Hujan tak kunjung henti, aku berdiri menatap kosong kearah butiran air yang terjatuh dengan cepat membasahi tanah. Entah kemana aku akan pergi melangkahkan kaki semua terasa berat untuk aku lalui tapi ini lah kenyataan yang harus aku hadapi. Kenyataan dimana aku harus meninggalkan orang yang begitu baik kepadaku, tapi aku tidak mau menyakitinya lebih dalam lagi.
Sudah 5 bulan setelah aku meninggalkan dia, masih ada rasa
sesal yang tersimpan dihati ini tapi aku tak mungkin untuk kembali ke rasa itu
lagi. Sesuatu yang tak terduga pun terjadi selama belakangan ini, seseorang
yang aku suka sejak masih duduk dibangku SMA. Tanpa aku duga-duga dia
menyatakan perasaannya kepadaku. Ini terlihat aneh dan seperti mimpi, aku terus
membaca history chat bersamanya. Aku menghela nafas dengan berat, Inikah cinta
yang ku mau ? Dering telpon berbunyi dan aku menatap layar handphone dengan
caller ID “Andri”
“Halo Ndri”
“Halo Flo, Lagi
dimana?”
“Lagi dirumah kenapa?”
“Besok jadi ikut
meeting nggak ?”
“Jadi, jangan lupa aku nyampe stasiun jam 8.15”
“Oke”
Aku menatap tiket kereta untuk kebrangkatan jam 04.45 pagi,
aku bergegas merapihkan barang-barang yang akan aku bawa ke kampung. Sekolahku
akan mengadakan reuni akbar untuk angkatanku dan angkatan 2th diatasku. Yang
berarti aku akan bertemu dengannya, ada rasa senang menyelimuti hati ini. Tapi
ada rasa takut juga yang menyelimuti hati ini, yaitu takut kecewa karna dia terlalu
tertutup atau mungkin aku yang terlalu berharap.
Kereta mulai bergerak dan meninggalkan kota Jakarta yang
penuh kemacetan dan penuh kepenatan yang menyelimuti pikiranku belakangan ini,
hanya butuh waktu 2 jam aku sampai tujuan. Disana aku melihat Andri duduk
dibangku pintu keluar, dia tersenyum dengan sedikit menguap.
“Ndri, kita mampir ke mini market bentar yuk sekalian nunggu
Ayah”
“Loh kok ketemuan sama Ayah buat apa ?”
“Buat ngambil barang bawaan aku, biar kita nggak usah
bolak-balik udah jam segini takut nggak sempet ke sekolah”
“Oke..”
Sampai di Mini Market aku langsung masuk untuk membeli
minuman dan numpang cuci muka serta merapikan penampilanku. Ketika aku keluar
Ayah dan adik sepupuku sudah menunggu, aku langsung pamit dan pergi ke sekolah
bersama Andri.
“Neng, mau pulang jam berapa?” Tanya Ayah
“Nggak tau, nggak usah masak nanti Neng makan diluar aja
Yah”
“Yadah hati-hati ya”
Aku berjalan beriringan dengan Ayahku sampai persimpangan
yang menuju kearah sekolahku. Hatiku mulai berdebar tak menentu aku memikirkan
gimana aku harus bersikap dihadapannya nanti. Karna aku tau dia ikut andil
menjadi panitia diacara ini, awalnya aku juga nggak ikut untuk jadi panitia
diacara ini. Tapi tiba-tiba mantan ketua OSIS angkatanku dulu mengajak kelasku untuk
ikut jadi panitia.
Ketika memasuki gerbang sekolah detak jantungku makin
kencang dan kaki mendadak lemas. Aku melihat jam menunjukan pukul 09.15, aku
telat 15 menit. Aku dan Andri berlarian menuju ke ruang pertemuan yang
teletaknya dipaling ujung.
Suara brisik karna aku menabrak pintu bersamaan dengan Andri
aku terjatuh di depan anak-anak, aku dan Andri bergegas berdiri. Dan kita
akhirnya jadi bahan tertawaan anak-anak di pagi ini, aku hanya tersenyum pahit
sama kesiswaan yang menatap kita dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Flo..Flo..Flo.. kamu lagi kamu lagi”
Aku dan Andri hanya tersenyum kecut
“Berdiri kalian disini dan menghadap kearah teman-teman
kalian”
Andri berdiri dengan santai aku tersenyum ke mantan wali
kelasku yang tersenyum kecut melihat anak didiknya kacau.
“Kenapa kalian terlambat..?”
Suasana mendadak hening, seolah-olah mereka ingin tau
penjelasan dari kita berdua. Aku melihat kearah depan, tepat lurus denganku dan
dia duduk dipaling belakang. Dia ? jantungku langsung berdetak dengan cepat
seolah-olah ada yang sedang bermain drum dihati ini. Dia tersenyum dan tertawa
kecil, aku membalas senyumnya dan seolah tulangku terasa rontok.
“Flo..kenapa kamu malah senyum-senyum ?” Tanya Pak Juna, aku
tersenyum kepada Pak Juna dan menggaruk-garuk kepala yang nggak berasa gatel
sama sekali.
“Tadi keretanya delay 30 menit Pak, jadi tadi nyampe stasiun
agak terlambat”
“Emang kamu berangkat dari mana ? kok pake kereta segala”
“Dari Jakarta Pak”
Pak Juna mengangkat kedua alisnya, lalu dia menatap Andri
dan mencoleknya.
“Kamu kenapa Ndri bisa telat juga ?”
“Jemput Flo Pak” Jawab Andri dengan santai
“Skotjam kalian berdua 10x”
“Masih jaman Pak ?” Tanya kita dengan kompak
“Tambah 10x lagi jadi 20x”
Tanpa panjang lebar lagi kita langsung skotjam, ternyata Pak
Juna dari dulu nggak pernah berubah.
HAHAHA
Suara ketawa terdengar dari pintu dan berlalu melewati depan
kita, aku tidak bisa melihat wajahnya. Ah..sial hari ini benar-benar sial, jadi
terlihat orang bodoh dimata dia. Ketika kelar dan aku berdiri sedikit rasa
pusing aku menggeleng-geleng kepala dan menggenggam erat tangan Andri.
“Flo,kamu nggak apa-apa”
“Nggak”
“Kamu kurang darah ya Flo ?”Tanya Pak Juna dengan nada
sedikit menyesal
“Kayaknya sih pak, tapi aku nggak apa-apa kok”
“Maafin Bapak ya”
“Nggak apa-apa Pak, aku malah bangga sama Bapak. Bapak nggak
pernah berubah”
“Ya sudah kalian berdua duduk dibelakang mereka”
Aku mengambil tas, dan hendak duduk. Aku terkejut ketika
melihat 2 orang yang benar-benar aku sangat kenal.
“Lo berdua ngapain disini”
“Flo, kamu kenal mereka?” Tanya Ibu Yuna
“Kenal banget Bu”
“Flo mereka ini yang akan jadi sponsor kita nanti” Jelas Pak
Juna
Mereka hanya tersenyum-senyum nggak jelas, “Eh Flo masih
jaman lo maenan begituan ?” Ledek Gilang
“Brisik lo Lang “ Aku berlalu pergi sambil mengacak-acak
rambut kedua temanku itu.
Meeting berlangsung sampai jam makan siang, kita break untuk
istirahat sholat dan makan. Ketika di Musholla aku bertemu dengannya, aku
tersenyum senang begitu juga dia.
“Kamu kok nggak bilang sih kalau ikut jadi panitia ?”
“Dadakan kak, baru dua hari yang lalu diajak dan di telpon
sama Ibu Yuna”
“Kenapa nggak minta tolong jemput kakak aja?”
“Kakak sibuk dengan handphone kakak yang satunya, jadi mau
aku nelfon berapa kali pun nggak bakal ada jawaban”
……
“Aku butuh kepastian dan bukti kak, aku nggak mau cinta yang
semu kayak gini, kakak sering ngilang, bahkan kakak nggak pernah jujur sama
aku, kalo kakak punya dua handphone..”
……
“Hati aku bukan permainan kak, aku butuh kejelasan..”
……
Aku meninggalkannya dalam diam, aku menangis didalam Toilet.
Aku merasa lega udah ngluapin semua emosi yang aku simpan dalam hati. Tapi ada
rasa sesal juga, seharusnya aku nggak boleh ngomong kaya gitu. Aku takut
kehilangan dia, dan dia akan pergi ninggalin aku.
Aku masuk ke ruangan lagi dengan muka sedikit sembab, mataku
dan dan matanya bertemu. Dia sedikit kaget dan ingin menghampiriku tapi
temannya menariknya ke tempat perkumpulan kelompoknya. Aku langsung duduk dan
membenamkan muka dikedua tanganku yang aku lipat diatas meja. Rasa perih
dikakiku makin berasa dan membuat kepalaku pusing.
Makin lama, makin ramai suara gelagak tawa di Ruang
pertemuan ini. Aku masih memendamkan muka dan melas mengangkat kepala. Suara
pukulan keras meja membuat aku mengangkat kepala, Andri tertawa puas. Aku
melempar mukanya dengan tisu.
“Tidur di Rumah Flo, bukan disini”
“Rese banget sih lo” Bentakku dengan kesal
“Nih Flo obat-obatan yang kamu minta” Ivan datang dengan
sekotak obat-obatan yang tadi sempat aku minta pas makan siang.
“Thanks ya Van”
“Buat apa Flo ?” Tanya Andri
Aku hanya menyodorkan kaki kananku yang sedikit lecet
gara-gara terpelset tadi distasiun, dan menyerahkan kotak P3K. Supaya Andri mengobati
lukanya, tapi Andri milih untuk pergi kearah kumpulan kakak kelas. Aku melihat
dia berlarian menuju kearahku, aku hendak menyembunyikan kakiku tapi Amad
menarik kakiku agar tetap berada diatas kursi.
“Kamu kenapa yank ?”
“Ahhhhh…so sweet” Suara sorak Gilang dan Mas Bombom yang
baru datang bersamaan dengan dia, aku yakin seyakin-yakinnya sekarang muka aku
merah kaya tomat.
“Oo..jadi ini pacarnya Flo ?”Tanya Mas Bombom iseng
“Oo..jadi beneran ya Flo yang dibilang Citra selama ini ?”
Sambung Pipit
“Lo semua apa-apaan sih, Brisik tau nggak” Cletuk gue, untuk
menutupi rasa gugup
“Yank ?” Dia memasang wajahnya dengan serius
“Kepeleset di Tangga”
Tanpa banyak omong lagi dia mengobati lukaku dengan tenang
dan hati-hati, sekali-kali aku meringis karna perih. Disaat seperti ini,
aku melihat ketulusannya merawatku. Tapi
beberapa kali juga dia membuat hatiku goyang dan bimbang.
“Eh Al, gue mau nanya deh sejak kapan lo berdua jadian ?”
Tanya Ivan iseng sambil melirikku
“Nanti kalo….”
“Belum resmi, masih abstrak” Celaku
“Udah selesai, cepat sembuh ya Flo ! aku kesana dulu” Ucap
dia dan berlalu pergi.
Semua anak-anak menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala,
aku hanya mengangkat bahu. Dan akhirnya aku selamat dari hujatan pertanyaan
mereka,meeting akan berlanjut. Pembagian tugas dan kelompok pun telah selesai,
meeting ditutup inilah meeting final. Karna mulai besok akan mempersiapkan
semuanya untuk pentas lusa nanti tepat dihari ulang tahun sekolah ini.
Semua pulang dan kembali besok untuk memulai segala
aktivitas lebih berat lagi, hari sudah sore. Aku melihatnya sedang berjalan
kearah parkiran untuk mengambil motornya, dan Andri menghampirinya. Isshh..
Andri ngapain lagi sih? Grutu aku, saking kesalnya mencabik-cabik tisu yang ada
ditangan.
“Ndri, kamu abis ngapain ?”
“Dia nggak mau nganterin kamu”
Deg..Seketika hati ini hancur berkeping-keping, kok dia tega
sih. Aku pulang sambil menahan air mata, Andri diam-diam memperhatikan aku dari
kaca spionnya. Dia meraih tanganku dan berusah menenangkan aku, disaat itu
tangisku tak terbendung lagi. Aku memendamkan wajahku di punggung Andri,
punggung Andri basah oleh air mataku. Andri menghentikan motornya, aku masih
terisak dan Andri masih terdiam. Diantara kita hanya ada isak tangisku, Andri
masih membisu dengan tatapannya lurus ke hamparan padi yang bergoyang-goyang
karna angin.
“Kamu sayang banget sama Dia Flo?” Tanya Andri, aku hanya
mengangguk.
“Kalo kamu sayang kenapa kamu ragu sama dia ?”
….
“Bukannya hanya dia yang yakinin kamu, tapi kamu juga harus
bisa yakinin diri kamu sendiri mau jalan lanjut sama dia apa nggak..”
“Ndri…”
Andri hanya terdiam
“Disaat Flo menaruh harapan Flo sama dia, dia melakukan
kebohongan yang membuat hati ini goyang Ndri..”
….
“Dan Flo juga masih menaruh harapan sama dia untuk sekali
lagi, tapi..”
“Nggak ada kata tapi dalam cinta Flo” Andri memotong
perkataanku seolah dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan.
…
“Usap air mata kamu, terus kita pulang..”
Andri memalingkan wajahnya kearahku, dia tersenyum “Mungkin
besok kamu akan tau jawabannya… aku berharap kamu dapetin yang terbaik Flo”
Aku memeluk Andri dan menumpahkan air mataku untuk kesekian
kalinya, hanya Andri yang benar-benar memahami aku saat ini.
Sampai rumah aku langsung mandi dan makan lalu tidur, tengah
malem aku terbangun. Aku melihat handphone ada 20X miscall dari Citra dan 10X
miscall dari Andri serta 5 SMS dari operator. Aku bertanya dalam hati “Kemana
Dia?” apa aku udah nggak punya harapan lagi ? Apa dia sekarang benci sama aku
?” Aku membuang jauh-jauh fikiran itu, dan aku tertidur kembali.
“Flo..bangun….” Suara ketukan jendela membuatku kaget,
terlihat nenekku sedang berdiri sambil megang sapu. Dalam otak gue langsung
berfikir “Nenek gue keren bisa terbang pake sapu kaya Harry Potter” Candaan
yang garing banget dipagi hari.
Handphoneku berdering dengan Caller ID “Citra”
“Hallo Cit”
“Isshh,,kamu kemana
sih Flo ? Bikin khawatir aja deh”
“Sorry aku ketiduran dari jam 7”
“Ooo..hari ini balik
jam berapa ?”
“Gak tau Cit, kan aku harus dekor panggung”
“Yaaah, padahal mau
minta ditemenin”
“Kapan-kapan deh, kan kamu tau aku jadi panitia”
“Are you okey ?”
“Yes, I’m Fine”
“Bohong mulu, bosen
tau. Udahan ah aku mau mandi. BHAY”
Aku hanya tersenyum, aku tau pasti Andri udah cerita
semuanya ke Citra. Aku melihat pesan masuk dari Andri.
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
Aku langsung bergegas bersiap-siap
untuk pergi, ketika aku sarapan terdengar suara kentuk pintu. Ayah dan ibu
sedang di Rumah Bibi, aku mendengar nenekku sedang mengobrol dengan seseorang.
Aku membuka pintu dan sempat terkejut, aku tidak mengenali sosok yang kira-kira
seumuran dengan ayah tapi aku kenal sosok yang disampingnya. Kok bisa ? dia pun
Nampak terkejut, dia sedikit tersenyum. Tapi aku hanya diam, fikiranku mulai
kacau.
“Neng, panggilin Ayah sana” Pinta
nenekku
“Eh iya Made” Sahutku, ketika aku
membalikkan badan Ayahku menghampiriku dan tamunya. Ayah terlihat akrab dan
mengelus-elus kepala anak dari temannya. Aku kembali ke dapur untuk mencuci
tangan.
“Neng sini sebentar” Teriak Ayah
“Iya, sebentar” Dengan cepat aku
mengelap tangan, aku menemui Ayah.
“Ini loh si Neng sekarang udah
gede” Kata Ayah
“Oalah…cantik ya kaya mendiang
Ibunya” Puji pria itu dan aku bersalaman dengannya.
“Ya Alhamdulillah, semuanya
berkah”
“Oh ya, ini anak saya yang paling
bontot namanya Albie” Bapak itu dengan mengelus-elus punggung anaknya.
“Ya..ya ya..Neng kenalan dulu”
Suruh Ayahku
“Udah kenal Yah” Jawabku
“Dimana ?”Tanya Bapak
“Kita satu sekolah Cuma Flo ini
adik kelas aku Pak” Jawab Albie
“Oh ya Yah, Flo harus berangkat
sekarang takut telat”
“Bareng aku ya Flo” Albie
menawarkan dirinya, sebenarnya aku masih malas dengan cowok satu ini. Tapi aku
juga nggak bisa nolak ajakan dia karna nggak enak sama Ayah dan Bapak. Aku
hanya menangguk dan masuk kamar untuk siap-siap, lalu kita pamit.
Sepanjang jalan hanya kesunyian
yang ada diantara kita, aku kira dia akan banyak bicara tapi tidak. Dia hanya
terdiam, dia menghentikan motornya padahal masih beberapa meter lagi baru
sampai sekolah.
“Kenapa berhenti ?” Tanyaku
“Ada yang mau aku omongin”
“Apa ?”
“Aku udah dijodohin sama perempuan
lain”
Deg..!!Apa-apaan sih ini ???
#@$#%#&@
“Disini ada foto dan biodata dia,
dan itu tulisan Ayahnya. Aku nggak mau ada kebohongan lagi diantara kita Flo”
Hanya suara isak tangis
“Please, Flo jangan nangis”
….
“Coba kamu liat isi kotak itu”
Aku hanya menatapnya kosong dengan
mataku yang sembab, aku meraih kotak itu dan berlalu meninggalkannya. Dengan
langkah cepat dan lari-larian kecil aku menuju ke gerbang sekolah dan langsung
menuju ke toilet. Aku segera menghapus air mata yang udah nggak ada gunanya
lagi dan cuci muka. Aku sedikit memakai bedak agar tidak ketahuan karna abis
menangis. Keluar dari toilet aku melihat Andri berdiri dengan Amad menghadap
kearahku.
Aku mengambil kotak yang dikasih
Albie ke mereka.
“Itu foto perempuan yang bakal
dijodohin sama Albie”
“Dalam kotak ini?” Tanya Amad,
Andri merebut kotak itu dan membukanya.
“Serius ?” Tanya Andri, aku hanya
mengangguk.
Amad dan Andri membelalakan
matanya, aku tau pasti mereka sudah tau siapa perempuan itu. Lalu aku
menunjukan gelang yang aku pakai, mereka tersenyum senang dan aku pun tersenyum
senang.
“Selamat ya Flo” Teriak Amad
Aku memeluk mereka, mereka
membalas pelukanku aku tau Andri dan Amad sempat meneteskan air matanya. Kita
bertiga menangis dalam pelukan, makasih Tuhan karna Engkau telah memberikan
orang-orang yang sayang sama aku.
Lalu kita berjingkrak-jingkrak
girang, berputar-putar nggak jelas dan kita berjalan menuju ruang pertemuan
dengan bergandeng tangan dengan jalan kanan kiri kanan kiri nggak jelas. Hari
ini aku nggak mau ada air mata lagi, kita mulai jadi pusat perhatian
orang-orang ketika kita terjatuh bareng-bareng. Semua orang menertawakan kita
dan kita ikut tertawa, hari ini adalah hari dimana kita harus membuat orang
lain tertawa karna kita. Itulah perjanjian kita kalo diantara kita ada yang
lagi beruntung atau bahagia.
“Andri, Flo, Amad, dari pada
kalian begini mending kalian kerjain tugas kalian” Bentak Pak Adi
“Siap Grak”Seru kita bertiga
dengan serentak dan mengambil sikap sempurna layaknya seorang Paskibraka, karna
Pak Adi adalah pembimbing Paskibra disekolah ini.
Semua orang sibuk mondar-mandir
mempersiapkan acara reuni Akbar besok+Charity, aku sibuk mendekor panggung dan
arena games. Matahari semakin terik, kita break dari jam 11 karna hari jum’at
tapi bagi cewek-cewek masih berlanjut melakukan tugas-tugasnya.
“Flo, nanti makan dimana ?” Tanya
Pipit
“Gak tau nih, aku juga bingung
Pit” Jawabku
“Kalian tenang aja, kita dapet
jatah makan kok” Sambung Kak Ayu
“Yang bener kak ?” Tanyaku
“Iya Pacarnya Albie”
Eh..pipiku langsung merah dan
tersenyum malu
“Cieee…Flo..cieeeeee” Ledek Pipit
Kak Ayu dan Pipit menertawakanku
karna mukaku merah menahan malu.
“Kak Ayu nggak usah bikin gosip
deh”
“Tapi kata Albie tadi ngomong gini
Eh Yu nanti kamu bantuin tim Flo untuk
set game ya ? Terus aku jawab iya, emang kenapa Al ? | Gpp titip Flo jangan sampai ada yang ganggu dia, karena dia calon ibu
dari anak-anakku nanti | gitu” Kak
Ayu cerita sambil menirukan gaya Albie, aku dan Pipit ketawa melihat expresi
Kak Ayu yang pasang tampang bloonnya.
“Berarti aku bukan pacarnya kan
kak ?” Aku meyakinankan Kak Ayu
“Sekarepmu ae lah Flo, aku pusing
mikirnya”
HAHAHA..kita tertawa dengan lepas,
aku senang mereka berhenti meledekku. Cerita Kak Ayu membuat aku serasa ingin
terbang ke langit lepas yang sangat biru dan menari bersama burung-burung
disana.
Makanan datang bersamaan orang
shalat jum’at pun pulang, Albie datang bersama Amad dan Andri. Dari dulu sampai
sekarang aku slalu senang saat dia memakai baju koko dengan celana jeans, entah
kenapa aku slalu suka. Aku memandanginya dari jauh, tanpa berkedip dia pun
berbalik memandang dan melambaikan tangan.
“Samperin, jangan diliatin mulu
ntar jatuh tuh bola mata.” Ledek Pipit
“Sial..” Albie datang dengan
senyuman yang bikin rontok tulang-tulang ini.
Aku hanya terdiam memandangnya, entah
bagaimana bisa air mata ini jatuh. Beberapa jam yang lalu dia menghancurkan
hati ini berkeping-keping dan hanya sekejap dia mampu mengumpulkan kepingan itu
dengan utuh kembali bahkan nggak ada cacat sama sekali.
“Hey..kamu kok nangis ? Kenapa ?”
Tanya Albie, aku tak menjawab pertanyaannya. Lidah ini terasa keluh, sulit
untuk berbicara. Albie meletakkan kertas-kertas origami dan meraih tubuh ini
yang tak mampu ku gerakkan lagi. Aku memeluknya dengan erat dan dia pun
memperat pelukannya.
“Maaf kalau sudah membuat kamu
menangis” bisik ALbie
“Jangan pernah ngilang-ngilang
lagi, aku takut…” Hanya itu yang mampu ku ucapkan, rasanya ingin aku hentikan
waktu agar aku bisa merasakan pelukan ini lebih lama lagi.
Andri masuk membawakan nasi kotak
untukku, sedangkan Albie pergi mengambil nasi kotak dan bergabung dengan
teman-temannya. Aku, Amad, Andri, Pipit dan Denis makan sambil bercanda, aku
merasa hidupku cukup sempurna. Setelah kelar makan siang kita semua melanjutkan
pekerjaan masing-masing hingga pukul 7 malam.
“Oke guys..semua persiapan sudah
kelar, semoga besok acaranya lancar dan terima kasih banyak untuk waktu dan
tenaga kalian semua I LOVE U FULL GUYS… oke hari juga sudah malam sekarang
kalian bisa pulang ke rumah masing-masing dan besok balik ke sini jam 6 pagi
untuk persiapan jalan santai terus untuk panitia inti akan menginap disini
untuk pembagian panitia jalan santai dan penjagaan pos, oke sebelum pulang ada
yang mau ditanyakan ?” Terang Pak Adi
“Pak..”Andri angkat tangan
“Iya Ndri..”
“Saya mau satu team sama Flo,
Amad, Denis, sama Pipit Pak” Usul Andri
“Iya Pak kita kan Power Rangger
jadi nggak lucu aja kalo harus pisah” Sambungku
HAHAHAHAHA
“Untuk Amad,Denis, Pit , dan kamu
Flo dan juga kamu Andri memang ada di pos yang sama karna Bapak tau kalian
Power Ranger disini, Tapi maksud Bapak ada pendamping dari Panitia Intinya”
“Ya Udah Pak kalo gitu
pendampingnya Albie aja, biar ada yang lancar PDKTnya” Ledek Pipit sambil
melempar kertas kearahku
“SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUU” Teriak
Kak Ayu dengan keras
“Oke, tapi harus professional
…gimana Albie ? Flo ?” Aku hanya cengar-cengir nggak jelas, Albie hanya
mengajungkan jempolnya.
“Ada lagi ?” Tanya Pak Adi,
“Nggak adaa” Jawab kita kompak
“Oke..sebelum pulang kerumah
masing-masing mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, doa dimulai.”
Aku pulang dianter oleh Albie, dia
tidak ikut menginap karna dia sudah mendapatkan kelompok penjagaan pos untuk
besok. Aku senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan dia malam ini,
sepanjang jalan dia terus menggenggam tanganku. Aku pun tak ingin melepaskan
genggamnya, sepanjang jalan kita hanya diam karna kita ingin menikmati indahnya
malam ini.
Aku bersyukur pagi ini udara cukup
cerah untuk melakukan acara pagi hari ini, aku sibuk menata minuman untuk para
peserta. Aku melihat Albie sibuk mondar-mandir mengambil komando sebagai ketua
regu. Aku masih ingin mengulang hari kemarin, tapi aku sadar waktu takkan bisa
diputar kembali. Acara jalan santai selesai tepat waktu, kini memasuki acara
inti yaitu acara bazar dan pensi.
“Flo….”
Aku mencari-cari suara teriakan
itu, seseorang melambai-lambaikan tangannya berlarian kearahku. Aku pun berlari
kearahnya dan kita seperti teletubis dengan berpelukan kegirangan
jingkrak-jingkrang seperti udah lama nggak ketemu, padahal 2 minggu yang lalu
kita baru ketemu. Aku tau aku dan temanku menjadi pusat perhatian tapi kita tak
perduli.
“Lo kemana aja sih ? Gue dari tadi
nyariin lo tau”
“Ya sorry Ta, tadi gue jadi
panitia jalan santai. Lo nyampe jam berapa ?”
“Gue sampe jam 9..eh gue balik ke ruang
kostum dulu ya, si Abang nungguin gue”
“Oke, salam buat Abang ya”
“Oke”
Aku melihat Albie berjalan
kearahku, dia membawa minuman dengan repot.
“Tadi siapa Flo ?”
“Okta, dia temen aku di Jakarta..”
Albie hanya manggut-manggut
“Boleh aku bantu ?” Tawarku
“Boleh, kamu bawa ini aja yang
nggak terlalu berat”
Aku berjalan beriringan dengan
Albie, aku tau ada yang tidak suka dengan pemandangan ini. Aku berusaha cuek
dan tidak perduli, karna aku sadar yang berada disampingku saat ini adalah
imamku kelak.
“Eh yank, sebentar ya kamu tunggu
disini, kakak mau nganterin minuman ini dulu ke sana ya” Albie sambil menunjuk
ruangan dimana para guru kumpul.
“Kamu tunggu disini dan jangan
kemana-mana” Lanjut Albie, aku hanya mengangguk.
Aku senang bisa bekerja satu team
seperti ini, sebenarnya ini bukan pekerjaanku tapi karna dia sedang kerepotan
jadi aku ingin membantunya. Sebelum dia benar-benar sibuk dengan bandnya nanti,
setidaknya aku bisa mencuri waktu sebentar untuk bisa bersamanya. Albie keluar ditemani
Pak Adi, aduh males banget pasti aku bakal jadi bulan-bulanan Pak Adi.
“Hai Flo, gimana persiapan untuk
games ?” Tanya Pak Adi
“Semua aman Pak” Jawabku
“Bagus, good luck buat kalian ya”
“Thanks Pak” Huffft…aku kira Pak
Adi bakal ngoceh-ngoceh karna aku terlalu dekat sama Albie saat begini, tapi
dia malah kasih semangat.
“Flo kita ke ruang kostum ya
sisanya buat disana”
“Oke Kak”
Sepanjang koridor aku hanya bisa
diam dan sesekali aku meliriknya, aku tak bisa berkata banyak saat ini bersama
dia. Karna diam dalam keadaan seperti ini aku bisa sedikit mengerti akan dia.
“Hai Al, hai Flo..”Sapa Kak Ayu
“Hai Kak” Sapaku balik, aku
melihat ada Okta dan Si Abang CS.
“Eh Al, jangan pacaran
mulu..bentar lagi kita tampil” Timpa Kak Husen
“Oh..jadi ini pacarnya Flo, gue
kira lo bakal setia Flo sama si Jomblo” Seru Bang Randy
“Ish,,apaan sih lo Bang nyamber
aje tuh mulut udeh kaya petir”
“Et dah ya, tuh bahasa betawinye
sampe keluar” Sambung Bang Rangga
HAHAHA, dan untuk kesekian kalinya
aku jadi bahan tertawaan.
“Udah donk, kasihan nih si Flo
dari kemarin jadi bulan-bulanan kalian mulu” Bela Albie sambil merangkul
bahuku.
“Yah elah kak si Flo mah gak papa
jadi bulan-bulanan juga, karna biasanya dia slalu ngbully orang lain” Cletuk
Okta
HAHAHA..aku dan Okta terbahak-bahak,
Albie mengangkat kedua alisnya dan pergi menghampiri Kak Ayu dan berbisik
sesuatu. Rasa penasaran menghampiriku, tapi rasanya nggak sopan untuk menguping
pembicaraan mereka.
“Nah nih dia Flo disini..”Suara
Kak Tama menghentikan suara tawaku.
“Kamu dicariin sama Pak Juna”Kata
Kak Tama
“Oh..thanks Kak.. Eh Ta, gue pergi
dulu ya”
“Eh, lo nggak pamit sama pacar lo
dulu”
“Dia bukan pacar gue Ta..” Okta
mengangkat kedua alisnya, aku hanya menatapnya yang lagi berbicara serius
dengan Kak Ayu.
“Tapi yang Isnya Allah dia bakal
jadi milik gue secara sah” Lanjutku
“HAHA..sok puitis lo” Suara ketawa
Okta membuat orang menengok kearahku.
“Bukannya lo aminin kek, senang
amat lo ngliat gue Jomblo”
“Aminnnnnn…”Suara Bang Randy CS
kompak.
Aku pergi meninggalkan ruangan kostum
tanpa pamit ke Albie, aku pergi menemui Pak Juna. Aku muter-muter menyari Pak
Juna tapi tidak ketemu, kemana dia ? Aku pun nggak tau. Aku pergi ke stand
perusahaan tempat aku bekerja suasana makin siang makin panas dan makin ramai.
Kepalaku seketika pusing, entah kenapa semua jadi berbayang, nafasku tiba-tiba
terasa sesak. Semua semakin memudar, aku mendengar suara riuh gemuru test
drumpun semakin jauh.
Entah aku berada dimana ? kepalaku
terasa masih berat, aku melihat jam pukul 2 siang. Ah ternyata aku pingsan
selama 2 jam, ruangan ini terasa sepi. Aku mendengar suara alunan piano, aku
terdiam mendengarkan dengan seksama alunan ini. Ya ini suara piano yang biasa
dimaenkan Albie dan Bandnya. Aku berjalan keluar merambat memegang tembok.
Kepalaku masih terasa pusing, nafasku masih sedikit sesak. Aku melihat Albie
begitu tenang memainkan piano itu, lagu ini lagu kesukaannya.
“Flo, lo ngpain disini ?..” Suara
Gilang mengagetkanku,
“Lo itu harusnya istirahat bukan
klayapan begini, yuk gue anter ke ruangan lo lagi” Gilang menarik tanganku, dan
saat itu Gilang melepaskan tanganku.
“Gila, badan lo panas banget Flo
muka lo juga jadi pucet banget..” Gilang benar, badanku memang terasa panas,
aku pun merasa mukaku sama. Air mata ku keluar dengan tiba-tiba, aku lemas
terkulai jatuh ke pangkuan Gilang yang sikap menangkapku. Semua gelap aku tidak
bisa melihat apa-apa, tapi telingaku masih bisa mendengar suara Albie berteriak
dan sempat sedikit melihat dia berlari kearahku.
Semua sinar putih datang kepadaku,
entah aku sekarang dimana. Aku hanya bisa mendengar suara isak tangis dari
Ayah, keluargaku dan teman-temanku yang lain. Aku bertanya kepada angin yang
berhembus, aku sekarang dimana ? namun
tak pernah kutemukan jawaban itu. Setiap aku bertanya aku mendengar suara piano
dengan alunan music yang berbeda setiap saatnya.
Kini aku mendengar jeritan dan
isakan tangis Albie, ya itu suaranya. Dia menyentuh tanganku dia menyentuh
tanganku, perlahan aku membuka mata semua masih terasa membayang. Aku merasakan
semua orang berkumpul mengelilingiku, apa yang terjadi denganku ? Ada apa ?
Ketika aku membuka mata, aku mendengar Andri berteriak memanggil dokter. Aku
dimana ? selang beberapa menit dokter datang dan memeriksa keadaanku. Aku terus
memandang wajah Ayahku yang terlihat sangat kusut dan sedih.
“Selamat pagi..” Sapa suster
membawakan makananku beserta obat untukku.
Cuaca hari ini cukup cerah, sisa
hujan semalam masih membekas didedaunan dan ranting pohon-pohon. Aku melihat
bunga mawar pink mekar dengan indah, suster itu tersenyum kepadaku. Seolah dia
mengerti apa ada yang ada difikiranku. Tanpa berbicara dan bertanya, suster itu
melompat keluar lewat jendela dan memetikkan mawar itu untukku.
“Cukup aku dan kamu yang tau oke
!” Seraya suster itu pergi, aku hanya memperhatikan dia dari belakang.
Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku tidak suka memiliki bunga mawar tapi
hanya suka melihatnya dengan embun pagi dan dia yang tertancap ditangkainya.
Tapi, aku menghargai pemberiannya dan bagaimana cara dia mengambil bunga itu.
Hari ini aku akan meninggalkan
ruangan ini dan kembali ke rumah, ada rasa sedih karna hari ini Albie tak bisa
menjemputku. Aku sepanjang hanya terdiam, fikiranku terus dipenuhi olehnya. Dia
kemana ? Kemana Dia ? kenapa dia tidak menjemputku ?
Suasana rumah pun terlihat sepi,
ada apa dengan hari ini ? Apa mereka lupa kalau hari ini aku kembali kerumah.
Ayah menyuruhku masuk ke rumah duluan, dengan malas aku membuka pintu.
SUPRISEEEEE….!!!
Aku tercengang ketika melihat
semua orang kumpul dirumahku, aku melihat balon huruf dengan tulisan “WELCOME
FLO”. Perlahan air mata ini mengalir, aku bahagia dan terharu ternyata banyak
yang perduli dan sayang sama aku. Albie datang dengan rangkaian bunga
ditangannya, kini hatiku bertedak tak menentu. Banyak alunan drum yang menabuh
tak menentu, suasana menjadi sepi hanya ada petikan gitar yang dimainkan Amad.
“Selamat datang kembali sayang”
Albie berkata lembut dan memberikan bunga itu
“Thanks sayang” Aku mencium serangkaian
bunga anggrek putih, Ayah masuk dari pintu belakang bersama seorang pria yang
hampir seumuran dengannya. Dan aku pun tau bahwa itu adalah Ayah dari Albie,
ada apa dia kesini ? Albie berjalan menghampiri Ayahku dengan menggandengku
kehadapannya.
“Yah, aku tau Flo anak
satu-satunya Ayah..” Albie menghembuskan nafasnya, aku bisa merasakan tangannya
yang gemetar.
“Aku minta izin untuk menikahi Flo
untuk menjadi ibu dari anak-anakku” Lanjut Albie
“Ayah restui” Ucap ayah dengan
tegas dan jelas, untuk kedua kalinya aku mengeluarkan air mata ini. Entah
kenapa semua pandangan menjadi gelap dan suara pun menjadi sunyi. Semua seakan
menjauh, ya Tuhan aku tak ingin menghilang dari kebahagian ini, aku tak ingin
pergi dari kebahagian ini.
Suara tangis terdengar
samar-samar, aku membuka mata ku lihat semua orang menangis. Albie memelukku
dengan tangisnya, “Jangan pernah pergi dari hidupku” Aku hanya mengangguk. Terima
kasih ya Tuhan atas semua waktu yang Engkau berikan kepadaku, dan semua rasa
yang Engkau berikan kepadaku.
Teman, sahabat, keluarga dan
seseorang yang aku cintai, mereka adalah hidupku. Aku melihat Albie
melantunakan lagu dengan pianonya, sebuah lagu yang pernah dia janjikan dulu. Andri
tiba-tiba datang dan memelukku, “Selamat ya Flo, aku bahagia banget”.
“Aku sayang sama kamu” Bisikku,
Aku memeluk Andri dengan erat, aku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia. Ayah
ikut memelukku dan Andri, kita berpelukan dalam tangis bahagia. Semua ikut
memelukku, pelukan inilah yang aku butuh dalam hidupku. Pelukan kasih sayang,
sahabat dan cinta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar