Kamis, 20 November 2014

SEULAS SENYUM EMBUN



Part II

RANGGA***

Sebenernya sih gue rada males ke Bursa buku kaya gini Cuma karna adek gue aja yang ngrengek, apa lagi ngliat muka melas Embun yang bikin gue gak bisa nolak. Semua sibuk dengan buku-buku yang mengelilingi kita, apa lagi Embun dia gak bersuara sama sekali. Buku itu sahabat yang paling baik bagi Embun.
Gue hanya duduk dideket jendela, gue focus sebuah mini market yang ada disebrang sepertinya ada yang aneh, gue terus memperhatikannya. Gak hanya gue yang sadar akan itu tapi Embun dan Brian juga menyadarinya lalu menghampiri jendela gue saling berpandang dengan Embun dan Brian syarat kalo gue tau apa yang harus gue lakuin.
Gue, Embun dan Brian langsung bergegas lari menuju lokasi. Disusul sama Fio dan Dara. Ternyata bener dugaan gue mini market itu habis dirampok tanpa basa-basi gue mengejar perampok itu. Semua mengejar perampok itu dengan berbeda arah dan berujung di satu titik dimana perampok-perampok itu merasa terkepung.
“Woii,,balikin gak barang-barang itu “ bentak Embun yang bikin gue kaget. Ya gue tau sih Embun jago bela diri tapi dia kan pake rok. Keributan pun terjadi, bahkan gak bisa dihindarin.
“Brian awass” terikan Embun bikin semuanya berhenti. Dooorrrrr…!!! Peluru telah menembus lengan Embun, Brian gak berdaya karna kepalanya terbentur batu.
“Embuunnnn……” teriakan Dara begitu histeris.
Tanpa basa-basi gue langsung blok taksi yang lewat, dengan perasaan campur aduk gue nggak ngerti kenapa gue setakut ini, dan sesakit ini ketika melihat mereka terkapar.

***

“Dok, tolong selamatkan mereka saya mohon dok”
“Iya, kami akan berusaha semampu kami”
Ini semua salah gue, andai gue bisa melindungi mereka pasti gak bakal kaya gini. Gue benci sama diri gue sendiri gu benci.
“Kak, mereka akan baik-baik aja kan ?” Isakan Fio bikin gue tambah sakit karna gue gak hanya melukai satu orang tapi gue juga melukai perasaan orang banyak terutama Marcel. Dulu dia udah pernah nylametin nyawa gue. Tapi, gue gak bisa melindungi adik kesayangannya.
“Dara, Embun dimana ? “
“Embun lagi ditanginin sama dokter”
“Rangga, kak Brian mana ??” Tanya Milli
“Di dalem Mill ” Jawab gue lemes.
“Kak Marcel, ini ketapel milik Embun makasih karna dia udah nylametin aku “ Fio meluk Marcel, dan ketapel itu gak asing buat gue. Dulu waktu gue kecil gue pernah bikinin ketapel itu untuk Tyan.
“Yang, nih Abang bikinin kamu ketapel, kamu kan suka maen ketapel”
“Wah, makasih ya Bang. Yanyang sayang kakak”
“Abang, aku bolehkan belajar main ketapel juga kaya Bang yayang”
“Boleh sayang, tapi kalo kamu udah gede nanti ya”
“Tyan” Lirih gue sambil megang ketapel itu, Marcel menatap gue dengan heran dan gue menatap Marcell dengan lekat. Gue Cuma mau mastiin kalo dia adalah abang gue yang gue cari selama ini, kalo dia adalah Marcel gue yang gue sayang selama ini.
“Dari mana lo tau nama itu” Tanya Marcel
“Kalo gue boleh tebak di ketapel itu ada tulisan Kudo “ Marcel langsung melihat ketapel itu
“Dari mana lo tau?”
“Kak Marcell, ini aku Rangga adik kakak yang hilang kak ini gue Rangga “
“Maaf, disini ada keluarga dari Embun ??” Tanya Dokter
“Saya Dok, saya kakaknya” Jawab Marcel
“Dia butuh donor darah AB+ “
“Dok, ambil darah saya,,saya juga AB+” Gue berharap dengan darah gue, gue bisa nebus kesalahan gue sama Embun selama ini. Gue menatap Marcel penuh dengan harap agar dia mau izinin gue untuk donorin darah. Marcell tersenyum, Gue tau sebenernya dia pengen nangis dan pengen peluk gue tapi dia terlalu gengsi untuk lakuin itu. Karna dari dulu dia enggan ingin menangis dan terlihat lemah didepan adik-adiknya. Tapi gue pernah tau dia menangis saat gue sakit dan pada saat itu gue hampir gak bernyawa. Dia adalah super hiro bagi gue, Tyan dan Embun.

MILLI***

Mungkin gue terlalu larut dengan novel-novel kesayangan gue hingga gue gak sadar gue ditinggalin sama mereka. Gue Tanya sama penjaga ternyata mereka berlarian menuju gedung-gedung tua itu. Ya dengan berfikir panjang gue menyusul mereka tanpa sadar gue menabrak seseorang.
“Aduh Mas sorry-sorry saya gak tau” Mata gue melotot ketika tau siapa yang gue tabrak SIAL.
“Kalo jalan liat-liat donk” Bentak dia dengan jutek
“Lo..!!!” Teriak gue sama cowok yang gue tabrak secara bersamaan.
“Lo itu bisa gak sih kalo jalan hati-hati gak usah sradak sruduk gitu” Bentakan dia bikin gue terhenti. Ketika suara itu terdengar jelas ditelinga gue DORRR…!!!!
Gue dan dia saling menatap, dan arah suara itu dari gedung tua itu. Gue melihat Rangga menghentikan taksi dengan buru-buru.
“Rangga” Lirihku, dengan buru-buru gue pengen nyebrang tapi cukup kesulitan untuk menyebrang karna di pasar rakyat begitu ramai pengunjung. Gue merasakan ada yang menarik tangan gue, ternyata dia.
“Lo ikut gue ke rumah sakit kita ketemu Rangga disana aja” Jelasnya
Sepanjang jalan dia hanya diam dan gue tau sebenarnya dia menahan air matanya. Gue pengen tau sebenarnya pa yang terjadi, tapi rasanya lidahku kelu untuk berbicara dengannya.
“Gue Milli” Akhirnya bisa juga membuka pembicaraan dan memecahkan keheningan
“Gue Marcel” Dia menyambut tangan gue dengan dingin ya gue rasain tangannya begitu dingin. Kita tiba dirumah sakit gue mencari sosok Rangga, ternayata mereka berada di depan ruang ICU.
Rangga duduk dengan lemas, disana gak ada sosok yang gue cari Brian mana ?  Hati gue sakit ketika melihat dia terbaring lemas. Dan ada kenyataan yang bikin gue kaget di balik kejadian ini ternyata Rangga bisa menemukan Kakak dan Adiknya yang telah lama hilang.
Tuhan maha adil, dibalik kejadian pasti ada hikmahnya. Mungkin kalo semua ini gak terjadi, kemungkinan mereka akan lebih lama lagi mengetahui semua ini. Gue tau sosok Marcell ketika dia masih menjadi kakak kelas gue dulu.
Menurut gue dia itu kuat, tapi gak setegar yang gue bayangin. Dia begitu terpuruk karna melihat adiknya terbaring lemas. Tapi, kenapa dia sesekali melirik ke arah Brian. Apa dia punya dendam terhadap Brian, apa dia membenci Brian. Gue rasa gak, karna tatapannya itu adalah tatapan Iba.
“Cel,” Dia mendongangkan kepala dan tersenyum “ Lo gak usah khawatir, gue yakin Embun pasti kuat, dia kan anak yang hebat”
“Iya” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dara mengulurkan jaket sama Marcel, namun Marcel tak bergeming. Dara memakaikan jaket itu dan mengelus-ngelus punggung Marcel, dengan lembut Marcel bersandar dibahu Dara. Jlleeebbb..!! terasa banget hati ini tertusuk aku gak tau kenapa aku bisa begini. Apa aku cemburu, apa aku jatuh cinta sama Marcel ? Entahlah rasanya aku ingin menangis sekuat mungkin.
Aku ingin menjauh namun tanganku dicekal  olehnya seolah-olah aku tak boleh pergi, tapi kenapa kamu harus bersandar dibahu Daea padahal bahu ku mampu untuk kau bersandar. Tanpa terasa air mataku jatuh bersamaan air mata yang dijatuhkan Marcel. Mungkin bahu Dara lebih nyaman untuk dia menangis.
Fio menyandarkan kepalanya dibahuku mungkin dia sedikit ragu, namun aku ingin dia nyaman bersandar dibahuku. Tak ada suara apapun diantara kita kecuali isak tangis. Aku gak tau aku menangis untuk siapa, untuk Brian kakakku atau untuk Marcel tau mungkin karna aku terbawa suasana. Tapi, yang jelas aku gak bisa melihat Marcel kaya gini.
Lampu ruang operasi pun mati pertanda operasi kelar, tapi dokter belom juga membuka pintunya. Rasa gelisah mulai menyelimutiku, aku takut aku takut aku takut Marcel makin terpuruk. Aku berharap semua berjalan lancar.
Bunyi pintu membuyarkan suasana hening malam itu, dokter keluar dengan muka sedikit kurang enak dipandang menurutku.
“Dok, gimana keadaan adik saya ??” Marcel langsung bangkit kan melepaskan geganggaman tangannya.
“Operasi berjalan lancar, tapi keadaan Embun masih kritis kemungkinan dia akan koma dalam waktu yang tidak bisa ditentukan” Semua sunyi tak ada suara, hanya ku dengar isak tangis dari Fio.
“Lalu Brian gimana Dok” Pertanya Marcel bikin semua heran aku menatap Dara dan Fio mereka hanya mengangkat bahunya.
“Brian kondisinya stabil, tapi beberapa kali dia menyebut nama Conan”
Conan
“Apa Dok, Conan ??” Tanya Marcel
“Iya, apa diantara kalian ada yang bernama Conan atau mungkin julukan atau panggilan sayang atau apa” Dokter mendeskripsikan nama itu dengan panjang, tapi aku juga pernah waktu itu Kak Brian mengigau menyebut nama Conan setiap dia demam tinggi.
“Kapan kita bisa jenguk Kak Brian ?” Selaku
“Besok, untuk saat ini biarkan Brian istirahat”
Aku berfikir kenapa Marcel begitu khawatir dengan Brian, karna setau aku waktu Marcel masih SMA Marcel itu gak pernah akur sama Brian bahkan musuhan gitu. Emang sih waktu itu aku sempet mergokin mereka pelukan gitu setelah Brian keluar dari rumah sakit saat Brian masih kelas 1 SMA.
Aku lelah, dan aku cape, perlahan ku pejamkan mata. Aku merasa lelah untuk kejadian hari ini. Banyak yang tidak ku duga pada hari ini dan semua tentang hari ini. 

***

Derap langkah kaki terdengar samar-samar ditelingaku, perlahan ku buka mata seseorang berdiri didepanku dengan senyuman.
“Pagi Mill ” Sapa Marcel
“Pagi,,” Ternyata udah pagi, aku merasa masih ingin sembunyi dibalik selimut dan ingin merebahkan badan dikasurku yang empuk.
“Gue anterin lo pulang ya, keliatannya lo cape banget”
“Tapi, gue mau nungguin kak Brian”
“Mill, Brian baru bisa dijenguk nanti siang mending lo balik dulu terus istirahat dirumah.”
“Eh, tapi yang lain kemana ?” Tanyaku sambil clangak clinguk yang tak ku lihat sejak ku membuka mata.
“Fio dan Dara sekolah dan Rangga lagi ke kantor polisi untuk memberi penjelasan kejadian kemarin”
Aku hanya mengangguk, mungkin hanya Rangga yang tau lebih jelas kejadian kemarin. Jam menunjukkan pukul 08:00, dan hari ini aku tidak ikut ulangan harian. Harus banget ujian susulan di kantor.
Sepanjang jalan aku hanya memejamkan mata dan merebahkan kepala di pundak Marcel, tanpa ada canggung sedikitpun untukku memeluknya. Tiba-tiba jantungku menari-nari dan bermain sesuka hati didalam rasanya ada bom yang ingin meledak.
“Heh udah sampe, udah kali meluknya gak usah modus” Ucapan dia sontak membuat ku terbangun dan rasa malu menyelemutiku
“Apaan sih lo, tadi kan gue ketiduran jadi wajar aja kalo gue meluk lo” berusaha ngeles tapi aku emang sengaja sih.
“Jangan lupa istirahat” Ucapannya yang penuh senyum terkesan jutek, ternyata bener kata Akbar dia baik.

MARCEL***

Kejadian ini berat buat gue, tapi gue juga ngrasain hikmah dibalik kejadian dan gue juga semakin yakin Brian adalah Ryan adik gue yang hilang. Tapi, kenapa dia merubah dengan nama Brian dan juga Rangga. Apa dia bener-bener Rangga punya gue ? ya Tuhan, gue hanya berharap Embun cepet sadar supaya dia tau kalo kita kembali kembali bersatu.
Rasanya nyaman banget rebahan diatas tempat tidur ini, gue memandang langit-langit sejenak mengingat tingkah bodohnya, kata manjanya dan tatapan ketakutannya. Dia baik, asyik dan gak sesombong yang gue kira.
Setiap memejamkan mata hanya wajahnya terbayang, dan saat aku membuka mata hanya dia yang pengen gue lihat pertama kali. Apa mungkin gue jatuh cinta sama dia, gue gak sengaja menyenggol boneka hingga jatuh.
“Kakak, kangen kamu dek” Lirihku menahan rasa sakit karna tusukan beribu jarum.
“Bang, Abang....” panggil bude membuat sedikit terkejut
“Abang dikamer Ade Bude” sahut gue
“Loh, Abang kok belum siap-siap ? ini kan udah siang, Emang Abang gak ke rumah sakit ?”
“Iya Bude, Bude kenapa udah balik dari toko?? Bude gak jualan ?”
“Ditoko udah ada Dewi yang jagain, gimana keadaan Embun ?”
Gue Cuma diem, gue gak bisa jawab gue bingung gue harus jawab apa dan gue bingung bermula dari mana. Apa gue harus bilang Embun koma, Brian itu sebenernya Tyan, dan Rangga itu adik gue. Gue bingung bermula dari mana. Karna gue yakin Bude pasti shock banget kalo tau tentang kejadian kemarin.
Mata gue merah, mencoba menahan amarah, senang, sakit dan sedih berkecamuk menjadi satu. Gue tau Bude terus memperhatikan mimic muka gue tapi gue gak berani menatapnya. Bude menepuk-nepuk pundak gue dan mengelus-elus kepala gue seakan dia tau kalo gue gak bisa berkata apa-apa. Lalu Bude memeluk gue, gue merasakan hangat pelukkan seorang Ibu, Ya Bude adalah Ibu yang gue punya saat ini.
“Bude sudah tau semuanya Abang, siapa Brian dan siapa itu Rangga” Gue melepaskan pelukan menatap pekat matanya tanpa terasa buliran air jatuh dari pelupuk mata gue.
“Menangislah Bang, jika itu yang ingin Abang lakukan saat ini” Gue merebahkan kepala dipangkuan Bude, gue rasanya ingin menangis sepuas gue dan teriak sekuat mungkin. Aku merasa kehilangan kesadaran, semua gelap berbayang dan aku mendengar samar-samar suara Embun memanggil, tawanya dan ledekannya.
“Dek, kakak sayang sama kamu” Lirih gue

***

Berat rasanya aku membuka mata, semua masih terlihat samar pala gue terasa pusing dan telinga gue juga berdengung. Gue juga merasakan sesuatu di hidung gue seperti ada yang menghambar salur pernafasan gue.
Sepertinya gue habis mengalami tidur panjang, gue lihat disekeliling ya, gue masih tertidur ditempat tidur ini mungkin hanya posisi gue lebih rapi. Gue coba bangkit namun gue gak mampu, gue benci kalo keadaan gue seperti ini sedangkan gue harus jaga Embun dan Brian disana.
“Cel, lo udah bangun ?” Gue hanya menganggukan kepala.
“Lo kurang tidur ya, sampe-sampe lo begini ?” Expresi muka yang sama yang membuat dia sedikit marah.
“Iya Ra, gue gak tidur dua hari ini. Gue juga gak tau kenapa tapi yang jelas sebelum kejadian ini perasaan gue gak karuan”
“Gue ngerti kok perasaan lo gimana. Oh y ague kesini karna gue bergantian jaga sama Bude, disana ada Rangga, Milli ,sama Fio ,dan gue juga bawa ini buat lo”
“Ini apa ?” Dara hanya diam, gue langsung membukanya ini hasil test DNA gue ,Brian dan Rangga. Hasil test DNA positif, gue gak tau harus apa tanpa pikir panjang dengan spontan gue meluk Dara.
“Lo nglakuin ini semua ?”
“Iya, karna gue mau memastikan aja untuk lo dan untuk kebahagian lo karna selama ini lo udah jadi sosok kakak buat gue, yang jagain gue yang tulus sayang sama gue”
“Tapi gue yakin sih lo nglakuin ini gak Cuma buat gue aja, tapi buat adek gue juga dan lebih tepatnya sih buat Brian, eh keceplosan ?” Ledek gue
“Apaan sih lo” Mukanya mulai memerah, ya gue udah lama tau tentang ini. Waktu gue masih SMA gue sering banget mergokin mata Dara terus mengekori sosok Brian, begitu juga sebaliknya dan gue yakin mereka saling jatuh cinta Cuma gak ada keberanian dari mereka aja.
“Ngaku aja deh lo, gue udah tau dari lama kali” Ledek gue lagi
“Terus kabar lo sama Milli sejauh mana ??” Dara memutar balikkan pertanyaan yang gue lontarkan tadi. Membuat gue gak mampu berkata apa-apa.
“Dia juga sayang tuh sama lo” Ucap Dara sambil membuka bungkus obat satu-satu.
“Sok tau lo” Timpa gue sekenanya, Dara menyodorkan obat yang telah disiapkannya dari tadi. Dia terlihat sedang menghela nafas panjangnya.
“Cel, salah gak sih kalo gue takut kehilangan lo ?” Expresi Dara begitu polos, Dia hanya menundukkan kepalanya. Gue memandangnya dengan lekat, gue tau dia menangis, gue tau dia takut, Dia takut ketahuan kalo dia menangis.
”Apa yang lo takutin ??” Dara hanya diam, menatap gue pun gak dia terus menunduk. Gue liat kini air matanya mulai berjatuhan di tangannya. Perlahan gue angkat kepalanya, menatap lekat matanya. Ya gue tau disana ada rasa takut yang mendalam.
“Loe harus inget satu hal, apa pun yang terjadi nanti lo tetap sahabat gue dan loe juga tetap jadi adik kesayangan gue. Loe gak perlu takut karna gue sayang sama lo “ Gue berusaha meyakinkan dia, karna gue tau apa yang terjadi 5 tahun yang lalu yang membuatnya trauma dan rasa sakit ketika dia harus kehilangan kedua orang tua dan kakaknya.
Dara  memeluk gue dengan erat, dia meluapkan semua rasa sedihnya. Tanpa terasa air mata gue ikut tumpah, karna apa yang dia rasa sama seperti yang gue rasa dulu. Sampe sekarang pun gue masih menyimpan dendam itu.

bersambung....>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar