Part II
RANGGA***
Sebenernya
sih gue rada males ke Bursa buku kaya gini Cuma karna adek gue aja yang
ngrengek, apa lagi ngliat muka melas Embun yang bikin gue gak bisa nolak. Semua
sibuk dengan buku-buku yang mengelilingi kita, apa lagi Embun dia gak bersuara
sama sekali. Buku itu sahabat yang paling baik bagi Embun.
Gue hanya
duduk dideket jendela, gue focus sebuah mini market yang ada disebrang
sepertinya ada yang aneh, gue terus memperhatikannya. Gak hanya gue yang sadar
akan itu tapi Embun dan Brian juga menyadarinya lalu menghampiri jendela gue
saling berpandang dengan Embun dan Brian syarat kalo gue tau apa yang harus gue
lakuin.
Gue, Embun
dan Brian langsung bergegas lari menuju lokasi. Disusul sama Fio dan Dara.
Ternyata bener dugaan gue mini market itu habis dirampok tanpa basa-basi gue
mengejar perampok itu. Semua mengejar perampok itu dengan berbeda arah dan
berujung di satu titik dimana perampok-perampok itu merasa terkepung.
“Woii,,balikin
gak barang-barang itu “ bentak Embun yang bikin gue kaget. Ya gue tau sih Embun
jago bela diri tapi dia kan pake rok. Keributan pun terjadi, bahkan gak bisa
dihindarin.
“Brian
awass” terikan Embun bikin semuanya berhenti. Dooorrrrr…!!! Peluru telah
menembus lengan Embun, Brian gak berdaya karna kepalanya terbentur batu.
“Embuunnnn……”
teriakan Dara begitu histeris.
Tanpa
basa-basi gue langsung blok taksi yang lewat, dengan perasaan campur aduk gue
nggak ngerti kenapa gue setakut ini, dan sesakit ini ketika melihat mereka terkapar.
***
“Dok,
tolong selamatkan mereka saya mohon dok”
“Iya, kami
akan berusaha semampu kami”
Ini semua
salah gue, andai gue bisa melindungi mereka pasti gak bakal kaya gini. Gue
benci sama diri gue sendiri gu benci.
“Kak,
mereka akan baik-baik aja kan ?” Isakan Fio bikin gue tambah sakit karna gue
gak hanya melukai satu orang tapi gue juga melukai perasaan orang banyak
terutama Marcel. Dulu dia udah pernah nylametin nyawa gue. Tapi, gue gak bisa
melindungi adik kesayangannya.
“Dara,
Embun dimana ? “
“Embun lagi
ditanginin sama dokter”
“Rangga,
kak Brian mana ??” Tanya Milli
“Di dalem
Mill ” Jawab gue lemes.
“Kak Marcel,
ini ketapel milik Embun makasih karna dia udah nylametin aku “ Fio meluk
Marcel, dan ketapel itu gak asing buat gue. Dulu waktu gue kecil gue pernah
bikinin ketapel itu untuk Tyan.
“Yang, nih Abang bikinin kamu ketapel,
kamu kan suka maen ketapel”
“Wah, makasih ya Bang. Yanyang sayang kakak”
“Abang, aku bolehkan belajar main ketapel
juga kaya Bang yayang”
“Boleh sayang, tapi kalo kamu udah gede
nanti ya”
“Tyan”
Lirih gue sambil megang ketapel itu, Marcel menatap gue dengan heran dan gue
menatap Marcell dengan lekat. Gue Cuma mau mastiin kalo dia adalah abang gue
yang gue cari selama ini, kalo dia adalah Marcel gue yang gue sayang selama
ini.
“Dari mana
lo tau nama itu” Tanya Marcel
“Kalo gue
boleh tebak di ketapel itu ada tulisan Kudo “ Marcel langsung melihat ketapel
itu
“Dari mana
lo tau?”
“Kak
Marcell, ini aku Rangga adik kakak yang hilang kak ini gue Rangga “
“Maaf,
disini ada keluarga dari Embun ??” Tanya Dokter
“Saya Dok,
saya kakaknya” Jawab Marcel
“Dia butuh
donor darah AB+ “
“Dok, ambil
darah saya,,saya juga AB+” Gue berharap dengan darah gue, gue bisa nebus
kesalahan gue sama Embun selama ini. Gue menatap Marcel penuh dengan harap
agar dia mau izinin gue untuk donorin darah. Marcell tersenyum, Gue tau
sebenernya dia pengen nangis dan pengen peluk gue tapi dia terlalu gengsi untuk
lakuin itu. Karna dari dulu dia enggan ingin menangis dan terlihat lemah
didepan adik-adiknya. Tapi gue pernah tau dia menangis saat gue sakit dan pada
saat itu gue hampir gak bernyawa. Dia adalah super hiro bagi gue, Tyan dan
Embun.
MILLI***
Mungkin gue
terlalu larut dengan novel-novel kesayangan gue hingga gue gak sadar gue
ditinggalin sama mereka. Gue Tanya sama penjaga ternyata mereka berlarian
menuju gedung-gedung tua itu. Ya dengan berfikir panjang gue menyusul mereka
tanpa sadar gue menabrak seseorang.
“Aduh Mas
sorry-sorry saya gak tau” Mata gue melotot ketika tau siapa yang gue tabrak
SIAL.
“Kalo jalan
liat-liat donk” Bentak dia dengan jutek
“Lo..!!!” Teriak
gue sama cowok yang gue tabrak secara bersamaan.
“Lo itu
bisa gak sih kalo jalan hati-hati gak usah sradak sruduk gitu” Bentakan dia
bikin gue terhenti. Ketika suara itu terdengar jelas ditelinga gue DORRR…!!!!
Gue dan dia
saling menatap, dan arah suara itu dari gedung tua itu. Gue melihat Rangga
menghentikan taksi dengan buru-buru.
“Rangga”
Lirihku, dengan buru-buru gue pengen nyebrang tapi cukup kesulitan untuk
menyebrang karna di pasar rakyat begitu ramai pengunjung. Gue merasakan ada
yang menarik tangan gue, ternyata dia.
“Lo ikut gue
ke rumah sakit kita ketemu Rangga disana aja” Jelasnya
Sepanjang
jalan dia hanya diam dan gue tau sebenarnya dia menahan air matanya. Gue pengen
tau sebenarnya pa yang terjadi, tapi rasanya lidahku kelu untuk berbicara
dengannya.
“Gue Milli”
Akhirnya bisa juga membuka pembicaraan dan memecahkan keheningan
“Gue
Marcel” Dia menyambut tangan gue dengan dingin ya gue rasain tangannya begitu
dingin. Kita tiba dirumah sakit gue mencari sosok Rangga, ternayata mereka
berada di depan ruang ICU.
Rangga
duduk dengan lemas, disana gak ada sosok yang gue cari Brian mana ? Hati gue sakit ketika melihat dia terbaring
lemas. Dan ada kenyataan yang bikin gue kaget di balik kejadian ini ternyata Rangga
bisa menemukan Kakak dan Adiknya yang telah lama hilang.
Tuhan maha
adil, dibalik kejadian pasti ada hikmahnya. Mungkin kalo semua ini gak terjadi,
kemungkinan mereka akan lebih lama lagi mengetahui semua ini. Gue tau sosok
Marcell ketika dia masih menjadi kakak kelas gue dulu.
Menurut gue
dia itu kuat, tapi gak setegar yang gue bayangin. Dia begitu terpuruk karna
melihat adiknya terbaring lemas. Tapi, kenapa dia sesekali melirik ke arah
Brian. Apa dia punya dendam terhadap Brian, apa dia membenci Brian. Gue rasa
gak, karna tatapannya itu adalah tatapan Iba.
“Cel,” Dia
mendongangkan kepala dan tersenyum “ Lo gak usah khawatir, gue yakin Embun
pasti kuat, dia kan anak yang hebat”
“Iya” Hanya
itu yang keluar dari mulutnya. Dara mengulurkan jaket sama Marcel, namun
Marcel tak bergeming. Dara memakaikan jaket itu dan mengelus-ngelus punggung
Marcel, dengan lembut Marcel bersandar dibahu Dara. Jlleeebbb..!! terasa
banget hati ini tertusuk aku gak tau kenapa aku bisa begini. Apa aku cemburu,
apa aku jatuh cinta sama Marcel ? Entahlah rasanya aku ingin menangis sekuat mungkin.
Aku ingin
menjauh namun tanganku dicekal olehnya
seolah-olah aku tak boleh pergi, tapi kenapa kamu harus bersandar dibahu Daea
padahal bahu ku mampu untuk kau bersandar. Tanpa terasa air mataku jatuh
bersamaan air mata yang dijatuhkan Marcel. Mungkin bahu Dara lebih nyaman
untuk dia menangis.
Fio menyandarkan kepalanya dibahuku mungkin dia sedikit ragu, namun aku ingin dia
nyaman bersandar dibahuku. Tak ada suara apapun diantara kita kecuali isak
tangis. Aku gak tau aku menangis untuk siapa, untuk Brian kakakku atau untuk
Marcel tau mungkin karna aku terbawa suasana. Tapi, yang jelas aku gak bisa
melihat Marcel kaya gini.
Lampu ruang
operasi pun mati pertanda operasi kelar, tapi dokter belom juga membuka
pintunya. Rasa gelisah mulai menyelimutiku, aku takut aku takut aku takut
Marcel makin terpuruk. Aku berharap semua berjalan lancar.
Bunyi pintu
membuyarkan suasana hening malam itu, dokter keluar dengan muka sedikit kurang
enak dipandang menurutku.
“Dok,
gimana keadaan adik saya ??” Marcel langsung bangkit kan melepaskan geganggaman
tangannya.
“Operasi
berjalan lancar, tapi keadaan Embun masih kritis kemungkinan dia akan koma
dalam waktu yang tidak bisa ditentukan” Semua sunyi tak ada suara, hanya ku
dengar isak tangis dari Fio.
“Lalu Brian
gimana Dok” Pertanya Marcel bikin semua heran aku menatap Dara dan Fio mereka
hanya mengangkat bahunya.
“Brian
kondisinya stabil, tapi beberapa kali dia menyebut nama Conan”
Conan
“Apa Dok,
Conan ??” Tanya Marcel
“Iya, apa
diantara kalian ada yang bernama Conan atau mungkin julukan atau panggilan
sayang atau apa” Dokter mendeskripsikan nama itu dengan panjang, tapi aku juga
pernah waktu itu Kak Brian mengigau menyebut nama Conan setiap dia demam
tinggi.
“Kapan kita
bisa jenguk Kak Brian ?” Selaku
“Besok, untuk
saat ini biarkan Brian istirahat”
Aku
berfikir kenapa Marcel begitu khawatir dengan Brian, karna setau aku waktu
Marcel masih SMA Marcel itu gak pernah akur sama Brian bahkan musuhan gitu.
Emang sih waktu itu aku sempet mergokin mereka pelukan gitu setelah Brian
keluar dari rumah sakit saat Brian masih kelas 1 SMA.
Aku lelah,
dan aku cape, perlahan ku pejamkan mata. Aku merasa lelah untuk kejadian hari
ini. Banyak yang tidak ku duga pada hari ini dan semua tentang hari ini.
***
Derap
langkah kaki terdengar samar-samar ditelingaku, perlahan ku buka mata seseorang
berdiri didepanku dengan senyuman.
“Pagi Mill ”
Sapa Marcel
“Pagi,,”
Ternyata udah pagi, aku merasa masih ingin sembunyi dibalik selimut dan ingin
merebahkan badan dikasurku yang empuk.
“Gue anterin
lo pulang ya, keliatannya lo cape banget”
“Tapi, gue
mau nungguin kak Brian”
“Mill, Brian
baru bisa dijenguk nanti siang mending lo balik dulu terus istirahat dirumah.”
“Eh, tapi
yang lain kemana ?” Tanyaku sambil clangak clinguk yang tak ku lihat sejak ku
membuka mata.
“Fio dan Dara
sekolah dan Rangga lagi ke kantor polisi untuk memberi penjelasan kejadian
kemarin”
Aku hanya
mengangguk, mungkin hanya Rangga yang tau lebih jelas kejadian kemarin. Jam
menunjukkan pukul 08:00, dan hari ini aku tidak ikut ulangan harian. Harus banget
ujian susulan di kantor.
Sepanjang
jalan aku hanya memejamkan mata dan merebahkan kepala di pundak Marcel, tanpa
ada canggung sedikitpun untukku memeluknya. Tiba-tiba jantungku menari-nari dan
bermain sesuka hati didalam rasanya ada bom yang ingin meledak.
“Heh udah
sampe, udah kali meluknya gak usah modus” Ucapan dia sontak membuat ku terbangun
dan rasa malu menyelemutiku
“Apaan sih
lo, tadi kan gue ketiduran jadi wajar aja kalo gue meluk lo” berusaha ngeles
tapi aku emang sengaja sih.
“Jangan
lupa istirahat” Ucapannya yang penuh senyum terkesan jutek, ternyata bener kata
Akbar dia baik.
MARCEL***
Kejadian
ini berat buat gue, tapi gue juga ngrasain hikmah dibalik kejadian dan gue juga
semakin yakin Brian adalah Ryan adik gue yang hilang. Tapi, kenapa dia merubah
dengan nama Brian dan juga Rangga. Apa dia bener-bener Rangga punya gue ? ya Tuhan,
gue hanya berharap Embun cepet sadar supaya dia tau kalo kita kembali kembali
bersatu.
Rasanya
nyaman banget rebahan diatas tempat tidur ini, gue memandang langit-langit
sejenak mengingat tingkah bodohnya, kata manjanya dan tatapan ketakutannya. Dia
baik, asyik dan gak sesombong yang gue kira.
Setiap
memejamkan mata hanya wajahnya terbayang, dan saat aku membuka mata hanya dia
yang pengen gue lihat pertama kali. Apa mungkin gue jatuh cinta sama dia, gue
gak sengaja menyenggol boneka hingga jatuh.
“Kakak,
kangen kamu dek” Lirihku menahan rasa sakit karna tusukan beribu jarum.
“Bang, Abang....”
panggil bude membuat sedikit terkejut
“Abang
dikamer Ade Bude” sahut gue
“Loh, Abang
kok belum siap-siap ? ini kan udah siang, Emang Abang gak ke rumah sakit ?”
“Iya Bude,
Bude kenapa udah balik dari toko?? Bude gak jualan ?”
“Ditoko
udah ada Dewi yang jagain, gimana keadaan Embun ?”
Gue Cuma
diem, gue gak bisa jawab gue bingung gue harus jawab apa dan gue bingung
bermula dari mana. Apa gue harus bilang Embun koma, Brian itu sebenernya Tyan,
dan Rangga itu adik gue. Gue bingung bermula dari mana. Karna gue yakin Bude
pasti shock banget kalo tau tentang kejadian kemarin.
Mata gue
merah, mencoba menahan amarah, senang, sakit dan sedih berkecamuk menjadi satu.
Gue tau Bude terus memperhatikan mimic muka gue tapi gue gak berani menatapnya.
Bude menepuk-nepuk pundak gue dan mengelus-elus kepala gue seakan dia tau kalo
gue gak bisa berkata apa-apa. Lalu Bude memeluk gue, gue merasakan hangat
pelukkan seorang Ibu, Ya Bude adalah Ibu yang gue punya saat ini.
“Bude sudah
tau semuanya Abang, siapa Brian dan siapa itu Rangga” Gue melepaskan pelukan
menatap pekat matanya tanpa terasa buliran air jatuh dari pelupuk mata gue.
“Menangislah
Bang, jika itu yang ingin Abang lakukan saat ini” Gue merebahkan kepala
dipangkuan Bude, gue rasanya ingin menangis sepuas gue dan teriak sekuat
mungkin. Aku merasa kehilangan kesadaran, semua gelap berbayang dan aku mendengar
samar-samar suara Embun memanggil, tawanya dan ledekannya.
“Dek, kakak
sayang sama kamu” Lirih gue
***
Berat
rasanya aku membuka mata, semua masih terlihat samar pala gue terasa pusing dan
telinga gue juga berdengung. Gue juga merasakan sesuatu di hidung gue seperti
ada yang menghambar salur pernafasan gue.
Sepertinya
gue habis mengalami tidur panjang, gue lihat disekeliling ya, gue masih
tertidur ditempat tidur ini mungkin hanya posisi gue lebih rapi. Gue coba
bangkit namun gue gak mampu, gue benci kalo keadaan gue seperti ini sedangkan
gue harus jaga Embun dan Brian disana.
“Cel, lo
udah bangun ?” Gue hanya menganggukan kepala.
“Lo kurang
tidur ya, sampe-sampe lo begini ?” Expresi muka yang sama yang membuat dia
sedikit marah.
“Iya Ra,
gue gak tidur dua hari ini. Gue juga gak tau kenapa tapi yang jelas sebelum
kejadian ini perasaan gue gak karuan”
“Gue ngerti
kok perasaan lo gimana. Oh y ague kesini karna gue bergantian jaga sama Bude,
disana ada Rangga, Milli ,sama Fio ,dan gue juga bawa ini buat lo”
“Ini apa ?”
Dara hanya diam, gue langsung membukanya ini hasil test DNA gue ,Brian dan
Rangga. Hasil test DNA positif, gue gak tau harus apa tanpa pikir panjang
dengan spontan gue meluk Dara.
“Lo
nglakuin ini semua ?”
“Iya, karna
gue mau memastikan aja untuk lo dan untuk kebahagian lo karna selama ini lo
udah jadi sosok kakak buat gue, yang jagain gue yang tulus sayang sama gue”
“Tapi gue
yakin sih lo nglakuin ini gak Cuma buat gue aja, tapi buat adek gue juga dan
lebih tepatnya sih buat Brian, eh keceplosan ?” Ledek gue
“Apaan sih
lo” Mukanya mulai memerah, ya gue udah lama tau tentang ini. Waktu gue masih
SMA gue sering banget mergokin mata Dara terus mengekori sosok Brian, begitu
juga sebaliknya dan gue yakin mereka saling jatuh cinta Cuma gak ada keberanian
dari mereka aja.
“Ngaku aja
deh lo, gue udah tau dari lama kali” Ledek gue lagi
“Terus
kabar lo sama Milli sejauh mana ??” Dara memutar balikkan pertanyaan yang gue lontarkan
tadi. Membuat gue gak mampu berkata apa-apa.
“Dia juga
sayang tuh sama lo” Ucap Dara sambil membuka bungkus obat satu-satu.
“Sok tau
lo” Timpa gue sekenanya, Dara menyodorkan obat yang telah disiapkannya dari
tadi. Dia terlihat sedang menghela nafas panjangnya.
“Cel,
salah gak sih kalo gue takut kehilangan lo ?” Expresi Dara begitu polos, Dia
hanya menundukkan kepalanya. Gue memandangnya dengan lekat, gue tau dia
menangis, gue tau dia takut, Dia takut ketahuan kalo dia menangis.
”Apa yang
lo takutin ??” Dara hanya diam, menatap gue pun gak dia terus menunduk. Gue
liat kini air matanya mulai berjatuhan di tangannya. Perlahan gue angkat
kepalanya, menatap lekat matanya. Ya gue tau disana ada rasa takut yang
mendalam.
“Loe harus
inget satu hal, apa pun yang terjadi nanti lo tetap sahabat gue dan loe juga
tetap jadi adik kesayangan gue. Loe gak perlu takut karna gue sayang sama lo “
Gue berusaha meyakinkan dia, karna gue tau apa yang terjadi 5 tahun yang lalu
yang membuatnya trauma dan rasa sakit ketika dia harus kehilangan kedua orang
tua dan kakaknya.
Dara memeluk gue dengan erat, dia meluapkan semua
rasa sedihnya. Tanpa terasa air mata gue ikut tumpah, karna apa yang dia rasa
sama seperti yang gue rasa dulu. Sampe sekarang pun gue masih menyimpan dendam
itu.
bersambung....>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar