bangku Fio
masih kosong, apa dia tidak masuk sekolah ? tapi kan jam pertama dan kedua ada
ulangan harian. Walaupun Fio tidak suka pelajaran Matematika sama Fisika aku
yakin dia tetap semangat mengerjakannya. Aku coba kirim pesan kepadanya gak ada
balesan aku telfon pun gak diangkat sama sekali, fikiran aku mendadak tidak
tenang bel masuk telah berbunyi tapi Fio tidak menampakkan diri juga. Aku
merasakan tidak tenang Fio gak ada kabar sama sekali aku gelisah, khawatir
takut terjadi apa-apa sama Fio.
Fiiuuhhh..aku
mengambil nafas panjang hari ini menegangkan untukku, bukan karena ujian tadi
tapi karna tidak ada kabar dari Fio. Jam istirahat aku sibuk mondar-mandir
kemari mencari Bang Rangga tapi hari ini dia gak masuk, ada apa ? Apa Fio sakit
? ku coba telpon tapi nomornya gak aktif. Aku mencari Kak Fajar, mungkin dia
udah masuk sekolah dan aku bisa menanyakan keadaan Milli. Tapi, ternyata diapun
udah ijin sekolah dari minggu kemarin, aku mencari Kak Dara, Akbar dan Bang
Yayang tapi mereka juga gak ada. Ada apa sih sebenarnya ? Kenapa semua mencoba
menghilang kenapa semua orang menghindar dari aku. Aku kira setelah semuanya
berkumpul kebahagianku sempurna tapi tidak, semua orang mendadak menjadi
misterius. Hari ini sekolah pulang lebih cepat karna semua guru mau ada rapat,
aku melihat mobil Akbar sudah tidak ada diparkiran depan sekolah. Aku coba
telpon Bang Yayang gak diangkat mungkin dia lagi sama Kak Dara, aku coba telpon
Kakak juga gak ada jawaban.
Mungkin
Kakak lagi sibuk sama kuliahnya, mending aku samperin ke kampusnya aja. Dengan
semangat aku menuju kampusnya, kampus ini udah gak asing buat aku jadi aku
tidak begitu sulit untuk menelusuri kampus ini aku mendatangi setiap sudut
kampus yang biasa kakak nongkrong bersama teman-temannya tapi gak aku berfikir
dimana lagi aku harus pergi akhirnya aku ingat perpustakaan yang belum aku
kunjungi. Sampai disana pun nihil kakak gak ada, aku hampir patah semangat.
Perutku mulai lapar dan tenggorokanku kering aku melihat jam menunjukkan pukul
12 siang pantas saja perutku mulai lapar. Aku menuju kantin untuk mengisi
perutku dulu, aku melewati musholah niatnya aku mau sholat dulu tapi musholah
masih ramai mungkin nanti aja setelah makan baru aku sholat.
Ibu kantin
disini sudah ada yang kenal sama aku, dia menyapa dengan ramah aku cukup nyaman
walaupun tadi cukup risih karna banyak yang melihatku masuk kampus ini sendiri
tanpa kakak. Aku tidak perlu memesan makan karna Ibu kantin yang terkenal
cerewet sudah hafal makan siangku, beberapa menit kemudian nasi goreng special
+ es milo hinggap didepan mataku. Dengan lahap aku memakannya, seketika aku
melihat bayangan Kakak terlintas dibenakku aku membayangkan dia lagi duduk
didepanku dan menyuruhku menghabiskan makanan ini. Aku ingin menangis , selera
makanku langsung hilang aku diam dan menundukkan kepala berusaha menahan air
mata yang mau jatuh. “Embun kamu kenapa ? kok makannya udahan ? makanan ibu gak
enak ya ?” Tanya Ibu kantin yang mungkin dari tadi memperhatikan gerak-gerik
aku.
“Aku gak
kenapa-kenapa kok, oh ya Bu Ibu lihat Kakak gak ?” Tanya ku semangat, aku
berharap dapat jawaban yang cukup membuatku lega. “Gak, hari ini kan Nak Acel
gak masuk kuliah” Jawab Ibu kantin “Eh, Mbun Ibu kesana dulu ya banyak yang
beli, kamu lanjutin makan Ibu tinggal ya” Ibu kantin langsung pergi tanpa mau
mendengar ucapan terima kasihku. Sebenarnya kakak kemana sih ? kenapa semua
orang menghilang ? kenapa semuanya pergi begitu aja ? gak ada kabar gak ada
pesan.
“Hai Mbun,”
Bau aroma maskulin yang khas banget, aku menoleh kearahnya dia tersenyum hingga
lesung pipitnya terlihat. “Hai Kak” sapa ku balik.
“Kok
sendirian, Marcel mana ?” Tanya sambil menenggak minuman kalengnya. “Loh, Emang
Kak Adrian gak tau Kak Marcel dimana?” Tanyaku balik, dia mengeritkan alisnya
dia lalu menggelengkan kepalanya. Aku udah gak bisa lagi membendung air mataku
perlahan buliran air mataku jatuh, kepalaku menunduk lemas. Aku merasakan
belaian lembut dikepalaku, Kak Adrian berusaha menenangkanku. “Kamu tenang ya
kita cari sama-sama, tapi kita tunggu Celline dulu ya” Ucapnya, aku menolah
kearahnya dia tersenyum tulus. Dia dan Kak Celline adalah sahabat Kakak
dikampus ya walaupun Kak Adrian dan Kak Celline pacaran udah lama tapi mereka
bisa menempatkan diri dimana untuk pacar dan dimana untuk sahabat dan juga
dimana untuk adik, yaitu aku. Kak Adrian suka menggantikan posisi Kakak kalo
kadang sibuk dengan urusan kuliahnya, Kak Adrian juga pernah menghadiri rapat
wali disekolahku dan dia waliku. Kata Kak Adrian rapat itu membosankan tapi ini
semua demi aku dan Kakak, aku sangat menyanyanginya. Setelah Kak Celline datang
kita pergi mencari Kakak, tempat pertama yang kita kunjungi adalah tempat kakak
bekerja saat ini yaitu di toko buku langganan aku , tapi kata managernya untuk
3 hari kedepan kakak udah ambil cuti. Lalu kita ke café tempat kakak pernah part
time disana, di café juga kakak gak ada. Aku, Kak Adrian dan Kak Celline
mencari kesana kemari tapi gak ada hasil. Hari mulai gelap akhirnya pencarian
kami cukup sampai disini, aku pulang diantar sama Kak Adrian dan Kak Celline.
Aku melihat rumahku masih gelap, apa dirumah gak ada orang ? mereka semua
kemana ? Apa mereka semua sibuk mencari Milli ? Apa Pakde dan Bude juga ikutan
? telponku berbunyi ada pesan masuk aku berharap itu Kakak, tapi aku melihat
itu dari Bude dia bilang dia dan Pakde akan menginap di Bogor beberapa hari
karna ada urusan.
“Mbun, kita
temenin kamu ya sampai ada salah satu keluarga kamu pulang” Ucap Kak Celline,
aku hanya menangguk aku lelah dan aku cape untuk hari ini. Kak Adrian pergi
kearah dapur aku gak tau dia ngpain disana, hanya terdengar aduan suara panci
dan air. Aku mencoba ngcek telfon rumah tapi tak ada pesan satu pun, Kak Adrian
memasak air dengan daun sereh dia menyuruhku mandi dengan air itu. Aku senang
karna masih ada yang perduli denganku, malam ini aku tidur ditemani mereka
karna sampai tengah malam pun Kakak dan Abang-Abangku tidak pulang. Mungkin
mereka sudah lupa kalau mereka punya aku, ya walaupun aku mengerti mereka semua
sedang khawatir sama Milli tapi gak seharusnya mereka lupa punya aku. Aku, Kak
Adrian dan Kak Celline tidur diruang TV aku sengaja menggelar kasur disana biar
aku tidak ketakutan karna petir yang kapan saja bisa datang.
***
Suara
brisik didapur membangunkanku, aku melihat gak ada Kak Celline ditempatnya dan
aku melihat Kak Adrian masih tertidur disofa. Mungkin Kak Celline lagi nyiapin
sarapan untuk kami, aku juga yakin dia pasti lagi bikin pasta. Karna katanya
dia “Aku Cuma bisa masak pasta” Dia
itu sedikit judes tapi dia juga lembut. Aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah
karna hari ini ada ulangan Kewarganegaraan, aku berharap disana bisa ketemu
Fio, Akbar, Kak Dara, ataupun Abang-abangku syukur-syukur ketemu Milli. Dengan
semangat aku pergi kesekolah dan menghabiskan pasta yang udah disiapin Kak
Celline, aku berusaha melupakan kejadian yang membuatku sedih saat menyantap
pasta buatan Kak Celline karna pastanya enak banget. Ke sekolah aku diantar
sama Kak Adrian dan Kak Celline, dan sepulang sekolah aku akan melanjutkan
mencari Kakak.
Sebelum bel
berbunyi aku mencari Akbar tapi ternyata dia gak masuk dan yang lainnya pun gak
masuk. Untung saja pelajaran hari ini cepat berlalu, Kak Adrian sudah
menungguku didepan sekolah. tapi aku tidak melihat Kak Celline bersamanya, aku
Tanya kenapa kak Celline gak ikut ternyata dia ada kuis di kampus yang gak bisa
ditinggal. Hari ini aku pergi ke rumah Akbar terlebih dahulu ternyata rumahnya
kosong, begitu juga rumahnya Fio cuma ada Kang Ujang tukang kebon Fio. Dia juga
gak tau kemana Fio dan Bang Rangga katanya dari kemarin gak pulang. Hampir
putus asa aku mencari mereka, dan aku teringat kemana aku harus pergi ketika
aku melihat toko bunga milik keluarga Milli. “Kak kita pergi kerumahnya Milli
aja siapa tau mereka disana” usulku penuh semangat. “Loh bukannya rumah itu
udah kosong ya beberapa minggu yang lalu?”Tanya Kak Adrian, “Kita coba aja kak”
Ucapku sambil memohon, kak Adrian hanya tersenyum tanda setuju.
Jarak toko
bunga milik keluarga Milli dengan rumahnya tidak begitu jauh, sesampai disana
aku melihat rumahnya setengah terbakar disana pun banyak orang berdatangan dan
hanya ada 3 mobil pemadam kebakaran. Disana aku melihat Akbar, Kak Dara, Bang
Yayang dan kakak serta kak Fajar yang lagi panik. Aku menghampiri mereka dan
menanyakan apa yang terjadi, Kakak menjawab dengan nada bergetar kalau Milli
masih berada didalam. Aku melihat kekhawatiran dimata Kakak dan Bang Yayang,
segitu pentingkah Milli buat mereka aku melihat kobaran api didepanku. Aku
berlari menuju pintu belakang semoga masih ada jalan masuk kerumah itu,
ternyata benar pintu belakang masih terbuka dan masih bisa ditembus aku berlari
ke lantai 2 untuk mencari Milli. Milli tergletak pingsan di depan pintu
kamarnya, api terus meramba kemana-mana aku berusaha sekuat mungkin untuk
menyelamatkan Milli dan memberikan kebahagian untuk Kakak dan Abangku. Kakiku
terpeleset dan terguling dari tangga bersama Milli, saat aku mau bangkit kakiku
tertiban guci yang jatuh. Sakit serasa kakiku tak mampu bergerak lagi tapi aku
berusaha sekuat mungkin untuk membawa kebahagian mereka, aku gak mau mereka
sedih dan gelisah seperti kemarin. Dengan sisa tenaga yang kumiliki aku keluar
dari jendela samping rumah Milli, aku dibantu oleh petugas pemadam kebakaran
kesadaranku mulai menepis. Aku mendengar semua orang memanggil Milli aku tak
mendengar orang memanggil namaku kecuali suara Kak Adrian yang begitu panik
setelah itu aku gak mendengar apapun.
***
Kepalaku
terasa pusing, pandanganku masih sedikit buram aku melihat seseorang tertidur
disampingku dengan erat memegang tanganku. Terima kasih karna udah mau
menjagaku saat seperti ini, ku elus kepalanya dengan pelan aku tak ingin
membangunkannya. Kemudian dia menggerakkan kepalanya dan mengucek-ucek matanya,
aku memberinya senyum dan mengucapkan selamat pagi.
“Gue seneng
Mbun lo udah sadar, kenapa sih lo nekat gitu aja ? tanpa pamit lagi sama gue.
Sekarang lo bilang mana yang sakit ? mana ? bilang sama gue” Ucapnya dengan
mata yang mulai memerah. “ Gue gak apa-apa Cuma sakit sedikit doang kok, Gue
nglakuin ini buat kakak-kakak gue dan semua orang yang sayang sama Milli
termasuk lo Bang” walaupun sebenarnya aku sakit hati ketika aku sadar gak ada
Kakak disamping aku, tapi aku tetap bersyukur kok masih ada yang mau menunggu
aku sampai aku siuman. Aku slalu berdoa setiap waktu agar aku diberi umur
panjang untuk bisa melihat ketiga kakakku slalu tersenyum dan bahagia. Aku juga
slalu berdoa agar Akbar terus ada disampingku dan menjadi penghuni hati yang
kosong ini, mungkin aku udah mulai jatuh cinta padanya.
ADRIAN***
Belakangan
ini banyak kejadian yang buat gue tidak mengerti cape dan lelah, dan sekarang
gue melihat ada sesuatu yang aneh antara Embun dan Marcel. Semenjak semuanya
terungkap mereka menjadi jauh bahkan Embun sedikit terlupakan. Mungkin Milli
lebih membutuhkan Marcel dan Tyan tapi gak seharusnya mereka melupakan Embun,
mereka sama-sama dirawat di Rumah sakit yang sama. Tapi, gue melihat Embun
terbaring seorang diri gak ada yang nemenin dia, bahkan sahabat terdekatnya pun
tidak ada disamping. Gue menengok keruangan sebelah disana Milli masih tertidur
dan dikelilingi orang-orang yang mungkin sangat menyayanginya. Gue ngurungin
niat untuk jenguk Milli, gue lebih milih seseorang yang lagi sendiri dan gue yakin
dia butuh banget seseorang untuk menemaninya. Gue berjalan pelan agar tidak
menganggunya saat beristirahat, gue memperhatikan raut wajahnya gue tau dia
sedih tapi dia berusaha tegar dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tanpa
terasa air mata gue jatuh dan menempel dijari telunjuk Embun, bagai tertetes
air mendidih Embun langsung menggerakkan tangannya dan bangun. Dengan spontan
gue membalikkan badan dan mengusap air mata gue, dengan cepat gue berbalik
badan dan Embun tersenyum dengan berusaha menahan air matanya yang mau jatuh.
“Embun
tidak apa-apa, Kak Adrian gak boleh sedih ya” Ucapnya hati gue sakit saat
mendengar ucapan itu, gue tau dia bohong dan dia sebenarnya kenapa-napa. Embun
berusaha duduk, ketika gue mau membantunya bahasa tubuh Embun menolak. Hati gue
semakin sakit, gue duduk disampingnya menatap matanya dalam-dalam gue pengen
tau seberapa sakitnya dia. “Kak, Embun boleh gak peluk Kak Adrian” Pintanya
kepalanya menunduk aku melihat ada sesuatu yang mulai menetes ditangannya, gue
menariknya dan memeluknya. Dia menangis semakin keras, gue tau dia sedang
teriak tapi tak bersuara karna dia teriak dalam hati. Gue mohon ya Tuhan jangan
pernah kau ambil adikku, walau dia bukan adik kandungku tapi aku menyayanginya
sebagai adik kandung ku sendiri.
“Haiii,,”
Suara Celline membuyarkan suasana sedih dikamar Embun, Celline tertegun dia
mengucapkan maaf. Aku menghampirinya dan memeluknya, “Gak usah minta maaf, aku
sayang kamu.”Bisikku, gue hanya khawatir dia salah paham atas kejadian ini.
Celline melepaskan pelukannya dan memeluk Embun, gue mendengar isakan Celline
dan gue pun melihat air mata Embun terjatuh. Gue berusaha memeluk kedua wanita
yang sama-sama gue sayang, “Mbun sayang kalian semua, jangan pernah tinggalin
Mbun sendiri dan makasih untuk semua yang kalian kasih sama Mbun beberapa hari
ini. Embun akan minta sama Allah agar kalian berjodoh, please Mbun mohon kalian
jangan pernah pergi dari Mbun apapun yang terjadi sama kalian nanti, karna
Embun sayang sama kalian. Dan Mbun titip surat yang ada dilaci ” Bisik Embun,
membuat suasana makin hening yang ku dengar hanya detakan jarum jam yang
tertempel didinding.
Gue
merasakan pelukan Embun semakin longgar, genggaman tangan kirinya semakin
melemah dan tangan kanannya terlepas dari punggung gue. Tubuhnya dingin,
mukanya pucat pasi, dia tak berdaya, Celline teriak histeris membangunkan Embun
dan gue berlari mencari dokter. Hati gue gak tenang gue bolak-balik depan
pintu, Celline terus terisak dalam tangisnya gue gak tau harus berbuat apa.
Dokter keluar dari ruangan Embun dan membawa Embun dengan terburu-buru, gue dan
Celline mengikuti kemana arah Embun pergi dan dia dimasukan dalam ruang ICU.
Celline semakin histeris melihat kondisi Embun yang makin melemah, gue tau ini
berat buat gue tapi gue berusaha tegar gue gak boleh lemah. Gue berusaha
memenangkan Celline, derap kaki terdengar mendekat gue melihat Marcel dan Tyan.
Celline menatapnya penuh dengan kebencian, gue yakin Celline gak suka melihat
keberadaan mereka.
“Yan, Embun
gimana ?” Tanya Marcel dengan panik, “Ngapain lo nanya-nanya keadaan Embun ?
gue Tanya ngapain hah, selama ini lo dan lo kemana aja hah ? kemana gue Tanya
?” Tanya balik Celline dengan nada yang penuh amarah. “Eh, lo jaga tuh mulut”
Bentak Tyan.
“Oh ya, gue
gak perduli selama ini kalian kemana ? kalian terlalu sibuk dengan urusan cinta
kalian sehingga kalian melupakan seseorang yang saat itu butuh kalian,
sampai-sampai dia rela ngorbanin nyawanya buat nylametin nyawa cewek yang lo
cinta Cel. Dia gak perduli sama kobaran api yang menghadangnya, dan disaat dia
butuh lo lo malah berlari kearah tuh cewek yang udah bikin lo jatuh cinta, dan
selama dia dirawat disini apa lo udah pernah nemuin dia ? belom kan ? keadaan
dia aja lo gak tau gimana ? harusnya dari kemarin lo Tanya gimana keadaan
Embun, bukan sekarang yang udah sekarat. Padahal lo tau kan Cel Embun punya
lemah jantung, dan lo tega nglakuin ini semua sama PRINCES lo” Celline berusaha
meluapkan amarahnya terhadap Marcel, dan rasanya gue juga pengen banget nonjok
muka dia. Suara pintu terbuka sedikit meredahkan amarah gue, dokter keluar
dengan muka sedikit sendu.
“Pah,
gimana keadaan Embun ?” Tanya gue sama papah, ya dokter itu adalah papah gue
sendiri, gue minta dia untuk menangani Embun sampai dia bener-bener pulih.
“Embun dia
akan koma sampai waktu yang tidak ditentukan dan……” Papa memutuskan bicaranya
gue dan yang lain memilih diam berharap papa menunggu papa melanjutkannya.
“..kaki Embun lumpuh sampai waktu yang tidak bisa ditentukan” lanjut papah,
Celline jatuh pingsan mungkin dia membuat dia cukup shock. Gue kelabakan gue
panik, gue langsung bawa Celline ke ruangan Papa. Celline masih belum sadarkan
diri hari udah mulai magrib, aku terteguh mendengar suara adzan. Dulu kata
almahurma kakek kalo kita lagi sedih dan pikiran kita gak tenang alangkah
baiknya kita slalu mengingat-Nya, yang maha agung yang Maha Kuasa dan Yang Maha
penyayang. Gue mulai mengambil wudhu dan menghadapNya, gue berharap Allah mau
mengampuni segala dos ague selama ini yang slalu meninggalkan perintahnya.
“Ya Allah,
hamba tau hamba jarang menghadapMu hamba tau hamba adalah hambaMu yang berlumur
dosa. Tapi hamba mohon ya Allah, sembuhkanlah Embun dan jagalah Celline untuk
hamba jadikanlah dia jodohku ya Allah, hamba sangat mencintainya.” Isi dalam
doaku, ternyata benar seusai sholat hati ini terasa tenang. Gue gak sadar
Celline berada dibelakang gue dan dia sedang sholat dengan khusu’ gue
melihatnya begitu tenang, aku gak tau kapan dia terbangun mungkin saking
khusu’nya gue shalat gue gka sadar dia udah bangun dan melaksanakan sholat
maghrib.
Seusai
shalat magrib gue dan Celline pergi beli makan sebelum menjenguk Embun,
perjalanan menuju kantin melintasi ruangan dimana Milli dirawat. Celline
berhenti dan mengintip lewat jendela, disana Milli sedang terbaring lemah gue
tau air matanya mengalir diujung matanya. Sebenarnya gue pengen banget
maki-maki dia dan marah sama dia, tapi gue sadar ini semua bukan kesalahannya
lagi pula dia juga gak sengaja lakuin ini semua.
“Ayo kita
pergi” Ajak Celline, gue hanya nangguk dan mengikuti langkah kaki Celline. Di
kantin gue liat Marcel duduk melamun sambil mengaduk-aduk hot coklat
kesukaanya, Celline meminta gue agar duduk jangan berdekatan dengan Marcel
karna dia belum siap untuk bertatap dengan Marcel lagi setelah kejadian tadi.
Gue slalu memohon sama Allah agar semua cepat kembali normal, Embun yang slalu
ceria,suka usil, dan kadang bersembunyi dibalik buku untuk menutupi
kesedihannya, Marcel yang bijak, penyanyang dan juga konyol, dia yang slalu gue
semangat dan bangkit ketika gue merasa putus asa.
MARCEL***
Rasa
bersalah dan menyesal slalu menyelimuti gue, gue merasa gak berguna menjadi
seorang kakak, yang tega membiarkan adiknya sendiri melawan rasa sakit itu. Ya
Allah, ampuni semua dosa ini yang kau limpahkan amarah Engkau kepada adik
hamba. Seluruh ruangan yang ada di rumah ini, slalu ada tentang dia, dimana dia
tertawa,menangis, dan merenggek layaknya anak kecil. “Maafin kakak dek, maafin
kakak” lirih gue yang terus memeluk boneka kesayangan Embun. Hari ini langit
mendung hari pun menjadi gelap, di teras rumah Milli sudah menunggu, keadaan
Milli cepat pulih, sedangkan Embun masih koma di rumah sakit hampir 1 bulan.
Hari ini gue nemenin Milli ke buih dimana tempat ayahnya dipenjara karna kasus
penipuan dan perampokan yang pernah dilakukannya, gue sudah melupakan segala
dendam yang dulu pernah gue simpan.
Di buih
suasana penuh tangis, Ayahnya Milli terus-terusan minta maaf sama gue, gue
berusaha menahan emosi karna dengan tiba-tiba dendam itu muncul lagi ketika gue
melihat wajahnya ayahnya Milli. Telfon gue berdering gue lihat dilayar HP
Caller ID Rangga, dengan sedikit menjauh dari Milli gue mengangkat telfon. “
Halo, ada apa Ga?” Tanya gue “ Bang cepat ke Rumah sakit Bang keadaan Ade
kritis Bang” Jawab Rangga dari sebrang telfon. Degg, jantung gue seketika
berhenti sejenak, ada apa dengan Embun.
“Cel, Embun
kenapa ?” Tanya Milli, “Mil, kamu udah selesai ?” Tanya gue balik, Milli hanya
menangguk. Gue menarik Milli menuju parkiran dan dengan injakan gas yang full
gue menuju Rumah sakit, gue gak perduli dengan teriakan Milli yang beberapa
kali menyuruh gue pelan-pelan. Yang ada diotak gue saat ini hanya Embun dan
cepat sampai di Rumah sakit.
Setelah
menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya gue dan Milli sampai juga, dengan
langkah setengah lari gue ke ruangan Embun dirawat. Tyan, Rangga, dan Adrian
terlihat mondar-mandir, Akbar lagi menenangkan Fio yang terus terisak, Dara dan
Celline duduk dengan rasa cemas. “ Rangga, gimana keadaan Ade ?” Tanya gue, “
Ade lagi ditanganin dokter Bang, tadi dia sempet manggil nama Abang” jawab
Rangga, gue marah gue emosi kenapa, kenapa gue slalu gak ada disamping Embun
disaat dia butuh gue. Kepalan tangan gue, beradu dengan pilar tebal yang belum
selesai di lapisi semen yang berdiri disamping gue. “Brrruukkkkk”
“Marcel”
teriak semua orang, darah gue perlahan mengalir dari sela-sela jari gue. “Loe
itu bodoh, lo itu bodoh Cel, kalo Embun tau loe kaya gini Embun pasti sedih
Cel,dia pasti sedih” Bentak Dara suaranya setengah gemetar, “Please Cel, jangan
loe tambah beban Embun dengan loe bersikap seperti ini, please” Adrian menatap
gue penuh dengan harap, gue terduduk lemas, gue gak terus-terusan menyalahkan
diri gue sendiri, ini memang semua salah gue. Dokter keluar dari ruangan Embun,
“Dok, gimana keadaan Embun ?” Tanya gue dan gue berharap Embun baik-baik aja. “
Embunn,,,,” Dokter berhenti dan menghela nafasnya, “Kamu yang tabah ya Cel, Om
udah berusaha sekuat Om tapi Allah berkehendak lain” Jawab Dokter, gak ini
semua gak mungkin ini semua gak mungkin, gue masuk ruang ICU Embun terlihat
pucet, tubuhnya dingin, gue peluk dia rasanya gue gak sanggup kehilangan dia,
gue gak sanggup. “Dek, bangun kamu gak boleh ningglin kakak Dek, ade kakak
mohon sama kamu kamu banguuunnnnn,,” Teriak gue yang terus menggoyangkan
tubuhnya, gue melihat lipatan surat dari Embun yang belum sempat gue baca.
“Mbun, loe
kenapa harus tinggalin gue Mbun, gue cinta sama loe, katanya loe janji gak akan
ninggalin gue Mbun, gue gak butuh sahabat lagi karna gue udah punya Fio dan
Milli sebagai sahabat gue, gue butuh loe sebagai penghuni hati gue yang kosong
Mbun, please bangun Mbun, bangun” Isakan Akbar, ternyata dia benar-benar cinta
sama Mbun
“Dek,
bangun Abang kan belum nepatin janji Abang buat bawa kamu ke puncak, bangun
bangun” suasana makin terasa haru, gue merasakan gerakan jari Embun, gerak naik
turun. “Dek, ade” Panggil gue berharap Allah kasih kekuatan terhadap Embun
untuk membuka matanya. Mata Embun perlahan bergerak dan membuka matanya, dia
tersenyum, gue memeluknya dan mengucapkan syukur karna gue masih bisa melihat
senyum Embun.
“Kakak,
kenapa nangis ? kalian juga kenapa nangis ? Embun jahat ya sama kalian yang
udah buat kalian nangis” Ucap Embun seperti dia saat Embun kecil ketika dia
sakit demam tinggi.
Berkali-kali
Embun senyum dia terus mengamati sekelilingnya ketika Om Indra mau
memeriksanya, Embun menolak untuk dicek kondisinya, dia bilang kalau dia
baik-baik saja. Matanya terhenti terhadap Milli, Milli menyeka sisa-sisa air
matanya, dia mendekati Embun. Entah apa yang dibisikan Embun terhadapnya, Milli
hanya memeluk Embun dengan penuh isakan yang semakin keras. “Mbem, loe mending
gak usah banyak bicara dulu, loe istirahat, lo harus sembuh, dan kembali lagi
sama kita seperti dulu” Ujar Milli dengan nada sedikit emosi.
“Bang
Akbar” Panggil Embun “ Iya Mbun, ada apa ?” jawab Akbar, Embun hanya
menggelengkan kepalanya, dia tersenyum air matanya mengalir disudut matanya.
Gue menghapus air mata yang menghiasi wajah Embun, dia selalu tersenyum ketika
gue menyentuhnya seolah-olah dia senang kalo gue yang slalu menyentuhnya.
Mungkin benar apa kata Celline, Embun benar-benar kehilangan gue, darah
ditangan gue masih mengalir hingga menetes di pipi Embun. “ Tangan Kakak kenapa
? Sini biar Embun yang obatin tangannya” Pinta Embun, Tyan memberikan kotak P3K
pada Embun, entah apa yang gue rasa saat ini, rasanya gue berada sangat jauh
sama Embun. Seperti biasa dia dengan teliti membersihkan darah yang mengalir
dari sela-sela jari gue, membalutnya dengan rapi dan bersih. Selesai diperban
tangan gue dicium Embun, air matanya terasa hangat ditangan gue. Gue memeluknya
dengan erat serasa gue gak mau pisah sama Embun, “Ya Allah, berilah Embun satu
kesempatan lagi untuk menjalani hidup ini dan berilah Hamba kesempatan untuk
menjaganya lebih baik lagi” lirih gue, pelukkan Embun merenggang dan tubuhnya
terkulai dalam pelukan gue. Gue teriak dengan sekuat tenaga gue, membangunkan
Embun, namun tak ada respon sedikitpun.
“Sebaiknya
kalian keluar dulu, biar saya periksa kondisi Embun” Pinta Om Indra, tapi gue
gak mau melepaskan Embun sedikit pun, gue memeluknya dengan erat. “Cel, kita
keluar yuk, kasihan Embun dia gak bisa nafas Cel” Milli berusaha membujuk gue,
tapi gue gak mau melepas Embun gue mau, ini terlalu berat buat gue. “Cel, loe
gak boleh egois dalam keadaan seperti ini, bukan waktu yang tepat untuk loe
mempertahankan ego loe” Ucap Dara, dia memang orang yang dewasa bisa berfikiran
jernih dalam keadaan apapun. Perlahan gue menidurkan Embun di tempatnya, gue
dan yang lain keluar dari ruangan Embun. Tapi kaki gue masih berat untuk
melangkah, semakin menjauh gue merasa semakin jauh pula dengan Embun serasa ada
dinding yang tebal yang memisahkan kita. Selang 30 menit kemudian, Om Indra
keluar dengan raut wajah sedih, gue bertanya apa yang terjadi sama Embun. Om
Indra hanya menjawab “ Tadi adalah seulas senyum Embun yang terakhir” Deg,,gak
mungkin ini semua terjadi, gak mungkin Embun benar-benar pergi. Jezanah Embun
dibawa pulang sore ini juga, gue gak sanggup untuk menatap wajah Embun yang
terbalut kain kafan.
Keesokan
harinya pemakaman Embun berjalan dengan lancar, kesedihan terlihat dimata-mata
teman Embun. Kata mereka Embun kadang suka nyebelin tapi dia orang yang baik,
pintar dan suka menolong. Hari terus berlalu semua senyum Embun suara tawa dia
masih terdengar jelas ditelinga gue. Setiap pagi pun gue masih suka menyiapkan
seragam dan sarapan untuk dia, Rangga mendadak menjadi diam, dia berbicara kalau
penting aja, Tyan masih mengurung dirinya dikamar Embun dia gak makan dan
minum. Bahkan, Akbar masih suka menunggu 15 menit didepan rumah seolah-olah
Embun masih ada. Air mata tak henti mengalir ketika gue membaca halaman demi
halaman buku diary Embun selama gue sibuk dan gak memperhatikan dia lagi sampai
dia menghempus nafas terakhir.
“Abang”
suara gedoran pintu membuyarkan lamunan gue, terdengar suara Bude dibalik pintu
kamar, “Ada apa Bude ?” Tanya gue, “ Abang didepan ada teman-teman Abang dan
juga teman-teman Embun” ujar Bude, “ Iya suruh mereka tunggu aja, Abang mau
cuci muka dulu” gue menghela nafas panjang, rasanya gue masih ingin bersembunyi
dibalik dinding kamar gue. Disana terlihat ramai dan terlihat Akbar sedang
mengganti bunga Anggrek di vas yang terpajang diatas TV disamping foto Embun
dan dia saat mereka sedang wisata di Bandung.
“Ra, loe
bisa gak bujuk Tyan suruh keluar kamar udah 2 minggu dia gak keluar kamar”
Pinta gue sama Dara, “Emang dia masih belum keluar kamar juga, dan dia masih dikamar
Embun?” Tanya Dara, gue hanya mengangguk. Dara berjalan menaiki tangga, harapan
gue Cuma sama dia semoga dia bisa membujuk Tyan untuk keluar dari kamar.
“Kalian tumben rame-rame kesini ada apa ?” Tanya gue, “Gak ada apa-apa kok Cel,
kita Cuma kangen sama Embun dan juga pengen tau keadaan kalian” Jawab Fajar.
“Oh ya Cel,
Rangga mana ?” Tanya Milli, “Rangga mungkin dikamar bentar lagi juga turun kok”
Jawab gue, gue lihat Akbar masih tertegun berdiri melihat foto Embun. Gue tau
ini berat buat Akbar kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamanya, gak hanya
Akbar tapi juga semua orang semua hanya diam memandangi rumah ini dan
memperhatikan setiap sudutnya. Setelah selang 1 jam akhirnya Tyan keluar kamar
badannya terlihat kurus dan terlihat lingkaran hitam dimatanya, mungkin dia
kurang tidur. Dara menuntunnya ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat dengan
potongan daun sereh untuk Tyan mandi. Dara memang slalu perduli dengan keadaan
keluarga gue saat dulu Embun sakit, gue sakit dia yang slalu sibuk merawat kita.
“kak, gue
sayang sama Embun ?” Lirih Akbar sambil memeluk foto Embun, isakan tangis
terdengar dari Akbar. “Bar, kita semua sayang Embun, loe gak boleh kaya gini
terus kasihan Embun” Gue berusaha menenangkan Akbar, walaupun gue masih belum
bisa move on dari keadaan ini. Embun terlalu berarti dalam hidup gue. Semua
orang berkumpul diruang keluarga tiba-tiba terdengar teriakan Bude dari kebun
belakang gue langsung lari ke belakang, bukan bude yang gue dapet namun sebuah
kue Tar yang mendarat halus dimuka gue akibat lemparan dari raja tri point
Adrian.
Suara
ucapan ulang tahun terdengar serempak, ternyata mereka semua merencanakan ini
semua gue lupa kalau hari ini ultah gue. Mungkin karna gue terbiasa dapet ucapan
dari Embun pas jam 12 malam yang slalu bikin gue inget kalo hari ini hari ulang
tahun gue. “ Embun, Kakak kangen sama kamu” Lirih gue, tanpa terasa air mata gue
menetes.
“Loe gak
boleh nangis Cel, loe seharusnya bahagia karna ini semua ide dari Embun dan
permintaan Embun yang terakhir, untuk membuat Abang pertamanya slalu tersenyum
ketika mengingat tentang Embun bukan dengan air mata” Ucap Celline.
“Iya Bang,
Embun gak ingin kita terus menangisi kepergian dia karna suatu saat ada pelangi
setelah hujan” Ujar Tyan, gue tau dia juga ingin menangis. Namun, dia berusaha
tersenyum dihari ulang tahun gue, Rangga pun sama dia menahan air matanya agar
tidak terjatuh dihari ini.
“Oh iya,
gue masih punya satu kejutan lagi buat ketiga Abang Embun yang paling Baik,
Kece, dan Cool kalo kata Embun ya, kalo kata gue sih biasa aja” Pidato Adrian
yang sedikit tengil cirri khasnya.
“Mungkin
ini yang dimaksud ada pelangi setelah hujan menurut Embun” Sambung Celline,
Adrian menepukkan tangannya 3X dari samping rumah keluar seorang gadis berhijab
yang terus menundukkan kepalanya berjalan pelan dibelakang terlihat Bude dan
dan Pakde yang mengikutinya. Gadis itu mulai mendekat namun dia masih tertunduk
dan enggan mengangkat kepalanya.
“Setetes
Embun dipagi hari akan berlalu menyambut Langit yang cerah menghiasi bumi
menemani teriknya matahari” Lirih Dara
“Maksud
kamu apa ?” Tanya Tyan, Dara hanya diam dan menggelengkan kepala, “Sebenarnya
kamu siapa ?”Tanya Rangga kepada gadis itu, dia tak menjawab tapi gue tau dia
lagi menangis. Dia terlihat gugup tangannya terus meremas-remas ujung bajunya.
“Abang,
Yayang, Rangga apa kalian masih ingat sodara kembar Embun ?” Tanya Bude,
“Masih” Jawab gue bertiga serempak
“Nama dia
siapa ?” Tanya Bude lagi, “Langit Annisa Darmawan” Jawab Serempak, “Tapi , kata
ayah dulu bukannya Langit udah meninggal, karna sakit” Ujar gue ngasal karna
gue semakin gak ngerti akan pembicaraan dan pertanyaan tentang Alm. Langit.
“Tidak Bang, inilah Langit” Kata Bude sambil mendonggakkan kepala gadis yang
berada di sampingnya. Ya, dia mirip seperti Embun, namun sedikit berbeda karna
dia pakai hijab. Matanya penuh air, pipinya basah, mata dia mirip Embun dia
memang benar-benar masih ada dia masih ada. Rangga langsung memeluk gadis itu,
gue tau ikatan batin Rangga dan Langit dulu sangat kuat. Bahkan Embun saudara
kembarnya tidak sekuat itu, makasih ya Allah atas keajaiban yang Engkau berikan
kepadaku. Gue memeluk Langit dan Rangga, Tyan ikut dalam pelukkan itu. Gue
melepaskan pelukkan itu, “ Bude, bukankah dulu Langit tidak dapat melihat dan
punya penyakit jantung ?” Tanya Gue, Bude hanya diam, Langit kasih gue selembar
kertas. “Baca Cel, maka loe akan tau jawabannya” Pinta Adrian.
Dear Kakak aku yang
paling baik J
Kak, Ade minta maaf
ya kalo Ade banyak salah sama Kakak, sama Abang, sama Bang Yayank juga. Mungkin
pas Kakak baca surat ini, bukan Ade yang disamping Kalian tapi Langit. Langit
berhak dapatkan semuanya yang selama ini dia gak pernah dapat, kasih sayang
seorang Kakak yang baik kaya kalian semua. Ade ikhlas mendonorkan mata dan
jantung ade buat Langit, Ade mohon sayangilah Langit sebagai adanya Langit,
bukan karna kepergian Ade.
I LOVE U ALL
Salam sayang :*
Embun
Dada ini
terasa sesak, entah apa yang harus gue ucap syukur apa gue harus menangis. Gue
mau marah, tapi gue gak tau harus marah sama siapa ini sulit buat gue. Tapi,
bagaimana pun gue harus bisa membiasakan diri dengan adanya Langit di kehidupan
gue saat ini.
“Jika
kalian belum bisa menerima aku dalam kehidupan kalian, aku rela menunggu untuk
kalian bisa menerima aku bukan karna permintaan dari Embun” Ucap Langit,
senyumnya tulus aku melihat pancaran mata Embun.
“Gak
Langit, kamu itu adik kakak, kamu itu bukan pengganti Embun kamu adalah kamu”
Tekas gue
“Dan kamu
adalah Langit” Sambung Rangga
“Embun itu
ada dipagi hari ketika pagi berlalu maka Langit akan memancarkan warnanya yang
cerah, dia datang sebagai Langit bukan sebagai Embun” Sambung Tyan
LANGIT***
Embun,
terima kasih atas semua yang kau beri selama ini kasih sayangmu, ketulusanmu.
Aku janji akan menjaga mereka dengan caraku sendiri bukan menjadi seorang
Embun, terima kasih atas support yang slalu kamu beri untukku. Dan terima kasih
untuk seulas senyum Embun yang kau beri dimalam itu untuk Langit.
------------------------- TAMAT ------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar